
Di depan halaman Kerajaan dipenuhi oleh tenda-tenda raksasa, setiap tenda di huni sekurang-kurangnya sepuluh sampai dua puluh orang. Hal ini diakibatkan setengah kota hancur oleh ulah Cebures.
Kegiatan penghuni tenda beragam ada yang membantu para pelayan kerajaan menyiapkan makanan yang akan dibagikan kepada penduduk penghuni tenda, sementara para murid dan sebagian petarung lepas yang berada digenerasi yang sama, tidak berada dalam tenda karena mereka yang sudah mendaftar telah disiapkan asrama yang akan dihuni oleh dua sampai lima orang untuk perkamarnya.
Adapun para petarung lepas yang ingin menonton harus menyewa penginapan yang tersisa, alhasil penginapan-penginapan tersebut dipenuhi oleh mereka.
Ramai orang berlalu lalang, sibuk dengan urusan masing-masing. Seakan hari esok takkan ada untuk mereka, bahkan satu dua sempat bertabrakan. Menimbulkan cek-cok yang sebenarnya tidak diperlukan.
Sementara itu, para prajurit yang berjaga sempat teralihkan oleh hal tersebut, mereka hanya bisa menggelengkan kepala melihat kejadian itu. Kemudian mereka kembali fokus menatap ke depan tanpa terganggu dengan suara hiruk-pikuk di belakang mereka.
Asrama yang bertempat tepat di samping Kerajaan, sekaligus menyatu dengan arena turnamen. Di dalam suatu ruangan yang hanya berisikan dua orang remaja berambut putih dan yang satu berambut hitam, serta memiliki mata setajam elang.
“Saya tidak menyangka kita akan mendapat kamar sebesar ini dan hanya kita yang menghuninya. Sementara yang lain ada yang sekamar berlima, bahkan ada yang sekamar dua puluh orang. Kita begitu beruntung yah, Yan.” Gin sambil merebahkan tubuhnya di atas kasur yang cukup empuk.
“Ah, tempat tidur ini begitu empuk, saya tidak menyangka kehidupan luar akan semenyenangkan ini.” Kali ini suara Gin lebih dikecilkan, bisa dibilang dia sedang bergumam.
Yan hanya bisa menghembuskan nafas halus sebagai jawaban, perkataan Gin ada benarnya. Dia juga merasa sangat beruntung karena di saat pembagian kamar mereka, orang terakhir yang disebutkan namanya dan otomatis menempati kamar yang sama dengan hanya berdua saja.
Kamar mereka yang seharusnya berkapasitas sepuluh orang, kini hanya ditempati oleh keduanya. “Woi, Yan. Kalau seandainya kita yang menghadapi monster itu, bukan ketiga komandan. Kira-kira apa yang terjadi pada kita?”
Yan yang mendengar itu tiba-tiba menjadi kesal, sekaligus merasa tersindir karena telah meninggalkan Gin seorang diri di tengah hutan menghadapi Cebures, sebenarnya lebih kemelupakannya.
“Tentu saja, kita akan kehilangan nyawa, Gin. Kamu lihat sendiri, bagaimana kuatnya ketiga komandan itu saat berhadapan melawan Cebures, tapi tetap saja mereka dikalahkan. Apalagi ketiganya sampai terbaring koma seperti itu.” Yan menjelaskan dengan nada yang agak ditinggikan.
“O,” Gin sambil mengangguk. Yan yang mendengar hal itu langsung menjitak kepala Gin.
__ADS_1
“Aich cicici, sakit.” Sambil memegangi kepala dan melompat dari atas kasur.
Yan kesal dengan Gin, dia sudah panjang lebar menjelaskan. Gin malah membalasnya dengan sangat singkat.
“Ada masalah apa denganmu? Kalau ingin membunuhku bilang, bukan seperti ini caranya. Pertama kau meninggalkanku yang sedang melawan Cebures seorang diri, sekarang kamu menyiksaku tanpa alasan seperti ini. Jangan-jangan otakmu sudah bergeser yah, karena dipukuli oleh Cebures.”
“Itu teros, andalan. Kalau merasa tersakiti yang dibahas, saya meninggalkanmu melawan Cebures seorang diri, ditambah dengan embel-embel saya ingin membunuh dan lain sebagainya itu.” Yan berbicara sambil memonyong-monyongkan bibirnya ke depan.
Setelah itu, Yan pergi meninggalkan kamar mereka tanpa berbalik sedikit pun. Gin sampai membuka mulut lebar melihat hal tersebut.
Gin yang ditinggalkan Yan sejak tadi menjadi suntuk sendiri di dalam kamar, hanya bisa berbaring tanpa melakukan apapun. Dia pun memutuskan untuk keluar kamar sekedar untuk berjalan-jalan menyusuri asrama.
