Black Shadow

Black Shadow
Gin adalah Monster


__ADS_3

Yan melontarkan tombak raksasa ke arah monter monyet. Tombak tersebut melesat membela udara hingga menancap pada tubuh monster monyet, saat monster monyet tumbang tak lagi menyisakan nyawa, bahkan walau sehelai.


Gin yang sudah terbebas dari genggaman monster monyet, menghampiri Yan dan protes berat dengan tindakannya. “Apakah kamu ingin membunuhku? Jika saja jurusmu dapat menembus tubuh monster monyet, pasti sekarang saya sudah tumbang tak bernyawa bersama monster monyet itu.” Protes Gin sambil menunjuk-nunjuk mayat monster monyet.


“Hahaha, kamu tak perlu khawatir, kan saat ini kamu masih bernyawa juga tak tergores sedikitpun oleh jurusku.”


Gin mencoba untuk membalas ucapan Yan, akan tetapi segera dia urungkan. Sebab dia sadar perjalanan mereka ke Ibukota masihlah begitu jauh. Yah, walaupun Gin belum pernah melakukan perjalanan ke manapun sebelum ini, tetapi dia bisa mengetahuinya dari ucapan Yan sebelumnya, jika perjalanan mereka ke Ibukota akan panjang.


Gin dan Yan berjalan secara beriringan, melihat hari sudah mulai gelap mereka memutuskan untu beristirahat. Pada saat Yan sedang duduk di depan api unggun, Gin pergi ke tempat yang tak terlalu jauh dari tempat mereka beristirahat. Gin mencoba untuk membuka kitab pedang yang belum sempat dia lihat selama ini.


Saat Gin membuka kitab tersebut tiba-tiba Gin seperti tersedot ke dalam buku. Gin menatap sekitar yang begitu gelap dan ada seseorang yang tak jauh dari dirinya sedang memegang sebuah pedang yang entah mengapa? Gin tak mampu melihat pedang dengan jelas.


Tiba-tiba orang tersebut memperagakan sebuah ilmu pedang yang begitu indah, pada setiap gerakannya begitu lentur bagai tak miliki tulang, lembut begitu keras, Keras begitu tegas, tegas begitu perasa, perasa begitu bimbang, bimbang begitu lurus.


Mungkin seperti itulah pemahaman Gin, setelah melihat gerakan ilmu yang dilakukan orang tersebut. Setelah menyelesaikan jurus pertama, tiba-tiba saja Gin muncul di tempatnya semula saat dia belum membuka kitab pedang.


Gin memperagakan ilmu pedang yang dia lihat di tempat aneh tersebut. Gerakan Gin benar-benar persis seperti yang diperagakan oleh orang misterius tersebut. Setelah selesai Gin memperagakan kembali ilmu pedang tersebut kembali, namun kali ini dia bahkan lebih baik dari orang misterius itu.


Gin juga menambahkan sedikit gerakan menyempurnakan ilmu pedang tersebut. Gin terus berlatih gerakan tersebut dengan pedang bayangannya dan pada setiap percobaan, ilmu pedang tersebut jauh lebih baik dari sebelumnya.


Pada saat Gin memutuskan untuk menyudahi latihan ilmu pedangnya, dia tersontak kaget. Sebab pepohonan yang sebelumnya mengelilingnya kini sudah terpotong semua. Bahkan Yan dapat dia lihat sedang berdiri termangu dengan jubah yang tercabik-cabik.

__ADS_1


Gin menghampiri Yan yang dikiranya mendadak menjadi orang gila. “Yan, mengapa kamu mengenakan jubah yang robek-robek begini. Apa kamu sudah kehilangan akal?”


Yan masih tetap berdiri termangu, jika saja Gin mengetahui yang sebenarnya terjadi mungkin dia tidak akan berani menegur Yan seperti itu. Bahkan Yan hampir kehilangan nyawanya, karena ilmu pedang yang baru saja dia latih.


Saat Gin sedang menikmati latihannya. Yan sedang duduk melamun memikirkan segala tentang Widora. Dia tidak mengerti mengapa? Setelah kejadian dirinya dipeluk Widora saat dia kembali dari mencari rumput lasion perasaannya terhadap Widora menjadi tidak karuan seperti ini.


Saat Yan sedang menikmati lamunannya, dia tiba-tiba merasakan bahaya yang menyerangnya hingga dia terpaksa memutuskan lamunanya. Dia melihat bebarapa energi yang muncul entah dari mana sedang memporak-porandakkan tempatnya beristirahat bersama Gin. Pohon-pohon bertumbangan satu demi satu.


