
Raja mencoba untuk berdiri, dia terjatuh terkena ledakan tadi. Jubah kebanggaannya hangus terbakar, pedangnya jatuh entah di mana. Dia tidak tahu, Raja masih mencoba untuk tetap mempertahankan kesadarannya. Tidak ingin mati konyol di tangan Barbara, dia tidak sudi.
Tanah lagi-lagi bergetar. Sepertinya penyebabnya sama, yaitu pertarungan yang ada di bagian utara Ibukota. “Monster seperti apa yang sedang bertarung di bagian utara Ibukota?”
Raja tidak selemah itu, hanya saja dia sedang sangat kelelahan. Terlebih energinya sudah terkuras banyak selama pertarungannya melawan Barbara. Sementara itu, Barbara masih sehat bugar, seperti tidak terjadi apa-apa.
Raja memaksa tubuhnya, bergerak menyerang Barbara yang sedang berada di udara. Dia membentuk sebuah pisau kecil dari energi pasirnya, tidak hanya satu. Sepuluh pisau kecil terbang mengitarinya, Raja melepaskan pukulan keras pada Barbara. Namun dapat dihindari dengan mudah, Raja terus melesatkan pukulan bertubi-tubi. Akan tetapi, semua serangannya dapat dihindari.
Raja kesal, melepaskan energinya. Melapisi pukulannya dengan energi api. Dia melepaskan pisau kecil menyerang Barbara, pisau kecil dari energi pasir melesat ke arah Barbara.
Barbara menghindari serangan tersebut, dia tertawa keras. Dia benar-benar meremehkan kemampuan Raja, “Hahaha. Apa kekuatan Raja hanya seperti ini?”
Namun Barbara salah, dia benar-benar salah besar. Pisau kecil berbalik arah, kembali menyerang Barbara. Tertancap pada punggung belakangnya. Hal tersebut membuatnya muntah darah yang sangat banyak. Barbara naik pintam, dia bergerak cepat menyerang Raja.
Keduanya bertarung habis-habisan, pertemuan energi mereka menimbulkan gejolak yang cukup besar. Saling membalas serangan satu sama lain, meski Barbara jauh lebih unggul dibanding Raja.
Raja beberapa kali terkena serangan, namun bisa bertahan. Tidak terpental sama sekali, dia melesatkan pukulan keras yang dilapisi oleh energi pasirnya. Pertemuan energi mereka menimbulkan gejolak energi yang sangat luar biasa.
Mereka terus bertarung tanpa henti, saling mengerahkan kemampuan masing-masing. Bedanya, Barbara terlihat sangat santai, tidak seperti Raja yang menghadapinya dengan sangat serius.
Raja menundukan tubuh ke belakang, menghindari serangan Barbara. Dia bergeser ke samping, mengarahkan pasir yang diciptakan dari energinya untuk mengepung, mengurung Barbara. Namun belum genap pasir tersebut mengurungnya, pasir tersebut tercerai-berai. Terbakar oleh api biru milik Barbara.
Raja terbang jauh, menjauh dari Barbara. Dia merasakan sakit di sekujur tubuhnya, sangat sakit. Sampai membuat Raja mengatupkan rahang. Dia tidak bisa bertarung secara langsung melawan Barbara seorang diri, sadar bukan lagi lawan Barbara. “Orang itu sudah terlalu kuat, saya tidak bisa mengalahkannya seorang diri.”
__ADS_1
Raja terbang menjauh dari Barbara, dia mencari aman. Tidak ingin mati konyol di tangan Barbara. Dia sadar, jika mati saat ini. Berarti menyerahkan tahtanya pada Barbara. Hal tersebut tentu akan menyengsarakan rakyatnya sendiri. Tentu Raja tidak mau hal tersebut terjadi, membayangkannya saja sudah membuat wajahnya pias. Terlebih menjadi kenyataan.
Barbara muncul di hadapan Raja secara tiba-tiba, menghantamnya dengan kuat. Hal tersebut membuat Raja meluncur ke bawah, menabrak pepohonan. Menumbangkan lima pohon yang cukup besar, Barbara menciptakan bola api kecil dari energinya. Dia mengarahkannya pada Raja, ada sepuluh bola api yang meluncur ke bawah.
Sebuah ledakan yang lumayan besar tercipta di bawah sana, retetan bola api terus menghantam Raja. Hal tersebut menciptakan ledakan lainnya. Kepulan asap memenuhi sekitar hutan, tempat Raja mendarat. Sementara Barbara tertawa besar. Puas berada di atas angin.
Dia tidak menyangka bisa mengalahkan Raja dengan begitu mudah, hanya dengan evolusi apinya. “Rupanya cerita itu, bukan hanya sekedar dongeng belaka. Ceritanya benar-benar nyata, tidak ada kebohongan.”
