Black Shadow

Black Shadow
Si Bodoh


__ADS_3

“Sudahlah hal seperti itu tidak akan berguna.” Gin memberitahu Yan, bahwa hal yang dilakukannya sia-sia saja. Akan tetapi, setelah beberapa saat Yan melempar koin tambahan si Penerima tamu tersebut mengambil semua koin yang berada di atas meja dan menjelaskan seluruh peristiwa aneh yang menimpa desa Batu.


Pemandangan tersebut membuat mata Gin hampir keluar dari tempatnya. Dia tak pernah menyangka, bahwa mulut si Penerima tamu tersebut dapat di buka dengan beberapa koin emas saja.


Namun sebelum penjelasan Penerima tamu tersebut selesai, terdengar keributan dari luar restoran. “Apakah itu serangan dari manusia setengah monster yang baru saja, kau jelaskan?” Yan benar-benar penasaran dengan manusia setengah monster yang ada dalam penjelasan si Penerima tamu.


Mendengar pertanyaan Yan membuat Gin berlari ke arah pintu keluar. “Anda benar, itu serangan dari manusia setengah monster.” Bukan tanpa alasan si Penerima tamu mengatakan hal tersebut. Dia mengatakan hal tersebut, karena keributan selama beberapa waktu desa Batu hanya disebabkan oleh monster setengah manusia.


“Oh ya, satu lagi pertanyaan saya. Bukannya selama ini desa Batu selalu ramai oleh orang-orang yang berkeinginan ke Ibukota atau sebaliknya. Hal ini menjadikan desa Batu sebagai tempat persinggahan.” Yan bertanya dengan serius.


“Anda benar, desa ini selalu ramai oleh orang-orang yang sengaja singgah maupun hanya sekedar lewat saja. Akan tetapi, karena akan diadakannya turnamen di Kerajaan Selatan. Maka, orang-orang tersebut mengambil jalur lain, sebab selalu ada saja kelompok orang yang menghalangi rombongan lainnya yang ingin mengikuti turnamen. Lebih parahnya lagi sampai terjadi pembunuhan dan hal tersebut terjadi setiap turnamen akan diadakan, adapun kelompok calon peserta yang melewati jalur utama hanya berasal dari Perguruan besar atau Organisasi besar.”


“Kelompok ini biasanya akan muncul tiga minggu sebelum turnamen dimulai. Masalah terbesarnya kali ini adalah para manusia setengah monster yang membuat kerusuhan di desa ini.”


“Kalau hanya masalah manusia setengah monster, bukannya di desa ini terdapat banyak talenta muda yang berbakat atau para petarung hebat di desa ini dengan mudah dapat membunuh para manusia setengah monster tersebut?” Yan benar-benar penasaran seberapa kuat para manusia setengah monster tersebut sehingga para penduduk tak mampu mengatasi para monster tersebut.


“Anda benar lagi, rupanya anda tahu banyak tentang desa ini. Akan tetapi, ada beberapa hal yang tidak anda ketahui, diantaranya adalah manusia setengah monster yang beberapa waktu ini mengacau merupakan para pemuda desa ini.”


“Para Pemuda tersebut adalah rata-rata dari mereka yang gagal dalam tes masuk ke akademi kerajaan. Gejala awal yang mereka alami adalah banyak melamun dan kadang tertawa secara tiba-tiba tanpa sebab.”


“Beberapa jam kemudian berubah menjadi setengah monster, parahnya ada beberapa yang berubah menjadi monster secara utuh, para pemuda yang menjadi setengah monster maupun monster secara utuh menjadi brutal dan menyerang penduduk setempat.” Alasan para penduduk menyembunyikan kejadian ini pada orang luar, karena mereka tidak ingin kejadian inj tersebar sampai ke kerajaan Selatan dan mengganggu para murid akademi kerajaan yang berasal dari desa Batu.

__ADS_1


 “Selanjutnya para talenta muda dan petarung hebat yang anda katakan tadi sedang berada di Ibukota, lebih tepatnya sedang pada akademi Kerajaan untuk mempersiapkan diri atau mempersiapkan para murid akademi Kerajaan untuk mengikuti turnamen. Satu-satunya petarung hebat dalam desa ini hanya tersisa Kepala desa Batu, sementara yang lain merupakan petarung rendahan dan manusia biasa tanpa kemampuan bertarung.”


“Apa katamu!!! Para manusia setengah monster yang kau ceritakan daritadi adalah pemuda dari desa ini. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Ini gawat.” Kekhawatiran Yan setelah mendengar hal tersebut adalah Gin. Apalagi para pemuda desa tidak hanya berubah menjadi setengah monster, tapi ada juga yang menjadi monster secara utuh.


