Black Shadow

Black Shadow
Kelemahan


__ADS_3

Tiba-tiba saja Yan muncul di hadapan Gin. Dia menahan tangan Gin yang sedang diarahkan pada monster tersebut. Untung saja Yan tepat waktu. Jika saja, pukulan terakhir Gin mengenai monster tersebut. Maka dapat dipastikan monster yang dihadapi oleh Gin hanya akan meninggalkan jasad saja.


Serangan terakhir yang dikerahkan oleh Gin jauh lebih kuat dari serangan-serangannya sebelumnya. Apalagi monster tersebut sudah dipenuhi oleh darah segar. “Ada apa denganmu? Kau telah dua kali menghalangiku untuk menghajar monster yang sedang kuhadapi.”


“Kau bodoh atau pura-pura lupa. Bukankah sudahku katakan, jika monster tersebut adalah jelmaan para pemuda desa ini.” Yan tak bisa menahan amarahnya kali ini, kesabarannya sudah habis akibat ulah yang selalu diciptakan oleh Gin.


Yan selalu dibuat sakit kepala oleh Gin, dia benar-benar tidak mengerti jalan pikiran Gin. Sementara itu Gin mendengar penjelasan Yan hanya menepuk jidat dan berkata, “Oh ya, saya lupa tentang itu.”


Yan yang mendengar pernyataan Gin hanya bisa memijit-mijit kening yang sedikit lagi akan pecah. Gin dan Yan tidak menyadari bila, monster yang menjadi lawan mereka sedang mengumpilkan sebuah energi api dengan daya ledak yang cukup dasyat.


Gin dan Yan yang sedang sibuk berdebat menghentikan aktivitas mereka, karena merasa suhu udara di sekitar mereka tiba-tiba. Mereka berdua secara bersamaan menoleh ke arah yang sama, yaitu tempat monster berada.


Mereka melihat sebuah bola api yang seukuran kepala berada dihadapan monster yang Masih tersisa. Hal tersebut membuat Gin dan Yan menjadi waspada, insting mereka berdua mengatakan, bahwa mereka harus menghindari serangan monster tersebut.


Jika tidak, maka akan terjadi hal yang gawat pada diri mereka. Gin dan Yan melakukan hal yang tepat dengan mengikuti insting masing-masing, sebab dapat dilihat saat monster tersebut mengerahkan energi bola api ke arah mereka. Gin dan Yan menghindarinya, tepat setelah bola api melewati mereka berdua, bola api tersebut meledak.


Daya ledak yang disebabkan oleh bola api tersebut mampu membuat mereka sekarat. Gin dan Yan hanya bisa menghembuskan nafas lega, karena mereka dapat menghindari serangan monster yang menjadi lawan mereka.


“Apa yang harus kita lakukan pada monster tersebut, Gin. Meskipun telah menderita banyak luka, monster itu semakin kuat saja.” Yan kali ini sangat frustasi dengan kondisi mereka saat ini, ditambah dirinya sedang kelelahan sejak tadi. Walaupun dia sempat istirahat sejak. Akan tetapi, hal tersebut belum cukup baginya.


“Yah, tinggal kita hajar.” Mendengar pernyataan Gin membuat Yan geleng-geleng kepala. Gin menghampiri monster yang tersisa. Pada saat dia berada tepat dihadapannya, dia menyerang monster tersebut dengan sebuah pukulan yang menghempaskan monster tersebut.


Secara tiba-tiba Yan muncul di dekat monster yang sedang terhempas tersebut. Dia menyerang sang monster dengan energi tumbuhannya. Hal tersebut membuat sang monster terhempas kembali ke arah Gin.

__ADS_1


Gin menunggu tubuh monster yang sedang terhempas menuju ke arahnya, dia bersiap untuk menyerang monster tersebut. Tepat saat monster tersebut berada di hadapannya Gin mengerahkan pukulannya.


Namun Gin hanya mengenai udara kosong, sebab monster tersebut tiba-tiba berkelit menghindari pukulan Gin. Dia tak membiarkan monster tersebut bergerak dengan leluasa, sehingga terus-menerus menyerang sang monster yang dengan gesit menghindari serangannya.


Gin memutuskan untuk menghentikan serangannya, lalu bergumam dalam hati. “Tidak hanya kekuatannya saja yang bertambah. Akan tetapi, kecepatannya juga.”


Gin yang melihat sang monster yang sekujur tubuhnya masih dilapisi oleh kobaran api, dia tersontak ketika monster tersebut juga terus menerus mengeluarkan darah yang cukup banyak, tak membuat monster tersebut melemah. Monster tersebut justru bertambah lebih kuat dari sebelumnya.


Yan memutuskan untuk menonton pertarungan Gin sejak tadi, dia beristirahat sambil mencari kelemahan sang monster. Walaupun mereka telah melumpuhkan dua monster yang sama sebelumnya. Akan tetapi, berbeda dengan monster yang tersisa ini.


Mereka berdua terlambat melumpuhkannya sehingga membuat monster tersebut dapat berkembang seiring waktu berjalan. Entah hal apa yang membuat monster tersebut terus bertambah kuat?