Energi tersebut menyasar padanya dan dengan susah payah Yan menghidarinya, energi tersebut berdatangan terus-menerus berdatangan entah dari mana. Yan yang terus menghindar tak mampu menghindar dengan baik hingga dia mendapat sedikit luka sayatan pada beberapa bagian tubuhnya.


Jubahnya juga mulai tercabik-cabik. Diapun mencoba melihat sekitar untuk mengetahui asal energi tersebut. Tatapan Yan menangkap Gin yang sedang berlatih ilmu pedang yang begitu indah, lembut, keras, tegas dan berperasaan.


Mata Yan membulat, bukan karena merasa kagum akan ilmu pedang Gin yang begitu indah, tetapi Yan seakan curiga terhadap Gin. “Jangan-jangan dia sengaja melakukan ini seakan sedang latihan padahal ingin membalasku atas kejadian sore tadi.”


Begitulah kejadian Yan sampai bisa berdiri termangu bagaikan orang gila. Gin heran pada keadaan sekitar yang menjadi porak-poranda, juga jubah Yan yang tercabik-cabik. “Apakah tempat ini baru saja diserang oleh monster yang begitu kuat hingga jadi seperti ini?”


Yan yang masih termangu. Berkata, “Yaa, kau benar. Monster baru saja memporak-porandakan tempat ini, saya benar-benar ingin membunuh hingga tercabik-cabik. Oh ya, itu terlalu mudah baginya mati. Saya akan menyiksanya dulu, seperti ini.”


Yan lalu mengeluarkan sebuah jurus, dia menempelkan tangan pada tanah. Akar panjang muncul dari tanah menahan pergerakan Gin. Melihat wajah Yan yang tiba-tiba berubah jadi menyeramkan Gin berusaha sekuat tenaga untuk meloloskan diri dari jeratan jurus Yan. Namun karena panik Gin kesulitan.


Yan melapisi pukulannya dengan energinya dan menyerang Gin “Saya akan menyiksanya seperti ini.” Saat pukulan Yan hampir mengenai Gin. Dengan kekuatan yang besar, akhirnya Gin dapat lolos dari jeratan jurus Yan. Dia terus-menerus menghindari pukulan Yan yang mengincarnya.

__ADS_1


“Seperti ini.” Yan terus menyerang Gin.


“Seperti ini.”


“Seperti ini.”


“Seperti ini.”


“Yan, apa kau sudah gila? Saya bukan monster.” Gin mengira Yan sudah benar-benar gila karena menganggap dirinya adalah monster. Gin mulai kesal dengan Yan, tetapi dia masih bisa menahan diri.


Gin terus-menerus menghindari serangan Yan yang mematikan. Saat melihat wajah Yan yang sangat menakutkan, hal tersebut membuat Gin hanya bisa menelan ludah. Dengan pasrah Gin terus bergerak ke sana-kemari menghindari serangan Yan yang mematikan.


Yan tanpa henti menyerang Gin dan mengejarnya yang sedang lari menghindari serangannya yang semakin membuat tempat tersebut menjadi porak-poranda. Gin mulai kelelahan menghindari serangan Yan yang seakan tak ada habisnya.


Gin menghindari serangan demi serangan dilancarkan oleh Yan. Dia juga sekali, dua kali menangkis serangan Yan. Bahkan Gin sudah mulai beradu pukulan, tendangan dan serangan tapak. Mereka terus beradu, tetapi Gin terkadang menghindar. Dia masih mengira bahwa Gin sudah gila.


Gin terus menghindari serangan Yan yang bertubi-tubi yang terus di arahkan padanya. Gin sudah merasa sangat lelah. Dia terus memaksakan diri untuk menghidari serangan Yan yang sangat mematikan.


Gin terkadang harus memakai kecepatan penuhnya untuk menghindari serangan Yan yang tiba-tiba berubah menjadi begitu sangat cepat. Gin terus memaksakan tubuhnya untuk terus bergerak, menghindari serangan Yan.


Gin bingung, mengapa Yan bisa tiba-tiba menjadi gila seperti ini? Dia terus menanyakan hal yang sama secara berulang pada Yan. Namun Yan hanya terus menyerang dirinya bagaikan boneka yang dikendalikan.

__ADS_1


Dia benar-benar sudah lelah menghindari serangan Yan. Dia benar-benar pasrah menerima pukulan Yan, Gin hanya berdiri tegap sambil menutup mata, menanti pukulan Yan yang begitu mematikan.


Gin sangat pasrah kali ini menanti kedatangan serangan Yan. Dia memikirkan banyak hal hingga tak mampu mengetahui, apa yang sedang dia pikirkan sesungguhnya. Menit demi menit, detik demi detik Gin masih saja menanti serangan Yan dengan penuh kepasrahan, dia tidak lagi berharap banyak.


__ADS_2