
Yan sudah berpakaian rapi, dia mengenakan pakaian baru. Diberikan oleh Si Tua Obat, saat berkunjung kedua kalinya. Si Tua Obat merasa pandangannya tercemar oleh pakaian yang dikenakan oleh Yan. Lusuh, robek sana-sini.
Akhirnya, Si Tua Obat memberikan pakaian bertarung untuknya. Cukup ketat, tapi nyaman dikenakan. Bahannya halus. Terlebih pakaian tersebut dominan warna abu-abu.
Hari ini merupakan hari yang sangat penting bagi Yan, dia akan mengikuti turnamen Kerajaan. Bertarung di atas arena. Sebelum ini, dia hanya jadi penonton.
Yan sangat bersemangat pagi itu, merenggangkan otot. Tidak sabar lagi untuk bertarung di atas arena. Dia menatap ke tempat tidur Gin. Dia belum juga pulang, besok dia harus bertanding. Tapi, dia belum muncul sampai sekarang. “Untungnya tidak ada pemeriksaan dari pihak panitia.”
Yan berjalan keluar, berlari ke arah arena. Menggunakan kecepatan penuh, dalam waktu singkat dia tiba di tribun penonton. Rupanya, group C akan dimulai. Para peserta sudah mulai berkumpul di atas arena.
Yan lompat dari atas tribun, semua mata tertuju padanya. Sebagian dari penonton berseru tertahan, Yan berpijak dengan aman di atas arena. Terdapat akar kecil yang menahannya tadi, akar yang sangat kecil. Tidak ada yang melihatnya menggunakan akar tersebut.
Yan menatap ke arah tribun, mencari keberadaan Gin. Nihil, Gin tidak ada sama sekali diantara para penonton. “Ini mulai mengkhawatirkan. Sebenarnya, Si Bodoh itu ke mana?”
Dia terlalu memikirkan kondisi Gin. Hingga tidak tahu, jika turnamen sudah dimulai. Semua peserta saling menyerang satu sama lain, hanya Yan yang termenung diantara peserta yang sedang bertarung.
“Dia masih termenung di tempat. Berdiri tidak bergerak. Apa dia sama bodohnya dengan Gin? Hei, turnamennya sudah dimulai, para peserta yang lain sudah mulai bertarung, saling mengalahkan.” Bulan yang melihat Yan termenung di atas arena. Dia tahu Yan dari Gin. Ada titipan dari Gin untuk Yan. Saat dia menang turnamen Bulan harus memberikannya.
Gin sangat yakin, jika Yan akan memenangkan turnamen. Bulan sampai dibuat bingung olehnya. Gin begitu yakin dengan kemampuan temannya tersebut.
Yan mundur dua langkah, terkena pukulan dari petarung lain. Tidak peduli, lebih memilih untuk melamun kembali. Peserta yang memukul, Yan. Mengatupkan rahang, dia tidak terima diabaikan begitu saja. Mengepal tangannya dengan erat.
Peserta tersebut menjadi tiga, menyerang Yan secara bersamaan. Dari tiga arah, Yan dengan santai memukul yang datang dari arah belakang. Terhempas. Sementara dua lainnya, menghilang.
“Mungkin, dia tidak akan datang untuk menonton. Sepertinya, Gin memiliki urusannya sendiri.” Yan menghembuskan nafas halus.
Yan menciptakan akar dari energinya. Arena dipenuhi oleh akar miliknya, menyerang para peserta. Tanpa pandang bulu. Para peserta yang sedang bertarung. Terpaksa harus berhenti, karena sibuk dengan akar-akar yang bermunculan.
Satu-dua peserta dilempar oleh akar tersebut ke luar arena. Mereka kerepotan menghadapi akar-akar tersebut. Akar-akar tersebut mampu melilit para peserta dengan kuat, membantingnya ke kiri dan kanan. Lalu membuangnya ke luar arena.
Para peserta tersebut mengumpat keras pada pemilik akar tersebut. Sementara itu, Raja terlihat tertarik dengan pemandangan di bawah sana. Arena turnamen.
Peserta lain, memukul, menyerang akar tersebut. Menghancurkannya, tapi akar tersebut utuh kembali. Seperti tidak pernah dihancurkan.
Akar melilit kaki-kaki mereka, menyeretnya hingga keluar arena. Sementara itu, Yan membuat pelindung dari energinya. Sebuah akar yang saling menyulam, membentuk kubah yang melindungi Yan. Dia tidur di dalam kubah tersebut.
