Black Shadow

Black Shadow
Terlalu Kuat


__ADS_3

Penampilan Cebures tetap sama, hanya saja ukurannya yang berbeda. Luka silang pada dadanya masih utuh, bahkan masih terdapat belati Bulan tertancap di sana, tapi kawat lenturnya sudah hilang entah ke mana.


Dengan santai Cebures mencabut belati milik Bulan, terdapat darah biru yang membalut mata belati tersebut. Cebures melemparnya sembarang arah.


“Ah, rasanya sudah lama sekali tidak kembali ke wujud ini. Juga kekuatan yang bersemayam dalam tubuh ini juga telah lama tertidur, bahkan telah berkurang drastis.” Cebures memerhatikan setiap inci tubuhnya.


Bulan, Afro dan Itam yang mendengar Cebures mengoceh, membuka mulut lebar-lebar. Bagaimana tidak? Seumur-umur mereka, baru pertama melihat dan mendengar monster dapat berbicara layaknya manusia.


“Ah, saking asyiknya sampai melupakan kalian. Saya harus berterima kasih kepada kalian, karena kalianlah kekuatan dalam tubuhku dapat bangkit kembali.” Cebures dengan senyuman yang menjijikkan.


Perkataan Cebures tidak dibalas oleh ketiga komandan, karena ketiganya sedang syok melihat penampakan di hadapan mereka.


“Bisa saya meminta sesuatu, Afro?” Bulan untuk pertama kalinya meminta sesuatu pada rekannya yang satu ini.


“Oh, tentu bisa. Kau ingin meminta apa? Selama itu bisa kuberikan, pasti akan kuberikan. Apa sih yang tidak untuk kamu?” jawab Afro dengan cengiran lebar.


“Ah, sudahlah, Afro. Saya tidak butuh gombalanmu itu, ingatlah kau itu sudah tua. Jadi, janganlah menggoda juniormu ini. Dan hei, saya hanya ingin kau tidak memakai pukulan yang mengeluarkan ledakan itu.” Bulan sambil memutar bola mata.


“Oh, ayolah. Kau tak perlu seserius itu Bulan, saya tahu umurku tidak muda lagi. Tapi, ayolah saya bercanda. Baiklah, saya tidak akan memakai teknik itu. Padahal teknik itu memiliki daya serang yang mematikan bagi musuh.” Mendengar perkataan Afro membuat Bulan dan Itam membulatkan mata.


“Ya, kau benar. Teknik itu sangat mematikan, tapi bukan untuk musuh. Teknik itu hampir membunuhku dan Itam beberapa kali sebelumnya, Afro. Dan hei, berbicara soal dampak yang diterima musuh. Musuh bahkan tidak lecet sedikit pun setelah menerima teknik itu.” Bulan dengan nada yang dibuat tinggi.


Percakapan mereka benar-benar efektif, lihatlah mereka bertiga sampai lupa dengan Cebures yang jauh lebih kuat dari sebelumnya berada di hadapan mereka.


“Sampai kapan kalian akan mengoceh? Saya tidak sesabar itu menunggu kalian sampai menyelesaikan pembahasan kalian,” ucap Cebures sambil menutup mulut yang sedang menguap lebar.


Mendengar hal itu membuat ketiganya siaga, tapi dengan kecepatan kedipan mata. Afro sudah terhenpas jauh, dia menabrak dinding toko yang belum rubuh dan menghancurkannya begitu saja. Karena hal itu, Afro tertimbun sisa-sisa dinding.


Cebures yang muncul di tempat Afro berdiri tadi, menyapa Bulan dan Itam dengan melambaikan tangan. “Hai.”

__ADS_1


Bukannya tersenyum, keduanya malah mengeratkan jemari dan bergerak menyerang. Serangan Itam dan Bulan mudah saja dihindari oleh Cebures. Dia terlihat santai menghadapi serangan jarak dekat yang dilancarkan oleh keduanya.


“Jika hanya ini kemampuan yang kalian miliki, bisa kupastikan kesempatan kalian untuk menang adalah nol persen.” Cebures dengan nada meremehkan. Ucapannya bukan sekedar omong kosong belaka.


Hal tersebut terbukti dari serangan jarak dekat Bulan dan Itam tak sedikit pun menyentuh Cebures. Pertarungan mereka bahkan tidak bisa disebut sebagai pertempuran yang dilakukan oleh komandan pasukan.


Bulan dan Itam menahan amarah yang besar, mereka berdua mengeluarkan energi yang jauh lebih besar untuk menambah kecepatan dan daya serang terhadap Cebures. Bulan sempat melihat belati yang dilemparkan Cebures tadi dengan sudut matanya.


Dia meninggalkan pertarungan, alhasil Itam hanya seorang diri melawan Cebures. Bulan melepaskan kaus tangan dan memegang kedua belati. Dia berlari cepat ke arah Cebures dan Itam yang sedang bertarung.


Kedatangan Bulan disadari dengan mudah oleh Cebures, tapi tidak memilih untuk menghindari serangan yang datang darinya.


Merasa ada yang aneh, Bulan malah melentingkan tubuh ke belakang, tidak jadi menyerang. “Hahaha, pilihan yang bagus. Kukira kau cukup bodoh menyerang seperti tadi, ternyata kau cukup pintar dibanding temanmu yang satu ini.” Cebures sambil menghantamkan pukulan yang sangat keras ke arah Itam.


Itam terhempas jauh sampai tak sadarkan diri.