Setelah mendengar semuanya dengan jelas, Yan segera keluar dari penginapan menemui Gin. “Saya khawatir kalau si Bodoh itu sampai membunuh para Pemuda yang berubah menjadi monster secara utuh.”


Pada saat Yan membuka Pintu keluar yang nampak pada pandangannya adalah kerusuhan yang disebabkan manusia setengah monster maupun monster utuh dan diatasi oleh para penduduk desa yang memiliki kemampuan bertarung dengan kewalahan. Namun sejauh mata memandangan Yan tak melihat Gin walau hanya batang hidungnya.


“Si Bodoh itu, ke mana?” Kepala Yan serasa ingin meledak membayangkan kebodohan yang akan dilakukan oleh Gin. Yan benar-benar mendapatkan trauma, setelah kejadian-kejadian selama dia bersama Gin selama ini. Dan yang paling melekat dalam ingatan Yan adalah kejadian di Pasar gelap pada kota Yure beberapa waktu yang lalu.


Tiba-tiba saja, salah satu monster menyerang Yan. Hal ini membuat Yan pucat, wajahnya memutih seakan-akan tak lagi memiliki darah. Sedikit saja dia terlambat menghindari serangan monster tersebut, maka tamatlah riwayatnya.


Yan kemudian mencoba untuk membuang semua pemikirannya tentang Gin dan mulai fokus pada lawan di hadapannya. Karena, walaupun wujudnya hanyalah setengah monster, namun insting Yan menandakan dia harus berhati-hati.


Yan mendapatkan ide untuk mencoba energi es yang baru saja, di kuasainya. Yan kemudian fokus pada tangan kanannya untuk mengeluarkan energi es yang sangat stabil, sementara itu Yan juga berusaha mengeluarkan energi tumbuhannya pada tangan kirinya. Akan tetapi, hal itu malah membuat energi esnya tak terkendali dan membekukan semua yang ada disekitarnya dalam radius seratus meter.


Baik bangunan, penduduk sekitar maupun monster yang berada dalam radius seratus meter dari Yan semuanya membeku. Tak terkecuali penginapan yang baru saja di masukinya. “Aduh, kok malah jadi begini sih?”


Yan meremas rambut putihnya, karena menyadari kebodohan yang telah dilakukannya. Dia kemudian meletekkan tangan kanannya pada tanah. Secara berskala es yang membekukan semuanya dalam radius seratus meter terisap ke tanah dan mengarah ke arah Yan.


 

__ADS_1


Setelah semua es terisap, semua kembali seperti semula, termasuk para monster dapat bergerak dengan sempurna. “Kenapa energi es ini. Kembali tak terkendali seperti ini?”


Kejadian sebelumnya membuat Yan berpikir keras sambil menghindari serangan demi serangan yang diarahkan kepadanya. “Oh, apa jangan-jangan, karena saya berusaha untuk mengeluarkannya bersamaan dengan energi tumbuhan.”


Yan kemudian mencoba untuk mengeluarkan energi esnya kembali. Energi yang keluar sama seperti tadi sangat stabil, Yang mengangkat tangannya yang diarahkan pada monster yang sedang berlari ke arahnya untuk menyerangnya.


Seakan telah diperhitungkan secara matang, monster tersebut membeku sebelum serangannya mencapai Yan. Yan bernafas lega, karena dia sempat ketakutan saat cakar monster sedikit lagi mengenainya.


Yan mengeluarkan gelang kecil yang dipenuhi oleh energi. Kemudian Yan melemparnya ke arah monster yang baru saja dibekukannya. Sebelum mencapai monster yang telah membeku, gelang tersebut membesar dan berubah menjadi tali serta mengikat monster dengan erat.


Yan memutuskan untuk mencari keberadaan Gin.


***


Sementara itu pada waktu yang sama Gin sedang menghadapi tiga monster utuh. Dia dikelilingi oleh ketiga monster yang kelihatan geram pada Gin.


Salah satu monster memutuskan untuk menyerang Gin. Dengan mudah Gin menghindari serangan tersebut. Gin melapisi pukulannya dengan energinya untuk melesatkan sebuah pukulan pada monster yang telah menyerangnya, energi tersebut begitu tipis namun menghempaskan monster tersebut begitu jauh.


Melihat hal tersebut kedua monster yang hanya mengepung Gin sejak tadi mengaum keras. Saking kerasnya membuat sebuah gelombang yang cukup besar hingga mampu membuat Gin terlempar beberapa meter. “Gila!!! Hanya dengan auman saja. Saya sampai termundur seperti ini.”


Gin berlari menuju Ke arah salah satu monster yang sedang berdiri tegap menatapnya. Pada saat Gin tiba di hadapan kedua monster tersebut. Dia melompat serta meliukkan tubuhnya dan melesatkan sebuah pukulan yang telah dia lapisi dengan energi yang cukup besar.

__ADS_1


__ADS_2