
Para prajurit sedang menghadapi sekumpulan orang-orang berjubah hitam, mereka bertempur satu sama lain. Saling membunuh, satu-persatu mayat berserakan. Memenuhi ruang depan istana.
Korban paling banyak terdapat dipihak prajurit, terlebih mereka kalah jumlah dari awal. Mereka diambang keputusaan, berharap secercah keberuntungan menghampiri mereka.
Dari pihak prajurit semakin sedikit, jumlah mereka semakin berkurang. Dihabisi satu-persatu. Suara gelak tawa memenuhi gendang telinga mereka, dikepung oleh musuh. Mereka mencoba mempertahankan hidup sebaik mungkin.
Para prajurit ini adalah orang-orang ditugaskan untuk menghadapi penghianat Kerajaan, menjaga keutuhan istana. Mereka adalah orang-orang yang masih setia, mengabdi kepada Raja.
Mereka membentuk lingkaran, saling melindungi satu sama lain dari serangan yang datang. Untuk mengatasi perbedaan jumlah yang ada dipihak mereka. Para prajurit ini tidak sekedar bertahan saja, tapi juga menyerang musuh. Berusaha mengikis perbedaan jumlah yang berbeda jauh, sembari menanti bantuan yang datang menghampiri. Tidak mudah berada pada kondisi menunggu sesuatu tidak pasti, tapi mereka percaya keberuntungan itu ada.
Suara dentingan senjata yang saling beradu menggema. Orang-orang berjubah hitam sedang memburu para prajurit, sementara prajurit sedang mempertahankan hidup dan istana. Tanggung jawab yang cukup berat.
Di tengah-tengah rasa lelah, rasa ingin putus asa dengan harapan sendiri. Tiba-tiba terdengar suara dari dalam sana, “Siapa kau? Akhhh.”
Para prajurit saling menatap, wajah mereka sumringah. Menampakkan senyum lebar, mereka akhirnya melihat secercah harapan. Keberuntungan yang dinanti, akhirnya datang juga. Jelas mereka langsung berpikir orang yang datang berada dipihak mereka. Sangat jelas, orang itu menyerang salah satu dari pihak jubah hitam.
Mirisnya hanya satu orang yang datang, mereka menerka itu dari diksi yang dikatakan oleh musuh, ‘Siapa kau?’ jelas itu menunjukkan satu orang, tidak lebih. Jika kata, ‘Kalian,’ yang keluar dari mulutnya. Maka dapat dipastikan orang datang lebih dari satu orang.
Mereka tidak akan mengira, bahwa satu orang yang datang tersebut, lebih baik dari dua puluh prajurit yang datang membantu.
Suara teriakan mulai menggema, orang-orang berjubah hitam mulai berseru panik. Mereka keteteran oleh orang yang baru saja datang tersebut, para prajurit diabaikan begitu saja.
__ADS_1
Hal tersebut membuat para prajurit yang tersisa saling menatap satu sama lain, tidak mengerti dengan yang terjadi sebenarnya. “Hei, apa begitu semerepotkan itu menghadapi satu orang?”
Prajurit yang lain menanggapi, “Saya juga tidak tahu-menahu akan hal tersebut. Tapi semua jadi mungkin, jika salah satu dari petinggi istana yang datang membantu.”
Para prajurit yang lain saling menatap tidak percaya, mereka langsung menggelengkan kepala. Itu tidak mungkin terjadi, mereka jelas tahu. Para petinggi Kerajaan sedang sibuk dengan pertarungan mereka sendiri, tidak ada waktu untuk mengurus prajurit kecil, seperti mereka. Kecuali, orang itu sedang berada di Istana.
Orang-orang berjubah hitam semakin gelisah, meneriaki satu sama lain. Mereka benar-benar dibuat repot oleh satu orang saja. “Hei, serang dia! Jangan biarkan, dia membunuh lebih banyak dari ini. Kepung dan habisi.”
“Bicara saja memang mudah, tapi...” Belum menyelesaikan perkataannya, nyawa penyusup tersebut sudah melayang. Meninggalkan jasadnya yang telah kaku. Tidak bernyawa.
Para prajurit saling berpandangan lagi, “Sepertinya orang ini lebih kuat dari yang kita bayangkan.”
Orang yang membuat orang-orang berjubah hitam panik, berteriak dan berseru satu sama lain adalah Gin. Dia benar-benar membuat orang-orang berjubah hitam mengucurkan keringat dingin yang tidak sedikit.
