
Babak selanjutnya adalah enam belas besar. Turnamen diundur sampai tiga hari lamanya, kerusakan arena yang sangat parah. Belum lagi, sebagian para peserta harus mengalami pengobatan dan istirahat yang cukup.
Diakibatkan kegagalannya, Gin harus menjalani hukuman dari Bulan. Dia tidak tinggal di asrama lagi, tapi di Kerajaan. Di kamar yang ditempati, sebelumnya. Gin sudah mendapatkan kembali pedangnya, mengambilnya di ruang latihan khusus Putri. Dia tidak sendiri, ditemani oleh Putri saat mengambilnya.
Dia gagal, itu artinya dia bebas dari kurungan asrama. Dia kini bisa berkeliaran bebas, hanya saja tidak bisa lanjut ke babak selanjutnya. Padahal, senjata sudah diperbolehkan di babak enam belas besar.
Gin sangat menyayangkan hal tersebut. Alhasil, dia harus menerima latihan berat, part selanjutnya dari Bulan. Dengan berkacak pinggang, Bulan menyuruh Gin untuk merayap, di atas bebatuan yang cukup tajam. Tidak sampai melukai, tapi tetap sakit.
Gin mengernyitkan wajah, menahan sakit. Tidak menyangka akan sesakit itu, awalnya dia memandang remeh latihan tersebut. Begitu menjalankannya, dia berteriak kesakitan. Rasa sakit yang diakibatkan oleh bebatuan tersebut terus meningkat.
Gin terus menjerit kesakitan, tapi dia tetap bertahan. Sementara itu, Bulan bergumam dalam hati. “Orang ini sudah gila! Saya saja, pingsan setiap hari menjalankan latihan ini, tapi dia?
Gin hanya memiliki waktu istirahat sore hari, hingga pagi menjelang. Selain itu, hanya latihan yang ada di hadapannya.
Selain itu, hanya ada latihan.
Malam telah tiba, Gin merasa seluruh tubuhnya terasa pegal. Sebabnya satu, karena latihan yang diberikan oleh Bulan.
Baru saja, ingin merebahkan tubuh di atas kasur. Putri mengetuk pintu, memanggil nama Gin. Tidak hanya sekali, tapi berulang kali. Dengan malas, Gin melangkah ke arah pintu. Membuka pintu kamarnya untuk Putri. “Ada apa, Iblis Kecil.”
“Temani saya berjalan-jalan keliling Ibukota.” Putri dengan wajah yang dibuat seimut mungkin, agar Gin mau menuruti keinginannya. Cara itu berhasil. Gin mengangguk mantap.
Mereka berjalan saling beriringan, Putri berjalan dengan sesekali melompat senang. Bahagia, hatinya sedang baik malam ini.
Mereka masuk ke kedai teh depan gerbang ibukota. Keduanya lebih suka duduk di bagian luar kedai. Memesan teh terbaik.
Gin langsung menyeruput teh tersebut. Benar-benar menikmatinya, sampai geleng-geleng kepala. Tidak jauh berbeda dengan sikap Putri, saat merasakan teh tersebut. Hanya saja, tidak menggelengkan kepala.
__ADS_1
Mereka berbicara satu-dua hal tentang kebodohan Gin, kalah dalam turnamen tersebut. Sekaligus, Putri merasa takjub dengan kekuatan yang dimiliki oleh Gin. Meski, wajahnya tetap datar.
Tidak lama muncul pangeran ketiga, terdapat tiga orang prajurit bersamanya. Dia bermaksud untuk meminum teh di kedai tersebut. Baru pertama kali, dia masuk ke kedai teh tersebut. Mendengar banyak yang membicarakan kedai teh.
Mereka langsung masuk ke dalam, tanpa melirik Putri sedikitpun. Dia tidak memerhatikan, jika Putri ada di situ. Putri melihat Pangeran ketiga, karena tidak mau terjadi masalah yang tidak diinginkan. Dia menarik tangan Gin, menaruh satu keping perak di atas meja. Mereka meninggalkan Kedai teh tersebut.
“Kenapa kita tuba-tiba pergi, meninggalkan kedai itu? Padahal, saya masih mau menikmati teh yang begitu enak tadi.” Gin sangat menyukai teh dari kedai tersebut. Rasa yang begitu enak, dipilih dari daun teh terbaik. Dengan bau yang begitu membuat candu.
“Lebih baik kita bergegas pergi, sebelum terjadi masalah. Si Pembuat rusuh itu, baru masuk ke kedai tadi.” Gin mengerutkan dahi, ingin bertanya ‘Yang mana?’.
“Dia adalah saudaraku, hanya sikap yang seenaknya saja, dan merendahkan orang lain. Membuatku sangat membencinya, tiap kali dia keluar. Pasti membuat masalah. Terakhir kali, dia ke kota Yure. Pulang dengan tangan yang terbalut, patah.” Putri bercerita, matanya terkandung rasa tidak suka yang teramat besar.
“Sepertinya, Iblis Kecil tidak berbohong,” gumam Rangga. Dia mengamati mata Putri, tidak ada jejak kebohongan di sana.
