
Drak beserta peserta turnamen yang tersisa sembunyi di salah satu gedung tengah kota. Mereka sedang menghindari musuh. Hampir semua dari mereka belum siap untuk bertarung sungguhan, terlebih untuk membunuh. Pilihan satu-satunya bagi mereka adalah lari. Menyelamatkan diri.
Sebagian besar dari peserta turnamen telah tewas terbunuh, mereka generasi muda Kerajaan Selatan ingin dibinasakan. Sebagian lainnya memilih untuk mengikuti para penghianat tersebut. Membantu Barbara menjadi Raja baru. Takut mati.
Drak bisa bertarung melawan orang-orang yang menyerang Ibukota. Hanya saja, dia tidak bisa melawan orang-orang itu berdua saja dengan Rog. Jumlah orang-orang ini terlalu banyak bagi keduanya.
Mereka tidak takut mati, hanya ketika mereka mati. Para peserta yang tersisa. Selamat. Bisa ikut mati, jadi mereka tidak bisa melawan. Hanya bisa bersembunyi, bermain petak umpat dengan musuh.
Terdengar suara langkah kaki dari kejauhan, bukan hanya satu. Akan tetapi, puluhan langkah kaki. Drak dan Rog saling menatap, mereka menelan ludah masing-masing. Melihat tajam ke arah yang mungkin menjadi tempat kemunculan musuh.
Lagi-lagi mereka harus dihadapkan dengan posisi yang sulit. Drak menghembuskan nafas halus, matanya memicing ke depan suara itu semakin mendekat. Terdengar satu-dua orang sedang berbicara satu sama lain.
Jantung Drak semakin berdebar, bukan sedang jatuh cinta. Akan tetapi, dia sedang gugup. Bersiap menghadapi musuh yang begitu banyak. Dia tidak bisa terus-menerus bersembunyi.
Dia memiliki ide yang lebih efektif, yaitu menahan musuh agar peserta yang lain bisa mencari teman yang sangat aman. Bisa lolos dari kejaran musuh. Sementara itu, Rog sudah melemaskan kedua tangannya. Bersiap untuk bertarung. Tidak ada jalan lain lagi.
Namun mereka masih beruntung, langkah kaki tersebut semakin jauh. Suaranya mulai mengecil, Drak berjalan pelan. Mencoba untuk mengintip, namun ditarik oleh seseorang.
Dia ingin marah, namun tidak lama muncul seseorang. Menyisir sekitar, Drak menunduk. Begitu juga dengan Rog, dia yang baru saja menarik tubuh Drak.
Begitu orang tersebut pergi, mereka berdiri. Sementara peserta lain, mulai memunculkan diri. Keluar dari tempat persembunyian. “Apa kita harus terus berada di sini? Takutnya, ada yang menemukan keberadaan kita, sebelum para petinggi Kerajaan menyelesaikan invansi musuh.”
“Saya setuju dengannya, tidak mungkin kita berada di tempat yang sama secara terus-menerus. Hal ini sama saja dengan bunuh diri.” Salah satu dari mereka mengeluarkan pendapat.
“Baiklah, karena semuanya ingin kita berpindah.” Akhirnya mereka semua berpindah, secara diam-diam. Sebisa mungkin tidak menimbulkan suara. Mereka beberapa kali hampir ketahuan oleh musuh.
Mereka tersontak kaget begitu melihat beberapa bangunan yang hancur, tidak yang tersisa. Ada yang hanya dinding saja yang hancur.
__ADS_1
Sejauh ini perjalanan mereka lancar, sebentar lagi mereka bisa keluar dari Ibukota. Hanya saja, ada yang melihat mereka. Keberadaan mereka terungkap, banyak musuh yang mendatangi. Mengerumuni.
“Rog, apa yang harus kita lakukan?” Drak bertanya. Sedikit bingung dengan kondisi yang mereka alami. Terkepung, bukanlah situasi yang menyenangkan. Mereka kesulitan.
“Bertarung sekuat tenaga. Apa lagi?” Rog menjawab apa adanya. Dia benar-benar tahu kondisi yang mereka alami saat ini. Tidak ada pilihan lain, selain bertarung.
Drak mengeluarkan senjatanya, sebuah bola berduri dengan pegangan kayu, serta rantai sebagai perantara. Sementara Rog mengeluarkan kapak miliknya, tidak seperti biasa. Kali ini, dia tidak berselera untuk bercanda dalam bertarung. Tahu, jika pertarungan yang dihadapinya kali ini menentukan hidup-matinya.
Peserta yang lain, gemetar ketakutan. “Kalian harus ikut bertarung. Tidak bertarung kalian mati, bertarung masih ada setitik harapan bisa hidup. Meski kecil. Tapi, setidaknya harus mencoba. Kita dipaksa oleh keadaan untuk bertarung, membunuh musuh demi mempertahankan hidup.”
Peserta yang tadinya ketakutan mendengar itu, semangatnya membara. Mereka ingin bertarung hidup-mati, tidak peduli lagi dengan rasa takut yang merasuki. Mereka tidak peduli tentang hal tersebut. Toh, mereka tidak punya pilihan lagi, mereka berhenti menjadi penakut, menjadi pengecut. “Saatnya membuktikan kekuatan generasi muda Kerajaan Selatan.”
