Black Shadow

Black Shadow
Janji!


__ADS_3

Gin saat ini berada di hadapan Bibi Yio, raut wajahnya serius. Berbeda dengan sebelumnya, suasana dinginnya malam mendukung ekspresinya.


 


Mereka berdua berada di ruangan baca milik Bibi Yio. “Kau... saya tahu kau yang membawa monster itu ke Ibu Kota. Dikejar-kejar oleh monster tersebut, hingga ke Ibukota. Ajaib, kau lolos dari monster tersebut. Monster yang mampu mengalahkan tiga komandan pasukan Kerajaan ini. Wow.”


 


Gin berekspresi datar kali ini, dia tidak sibuk lagi melihat megahnya ruangan tersebut. Buku-buku tertata rapih dengan lemari kayu jati, dinding dengan ukiran perak. Juga bola lampu dengan warna emas. Ruangan dengan harum kasturi.


 


Dia sangat hati-hati kali ini, tidak boleh lengah. Apapun yang terjadi, dia harus siap. Bibi Merume telah mengajarinya akan hal tersebut.


 


Bibi Yio menghembuskan nafas halus, menatap Gin datar. “Tidak perlu sewaspada itu. Saya tidak sedang ingin memperhitungkan hal tersebut. Saya hanya ingin kau menjaga Putri dengan baik. Apapun yang terjadi besok-besok kau harus melindunginya dengan nyawamu sendiri.”


 


Gin menelan ludahnya sendiri, tidak menyangka dipanggil untuk hal serumit itu. Juga sangat merepotkan. “Saya tahu, orang bebas sepertimu tidak akan mau tinggal di istana semewah ini, meski semua bisa kau dapatkan di tempat ini.” Ruangan tersebut hening. Gin mendengarkan setiap perkataan Bibi Yio dengan seksama.


 


“Saya hanya menginginkan, kau datang menyelamatkan nyawa Putri di mana ‘pun keberadaanmu nanti. Saat istana ini dalam bahaya. Apa kau bersedia untuk berjanji padaku, Gin?” Bibi Yio menatap Gin dengan senyuman lebar, tidak ada lagi tatapan tajam darinya. Juga wajah datar.


 


Dengan tanpa pikir panjang, “Iya. Saya berjanji.”


 


“Kau boleh pergi sekarang, Nak. Saya harap kau dapat memegang dan menepati janji. Oh ya, kau bisa sesekali datang dan membaca buku di sini, banyak buku yang sangat menarik untuk dibaca.” Bibi Yio tersenyum lebar, mempersilahkan Gin pergi. Gin tersenyum mengangguk mantap, berlalu pergi. Tanpa menoleh sedikitpun.


***


Yan sedang tertidur pulas, Si Jubah Hitam masuk ke kamarnya. Mendekatinya. Yan dicekik, seketika matanya terbelalak. Susah bernafas.


 


Dia memekik, berusaha melepas tangan yang mencekiknya. Menendang dagunya, dia mendarat di lantai dengan nafas tersengal.


 


“Disaat seperti ini ke mana perginya, Gin?” Yan tidak habis pikir dengan tingkah laku Gin, dia pergi dan tidak muncul lagi. Seperti memiliki orang dalam saja di dalam istana.


 


Yan mengatur nafasnya, bersiap. Tidak ingin lengah, dia kalah sebelumnya dari Si Jubah Hitam. Yan berkata dalam hati, “Setidaknya kali ini, saya harus memberi perlawanan.”


 


“Apa tujuanmu menculik dan membunuh para peserta turnamen? Keuntungan apa yang kau dapat?” Yan berteriak. Sengaja, agar ada seseorang mendengarnya di luar sana. Mengharap bantuan datang.


 


Seperti yang dikatakan Gin. Yan saat ini mencoba untuk bertahan hidup, dia tahu bukan lawan Si Jubah Hitam. Setidaknya untuk saat ini.


 


Yan bergerak maju, muncul di belakang Si Jubah Hitam. Dia menghantamkan sebuah pukulan, ditangkis dengan mudah. Tidak hanya sampai di situ, Yan menciptakan akar yang mengurung Si Jubah Hitam.


 


Melihat Si Jubah Hitam terkurung. Yan tidak mau melepaskan kesempatan tersebut, dia menghantamkan sebuah pukulan yang sangat keras.


 


Hal tersebut membuat Si Jubah Hitam terhempas dan menghancurkan pintu kamarnya. Yan mengejar Si Jubah Hitam mengerahkan pukulan yang keras, namun Si Jubah Hitam menyerangnya dengan tapaknya.


