Black Shadow

Black Shadow
Rencana yang Berhasil


__ADS_3

Bulan berdiri di hadapan Kilin, dia yang memotong gagak api yang terbuat dari energi Tetua Klan Api. Energi tersebut terbagi menjadi dua, meledak begitu saja.


 


Bulan masih berdiri tegap, tidak lama terjatuh pingsan. Tidak sadarkan diri. Melihat hal tersebut, Kilin bergerak cepat. Menyerang Tetua Klan Api secara beruntun, dia melesatkan tendangan yang cukup keras. Namun dihindari dengan menundukkan kepala.


 


Kilin menyabetkan pedang kecilnya, ditangkap menggunakan tangan kosong. Hal tersebut membuatnya membulatkan mata, tidak percaya serangannya hanya ditahan menggunakan tangan kosong. Darah mengalir dari tangan Tetua Klan Api.


 


Di tengah keterkejutannya, Kilin terkena pukulan yang begitu keras. Tubuhnya terhempas jauh, sempat menyeimbangkan tubuh.


 


Tetua Klan Api muncul di depan Kilin, namun kilin memilih mundur tiga langkah. Mengambil kesiapan, dia bergerak maju. Menebas Tetua Klan Api, namun ditangkin menggunakan energi yang melapisi perutnya.


 


Kilin mundur tiga langkah, dia tidak ingin mengambil resiko terlalu jauh. Sudah menerima banyak luka dari pertarungan ini, terlebih Bulan masih terbaring pingsan.


 


Jika diingat-ingat kembali, dia belum lama ini bertarung melawan Cebures. Bulan tidak sendiri, terdapat Afro dan Itam yang bertarung bersamanya melawan monster tersebut.


 


Kilin mengatur nafasnya yang sedang terengah-engah, cukup melelahkan bertarung sejak tadi. Meski, tenaganya lebih terkuras saat melawan Tetua Klan Api. Menatap jerih pada Tetua Klan Api yang masih dalam kondisi prima, meski tubuhnya telah menerima banyak luka.


 


Tidak mudah bagi Kilin untuk bertahan dari pertarungan kali ini. Butuh usaha ekstra. Dia tidak bisa berbuat banyak, selain bertahan untuk sementara waktu. Sembari menunggu Bulan sadar kembali, mereka harus bersatu melawan Tetua Klan Api.


 


Kilin terkejut, menangkis serangan yang datang. Fatal! Dia melamun di tengah-tengah pertarungan, hampir saja dia kehilangan nyawa.


 


“Kau benar-benar meremehkanku anak muda. Melamun saat sedang bertarung melawanku? Hah! Nyalimu terlalu besar.” Tetua Klan Api memberikan serangan beruntun pada Kilin.


 


Hal tersebut membuat Kilin kalangkabut menangkis, serta menghindari serangan yang datang. Sesekali, dia melancarkan serangan pada Tetua Klan Api.


 

__ADS_1


Kilin terdesak oleh serangan Tetua Klan Api, dia semakin dekat dengan dinding. Berseru tertahan, mengalirkan energi yang lumayan besar pada pedang kecilnya. Dia mengayunkan pedang, gelombang kejut tercipta. Membuat dinding terkikis oleh gelombang kejut tersebut, kedua energi saling berbenturan satu sama lain.


 


Kilin seperti orang kesetanan, menyerang Tetua Klan Api. Energi yang keluar dari tubuhnya meluap, dia mengerahkan kemampuannya. Masa bodoh dengan bertahan hidup, Kerajaan Selatan dalam keadaan gawat saat ini. Diambang batas, perang saudara terjadi di seluruh penjuru Ibukota.


 


Tidak ada pilihan lain, selain melawan. Tidak hanya dirinya yang sedang berjuang, tapi seluruh bagian dari istana Kerajaan sedang bertarung. Mempertahankan keutuhan Kerajaan dari para penghianat, bahkan satu-dua petarung maupun pendekar bebas ikut mempertahankan Kerajaan Selatan. Memilih berada dipihak Raja.


 


Kilin terhempas jauh, mengusap darah yang mengalir dari mulutnya. Menatap tajam pada Tetua Klan Api. Bergerak maju untuk menyerangnya. Namun Kilin kembali terhempas ke belakang.


 


Tanpa disadari oleh Tetua Klan Api, racun sejak tadi menyebar ke seluruh tubuhnya. Pada saat racun tersebut benar-benar masuk ke seluruh bagian sel tubuhnya. Ting! Dalam hitungan detik, dia tidak akan bisa menggerakkan tububnya. Teronggok mati. Hanya menyisakan jasad, namun hal tersebut masih memakan waktu yang tidak sedikit.


 


Tugas Kilin hanya bertahan, tidak lebih. Cuman, dia tidak tahu tentang racun tersebut. Racun yang ditanam oleh Bulan, dia tahu tidak akan bisa mengalahkan Tetua Klan Api. Makannya, dia mengalirkan energi racun yang berbahaya, pada setiap tebasannya.