__ADS_1
Diantara para peserta, terdapat peserta yang dengan mudah menghancurkan akar milik Yan. Dia menerobos, mencari keberadaan Yan. Berkeliling menyusuri arena turnamen.
Nihil. Dia tidak menemukan petunjuk. Matanya menyapu sekitar, tajam menelisik. Menghembuskan nafas kasar. Begitu, dia berbalik. Matanya tidak sengaja melihat sesuatu yang ganjil.
Terdapat kubah kecil yang terbuat dari akar di tengah arena. Bergerak cepat, menyerang kubah kecil tersebut. Kokoh, kubah tersebut tidak goyah sedikitpun.
Tidak menyerah begitu saja. Dia mengatupkan rahang, mengepal tangan yang telah dilapisi energi yang cukup besar. Dia mengonsentrasikan energinya pada satu titik, yaitu pada tangannya yang sedang terkepal.
Energi panas, keluar dari tangannya. Dia merupakan perwakilan dari Klan Api, satu Klan dengan Raddas.
Yan yang berada dalam kubah, merasakan suhu yang lumayan hangat. Dia mulai kepanasan, tidak menyangka akan merasa gerah.
Tiba-tiba, dia merasakan sebuah getaran. Tahu sedang mendapat serangan dari luar, dia melapisi kubahnya dengan akar yang lebih kuat. Lanjut tidur. Sementara perwakilan dari Klan Api tersebut geram.
Para peserta lain, terkena seleksi akar. Gugur, keluar arena. Mereka terlampau lemah untuk melawan akar yang dibuat oleh Yan.
Kubah yang diciptakan oleh Yan, terus berdebam. Akibat benturan kuat dari luar, diserang habis-habisan oleh perwakilan Klan Api. Semakin lama, kubah tersebut tidak lagi kokoh. Mulai retak. Awalnya, hanya muncul retakkan kecil, membesar seiring berjalannya waktu. Akhirnya hancur berkeping-keping.
Perwakilan Klan Api terbelalak melihat Yan yang sedang tidur dengan santai, dia merasa diremehkan oleh lawannya.
Yan membuka matanya, menguap. “Kau telah mengganggu tidur. Sekarang, kau harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu. Kuberitahu satu hal yang tidak boleh dilanggar. Jangan mengganggu orang yang sedang tertidur!”
Akar tersebut langsung bergerak, menghajar dan menendang perwakilan Klan Api. Dapat dihindari. Akar yang mirip Yan melompat dan menendang lawannya. Hal tersebut membuat perwakilan Klan Api terpental. Akar-akar tersebut membuka jalan bagi tubuh perwakilan Klan Api saat sedang terpental, tubuh asli Yan muncul di samping perwakilan Klan Api saat sedang di udara.
Yan menghantamnya ke lantai turnamen. Kepulan debu mengepul. Para penonton bersorak, takjub dengan kemampuan Yan. Mereka tahu, kalau yang menciptakan akar-akar yang memenuhi arena adalah Yan.
Begitu kepulan menghilang, Yan menyerang kembali perwakilan Klan Api. Mengerahkan pukulan yang bertubi-tubi. Tidak memberikan ruang baginya untuk melawan balik.
“Selamat untuk Anda, Raja! Muncul satu lagi pemuda berbakat di Kerajaan Selatan ini.” Juras memberi selamat pada Raja. Hanya sekedar basa-basi, dia masih menaruh kecewa pada Raja. Sementara itu, Barbara mengepal tangannya.
Dia pernah bertemu Yan, di pasar gelap kota Yure. Barbara sudah menaruh dendam pada Gin dan Yan, dia tidak akan melepaskan keduanya begitu saja. Setelah membuat malu Raddas, serta membuatnya terluka saat itu.
Yan tercekat, dia tidak sadar telah menggunakan energi dengan terlalu boros. Energi miliknya telah terkuras, menipis. Akar-akar yang ada di atas arena mulai menghilangkan, tidak ada lagi yang tersisa.
“Setidaknya, peserta yang ada di atas arena kurang dari dua puluh orang. Sekarang, saya hanya memikirkan cara untuk bertahan, bisa lolos ke babak selanjutnya.
__ADS_1
“Oh, sepertinya tenaga dalammu mulai terkuras habis. Kupikir tenaga dalam yang kau miliki, tidak terbatas.” Perwakilan Klan Api meledek Yan.
