Black Shadow

Black Shadow
Mendadak Gembel


__ADS_3

Seluruh ruangan terselimut asap abadi. Suara tawa membahana sebagai pelengkap suasana yang lumayan mencengkam. Gin dan Yan, terbujur di lantai, tak sadarkan diri. Seluruh pelanggan satu per satu telah terjatuh tidak sadarkan diri, bahkan lebih awal dibandingkan Gin dan Yan. Mereka berdua adalah pengunjung terakhir yang mampu bertahan, selain orang-orang yang mengacau.


Jangan tanya tentang para penjaga toko. Mereka tetap berdiri kokoh, seperti tidak terjadi apapun. Sekeliling ruangan tersebut dipenuhi oleh asap abadi. Para penjaga tetap tenang terhadap situasi yang mereka hadapi. Sepertinya mereka memiliki solusi atas asap abadi.


Para penjaga Toko yang sekaligus Tabib mengeluarkan sebuah kantung berisi bubuk. Mereka menaburkan bubuk tersebut ke udara kosong, sekitar mereka. Secara perlahan asap abadi yang menutupi ruangan, menghilang begitu saja.


Para pengunjung toko sadar satu-persatu, tapi tidak dengan Gin dan Yan. Mereka tetap terbaring di lantai ruangan. Hal tersebut membuat para Tabib mengerutkan dahi. Mereka tidak mengerti dengan kondisi Gin dan Yan yang belum sadar juga.


Sementara di sudut sana, para petarung mengeluarkan tawa yang menggelegar. “Mereka berdua ambruk paling akhir. Jelas menyerap asap abadi jauh lebih besar dari yang lain. Apalagi asap abadi ini, racun dari asap abadi.”


“Seharusnya kalian tahu itu, semakin banyak kau menghirup racun dari asap abadi. Maka akan sangat berbahaya bagi mereka.” Para petarung mengatakan hal tersebut dengan tawa besar.


Para pengunjung tersulut emosi oleh perkataan para petarung. Beberapa pengunjung memutuskan untuk menyerang sekumpulan orang-orang yang membuat kerusuhan.


Pertarungan tak terelakkan pun terjadi, tubuh-tubuh mulai bergelimpangan jatuh di lantai, tak berrnyawa. Ahhh, nyawa seperti sudah tidak berharga lagi sepertinya. Lihatlah mayat-mayat terbujur kaku tersebut.


Orang-orang ini harus kehilangan nyawa dengan mudah ,hanya karena ambisi dari para petarung Kerajaan Barat yang datang mengacau di tempat ini. Hidup sudah tidak berarti lagi. Mungkin, bagi mereka nyawa bagaikan sampah yang harus dibasmi, tak berarti.


Pertarungan berlangsung cukup sengit, hingga malam gelap di luar sana. Kini para petarung dari Kerajaan Barat tersisa seperempatnya, sementara dipihak pengunjung juga banyak jatuh korban, sebagian terluka parah. Hanya beberapa yang masih mampu bertarung.


Sedangkan, para tabib atau bisa dibilang para penduduk kota Goa, hanya bisa membantu mengobati para pengunjung. Tak hanya para pengunjung yang mereka tolong, bahkan orang-orang dari Kerajaan Barat juga mereka obati.


Sementara itu, tubuh Gin dan Yan masih di tempatnya semula, tak ada seorang tabib pun yang mendekati tubuh mereka. Hal tersebut membuat pengunjung, serta orang-orang Kerajaan Barat yang sedang diobati merasa heran, dibuatnya.


“Mungkin, para Tabib itu tidak berani mendekati tubuh kedua remaja tersebut, karena sudah tahu kedua remaja tersebut sudah mati. Jadi tidak ada gunanya untuk mendekati kedua jasad yang sudah tak bernyawa itu,” batin salah satu orang-orang Kerajaan Barat.

__ADS_1


Pertarungan terus berlanjut. Bagai tiada berkesudahan, bahkan ada satu, dua petarung dari Kerajaan Barat menikmatinya atau bahkan mereka semua menikmati pertarungan tersebut. Tiba-tiba saja, suara gelak tawa memenuhi ruangan tersebut.