Drak bergerak mengayunkan bola berdurinya, mengenai satu orang musuh. Namun karena menabrak temannya, tiga musuh terpental jatuh. Sementara musuh yang terkena bola berduri memuntahkan darah. Pinggangnya terluka parah.
Pertempuran pecah, para peserta yang tersisa tidak mau mati sia-sia. Mereka melawan, menyerang musuh secara bersama-sama. Tidak ada yang gentar.
Darah mulai berceceran di mana-mana, mayat mulai berguguran. Baik dari pihak peserta turnamen yang masih tersisa, maupun pihak musuh.
Pertempuran terus berlanjut, Rog mengayunkan pedangnya dengan baik. Tidak ada yang dapat menghalanginya, dia bergerak dengan leluasa. Meski harus menerima sedikit luka di tubuhnya.
Kapak milik Rog mulai bermandikan darah, menebas musuh dengan cepat. Tebasannya hanya mampu membuat musuh terluka, tidak mampu membunuh. Setidaknya, dia bisa mengurangi musuh yang menyerang kelompok mereka.
Tidak mudah memang, tapi dia berusaha keras. Satu-persatu peserta turnamen mulai bertumbangan. Tidak bernyawa, atau terluka parah.
Drak masih bergerak leluasa mengayunkan bola berduri miliknya, menyerang musuh. Darah musuh bercipratan, karena ulahnya. Lincah sekali dia, meski harus menerima banyak luka di sekujur tubuh.
__ADS_1
Musuh semakin berkurang, tapi di sisi lain terus berdatangan. Tanpa henti. Pertempuran terus berlanjut, Drak terus mengayunkan bola berduri miliknya. Tanpa kenal lelah. Tidak ada yang mampu menghentikannya. Dia bergerak ke sana-kemari menghantam musuh.
Peserta turnamen yang tersisa berteriak untuk membakar semangat satu sama lain, mereka terus bertarung melawan musuh. Menggunakan senjata masing-masing, satu-dua terkena sayatan pedang. Namun tidak membuat mereka gentar, terus maju.
Drak mengayunkan bola berduri miliknya, musuh terhempas. Bukan hanya satu orang, tapi lebih dari lima musuh yang ikut terhempas. Sementara Drak menebas kelima orang tersebut menggunakan kapak. Kerjasama keduanya begitu baik. Saling melengkapi.
Rog melihat dari sudut matanya, bahwa murid salah satu perguruan sedang terdesak. Dengan cepat, dia bergerak maju. Menangkis pedang musuh yang sedikit lagi menebas murid salah satu perguruan yang dilihatnya tadi. Dia bergeser menyayat perut musuh.
Saling jual-beli serangan terus terjadi, saling melukai, melumpuhkan, dan saling membunuh. Tidak ada yang ingin menyerah.
Drak dan Rog bertarung saling bersisian satu sama lain, kerja sama keduanya membuat musuh kalabakan. Tidak berkutik. Dengan luka sekujur tubuh, mereka menyerang musuh dengan segenap kekuatan. Banyak musuh yang terbunuh di tangan keduanya. Meski harus melakukan usaha lebih.
Suara senjata saling bertabrakan, berbenturan. Namun semakin ke sini, pertempuran tersebut mulai berat sebelah. Pihak Drak mulai berkurang banyak, tidak bisa berbuat banyak. Terlebih musuh terus berdatangan silih-berganti. Tidak ada habisnya.
Drak terus bertarung secara bersisian bersama Rog. Keduanya benar-benar cocok dalam satu tim, mereka saling melengkapi satu sama lain. Namun mereka terlalu sibuk dengan musuh, tanpa menyadari di pihak mereka hanya tersisa dua orang. Tidak ada lagi peserta yang tersisa, selain keduanya.
Mereka tidak menyerah sama sekali, bertarung tanpa henti. Membinasakan musuh secara perlahan, namun mereka hanya manusia biasa. Bisa merasakan lelah.
Keduanya mulai kelelahan, tersengal-sengal. Tidak banyak yang bisa dilakukan, baru sadar hanya tersisa mereka berdua. Selain itu, hanya menyisahkan musuh saja.
Peluh membanjiri tubuh mereka, saling memunggungi. Tidak ada rasa takut di hati keduanya, sementara para peserta yang tewas dalam pertempuran tersebut. Semuanya mati dalam keadaan tersenyum, didetik-detik kematian mereka tidak ada rasa takut sedikitpun.
Mereka sadar. Mustahil untuk lolos, hanya keajaiban yang dapat menolong. Terlebih keduanya melihat musuh yang terus berdatangan. Satu terbunuh, enam yang datang. Tidak ada habisnya.
“Hei, kau tahu? Sepertinya kita akan gugur di sini, kawan. Ah, kawan, ya? Hehe, senang bisa berteman denganmu, bertarung denganmu begitu menyenangkan. Saya tidak menyesal, jika harus gugur dalam pertempuran ini.” Drak mengatakan kata-kata terakhirnya.
__ADS_1
“Hehe, senang juga bertarung bersamamu, tapi saya tidak ingin menyerah begitu saja. Ingin bertarung sekuat tenaga.” Rog berkata pelan, dia bergerak maju. Mengayunkan kapak miliknya untuk menyerang musuh. Begitu juga dengan Drak, dia menghantamkan bola berduri miliknya ke arah musuh.