Monster tersebut rupanya bukanlah tipe yang penyabar, dia tidak menunggu Gin untuk menyerangnya. Monster tersebut menyerang Gin dengan cakarnya yang terlapisi oleh kobaran api. Gin yang mendapat serangan dari sang monster dapat menghidari serangan tersebut.


Tidak berselang lama tiba-tiba saja, Yan berlari menghampiri Gin. Mereka berdua terlihat mendiskusikan sesuatu, sementara itu tidak jauh dari mereka. Monster tersebut telah bangkit kembali dan bergerak dengan cepat ke arah Gin yang sedang asik berdiskusi bersama Yan.


Gin sempat merasakan kehadiran sang monster, namun dia terlambat sehingga membuatnya terseret oleh sang monster yang menarik leher jubahnya. Gin yang masih terseret oleh sang monster tiba-tiba dibanting ke tanah.


Tanah tempat Gin terbanting hancur lebur dan menyebabkan kepulan debu memenuhi tempat tersebut. Yan yang melihat itu segera menyerang sang monster, walaupun jarak pandangannya terbatas, akibat debu yang mengepul.


Bukannya menyerang monster tersebut, Yanlah yang menjadi bulan-bulanan sang monster ketika dia berada dalam kepulan debu. Yan belum terbiasa bertarung pada kondisi seperti ini yang membuatnya menerima banyak serangan dari sang monster.


Yan mencoba keluar dari kepulan debu tersebut. Akan tetapi, sang monster tidak membiarkannya begitu saja. Sementara itu, Gin mengeluarkan cukup banyak darah, akibat serangan dari sang monster.

__ADS_1


Yan yang masih saja menjadi bulan-bulanan sang monster mulai muak. Dia berteriak dengan keras, tanpa sadar teriakannya mengandung tenaga dalam yang cukup besar sehingga membuat kepulan debu tersebut hilang. Sang monster juga terhempas beberapa meter oleh tenaga dalam yang dikeluarkan oleh Yan.


Yan melihat sekitarnya dengan bingung, “Sejak kapan kepulan debu yang menghalangi pandangannya menghilang?” gumam Yan dalam hati. Dia dengan segera mencari keberadaan Gin dan menghampirinya, setelah melihatnya sedang terbatuk mengeluarkan banyak dari mulutnya.


Kepala Gin juga mengeluarkan sedikit darah segar. “Apa kau baik-baik saja?” Yan benar-benar khawatir dengan kondisi Gin saat ini. “Saya baik-baik saja Yan, lihatlah.” Ucap Gin sambil berdiri dan melompat-lompat di hadapan Yan.


Tiba-tiba saja Yan terhempas jauh, Gin sontak terkaget. Dia mencari hal yang membuat Yan terhempas, rupanya di sampingnya telah berdiri sisa monster tadi. Monster tersebut juga menyerang Gin. Namun Gin menangkis serangan sang monster dengan kedua tangannya yang telah dilapisi oleh tenaga dalam, serangan tersebut membuatnya termundur beberapa meter.


Terjadi jual beli serangan antara Gin dan sang monster. Gin yang sudah kepalan tanggung, karena keasikan dia mengerahkan pukulan dengan energi yang cukup besar kepada sang monster. Monster tersebut tidak sempat menghindari serangan Gin yang telak menghantamnya, monster tersebut terhempas jauh hingga merobohkan beberapa rumah warga.cukup


Gin bergerak dengan cepat menghampiri sang monster, dia tidak ingin monster tersebut mendapat kesempatan untuk membalas. Akan tetapi, sesampainya di hadapan monster tersebut terlihat pemandangan yang begitu naas. Monster tersebut tidak sadarkan diri dengan mulut terbuka yang dipenuhi oleh darahnya, serta beberapa gigi yang telah rontok.


Melihat hal tersebut membuat Gin tertawa terbahak-bahak. Suaranya hingga sampai ke tempat Yan, hal tersebut membuat Yan kebingungan. Dia merasa heran, “Sebenarnya hal apa yang membuat Gin tertawa sampai seperti itu?”


Yan memutuskan untuk menghampiri Gin. Pada saat dia telah berada di samping Gin, mulut Yan terbuka lebar hingga membentuk huruf o. Dia tidak menyangka Gin akan benar-benar mengeluarkan seluruh kemampuannya. “Bagaimana jika monster tersebut sampai mati, karena serangannya. Apa dia pernah berpikir akan konsekuensi yang dia perbuat?” pikir Yan.


Yan menghampiri tubuh sang monster lalu mendudukkannya. Yan lalu memerintahkan Gin untuk melemparkan sisa gelang pada yang Yan telah berikan kepadanya pada sang monster.


Gin dan Yan lalu melangkahkan kakinya menuju sebuah pohon beringjn yang cukup besar. Mereka lalu berkata secara serentak, “Kami tahu bahwa kamu berada di sini.”


“Kami mengetahui bahwa kamulah dalang dari semua ini. Jadi keluarlah, kamu juga yang mengontrol monster terakhir yang baru saja kami hadapi.” Tiba-tiba suara tepuk tangan terdengar pada gendang telinga Gin dan Yan. Muncul seseorang dengan mata sipit, serta rambut yang keriting afro seperti pohon beringin, bertubuh kurus dan berpakaian serba hitam.


 

__ADS_1


__ADS_2