 


Yan dibuat terbelalak, terhempas masuk ke dalam kamar. Dia menghapus darah yang berada di sudut bibirnya, menggertakkan gigi. Melesat keluar. Menyerang Si Jubah Hitam dengan tendangan keras. Si Jubah Hitam menunduk.

__ADS_1


 


Yan mundur ke belakang, sebelum terkena serangan. Dia mengeluarkan energi tumbuhannya, menciptakan akar yang memenuhi tempat tersebut. Akar-akar tajam bermunculan, menyerang Si Jubah Hitam.


 


Hal itu membuat Si Jubah Hitam sedikit kalabakan, dia harus susah payah menghindari serang yang datang dari akar-akar tersebut.


 


Yan tidak hanya duduk berpangku tangan, dia bergerak cepat menyerang Si Jubah Hitam. Jual-beli serangan terjadi. Si Jubah Hitam sangat kewalahan kali ini, dipaksa harus menghadapi berbagai serangan dari segala arah.


 


Si Jubah Hitam mengatupkan rahang, mengerahkan seluruh energinya. Hal tersebut membuat Yan terpental, akar-akar yang diciptakannya musnah begitu saja.


 


Yan muntah darah. Bangkit. “Orang ini sangat kuat. Bagaimana caraku untuk mengalahkannya?”


 


Yan memutar otak, terkaget. Tiba-tiba Si Jubah Hitam muncul di hadapannya, mengerahkan serangan tapak yang telah dilapisi energi. Dia tercekat, berusaha menghindari serangan tersebut.


 


Yan memusatkan energi pada tangannya, mengerahkan serangan tapak untuk menghadapi serangan tersebut. Kedua tapak bertemu yang menciptakan benturan energi dasyat.


 


Si Jubah Hitam dan Yan terpental ke belakang.


 


Yan tidak mau putus asa. Jurus tumbuhan, ilusi tulip putih. Bunga tulip muncul dari tanah tumbuh sedikit demi sedikit hingga menjadi mekar. Tiba-tiba saja, Yan serta Si Jubah Hitam seakan berubah menjadi patung. Mereka telah memasuki dunia ilusi yang diciptakan dari jurus Yan.


 


Si Jubah Hitam tersentak kaget. Tiba-tiba muncul di tempat yang tidak diketahuinya. Banyak pohon dan bunga tulip di sekitarnya, “Ukuran bunga tulip yang tidak biasa.”


 


 


SI Jubah Hitam muntah darah, tidak menyangka akan kesulitan melawan seorang bocah. “Kemampuan bocah ini lebih merepotkan daripada temannya.”


 


Dia berdiri tegap, menghantam dahan pohon yang akan memukulnya. Pyarr! Dahan pohon tersebut hancur, tercerai-berai.


 


Datang satu pohon lagi. Pyarr! Hancur tercerai-berai. Namun tidak lama setelahnya, pohon dahan yang hancur. Pulih kembali. Si Jubah Hitam mulai tersengal, dia merasa energinya tengah dikuras habis oleh sesuatu.


 


“Ada apa dengan tempat? Saya cepat kelelahan selama berada di sini, terlebih energiku seperti sedang terkuras oleh sesuatu.” Si Jubah Hitam dengan suara seraknya. Dia menyapu sekitar, mencari sebab energinya yang terkuras.


 


Tubuh Si Jubah Hitam terhempas lagi, dipermainkan seperti bola ping-pong. Tidak bisa berbuat banyak, dia tidak menyerah begitu saja.


 


Si Jubah Hitam kesal, merasa dipermainkan. Dia mengeluarkan seluruh kemampuannya, energi besar menyelimuti tangannya. Bergerak sangat cepat menghancurkan pohon-pohon tersebut. Uniknya, pohon-pohon tersebut tidak lagi beregenerasi.


 


Yan yang berada di suatu tempat di dalam dunia ilusi tertegun melihat hal tersebut. Dia sempat menahan nafas, saat Si Jubah Hitam mengerahkan seluruh kekuatannya.


 


Si Jubah Hitam kali ini, diselimuti oleh energi yang sangat besar. Dia bahkan menyapu sekitar mencari keberadaan Yan. Terdapat jarum-jarum kecil yang terbuat dari batu, mengelilinginya.