Yan terbahak mendengar hal tersebut, dia berkata, “Jika hanya untuk melawan orang, sepertimu. Saya tidak menggunakan tenaga dalam, juga bisa mengalahkanmu dengan mudah.”
Perkataan Yan, berhasil menyulut kemarahan lawannya. Dia diserang secara brutal, tidak terarah. Merasa berhasil dengan provokasinya, Yan tersenyum. Dengan santai menghindari serangan yang datang, mudah baginya untuk menghindar serangan tersebut. Dia terus menghindar, hingga ke sudut arena.
“Kupikir, saya masuk ke group neraka. Ternyata, dugaanku salah.” Merasa lega dengan dugaannya sendiri. Dia tidak sadar sudah berada di pojok arena.
Begitu sadar, Yan pucat setengah mati. Dia langsung meliukkan tubuhnya menghindari serangan lawannya. Dia mendorong lawannya, hingga terjatuh. Keluar arena.
Penonton yang sebelumnya, mengira Yan yang akan terjatuh dan keluar arena. Takjub. Bersorak untuk Yan.
Masalah tidak sampai di situ saja, muncul masalah baru. Yan tiba-tiba tercekat, merasakan energi yang begitu besar. Dia terbelalak, begitu melihat bola air raksasa di tengah arena.
Seseorang yang jubah biru laut sedang berjalan ke arahnya. Yan keringat dingin, karenanya. Sementara Raja tersenyum lebar. “Ah, mari kita lihat. Apa bocah itu bisa bertahan dari serangan yang sedang menantinya?”
Sebagian petinggi yang ada di dekat Raja mengangguk mantap, mereka diam-diam berharap Yan dapat bertahan. Karena, menurut mereka Yan merupakan salah satu yang terbaik diantara generasi seangkatannya. Bahkan boleh jadi, lebih baik dibandingkan dengan Raddas.
Peserta berjubah biru laut tersebut melepaskan serangannya ke arah Yan. Dengan sigap, membuat jarum es dari energinya. Hanya satu, jarum es tersebut meluncur ke arah bola air raksasa yang sedang menuju ke arahnya.
Sebuah ledakan memenuhi udara, percikaran air yang membeku tersebar ke berbagai arah. Percikan tersebut begitu tajam, bahkan dapat melukai peserta yang ada di atas arena.
Wasit dengan cepat menciptakan kubah raksasa yang mengelilingi arena turnamen.
Semua mata menatap takjub ke arah arena. Diam. Tidak suara, angin berhembus. Menerpa para penonton yang sedang melongo ke arah arena. Kemudian bersorak kencang.
Terlihat jelas, peserta yang tersisa pada arena turnamen tinggal empat orang. Dari Klan maupun perguruan yang berbeda, bahkan dua orang di atas arena tidak memiliki Klan atau perguruan. Yan salah satunya.
Bulan yang melihat semua pertarungan tersebut tersenyum kecil, dia meninggalkan tribun. Menuju ke suatu tempat.
Yan yang kelelahan langsung menuju ke kamarnya, begitu wasit menutup turnamen hari ini. Dia puas dengan hasilnya, hanya saja dia masih memikirkan Gin yang tidak tahu keberadaannya.
Yan terbelalak melihat Bulan sedang bersandar di dinding depan kamarnya, sepertinya sengaja menunggu dirinya. “Dia ‘kan salah satu komandan pasukan Kerajaan. Apa sedang dia lakukan di sini? Atau jangan-jangan, dia melihatku dan Gin melawan Cebures saat itu.”
Yan memikirkan segala kemungkinan yang membuat Bulan berdiri di depan kamarnya dan Gin. Tapi, dia tidak tahu alasan pasti Bulan berada di sana. Berdiri sembari menyandarkan punggung ke dinding.
Yan mencoba memberanikan diri untuk melangkah ke arah kamarnya. Dia terkejut, saat tiba-tiba Bulan berada di hadapannya. Menyerahkan sebuah kotak yang tersusun rapi. Sembari mengatakan, “Selamat atas kemenanganmu, ini kue dari temanmu yang bernama Gin. Dia baik-baik saja, disuatu tempat.”
__ADS_1
Bulan langsung berjalan, melewati Yan. Wajahnya tetap datar. Tidak ada gurat senyum sama sekali, Yan bahkan menelan ludah beberapa kali. Jantung berdegup kencang. Sedikit takut, dia tidak menyangka ada manusia seperti mayat berjalan.