
Yan menyerah berkeliling mencari prajurit yang masih hidup untuk melaporkan kejadian yang dialaminya, sekalian mencari Gin. Dia sudah berkeliling, tapi hanya mayat para prajurit yang bertebaran sepanjang jalan. Dia sempat takut, kalau saja mayat Gin ada pada salah satu diantara deretan jasad yang ditemuinya.
Yan kembali ke dalam kamar berharap Gin sudah berada di sana, dia dengan lelah membuka pintu. Namun harapan Yan tidak sesuai kenyataan, dia sudah celingukan menyodorkan kepala. Mencari keberadaan Gin, berharap sudah berada di dalam kamar.
Sayangnya, kamar tersebut kosong-melompong. Tak ada kehidupan di sana, hal itu membuat Yan mengerutkan dahi. “Sudah selama ini, ke mana perginya si bodoh itu?” Yan mencak-mencak sembari memegangi keningnya yang terasa sakit.
Yan membanting pintu dengan keras, darahnya seperti naik seratus persen. Akibat ulah Gin yang selalu berbuat seenaknya, dia bahkan juga ingin bertindak. Tanpa perlu mempertimbangkan akibat yang terjadi setelahnya.
Merasa pusing sendiri tidak ada gunanya, Yan memutuskan untuk rebahan sambil berangan-angan tentang masa depannya dengan Widora. “Sepertinya seru, kalau saya sudah menikah dengan Widora dan tinggal serumah. Meninggalkan Kerajaan Selatan, beserta hiruk-pikuk pertarungan, membesarkan seorang putra. Kami juga dapat bertani demi kelangsungan hidup, bisa hidup normal tanpa gangguan dari Gin"
“Ah, kehidupan normal seperti itu, sungguh menjadi dambaan setiap orang.” Yan mendambakan hal ini sejak kehadiran Gin. Seharusnya dia turut berterima kasih kepadanya, karena tanpa kehadiran Gin. Yan tidak akan berniat untuk hidup normal.
Yan berangan-angan, tanpa sadar tersenyum lebar.
Gin yang baru memasuki kamar dengan nafas yang tak beraturan, tersenyum picik melihat Yan yang sedang rebahan sambil melamun, tidak lupa dengan senyuman yang terpancar di wajahnya.
“Yan, Widora ada di depan pintu, katanya dia sengaja datang membawakanmu obat-obatan untuk digunakan ketika kau terluka.” Gin teriak dengan wajah datarnya. Yan yang mendengar hal tersebut, terputus lamunannya.
Dia langsung loncat dari tempat tidur dan bergerak cepat melewati Gin, gerakan Yan begitu cepat hingga menimbulkan kesiur angin yang membuat rambut Gin terangkat, akibatnya.
Harapan Yan langsung sirna, ketika melihat keluar tidak ada siapapun. Hanya para prajurit yang sedang mengangkat mayat-mayat tak bernyawa, tergeletak sepanjang lorong asrama. Gin terbahak di dalam kamar. Hal tersebut memicu emosi Yan, dia mencak-mencak mengeluarkan semuanya di depan Gin.
“Tertawa saja terus, bila perlu sampai gigimu hilang.” Yan diakhir kemarahannya. Bukannya menyesal Gin semakin membesarkan suara tawanya yang memenuhi kamar, tawanya sampai terdengar ke telinga para prajurit yang sedang membereskan mayat-mayat yang sudah tak bernyawa.
__ADS_1
Salah satu dari prajurit membuka pintu, “Sebaiknya tawa kalian ditahan dulu, besok baru dilanjutkan. Ingat sekarang sudah larut malam, peserta turnamen yang lain sudah lama tertidur, tidak seperti kalian yang kelebihan kegiatan terbahak dijam seperti ini.”
Yan langsung membungkam mulut Gin dengan telapak tangannya dan memberikan senyum kepada prajurit tersebut sebagai tanda persetujuan. Setelah prajurit tersebut keluar, Yan melepaskan tangannya dari mulut Gin.
Yan memicingkan mata kepada Gin, saat dia melihatnya akan membuka mulut lagi. Seakan Yan tidak memiliki hak untuk melarangnya, Gin berkata, “Mengapa terdapat banyak mayat prajurit tak bernyawa di depan?”
Mendengar hal tersebut menyulut kembali emosi Yan, tangannya terkepal kuat. Kemudian dia menghembuskan nafas secara perlahan, untuk meredam emosinya. “Mereka semua terbunuh oleh sosok misterius yang memakai jubah hitam, serta kepalanya tertutup tudung.”
“Saya sempat menghadapinya tadi, tapi kalah telak. Bahkan sebelum dia mengerahkan setengah dari kekuatannya. Orang misterius tersebut, sepertinya sedang bermain-main denganku. Setelah mengalahkanku, dia lari. Saya sempat mengejarnya, tapi dia menghilang tepat di arena turnamen.” Yan menjelaskan seluruh kejadian yang dialaminya secara ringkas.
