Black Shadow

Black Shadow
Iblis Kecil


__ADS_3

Pria tua tersebut berdiri dengan tegak, tubuh murid Laskar biru terbaring tak sadarkan diri di hadapannya, pria tua tersebut menggumam, tapi tetap saja seluruh orang berada disitu mendengarnya. Entah dengan cara apa dia melakukan hal tersebut. “Semua peserta yang berada di tribun bubar, semua masalah ini serahkan kepada panitia turnamen. Jika dalam hitung ke sepuluh masih ada yang tertangkap oleh penglihatanku, terima sendiri akibatnya.”


 


Mendengar hal tersebut semua peserta berlari cepat meninggalkan tempat tersebut, tanpa sepatah-kata pun untuk membantah, termasuk Yan. Bahkan dia yang pertama meninggalkan tribun, dia tahu pria tua itu.


 


Yan tahu bahwa pria tua tersebut adalah salah satu komandan pasukan di kerajaan Selatan, berbicara soal kekuatan. Pria tua tersebut tidak perlu diragukan lagi. Dia memiliki kekuatan yang sangat besar menurut Yan.


 


Setahun yang lalu, Yan pernah melihat pria tua tersebut berhadapan dengan seseorang yang sangat kuat, tapi orang tersebut tentu bukanlah lawan pria tua.


 


Yan berlari tanpa menoleh sedikit pun, dalam waktu sekejap sudah tiba di depan kamarnya. Pada saat Yan membuka pintu kamar, dia reflek histeris. Yan meremas rambutnya dengan kuat, “kukira dengan tidak terlibat masalah tadi, saya akan terhindar dari masalah. Tapi, ke mana si bodoh itu? Ku harap dia tidak sedang membuat masalah.”


***


Sementara itu, di sebuah ruangan latihan yang sangat besar. Gin yang sedang terikat tangan dan kakinya pada sebuah tiang kayu di pinggiran ruangan, tidak hanya itu mulutnya juga tersumpal oleh sebuah kain lap yang kotor, ada sebuah apel di atas kepalanya.


 


“Jangan menggerakkan kepalamu terlalu aktif begitu, kalau anak panah ini mengenai kepalamu itu bukan salahku,” ucap perempuan yang sedang menarik anak panah sambil terkikik.


 


Gin mengucurkan keringat dingin sambil menggelengkan kepala. Dia berusaha bersuara, tapi naas mulutnya sedang tersumpal dan hanya terdengar suara gumaman. Gin tidak pernah menyangka rasa penasarannya akan membawa kematiannya sendiri.


 


“Kalau saya tahu sejak awal ini akan terjadi, saya tidak mau masuk ke dalam ruangan ini. Perempuan ini benar-benar mengerikan, jauh lebih mengerikan dibandingkan Widora. Padahal tidak sedikit pun, saya merasa telah menyinggungnya.” Teriak Gin dalam hati.


 


Perempuan itu fokus pada bidikannya, menutup sebelah mata agar bisa lebih fokus. Anak panah ditarik lebih kuat, hanya hembusan nafas yang terdengar. Pada saat anak panah dilepaskan Gin menjerit keras dalam hati, keringatnya mengalir lebih deras dari sebelumnya.


 

__ADS_1


Dia bergidik ngeri saat anak panah tersebut tertancap di dinding tepat samping lehernya, hanya berjarak dua centi dari leher Gin. Disaat yang bersamaan Gin juga dapat bernafas lega, karena nyawanya masih ada pada tempatnya.


 


Tapi, angin segar yang Gin terima, hanya sesaat saja. Karena perempuan tersebut menghentakkan kakinya ke lantai dan berseru kesal memarahi Gin. “Ish, ini semua gara-gara kamu. Jika kamu tidak banyak goyang, pasti anak panah yang kulesatkan tepat mengenai sasaran.”


 


Gin mengutuk perempuan tersebut dalam hati, “wajahnya saja yang cantik, tapi hatinya seperti iblis, sangat menakutkan.”


 


Perempuan tersebut tidak hanya mengambil satu anak panah saja, melainkan tiga anak panah. “perempuan ini benar-benar iblis berwujud manusia, satu anak panah saja sudah meleset. Nah ini malah pakai tiga anak panah. Ini mah sudah pasti nyawaku akan melayang,” kata Gin, namun hanya terdengar gumaman di telinga perempuan tersebut karena kain lap yang menyumpal mulut Gin.