“Sudahlah kalian menyerah saja, lagipula jumlah kalian semakin sedikit, dibandingkan dengan jumlah kami saat ini. Apalagi jelas-jelas kemampuan kalian tidak ada yang sebanding denganku. Sudah lebih baik kalian menyerahkan semua yang kami inginkan. Tenang saja, kami akan membunuh kalian satu-persatu dengan cepat.” Pemimpin segerombolan petarung tersebut dengan angkuhnya seraya berkacak pinggang.


“Cuih, lebih baik kami mati dengan kepala tegak sambil membusungkan dada melawan orang-orang kotor seperti kalian, daripada harus menunduk pasrah menyerahkan nyawa sembari menunggu dieksekusi, bagaikan hewan yang sembelih.” Suara lantang menggema, kata-kata sederhana itu membuat bulu kuduk beberapa pengunjung yang masih bertahan hidup berdiri, semangat mereka semua seketika bergelora.


Ting! Pang! Suara senjata saling beradu. Pertarungan diantara kedua belah pihak sempat berhenti sejenak, kini kembali bersitegang. Lagi-lagi tubuh kaku tak bernyawa kembali terjatuh, tapi kini lebih banyak dipihak orang Kerajaan Barat yang kehilangan nyawa, hingga hanya menyisakan pemimpinnya seorang.


Beberapa pengunjung yang masih bertahan hidup, loncat bahagia. Ada yang saling merangkul, ada juga saling memeluk saking bahagianya, padahal mereka belum saling mengenal satu sama lain. Perjuangan hidup-mati yang baru mereka lalui yang membuat mereka seperti teman akrab.


Tiba-tiba suara tepuk tangan mengisi udara kosong, tepuk tangan tersebut adalah ulah Pemimpin gerombolan orang dari Kerajaan Barat. Kesenangan para pengunjung, kini harus tertunda oleh kesadaran mereka masing-masing, bahwa pemimpin dari kelompok orang yang membuat kerusuhan masih hidup.


“Saya tidak menyangka sekumpulan orang seperti kalian bisa mengalahkan para anak buah yang cukup lihai. Tapi, biarlah. Toh mereka tidak terlalu berguna bagiku, selalu saja merepotkan bila bersama mereka. Kerjanya tidak becus sama sekali.”


“Sepertinya saya harus turun tangan sendiri. Ah ya, kalian tidak perlu setegang itu. Ini hanya sedikit pemanasan, kok. Saya tidak akan terlalu keras terhadap kalian.” Orang tersebut merenggangkan ototnya sambil sesekali meremas jemari, hingga menghasilkan bunyi dari jarinya.


Petarung dari Kerajaan Barat tertawa mengejek, “Hanya segini kemampuan kalian? Sangat mengecewakan. Para anak buahku benar-benar tidak berguna! Melawan sekumpulan hama seperti kalian saja harus terbunuh__ memalukan.”


Petarung tersebut mendekati salah satu pengunjung yang sedang terbaring di lantai keramik, dia berniat membunuh semua orang yang melawannya. Pada saat kepalan tangan yang terselimuti energi yang cukup banyak terarah pada pengunjung yang ada di hadapannya. Secara tiba-tiba tubuh orang tersebut terhempas jauh hingga menabrak dan menghancurkan rak obat.


Petarung tersebut terkena pukulan yang sangat kuat, dia sampai memuncratkan darah dari mulut beberapa kali. Petarung tersebut bangkit dan mencari orang yang berani menyerangnya dari belakang, pengecut sekali tindakannya.


Wajah marah orang tersebut, berubah tiga ratus enam puluh derajat melihat Gin dan Yan masih hidup. Apalagi mereka terlihat sangat segar. Dia tidak menyangka kedua remaja tersebut masih hidup. Hal tersebut membuatnya termangu dengan mulut terbuka seperti huruf O.