__ADS_1


 


Itu merupakan salah satu kekuatannya. Mengerahkan jarum-jarum kecil tersebut ke arah pohon yang teronggok membisu. Tak! Tak! Tak! Menancap tiga jarum kecil. Tidak lama pohon tersebut meledak. Kesiur angin muncul dari ledakan tersebut.


 


Yan yang melihat itu keringat dingin. Lihat saja, pohon sebesar itu saja meledak tidak bersisa. Dia tidak bisa membayangkan, kalau jarum kecil tersebut mengenai tubuhnya.


 


Yan memutar otak, mencari cara untuk mengalahkan Di Jubah Hitam. Tidak mungkin dia terus-menerus bersembunyi, seperti pengecut.


 


Bisa-bisa, dia ditertawai oleh Gin. Jika didengar olehnya.


 


Di sisi lain, Si Jubah Hitam sedang mencari sesuatu. Matanya terus menyapu sekitar, sesekali mengerahkan jarum kecil yang berada di sekitarnya. Ledakan terus bergema tidak berhenti.


 


Tidak lama suara tawa bergema di mana-mana. Itu suara Yan. Dia berkata, “Menyerahlah, atau kau akan kubinasakan!”


 


Di Jubah Hitam tersenyum, mengerahkan seluruh jarum kecilnya menyebar. Dentuman ledakan terdengar di mana-mana. Dia tidak segan untuk menghancurkan semua yang ada di dunia ilusi tersebut.


 


“Tadinya, kupikir kau lebih baik dari temanmu itu. Akan tetapi, kau jauh lebih buruk. Kau sangat pengecut. Tidak seperti temanmu yang menghadapiku secara terang-terangan.” Si Jubah Hitam memprovokasi Yan. Namun dia bukan Gin yang mudah dibohongi dan ceroboh.


 


Akar raksasa muncul dari tanah, cepat menyerang Di Jubah Hitam. Tidak hanya satu, tapi ada tujuh. Saling bergantian menyerang Si Jubah Hitam.


 


Akar tersebut terpental menabrak lainnya. Hal tersebut disebabkan oleh pukulan Si Jubah Hitam yang sangat kuat. Serbuk dari bunga tulip tidak lagi berguna, tidak dapat menyerap energi Si Jubah Hitam lagi. Seperti terdapat pelindung tidak kasat mata yang menjaganya dari serbuk tersebut.


 


Yan muncul di hadapan Si Jubah Hitam, menendang kuat wajah. Hal tersebut membuat Si Jubah Hitam terpental jauh, menghancurkan pohon-pohon yang ditabraknya.


 


Yan tidak membiarkan Si Jubah Hitam begitu saja, dia mengejar tubuh Si Jubah Hitam dengan kecepatan penuh. Terkejar, dia menghantam perutnya dengan kekuatan penuh. Darah segar milik Si Jubah Hitam keluar dari dalam mulutnya, terbatuk.


 


Tanah yang menjadi tumpuan Si Jubah Hitam hancur, debu mengepul. Memenuhi sekitar. Jarak pandang Yan berkurang, mengira Si Jubah Hitam sudah kalah. Dia mengendurkan kewaspadaan.


 


Energi besar terpancar, Si Jubah Hitam lompat dan menghantamkan pukulan bertubi-tubi pada Yan. Hal tersebut membuatnya menerima pukulan yang sangat banyak, tak bisa menangkis. Terlebih menghindar, dia mengira lawannya telah kalah. Hal tersebut merupakan kesalahan fatal yang dilakukannya.


 


Yan batuk darah, memegang dadanya. Kini dunia ilusinya telah hancur. Mereka kembali ke dunia nyata. Dia sudah tidak berdaya, energinya terkuras banyak.


 


Si Jubah Hitam menghampiri Yan dengan santai, menendang dagunya. Hal tersebut membuat Yan terpental ke belakang, menahan sakit. Dia memegang dagunya yang terkena tendangan.


 


Si Jubah Hitam menghampirinya, mendekat. Mencekik lehernya. Yan kesulitan bernafas, “Di mana temanmu itu berada saat ini?”


 


Yan terpekik, dia kali ini senang Gin tidak sedang berada di asrama, meski sebelumnya mengumpat, menyumpah serapahi Gin.


 

__ADS_1


Yan tersenyum, meludahi wajah Si Jubah Hitam. Hal tersebut membuatnya naik pintam. Dia menghajar Yan dengan dilapisi energi yang besar di tangannya. Yan terpental jauh. Dia memekik menahan sakit, batuk darah beberapa kali. Hingga, akhirnya tidak sadarkan diri.


__ADS_2