Bulan mampu menyarangkan sebuah tendangan dan sayatan belati kepadanya. Sampai wajah Cebures mendapat luka sayatan, dia sampai kesal dibuatnya. Jual beli serangan tak terhindarkan diantara keduanya.


Bulan terhempas beberapa langkah ke belakang, sebelum termundur Bulan menyayat lengannya. Hal tersebut membuat Cebures menahan yang membuncah sejak tadi, dia berniat memanas-manasi Bulan. Malah terbalik dia yang terpancing emosi.


Cebures menyerang Bulan yang sebuah tendangan, Bulan melakukan hal yang sama. Tendangan keduanya bertemu di udara, tak sampai disitu Bulan menurunkan tendangan dan menyarangkan sebuah tikaman ke perut Cebures.


Cebures mengerang kesakitan, “arrgghh, tapi bohong, hahaha. Apa kau pikir bisa mengalahkanku dengan pisau kecil ini?” Cebures dengan seringaian yang sangat menyebalkan bagi Bulan.


Dengan cepat Bulan mencabut belati dan mengayunkan tangan kiri yang memegang belati pada leher Cebures, dengan lincah monster itu menunduk ke belakang sembari mengarahkan tendangan kepada Bulan.


Bulan yang tidak sempat menghindar dengan pasrah menerima tendangan tersebut yang membuatnya terhempas beberapa ratus meter ke belakang. Dia memegang perut yang terasa keram terkena tendangan Cebures, Bulan juga menyapu wajahnya dengan tangan kanan.


Terdapat noda darah yang cukup banyak di telapak tangannya, Bulan tidak kaget sama sekali. Dia teringat jika sebelumnya kepalanya terkena batu yang cukup besar dari reruntuhan kubah sebelumnya.

__ADS_1


“Ingin rasanya cepat mengakhiri pertarungan ini, tapi jangankan mengalahkan monster ini. Untuk bertahan hidup melawannya saja, saya sudah kewalahan setengah mati. Ditambah dengan energi racun yang kutanamkan pada belatiku tidak berefek padanya. Ah, monster ini membuatku frustasi.”


Bulan meremas kepalanya dengan kedua tangan, dia tidak tahu lagi cara mengalahkan monster di hadapannya. Ditambah dengan Itam dan Afro yang nampak sangat menikmati mimpi indah mereka. Lihatlah, sejak tadi mereka pingsan setelah sekali terkena pukulan Cebures.


Pukulan yang dilancarkan Cebures pada Afro dan Itam, bukan main kerasnya sampai mereka berdua telah pingsan sampai selama ini. Mulut keduanya pula terdapat bekas darah yang lumayan banyak yang menandakan kekuatan pukulan Cebures pada mereka tidak main-main.


Bulan tidak putus asa begitu saja, dia melancarkan serangan dengan mengayunkan belati pada dada monster di hadapannya. Namun dengan mudah dihindari dan balik menyerang dengan tendangan menyamping oleh Cebures.


Bulan yang lagi-lagi kurang waspada harus terhempas dengan mulut penuh darah, dia terus terhempas sampai menabrak sesuatu yang cukup keras dan menghancurkannya. Cebures menghampirinya dan meremas rambut Bulan, serta mengangkatnya dari reruntuhan.


“Kuakui kau perempuan kedua yang membuatku tidak tega membunuh, karena kehebatan bertarung. Tapi, tidak membunuh bukan berarti membiarkanmu lolos begitu saja.” Cebures dengan senyuman yang menakutkan.


“Oh, jika kau mengkhawatirkan teman-temanmu, tenanglah. Saya tidak akan membunuh mereka.”


Sementara itu, bulan dengan rambut tertarik ke atas yang membuat kakinya tidak dapat berpijak di atas tanah, hanya bisa pasrah. Dia tidak memiliki kekuatan lagi untuk bergerak, bahkan hanya untuk berbicara.


Sebuah pukulan melesat ke perut Bulan, membuat tubuhnya mengayun ke belakang, “arrghh.” Bulan mengeluarkan darah yang cukup banyak dari dalam mulutnya. Kondisi Bulan saat ini benar-benar buruk, wajah dipenuhi oleh darah yang mengalir dari kepala dan mulutnya.


Juga terdapat lebam di mana-mana akibat banyak menerima pukulan dan tendangan Cebures yang teramat kuat. Bulan memegang perut yang teramat sakit dirasakannya. “Kenapa kau menatapku seperti itu? Hah!”


Cebures meremas kedua pipi Bulan dengan tangan kanannya, lalu meninjunya dengan tangan kiri membuat Bulan terhempas. “Benar-benar mengecewakan, kukira mereka bertiga lawan yang cukup menghibur, tapi sungguh di luar harapan.”


Cebures beranjak pergi meninggalkan ketiga komandan pasukan yang terkulai tak sadarkan diri. Sebelum beranjak pergi meninggalkan kota, dia melihat seorang petarung yang masih berada di sekitar gerbang.


“Ampun, jangan bunuh saya. Arggh.” Cebures meremas pipi petarung tersebut. Seketika tubuh orang yang berada dalam genggamannya mengering, sementara Cebures berubah persis menjadi seperti orang tersebut.


Dari segi penampilan maupun bentuk tubuh semua sama, tidak ada yang berbeda. Hanya saja, sebelah mata Cebures mengalami kebutaan dan luka silang di dada, itulah yang menjadi satu-satunya pembeda. Kemudian Cebures membuang tubuh kering tersebut dan meninggalkan Ibukota Kerajaan Selatan.


 

__ADS_1


__ADS_2