Gin terus menyusuri setiap sudut asrama, namun hasilnya nihil. Tidak seorangpun yang didapatinya atau hanya sekedar berpas-pasan pun tidak. Sampai pada saat Gin menemukan pintu yang sangat besar, terdapat suara membahana dari dalam.
Merasa penasaran, Gin mendorong pintu tersebut yang menghasilkan suara berderit. Orang yang berada di dalam seketika menghentikan kegiatannya, menoleh ke arah Gin yang seketika mematung. Tak bergerak sedikitpun, bahkan hanya sekedar bernafas pun dia sampai lupa.
Tatapan Gin dan orang tersebut saling bertemu, dia adalah seorang perempuan dengan mengenakan gaun putih yang membalut tubuhnya. Rambut ungu yang tergerai sebahu, kulit seputih salju, wajah yang runcing, serta hidung pesek dan mata bulat seindah rembulan di malam hari, tak lupa dengan tangan halus yang memegang busur panah.
“Siapa kamu? Kenapa kamu bisa sampai ke ruang latihan pribadiku?” Suara lembut itu membuat Gin tersadar dari lamunannya.
“Ti... tidak,” ucap Gin sambil mengangkat tangan sembari menggelengkan kepala, “eh, maksudku saya tidak sengaja menemukan ruangan ini.” Gin dengan senyuman terbodohnya.
“Kau boleh masuk latihan, asal tidak mengganggu waktu latihanku.” Gin hanya mengangguk patuh, tapi belum berani beranjak dari tempatnya. Dia masih ingat betapa menyeramkannya Widora ketika marah, jadi Gin berinisiatif untuk tidak mencari gara-gara kepada perempuan yang berada di dalam sana.
__ADS_1
“Kenapa kamu masih berdiri di situ, cepat masuk dan tutup pintunya atau tidak sama sekali.” Perempuan itu dengan nada yang agak tinggi.
Mendengar hal tersebut Gin dengan patah-patah masuk dan menutup pintu besar yang mengeluarkan bunyi berderit.
***
Sementara itu, disisi lain. Yan sedang berada di tribun penonton arena turnamen, terlihat di bawah sana ada dua remaja yang sedang bertatapan sengit tanpa suara. Hampir seluruh peserta turnamen sedang berada di tribun penonton tidak sabaran menyaksikan kedua remaja yang diketahui berasal dari dua perguruan berbeda.
Anak remaja yang mengikuti turnamen dapat dibedakan menjadi dua golongan, yaitu murid yang memiliki perguruan dan tidak seperti Gin dan Yan. Sementara, kedua remaja yang berada di atas arena adalah murid yang paling berbakat pada generasinya dari perguruan masing-masing.
Satu remaja yang berasal dari perguruan tapak merah yang dapat di kenali dengan jubah yang dikenakannya berwarna merah, serta terdapat tapak tangan dibelakang jubah. Sementara yang satu lagi berasal dari perguruan laskar biru, jubah yang dikenakan juga berwarna biru.
Kedua saling menatap tajam, belum mengambil gerakan menunggu lawan masing-masing bergerak lebih dulu. Karena merasa tidak sabaran murid dari perguruan tapak merah dan laskar biru bergerak bersamaan, kedua tinju mereka saling bertemu di tengah-tengah arena.
Pertemuan tinju membuat mereka termundur beberapa langkah ke belakang, tidak sampai disitu keduanya saling mengerahkan tendangan. Kedua tendangan mereka saling bertemu, lagi-lagi membuat mereka termundur beberapa langkah ke belakang.
“Menurutmu, siapa yang akan memenangkan pertandingan diantara keduanya?” tanya remaja cebol yang duduk di samping Yan.
Mendengar hal tersebut membuat Yan menoleh ke samping, sedikit tertarik. “Menurutku orang yang mengenakan jubah merah dengan tapak tangan pemenangnya.”
Si Cebol tersenyum sambil berkata, “Menurutku, orang yang mengenakan jubah biru itu yang tidak lain murid dari perguruan laskar biru pemenangnya. Lihatlah, walaupun keduanya terlihat imbang, tapi murid dari perguruan laskar biru yang sedikit lebih menonjol dalam melakukan serangan.”
Yan malah tertawa mendengar hal tersebut, lalu berkata, “sedikit menonjol juga bukan berarti sudah pasti menang kan. Saya masih pada pilihanku dan dia tentu pemenangnya.”
Raut wajah Si Cebol terlipat, karena jelas-jelas saat ini pilihannya sedang lebih unggul. “Nanti juga kau mengerti.” Yan dengan sedikit menahan tawa.
__ADS_1