Gin meliuk-liuk diantara para penyusup, sembari menyerang mereka dengan tangan yang tepat menembus jantung. Jika bukan jantung sasarannya, maka leher sebagai gantinya. Caranya dalam membunuh lawan sangat kejam, tidak seperti seorang remaja yang sedang berumur belasan tahun. Jika Bulan melihat Gin, seperti ini. Bisa jadi, dia akan berhati-hati setiap kali bertemu dengannya.
Gin terus bergerak ke sana-kemari, membunuh lawannya tanpa belas kasihan. Dia juga tidak mengerti dengan dirinya sendiri, setelah mendengar kata ‘Penghianat.’ Dia ingin membunuh orang-orang yang ingin menggulingkan Raja Selatan, tanpa terkecuali.
Gin membunuh dengan wajah datar, tanpa ekspresi. Dia seperti mayat bernyawa, siap membunuh siapapun yang mengusik ketenangannya.
Gin melesat maju, bergerak mengerahkan tangan tembus lada jantung musuh. Namun dia lengah, bahunya terkena pukulan keras. Hal tersebut membuatnya tersungkur ke depan, menabrak musuhnya yang telah menjadi mayat. Dia juga membuat sebagian musuh yang berada di belakang mayat tersebut terjatuh.
__ADS_1
Gin melepaskan tangannya dari jantung musuh, dia berniat menggunakan pedang. Menyapu sekitar dengan mata tajamnya, bersiap mengerahkan pedang.
Orang-orang berjubah hitam, mulai menatap ngeri pada Gin. Mereka mulai ketakutan menghadapi Gin, meski dia hanya seorang diri menghadapi jumlah mereka yang begitu banyak.
Mereka gemetar memegang pedang sendiri, tahu dengan kemampuan sendiri. Tidak akan mampu menghadapi Gin yang terlampau kuat, mereka jelas bukan lawannya.
Gin terus bergerak dengan pedangnya, menyasar leher para penyusup. Kini pedangnya berlumur darah milik para penyusup, dia merupakan ancaman tersendiri bagi para penyusup. Jika bisa memilih para penyusup tersebut tidak ingin berhadapan dengan Gin.
Disaat Gin sedang menikmati pembunuhan yang dilakukannya, Kilin muncul membantunya. Dia tiba-tiba saja berada di tengah-tengah kerumunan bersama Gin. Tentu saja, dia masih mengenakan topeng perak miliknya, juga baju serba hitam yang super ketat. Meski terdapat luka di mana-mana, dia memberi kode pada Gin. Jika mereka berada di kubu yang sama.
Gin langsung mengerti. Eh, biasanya juga, dia sulit mengerti dengan hal-hal serumit itu. Kenapa dia tiba-tiba bisa mengerti dengan mudah?
Keduanya saling bahu-membahu membunuh para penyusup tersebut. Sementara para prajurit semakin tenang, mereka dapat melihat dua orang yang berada dalam kepungan musuh. Menghabisi musuh dengan mudah. Wajah mereka berseri, menampakkan kebahagiaan yang tidak terkira. Mereka bisa bertahan hidup.
Kilin menggunakan pedang kecilnya menyerang para penyusup tersebut, dia mampu membunuh musuh-musuhnya dengan serangan cepat. Meski tidak sekejam Gin.
Keduanya dalam waktu singkat dapat meratakan musuh yang begitu banyak, saling menatap satu sama lain. Itu pertama kalinya, mereka bertarung bersama. Sementara itu, Putri dan Bulan sedang berada di jalan rahasia, mereka sedang menuju tempat pengungsian. Kilin yang memberikan mereka petunjuk arah ke tempat pengungsian. Bulan menatap curiga pada Kilin, dia mengamati Kilin dengan seksama.
Kilin langsung pergi, begitu ditatap seperti itu. Tidak mau membuat kecurigaan Bulan semakin besar, semakin lama dia bersama mereka. Maka, tidak menutup kemungkinan identitasnya akan terbongkar. Bulan belum lama sadar, dia tahu harus secepatnya pergi dari istana, terlebih dia masih terluka parah.
Gin dan Kilin menghampiri parah prajurit yang tersisa, memastikan kondisi mereka baik-baik saja. Tidak ada yang terluka para. Keduanya melihat begitu banyak mayat yang terbujur kaku sepanjang penglihatan mereka. Keduanya seperti sedang melihat lautan mayat.
__ADS_1
Keduanya membuka pintu istana, melihat keadaan luar istana. Kilin berseru tertahan, begitu melihat sekitar. Dia tidak mengira keadaan akan sekacau ini.