 


Gin mengucurkan keringat lebih banyak, “awas saja! Kalau saya lolos kali ini, suatu saat saya akan balas menjahilinya,” batin Gin.


 


Pada saat anak panah dilepaskan, Gin mengerahkan seluruh energi yang bisa dikeluarkan, tapi anehnya tidak bisa sama sekali. Hal tersebut tentu membuatnya kalabakan setengah mati, dia memberontak sekuat tenaga.


 


 


Entah itu kebetulan atau memang keahlian yang dimiliki perempuan tersebut, tapi saat ini seluruh tubuh Gin lemas. Jika saja, tidak ada tali yang mengikatnya, tubuh Gin pasti sudah terjatuh ke lantai. “Ish, lagi-lagi meleset.”


 


Perempuan tersebut mengambil sebuah anak panah lagi, tapi pada saat ingin menarik anak panah. Pintu ruangan besar tersebut terbuka secara perlahan, hingga menimbulkan suara berderit. Hal tersebut membuat perempuan bergaun putih menghentikan kegiatannya dan menolehkan wajah.


 


Seorang bekas pengawal Anwai yang datang, “ampun Tuan Putri, maaf saya telah mengganggu aktivitas anda. Tapi, saya diperintahkan oleh Raja untuk mengawal Tuan Putri dan mengikuti ke manapun Anda pergi.”


 


Pengawal tersebut membungkukkan tubuh. Sementara itu, sang Putri terlihat tidak senang mendengar hal tersebut, “apa kau sedang memakiku? Pergi dan katakan pada Ayah, saya tidak butuh pengawal. Lagi pula, saya sudah memiliki seorang teman yang bisa diajak bermain di sini.”

__ADS_1


 


Mendengar hal tersebut Gin mencak-mencak dalam hati, “apa katanya? Teman? Hah, iblis ini sedang bercanda denganku. Mana ada pula orang seperti dia, dijadikan teman. Hampir merenggut nyawa yang katanya teman.”


 


Gin mengatakan hal tersebut seakan tidak pernah melakukan hal yang sama saja, itu sama halnya dengan mengatai diri sendiri.


 


Sementara itu, bekas pengawal Anwai yang kini menjadi anggota pasukan khusus. Bersikap tenang dan berkata, “baik, Tuan Putri. Akan, saya sampaikan pesan Anda kepada Raja.”


 


Dia pun mundur sembari menutup pintu besar tersebut. Sedangkan, sang putri sudah tidak bernafsu untuk mengerjai Gin lagi. Dia terduduk di kursi kayu yang tidak jauh dari tempatnya berdiri, tanpa melespakan Gin.


 


Dia melamun selama beberapa jam, sementara Gin tertidur karena lelah menunggu Putri melepaskan ikatan yang menjeratnya. Dia sempat mencak-mencak yang hanya menimbulkan suara gumaman, tapi tidak diperdulikan oleh Putri.


 


Gin terbangun ketika sekujur tubuhnya tersiram air, sontak saja dia berguling-guling ke sana-ke mari, berteriak, “aaaah, tolong!!!! Ada air bah.” Kini Gin tidak lagi terikat.


 


Mendengar teriakan Gin membuat tawa Tuan Putri pecah. Hal tersebut membuatnya merasa aneh membuka mata melihat sekitar, Gin menjadi malu seketika. Dia menutup wajahnya dengan telapak tangan untuk menyembunyikan diri seakan-akan sudah tidak terlihat oleh Tuan Putri.


 


Tidak ada lagi rasa marah, kesal terhadap Tuan Putri akibat kejadian barusan. Dia sedang malu setengah mati sekarang. Memutuskan untuk segera beranjak dari sana dengan segera, tapi saat kakinya melangkah menjauh. Tangan Gin tergenggam oleh Tuan Putri yang begitu halus, secara otomatis membuatnya tertahan.


 


Gin menelan ludahnya sendiri, “Iblis kecil ini, apa dia ingin mengerjaiku lagi?” pikir Gin yang membuat tubuhnya bergidik secara spontan.


 


Dia ingin lari sejauh mungkin sebelum semuanya terlambat, tapi semua itu hanya angan-angan Gin. Karena dia sudah tidak bisa ke mana-mana lagi. Gin mengucurkan keringat dingin, meski menampakkan wajah yang datar di hadapan Tuan Putri, tapi dalam hati dia menjerit sejadi-jadinya.

__ADS_1


__ADS_2