Mata Gin membulat, dia juga menghadapi orang yang sama sebelumnya. “Saya juga menghadapi Si Jubah Hitam, dia benar-benar lawan yang tangguh. Saya sampai jatuh bangun melawannya. Oh ya, tulangku sampai retak saat melawannya.”
Yan yang melihat Gin menceritakan kekalahannya, tanpa beban sedikitpun heran sendiri. Dia sampai mengerutkan dahi, tak mengerti dengan jalan pikiran Gin. “Kau kalah, Gin. Bukan menang.”
“Saya tahu, itu sebuah kekalahan. Lalu di mana letak kesalahannya?” Gin bertanya tidak mengerti dengan pernyataan Yan. Dia seakan mempermasalahkan letak menang dan kalah Gin melawan Si Jubah Hitam.
“Ya, jelas salah. Kau kalah melawan Si Jubah Hitam, tapi mengapa kau menceritakan kekalahanmu dengan senyuman seperti itu. Seakan-akan, kaulah pemenangnya.” Yan menjelaskan maksudnya.
“Apa salahnya tersenyum disaat mengalami kekalahan, Yan? Hei, menang dan kalah dalam pertarungan itu hal yang wajar. Apalagi melawan orang yang jauh lebih kuat dibandingkan kita. Bagiku bisa hidup setelah melawan orang yang jauh lebih kuat adalah kemenangan terbesar! Itulah yang Bibi Merume selalu ajarkan padaku.”
“Sehebat apapun kau, tapi apabila tidak bisa mempertahankan hidup. Lalu, apa gunanya kau berlatih selama ini? Sejauh yang kuketahui, tujuan utama dari berlatih beladiri adalah untuk mempertahankan diri, bukan malah sebaliknya.”
__ADS_1
Penjelasan yang diutarakan oleh Gin membuatnya tertohok, dia tidak menyangka di balik ketidak hati-hatian Gin. Terdapat pemikiran yang begitu luas, seperti ini. Yan merasa kagum terhadap Gin, bahkan rasa kesalnya menguap seketika terhadapnya.
Pembicaraan Gin dan Yan, hanya sebatas sampai di situ. Mereka berdua langsung beranjak tidur, karena malam telah larut. Tak akan berlarut-larut. Apalagi akan terhenti hanya untuk menunggu mereka menyelesaikan pembicaraan. Hei, waktu terus berjalan, tanpa bisa terhenti dan itu hukum alam yang tak bisa digugat oleh kekuatan manusia.
Keesokan harinya, Kerajaan Selatan berduka secara besar-besarnya dengan banyak prajurit yang mati dalam melaksanakan tugas menjaga setiap sudut asrama peserta turnamen.
Banyak keluarga maupun kerabat prajurit yang menghadiri pemakaman, serta tangisan histeris mengiringi jalannya pemakaman tersebut. Raja juga ikut menghadiri secara langsung pemakaman para prajurit dan itu atas keinginannya sendiri.
Alhasil, pemakaman tersebut terasa istimewah dengan ratusan prajurit yang mengawal, serta Raja yang turun langsung menghadiri pemakaman, tanpa penyamaran sama sekali. Pemakaman berjalan dengan lancar, tanpa kendala. Lumayanlah, proses pemakaman selesai satu-tiga jam, karena banyaknya prajurit yang gugur.
Hari-hari berlalu dengan cepat, kegiatan rakyat sudah mulai berjalan lancar. Pembangunan, perbaikan sarana dan prasarana kota dipercepat, begitu pula dengan gedung, toko dan lain sebagainya.
Jumlah penduduk yang mengungsi di halaman Kerajaan juga sudah berkurang drastis. Hal ini, membuat senyum terpancar terang dari wajah Raja Kerajaan Selatan. Dia memang sengaja mempercepat proses pembangunan, dia sampai harus mengundang tukang ahli dari seluruh Kerajaan Selatan untuk memperbaiki Ibukota dengan cepat.
Hal ini dilakukan agar Raja bisa fokus dengan turnamen yang sudah lama tertunda, karena hancurnya kota. Setelah semua perbaikan rangkum dan seluruh pengungsi sudah kembali ke rumah masing-masing.
Raja menyebarkan pengumuman ke seluruh Kerajaan Selatan, bahwa turnamen yang ditunggu-tunggu, akan segera dimulai dalam beberapa minggu lagi.
Sementara itu, setelah mendengar informasi yang disebarkan oleh Raja. Para peserta lebih giat latihan dari sebelumnya, bahkan ada satu-dua orang peserta yang menambah tiga kali porsi latihan dari biasanya.
Akhirnya, hari yang ditunggu datang juga. Turnamen Kerajaan Selatan telah dimulai, penonton bahkan memenuhi tribun. Karena menurut kabar yang beredar turnamen kali ini sangat berbeda dengan yang sebelum-sebelumnya.
__ADS_1
Turnamen yang diadakan kali ini, dipenuhi bakat-bakat luar biasa. Bahkan penonton ada yang tidak mendapatkan kursi dan harus melantai.