***

__ADS_1


Seorang samurai sepuh dengan rambut terkuncir rapi, juga jangan lupa dengan sebilah pedang yang tersampir di pinggang kirinya. Perawakannya terbilang agak mudah dibanding umurnya, jika orang yang jeli dalam melihat, maka tidak sulit untuk menentukan umurnya.


Samurai ini adalah Masamune. Dia baru saja memasuki kota Bintang, setelah perjalanan jauh tanpa istirahat sedikit pun. Akhirnya, dia lebih dekat dengan Ibukota. Dia bisa berleha-leha sekarang, karena waktu turnamen juga masih beberapa pekan lagi. Tentu, dia datang bukan untuk turnamen tersebut, tapi untuk sebuah misi yang dibuatnya sendiri. Hanya saja, sekalian menonton turnamen tidak ada salahnya, bukan?


Lagipula keadaan ibukota sekarang masih aman-aman saja. Jadi, dia merasa tidak perlu terburu-buru. Masamune sempat mendapat beberapa kendala saat berada tidak jauh dari wilayah Kota Bintang. Dia diserang oleh sekelompok orang, tapi dengan mudah dikalahkan olehnya.


Masamune juga sempat melihat orang-orang yang terkena busung lapar di tengah hutan, ada pemukiman di tengah hutan. Mereka adalah orang-orang yang terusir dari Kota Bintang, karena hanya membuat kumuh kota dengan rumah mereka yang sudah reot di kota. Jadi dengan alibi seperti itu pejabat kota mengusir mereka. Jadilah mereka tinggal di tengah hutan.


Masamune menyerahkan seluruh perbekalannya kepada orang-orang yang ada dipermukiman itu. Uangnya juga habis diberikan kepada mereka. Tak tanggung-tanggung memang. Karena hal itulah yang membuat Masamune memantapkan diri untuk berdiam di Kota Bintang.


Kota Bintang merupakan kota yang besar. Wajar saja, karena letaknya tidak jauh dari ibukota Kerajaan Selatan. Bangunan kota ini seluruhnya terbuat dari kayu, bangunan-bangunan kota tertata rapi, sangat simetris jika dilihat dengan seksama. Jarak satu bangunan dengan yang lain juga cukup baik. Ada ruang untuk pejalan kaki.


Jalanan yang lurus tanpa terlihat sampah, bahkan walau secuil. Pengemis juga tidak terlihat sama sekali dalam kota ini. Padahal di kota-kota kecil lainnya pengemis bertebaran di mana-mana, bahkan sampai orang gila pun bebas berkeliaran. Sangat berbanding terbalik dengan kota ini.


Bangunan-bangunan kota ini pun ada yang berlantai satu, ada dua, bahkan ada yang tiga sampai empat.


Masamune berjalan keliling kota, tanpa sadar dia mencium bau lezat. Tapi, dia cepat menyadarkan dirinya sendiri, agar tidak terlena oleh bau makanan lezat. Yaiyalah, dia harus menahan diri, orang uangnya sudah habis.


Kini, dia seperti gelandangan yang kelaparan di tengah kota. Dia juga tidak bisa tidur di penginapan, karena tidak memiliki uang. Nasib orang berbuat baik, saking baik sampai lupa untuk berbuat baik pada diri sendiri.


“Aku lapar, tapi seorang samurai harus bisa menahan lapar, walaupun hingga berhari-hari, pasti bisa dan bisa tidur di mana saja. Itulah seorang samurai sejati.” Masamune bergumam dalam hati. Itulah prinsip hidup yang dipegang oleh Masamune.


Sampai malam gelap gulita, Masamune berkeliling sambil melihat-lihat sekitar. Jalanan sudah mulai sepi, toko-toko sudah mulai tutup. Masamune berjalan lagi, sembari mencari tempat yang cocok untuk tidur.


Beberapa saat berjalan, dia pun mendapatkan tempat yang cocok untuk tidur dengan nyenyak. Dia tidur di depan sebuah toko senjata. Tidur dalam keadaan duduk sambil menarik pedang dalam pelukannya. Tentu pedang itu, masih tersarung rapi.

__ADS_1


Sungguh nelangsa nasib Masamune di Kota besar ini.


__ADS_2