Black Shadow

Black Shadow
Jatuh Miskin


__ADS_3

Prasangka Yan tidak meleset sedikit pun. Koin emas yang tersimpan dalam pekom (Kartu penyimpan uang yang di berikan oleh Poo), habis tak bersisa. Sementara, milik Gin tinggal kisaran seratus koin. Uang mereka terkuras untuk mengganti segala kerugian yang dilimpahkan semua pada mereka berdua.


Gin hanya bisa menurut saja ketika Yan menyuruhnya untuk membayar kerugian para Tabib. Sebenarnya dalam hati Gin tidak rela, tapi semua sudah terjadi.


Yan juga meminta lima puluh koin emas milik Gin untuk membeli tanaman obat yang sangat langka, tapi ditolak mentah-mentah olehnya. Sampai memohon di depan Gin, sampai segitunya perjuangan Yan untuk Widora.


Gin yang rada tidak tega melihat Yan. Akhirnya, memberikan lima puluh koin emas untuknya. Melihat Yan yang loncat kegirangan lantaran permintaannya terpenuhi, membuat Gin reflek tersenyum.


“Kalian memiliki tanaman Tanatu, lampa dan jutain?” tanya Yan pada salah satu Tabib dengan suara pelan, sangat pelan. Bisa dibilang lebih ke berbisik.


Mendengar pertanyaan Yan membuat Tabib tersebut, memicingkan mata tajam. Sang Tabib penasaran terhadap remaja di sampingnya, bagaimana tidak semua tanaman obat yang disebutkan adalah tanaman berharga nan langka, hanya segelintir orang di dunia mengetahui kombinasi ke tiga tanaman tersebut. Tidak perlu mengetahui ke tiga kombinasi, cukup satu tanaman saja disebutkan sudah hal yang sangat menakjubkan.


Tapi, sekarang berdiri seorang yang jauh lebih muda dibanding dirinya, mengetahui ke tiga kombinasi tanaman obat langka ini, “hei, latar belakang bocah ini, tidak sesederhana penampilannya, lihat saja tadi, saat bocah ini mengeluarkan ribuan koin emas dari benda persegi,” batin sang Tabib.


“Apa ada tanaman obat yang bernama seperti itu.” Sang Tabib pura-pura tidak mengetahui ke tiga tanaman obat yang ditanyakan oleh Yan.


“Kau tak perlu membodohiku, aku tahu kalian para Tabib terbaik dalam hal mencari tanaman langka. Ilmu kalian dalam bidang ini juga tidak bisa diragukan lagi.” Yan tersenyum sinis, membuat sang Tabib kikuk, salah tingkah.


“Eh ini, eh itu. Kami memiliki ke tiga barang yang tuan muda sebutkan, tapi semua barang tuan muda sebutkan tidaklah murah harganya.” Tabib saling menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya.


“Berapa ratus koin emas untuk bisa membawa ke tiga tanaman obat itu?” tanya Yan.


“Ratus? Hei, harga satu tanaman obat saja, hampir mencapai seribu koin emas,” serga sang Tabib.


Gin yang mendengar hal tersebut termangu, “Apa Yan sudah gila, ingin membeli tiga tanaman obat hanya dengan lima puluh koin emas? Sementara, harga ketiga tanaman itu hampir tiga ribu koin emas,” gumam Gin dalam hati.


Yan mengerutkan dahi, dia tidak mengira harga ke tiga tanaman yang diinginkan Widora, selangit. Kini keinginan Yan untuk membeli ke tiga tanaman tersebut, hanya sebuah mimpi saja. Jika pun uang mereka masih utuh, dengan seluruh uang mereka hanya bisa membeli dua jenis tanamanobat saja.


“Hilang sudah harapan, mana kami sudah jatuh miskin,” ucap Yan dalam hati. Tapi, selamat untuk orang berhati baik.

__ADS_1


“Tenang saja, karena kalian sudah merendam kekacauan kecil dan menimbulkan kekacauan yang jauh lebih besar, meski begitu kalian tetap bertanggungjawab dan menghabiskan hampir seluruh harta yang kalian miliki.” Yan mengerutkan dahi.


“Dari mana lagi, Tabib ini mengetahui uang mereka hampir habis,” gumam Yan dalam hati.


“Tuan muda, saya tahu Anda bukanlah orang bodoh. Tapi mengapa Tuan muda membiarkan kami para Tabib dari kota yang sangat kecil, memeras seluruh harta Anda?” tanya Tabib dengan senyum yang lebih lebar.


“Ahh, sepertinya tempat ini cukup berantakan untuk berdiskusi tentang hal penting. Mari kita ke ruangan yang lebih cocok.” Tabib tersebut langsung melenggang pergi, saat selesai berkata.