 


Tidak mudah bagi Bulan untuk menggunakan jurus tersebut, butuh energi yang sangat besar. Meski, kelihatannya dia tidak sedang menggunakan energi. Benar-benar jurus yang sangat berbahaya.


 


 


Kilin masih terus menyerang, tanpa kata menyerah. Dia mengerahkan seluruh kemampuannya dalam menghadapi Tetua Klan Api, menebas ke sana-kemari menggunakan pedang kecil miliknya.


 


Tidak sia-sia tebasan yang dilancarkan oleh Tetua Klan meninggalkan luka sayatan di pipi, perut dan dada Tetua Klan Api.


 


Melihat hal tersebut Tetua Klan, mengerahkan pukulan keras. Namun dapat dihindari oleh Kilin, dia membalas dengan tebasan. Mengenai udara kosong. Keduanya saling membalas serangan, tidak mau memberikan celah satu sama lain.


 


Pertarungan keduanya terus berlanjut, saling menyerang satu sama lain. Kilin meliukkan tubuh, pukulan Tetua Klan mengenai udara kosong. Kilin membalas dengan tebasan, Tetua Klan menunduk bangkit sembari melayangkan pukulan.


 


Kilin terhempas, menyeimbangkan tubuh. Kembali terhempas, terkena pukulan Tetua Klan yang muncul secara tiba-tiba. Dia membulatkan mata, saat menerima pukulan tersebut.

__ADS_1


 


Keduanya saling membalas serangan. Kilin mampu merobek perut Tetua Klan, racun di tubuhnya sudah mulai bereaksi. Itu artinya racun tersebut sudah menyebar luas.


 


Tetua Klan menatap heran pada Kilin, dia bingung pada dirinya sendiri. Entah, kecepatannya yang berkurang, atau kecepatan Kilin yang meningkat drastis.


 


Darah terus mengalir, berwarna hitam. Efek dari racun yang diberikan oleh Bulan. Kilin yang melihat hal tersebut tersenyum lebar, dia sekarang tahu. Tetua Klan Api sudah terkena racun milik Bulan.


 


“Sepertinya, kau harus menyerah sekarang, Tua Bangka! Menyerahkan diri kepada Kerajaan, agar diadili sebagai penghianat.” Kilin memberi saran terbaiknya. Sementara Tetua Klan membuang ludah, tidak sudi menerima saran dari Kilin.


 


“Saya tidak akan sudi. Lagipula, memberiku luka tidak akan membuatmu memenangkan pertarungan ini!” Tetua Klan memuntahkan darah. Dia terbelalak, “Apa yang sedang terjadi dengan tubuhku?”


 


Kilin tersenyum lebar, bergerak maju melakukan serangan. Tetua Klan masih bisa bergerak dengan cukup baik, dia mampu menghindari serangan yang datang.


 


Kini keadaan berbalik, Kilin yang berada di atas awan sekarang. Dia terus mengayunkan pedang kecilnya, melakukan tebasan yang menyulitkan Tetua Klan Api. Dia terkadang tidak bisa menahan tawa, tidak menyangka keajaiban benar-benar terjadi. Tepat di depan matanya, saat sedikit lagi berputus asa.


 


Kilin mempermainkan Tetua Klan, menghinanya secara habis-habisan. Sementara Tetua Klan emosi, dia melepaskan seluruh energinya. Namun yang terjadi, dia memuntahkan banyak darah. Dia menatap nanar pada darah yang ada di tangannya, itu darahnya sendiri.


 


Tetua Klan mulai terlihat frustasi, tidak percaya akan kalah dari dua orang anak muda, yaitu Bulan dan Kilin. Hal tersebut merupakan penghinaan terbesar dalam hidupnya, meski kedua anak muda tersebut sangat berbakat. Salah satunya adalah komandan pasukan.


 


Dia merasa harga dirinya telah tercoreng, sebuah prestasi yang dicapainya selama ini. Seperti tidak ada apa-apanya di depan Kilin dan Bulan, saat mereka mengalahkannya.


 


Ya, Tetua Klan Api telah kalah, dia dikalahkan oleh dua orang generasi muda. Generasi penerus Kerajaan Selatan, Tetua Klan Api tumbang. Jatuh ke lantai, tidak mampu menopang tubuhnya sendiri. Racun dalam tubuhnya semakin ganas menggerogoti sel yang ada.


 


Wajah nampak tidak percaya pada kenyataan, bahwa dia telah dikalahkan. Beberapa kali memuntahkan darah, tidak bisa lagi menggerakan tubuh sendiri. Dia benar-benar telah kalah. Secara perlahan matanya sayup-sayup menutup, gelap. Hingga tidak bernyawa lagi.

__ADS_1


 


Dia merasakan sakit yang teramat sangat, saat akan menghembuskan nafas terakhir. Ingin berteriak keras, namun tidak mampu. Dia mati dengan kehinaan, akibat perbuatannya sendiri.


__ADS_2