Mereka berjalan santai, menyusuri kota. Begitu ramai, padat. Anak kecil berlarian dengan kincir angin di tangan. Gin mampir ke penjual roti pinggir jalan, membeli dua. “Iblis Kecil, bayar harga rotinya.”
Gin menghembuskan nafas, memberikan satu roti pada Putri. Dia tersenyum manis, mencoba membujuk Putri. Meskipun sudah punya uang, dia tidak mau mengeluarkannya. Walau uang itu merupakan milik Putri.
Dengan perasaan dongkol, Putri menyerahkan dua koin perunggu pada penjual roti. Dia beranjak pergi, sembari melompat-lompat.
Mengikuti dari belakang, tersenyum. Dia sedikit berjalan lebih cepat, menyusul Putri. Mereka berjalan, saling beriringan. “Setelah ini, kita akan ke mana?”
“Ke tempat biasa. Menikmati rembulan! Lihat, sedang purnama malam ini. Bulan akan terlihat jauh lebih menakjubkan dari tempat itu.” Gin mengangkat bahu. Tetap mengikuti Putri. Dia sudah berjanji pada Bibi Yio, akan menjaga Putri.
Pada saat mereka tiba, Gin terpukau dengan pemandangan yang di lihatnya. Sebuah kanal kecil, terdapat beberapa pohon bunga flamboyan yang berjejer rapi. Bunga flamboyan berwarna merah dengan empat kelopak.
Sudah dua kali, Gin menginjakkan kaki di tempat ini. Dia mendengarkan suara burung berkicau, begitu merdu. Bahkan sangat merdu.
__ADS_1
Kelopak flamboyan begitu indah, jika terlihat pada malam hari, kanal tersebut juga sangat tenang. Terdapat pantulan rembulan di sana. Di atas air terdapat guguran kelopak flamboyan.
Putri duduk termenung menatap purnama, senyumnya begitu lebar. Memeluk lutut sendiri. Dia sedang berada di atas batu besar di pinggiran kanal.
Gin menatap Putri, dia bergumam, “Sepertinya, Iblis Kecil sedang mengenang sesuatu.”
Dia mendekati Putri, duduk di sampingnya. Mengeluarkan seruling, dia meniupnya. Nada yang keluar dari seruling begitu indah, menyayat hati.
Malam dengan purnama, bertabur bintang di atas sana. Gin memainkan lagu yang begitu menyedihkan, Putri menatapnya. Tanpa berkedip sekali ‘pun. Setetes-dua tetes air mata Putri jatuh begitu saja, tanpa bisa dicegah.
Gin terus memainkan lagu tersebut. Cukup lama. Burung elang yang berwarna hitam legam, terbang di sekitar mereka. Mendengarkan permainan seruling Gin. Angin sepoi-sepoi menerpa tubuh. Poni Putri bergoyang, tertiup angin.
Gin menyelesaikan permainan serulingnya, Putri memukul bahunya. Menekuk wajah. “Apa salahku, Iblis Kecil? Hei, saya hanya memainkan seruling tidak lebih. Tapi, kenapa kau memukul bahuku?”
Putri memalingkan wajah. Gin menghembuskan nafas, dia mengeluarkan sesuatu. Sebuah jepit rambut dari kayu cendana. “Ini untukmu, Iblis Kecil. Saya tidak sengaja melihatnya tadi. Membelinya. Saat kita menuju ke sini.”
Wajah Putri merona, tersipu malu. Tapi, dia berusaha bersikap biasa saja. Datar. Merampas jepit rambut tersebut dari tangan Gin. Hal itu membuat Gin menelan ludah sendiri.
Putri membuang muka, begitu Gin menatapnya. Hal tersebut membuatnya tertegun, “Sebenarnya, apa salahku? Setidaknya sebutkan kesalahanku. Jangan tiba-tiba, seperti itu, Iblis Kecil.”
Malam semakin larut, namun Putri belum berniat beranjak. Tetap duduk, memeluk lutunya sendiri. Gin setia menanti, meski dingin menyelimuti. Keduanya terlihat sangat indah, bila dilukis.
Duduk di atas bebatuan besar di tepi kanal, terdapat bunga flamboyan yang terkadang gugur. Terbang diantara mereka. Terlebih di atas sana, rembulan bersinar terang. Bintang-bintang bertaburan memenuhi langit.
Malam yang begitu panjang bagi Gin, dia sudah ingin pulang sejak tadi. Besok pagi-pagi sekali, dia harus latihan. Jika tidak, hukuman yang menantinya tidak main-main.
***
Di sisi lain, di depan gerbang Ibukota. Masuk sekelompok orang yang berasal dari Klan Api, mereka membunuh prajurit penjaga gerbang. Tanpa ada yang mengetahui.
__ADS_1
Mereka menuju ke arah bangunan arena turnamen. Membaur dengan para penonton. “Apa Tuan Barbara benar-benar akan membunuh Raja Selatan, sekaligus berhasil menginvasi Kerajaan Selatan?”