Gin dan Yan, terpaksa mengikutinya. Tabib tersebut jalan menghampiri reruntuhan rak di sudut ruangan. Menyingkirkan serpihan rak dengan cepat, ada seonggok pilar dari batu di sana. Tabib tersebut menekannya.


Tiba-tiba terbentuk sebuah pintu dari dinding perak yang masih utuh, tidak tergores sedikit pun. “Hei, bagaimana mungkin dinding ini masih utuh, sementara yang lain lubruh tak berbentuk,” gumam Yan dalam hati.


Dia tidak terlalu memerhatikan dinding ini tadi. Sang Tabib masuk ke ruangan di balik pintu, diikuti oleh Yan, lalu Gin. Mereka masuk satu-persatu, karena pintu tersebut khusus dilewati oleh satu orang saja.


Penampakan ruangan tersebut, lebih besar dari ruangan sebelumnya. Hanya saja, ruangan ini lebih sederhana. Dinding yang masih dari batu, lantai tanah serta penerang dari obor yang menempel pada setiap sudut ruangan. Dalam ruangan tersebut juga ada rak-rak yang cukup besar, bahkan lebih besar dari yang ada di ruangan sebelumnya.


Rak-rak ini berisi gulungan, tentu saja, gulungan yang berisi resep obat atau mungkin juga ada resep racikan racun.


Gin dan Yan duduk di kursi yang sama, kursi panjang. Sementara, Tabib duduk di kursi kecil. Keduanya menatap Tabib, tak menoleh sedetik pun. “Baiklah! Kita lanjutkan pembicaraan yang sempat tertunda. Jadi, mengapa Tuan muda membiarkan kami memeras harta, kalian?” Dengan senyum hangat, berwibawa.


“Hei, Tabib ini seketika menjadi berwibawa, sangat beberda dengan saat masih di ruangan sebelumnya,” gumam Gin dan Yan dalam hati.


“Saya tidak ingin membuat masalah dengan Kota Goa yang memiliki relasi di mana-mana, baik dari para penjahat dunia bawah tanah maupun para elit Kerajaan, orang bodoh mana yang ingin membuat masalah dengan Kota kecil yang pengaruhnya melebihi sebuah kerajaan? Lagipula, saya membutuhkan tanaman obat yang kalian miliki.”


“Jelas para pemberontak tadi, tidak menyentuh para Tabib seperti kalian, karena mengetahui sebab-akibat dari perbuatan mereka. Jika sampai menyentuh kalian.” Yan menatap Tabib yang tersenyum merekah, lebih tepatnya sedang terkaget. Entah sudah berapa kali, dibuat kaget oleh kedua remaja ini.


“Saya memang tidak salah menebak, Tuan muda memang cerdas. Baiklah langsung saja, pada intinya. Saya akan memberikan kalian ke tiga tanaman obat itu secara cuma-cuma, tapi dengan satu syarat! Kalian harus tinggal selama beberapa hari untuk membantu kami memperbaiki segala kekacauan ini.” Senyum sang Tabib


“Kami bisa saja membantu, tapi kami harus segera tiba ke Ibukota secepatnya.” Yan dengan nada serius, tanpa berkedip sedikit pun.

__ADS_1


“Oh ya, tentu saja. Kalian tentu buru-buru ingin menghadiri turnamen Kerajaan Selatan. Talenta yang kalian miliki, akan terasa sia-sia kalau tidak mengikuti turnamen itu, tapi kusarankan kalian untuk tidak mengkuti turnamen tersebut, karena tangan kanan Raja Selatan yang tidak ingin melihat talenta muda seperti kalian mengancam putra tunggalnya dalam memenangkan turnamen.”


“Hei, orang itu bisa melakukan apa saja demi mewujudkan ambisinya. Dari kabar angin yang saya dengar banyak bakat muda yang mengikuti turnamen. Hal tersebut membuat turnamen kali ini akan menjadi sangat menarik untuk ditonton. Jadi, kusarankan kalian pergi menonton saja denganku.” Sang Tabib berkata lembut, tapi tegas terdengar di telinga keduanya.


Mendengar itu membuat Yan tersenyum lebar, “ikut atau tidak dalam turnamen itu. Nyawa kami tetap terancam, lagipula kami sedang menjadi buronan orang itu. Sebenarnya, kami tidak memiliki niat mengikuti turnamen tersebut, urusan kami buru-buru ke sana untuk menonton turnamen. Tapi, mendengar perkataan Anda barusan membuat temanku ini bersemangat.” Sang Tabib mengerutkan dahi


“Temanku ini selalu bersemangat, kalau mendapatkan lawan yang kuat. Apalagi lawan yang jauh lebih kuat darinya, tanpa memperdulikan nyawa sekali pun. Seperti halnya nyawa bisa dibeli begitu saja.” Gin yang sejak tadi, duduk diam dengan takzim tersinggung dengan perkataan Yan.