Barbara yang sempat meragukan cerita ketua Klan sebelumnya, akhirnya tahu bahwa cerita ketua Klan sebelumnya bukanlah hayalan para pendahulu di Klan Api. Cerita itu nyata. Lihatlah, kekuatan Barbara meluap-luap di sekujur tubuhnya. Luka yang memenuhinya tadi pulih, tidak berbekas. Meski, hanya luka kecil, tetap saja hal tersebut sangat luar biasa.
Kepulan asap mulai hilang, terlihat lubang besar tercipta di bawah sana. Raja terbaring di tengah-tengah lubang besar tersebut. Dia mendapat luka bakar di sekujur tubuh, semakin besar tawa Barbara melihat hal tersebut.
Raja muncul di belakangnya, menghantamkan pukulan yang dilapisi oleh energi miliknya. Hal tersebut membuat Barbara terpental jauh, tidak sampai di situ saja. Raja bergerak cepat, muncul di dekat Barbara yang sedang terpental. Menciptakan palu raksasa dari pasir.
Palu tersebut menghantam telak Barbara, dia terjatuh ke tanah. Raja mengerahkan semua pasir yang terbang di sekitarnya sejak tadi untuk menghantam Barbara. Sebuah teriakan yang sangat besar terdengar. Menggema di hutan.
Raja kembali memanggil pedang miliknya, menangkapnya dengan cepat. Dia menggenggam pedang tersebut dengan sangat erat, tidak ingin terlepas lagi dari tangannya.
Begitu kepulan asap menghilang, Barbara telah berdiri tegap. Merenggangkan otot-otot miliknya, dia memiringkan kepalanya. Kiri dan kanan. Setiap kali memiringkan kepala, maka muncul suara dari lehernya. Krak! Krak!
Raja bersiap kembali, dia mengacungkan pedangnya pada Barbara. Dia tahu pertarungan ini tidak akan berakhir dengan mudah.
__ADS_1
Matanya tidak pernah berpaling pada Barbara yang mendongak ke arahnya, bersiap untuk terbang ke udara. Raja bersiap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi. Bahkan skenario tentang dirinya akan mati di tangan Barbara, meski tidak terima dengan hal tersebut. Akan tetapi, dalam pertarungan kali ini, semua hal bisa saja terjadi.
Raja menebas udara kosong, begitu melihat Barbara terbang ke arahnya. Energi tebasan mengarah pada Barbara, namun dengan mudah dihindari. Masalahnya, Raja tidak hanya sekali menebas udara. Akan tetapi, berkali-kali.
Barbara berhasil menghindari semua serangan tersebut, sesekali menghantam energi yang tidak sempat dihindarinya. Dia sedikit termundur, saat menghantam langsung energi tebasan tersebut.
Mulai muak, Barbara yang sudah berjarak lima meter dari Raja melepas pukulan berenergi api secara bertubi-tubi. Pukulan tersebut menghasilkan energi yang mengarah ke Raja.
Raja tidak menghindari serangan yang datang, dia menebas semua energi yang mengarah padanya. Cepat sekali gerakan menebasnya.
Keduanya saling menatap, belum bergerak sedikitpun. Saling menghitung-hitung. Terutama Raja, dia tidak mau bertindak ceroboh. Dia tahu tidak sekuat Barbara, jadi semua yang dilakukannya harus dipikirkan terlebih dahulu. Tidak boleh ada kesalahan sedikitpun.
Raja meliuk menghindari serangan Barbara, menebasnya. Namun dapat dihindari dengan mudah. Keduanya saling menyerang satu sama lain, gerakan mereka sangat cepat. Beberapa kali Raja terkena pukulan, tebasannya selalu dapat dihindari oleh Barbara. Meski, tidak dihindari secara utuh.
Gelombang kejut lagi-lagi tercipta dari benturan energi keduanya. Mereka terus saling menyerang satu sama lain. Saling jual-beli pukulan.
Barbara menampakan senyum lebar, dia mundur jauh. Menjaga jarak dari Raja. Sementara itu, Raja mengatur nafas. Memanfaatkan situasi tersebut untuk beristirahat, jika saja bukan karena ketidaksudiannya mati di tangan Barbara. Mungkin saja, Raja telah jatuh pingsan sejak tadi.
Raja terbelalak melihat Barbara yang mengeluarkan energi besar. Dia menciptakan bola api yang sangat besar, bahkan membuat suhu sekitar menjadi panas. Lihatlah, pohon—pohon yang tadinya tidak terbakar, kini terbakar saking panasnya energi yang Barbara.
Raja melepaskan semua energinya, mengumpulkan semua pasir yang ada di sekitar hutan. Semua pasir yang berada dalam jangkauannya, terkumpul di satu tempat. Pasir tersebut membentuk pedang raksasa.
__ADS_1
Begitu Barbara melepaskan bola api tersebut, Raja mempercepat pembentukan pedang raksasa tersebut. Dia melepaskannya ke arah Barbara. Kedua energi tersebut bertemu, menimbulkan ledakan yang sangat besar.