Sang Tabib tertawa terbahak-bahak, tentu saja wibawanya tidak akan turun hanya karena tertawa, bukan? “Baiklah, saya mengerti, kalian tetap bisa membantu memperbaiki kekacauan dan tiba tepat waktu atau lebih cepat, sekaligus kalian bisa mendapatkan ke tiga tanaman obat secara cuma-cuma.”


Yan mengerutkan dahi dan berkata, “apa tidak masalah memberikan kami ke tiga tanaman obat ini secara gratis? Apa para tabib yang lain tidak akan marah dengan tindakan Anda memberikanku ke tiga tanaman obat yang sangat langka itu?”


Sang Tabib tersenyum hangat dan berkata, “Hei, siapa yang bisa memarahi seorang Walikota di dalam kota kekuasaannya sendiri? Lagipula, kalian pikir saya ini tabib biasa, hah! Apa kalian tidak sadar sedang berada di ruangan khusus? Apa kalian tidak sadar tidak ada seorang pun di sini selain kita bertiga?”


“Kalian harus tahu, saya tidak pernah membiarkan orang lain memasuki ruangan ini dan kalian sebuah pengecualian! Ah, saya ingat sekarang, sebelum kalian ada tiga orang pemuda yang masuk ke ruangan ini. Sudah belasan tahu lamanya, mereka berjumlah tiga orang. Satu laki-laki ,dua perempuan, tidak seperti kalian hanya berdua tidak ada permpuan lagi. Mengecewakan!”


“Ke tiga pemuda itu, tepat duduk di kursi kalian saat ini. Ke tiga pemuda tersebut adalah bakat berharga bagi dunia saat itu. Mereka bahkan datang ke padaku, hanya untuk meminta obat-obatan. Masih teringat dalam benakku, mata dari salah satu ketiga pemuda tersebut, penuh akan dendam.”


“Sementara, keduanya memiliki mata yang murni seperti kalian berdua. Dan hei, setelah bum, ke tiga pemuda tersebut mengguncang dunia. Ahh, saya terlalu banyak bicara hari ini.”


“Dan kau anak muda.” Tabib menunjuk Yan, “Latar belakangmu tidak sederhana, terlepas dari ke tiga pemuda. Kau adalah satu-satunya remaja yang mengetahui goa tempat rahasia.


kami berdagang dalam Kota Goa. Jelas bukan teman di sampingmu yang menunjukan jalan. Saya tahu itu, tepat setahun yang lalu. Kau memasuki goa tempat perdagangan rahasia kami.”


“Apa kau tidak menyadari hal ini? Hanya kalian berdua saja yang berada dibawah umur tiga puluan yang mengunjungi tempat rahasia kami, selebihnya di atas tiga puluh tahunan. Jelas kau bukan remaja sembarangan,” jelas sang Tabib, tidak lagi menggunakan kata ‘Tuan muda’ saat memanggil Gin dan Yan.


Mendengar hal tersebut membuat Yan tersentak, jelas ini tidak sederhana. “Tempat perdagangan tersembunyi ini, dia dapat dari Widora. Bagaimana Widora mengetahui tempat ini? Masalah latar belakang Widora, sejauh yang kutahui ayahnya bukan orang yang berpengaruh. Hanya saja, ayahnya seorang penemu alat dan tidak memiliki hubungan dengan dunia pengobatan,” gumam Yan dalam hati.


“Kalian istirahatlah dikursi itu. Semalam penuh kalian tidak tidur, masalah kalian tiba tepat waktu pada saat turnamen. Setelah membantu, akan kuurus. Jadi, kalian tenang saja.” Gin langsung berpindah ke kursi panjang di seberang meja. Dengan cepat dia tertidur nyenyak, Yan sempat susah tidur. Tapi, dia tertidur juga setelah berusaha keras.

__ADS_1


Sementara, sang Tabib keluar ruangan untuk mengurus keberangkatan Gin dan Yan, setelah membereskan hasil kekacauan sebelumnya. Yang disiapkan oleh sang Tabib hanya dua ekor kuda untuk tunggangan keduanya. Jelas, bukan kuda biasa, sudah diberi tanaman obat langka yang membuat kedua tunggangan tersebut bisa berlari kencang, bahkan sangat cepat selama berhari-hari tanpa istirahat sekali pun.


__ADS_2