
Rog masih saja mempermainkan Big Baby. Merasa kesal dengan perbuatan Rog, Big Baby melepaskan seluruh kekuatannya. Hal tersebut membuatnya reflek mundur satu langkah. Tanpa disadari, dia meremas jemarinya.
“Jangan salahkan saya. Jika kau harus binasa di arena ini. Kau sendiri yang memaksaku.” Rog bersiap memasang kuda-kuda. Dia terlonjak, merasakan sesuatu datang dari sisi kanan. Buk! Cepat sekali tangan Rog, menangkis tendangan Big Baby. Akan tetapi, dia harus terpelanting beberapa meter.
“Gila!!! Kekuatan macam apa itu? Hahaha. Tangan sampai kebas seperti ini. Eh, sampai biru begini. Kupikir pertarungan kita akan sangat membosankan.” Semangat Rog meledak-ledak. Melihat Rog yang tidak sedikitpun gentar, setelah menerima serangannya. Big Baby merasa geram setengah mati.
Rog menyilangkan tangan ke depan, tepat setelahnya Big Baby muncul melancarkan sebuah pukulan keras. Tubuh Rog jungkir-balik karenanya. Bahkan merasa tulang tangannya seperti sudah patah saja. Yang menjengkelkan bagi Big Baby, senyum Rog tidak luntur sama sekali.
Pertarungan keduanya terus berlanjut, dimana Rog hanya menjadi sam-sak. Tidak melawan sedikitpun. Hal tersebut membuat penonton yang menyaksikan merasa iba. Ditambah Rog sudah muntah darah sebanyak dua kali.
Namun semua itu tidak membuat senyumnya menghilang. Rog berdiri tegap, sejenak menghembuskan nafas halus. “Sepertinya, saya tidak punya pilihan lain, selain meningkatkan sedikit level kekuatanku. Bisa repot jadinya, kalau kalah saat ini.”
Rog menggaruk belakang kepalanya. Dengan gaya seperti itu, dia terlihat tengil. Rog mengarahkan pukulan ke arah belakang, bagi manusia biasa. Rog sedang memukul udara kosong, tapi nyatanya pukulan Rog menghempaskan sesuatu.
Big Baby terhempas beberapa meter. Terdapat darah mengucur pada sudut bibirnya. Dia bertambah kesal, tidak menyangka kecepatannya dapat diikuti oleh Rog. Keduanya beradu serangan, terlihat imbang. Kenyataannya, Big Baby dihajar habis-habisan.
Penonton yang memiliki kekuatan di bawah Rog dan Big Baby, tidak mampu mengikuti pertarungan keduanya. Namun di atas itu, dapat melihat pertarungan secara jelas.
Big Baby merasa dipermainkan sejak awal, emosi menguasai tubuhnya. Sehingga tenaga dalam yang keluar meluap tak terkendali. Kecepatan yang dimilikinya meningkat pesat, tapi tidak mampu menyudutkan Rog.
“Ada apa denganmu? Hanya begini saja, kekuatan yang kau bangga-banggakan.” Rog dengan senyuman lebar, mata dipejamkan.
Big Baby bergerak dan muncul di belakang Rog. Sebuah tendangan yang keras mengenai leher belakang Rog. Hal tersebut membuatnya terguling-guling, Big Baby puas.
Merasa pusing, tapi senyum itu selalu terpatri. Dengan menghembuskan nafas Rog merenggangkan otot sejenak, dia merasa seluruh tubuhnya terasa kaku. “Sudah lama juga, tidak mendapat lawan tanding sekuat ini. Kupikir turnamen ini akan sedikit membosankan. Tapi, hei, siapa sangka terdapat banyak talenta di dalamnya. Hahaha!”
__ADS_1
Rog merasa puas, karena sudah lama tidak bertarung seserius ini. Memasang kuda-kuda terbaik yang dimiliki, karena sadar lawannya kali ini tidak sesederhana yang dipikirkannya. Bagaimana tidak? Dia sampai harus mengeluarkan hampir seluruh kekuatannya.
Big Baby muncul di hadapannya, mengerahkan sebuah tendangan ke arah dagu. Sigap, Rog bergerak gesit ke arah kanan, melayangkan sebuah pukulan ke punggung lawannya. Tapi, Big Baby lompat meliukkan tubuh ke belakang dan menendang kepala Rog. Bum! Membuat tubuhnya terlempar tiga meter dari posisinya.
Rog merasa kepalanya akan pecah, “Bukan main, orang ini sepertinya ingin sekali membunuhku. Ahahahaha.”
Tanpa berpikir panjang, Rog bergerak ke arah Big Baby, begitupun yang dilakukan Big Baby. Keduanya bertemu di tengah-tengah. Tendangan melesat, begitu pula dengan pukulan. Tepat mengenai wajah mereka masing-masing. Hal tersebut membuat mereka termundur.
Rog menghapus peluh di wajahnya. “Pertarungan ini mulai melelahkan. Ah, juga menyebalkan.”
Rog menatap serius ke arah lawannya, tidak menyangka dia harus berusaha keras untuk menang. Menghembuskan nafas kecil, bergerak cepat.
Big Baby yang tidak siap, terkena pukulan telak. Sadar lawannya sedang lengah, Rog berhenti mengerahkan pukulan. Mundur beberapa langkah. “Hoi, ayolah, jangan meremehkanku seperti itu. Kau tahu saya sangat membenci orang yang melamun di tengah pertarungan. Jika ini dipertarungan sesungguhnya. Yakinlah, kau sudah menjadi makanan gagak hitam.”
“Sebenarnya, kau ini siapa? Mengapa kau dapat bertahan sampai saat ini?” Big Baby berteriak kesal.
“Hahaha! Hei, apa kau pikir, hanya orang-orang dari Klan dan Perguruan besar yang bisa memiliki bakat. Klan dan Perguruan kecil tidak boleh, begitu?” Rog dengan gaya tengilnya.
“Kau! Kau! Kau akan kujadikan makanan gagak.” Big Baby terpancing oleh Rog.
Mata Rog terbuka lebar, ketika merasakan perutnya terasa sakit terkena sesuatu. Tubuhnya ‘pun terhempas cukup jauh. Dia memuntahkan darah, “Uhuk...uhuk. Gila! Kekuatan orang ini, benar-benar gila. Hahaha.”
“Hei, Gin. Kurasa orang yang baru saja terkena serangan itu, agak mirip denganmu.” Yan berbicara, setelah memerhatikan pertarungan Rog dan Big Baby.
“Tidak ada mirip-miripnya sama sekali. Saya, ya. Saya. Dia, ya. Dia. Sederhana bukan? Mengapa kau memirip-miripkan kami berdua?” Gin agak kesal pada Yan. Dia tidak suka dimirip-miripkan pada orang lain.
__ADS_1
“Eh, menurutmu siapa yang akan menang diantara keduanya?” tanya Yan penasaran.
“Huft, tinggal lihat hasil akhirnya. Tidak perlu menebak-nebak lagi, kau tahu permainan menebak-nebak ini mulai membosankan di telingaku,” ucap Gin agak kesal.
Yan agak tersontak, dia merasa Gin agak berbeda. “Ada apa dengan Gin?” pikir Yan.
Sementara itu, Rog dan Big Baby sedang mengerahkan serangan terbaik, untuk saling mengalahkan. Jatuh bangun keduanya tidak ada yang mau mengalah. Peluh sudah memenuhi tubuh keduanya. Dengan nafas tersengal keduanya saling menatap.
Big Baby agak kesal dengan senyuman Rog yang belum hilang juga.
Rog berlari menuju Big Baby, tidak secepat sebelumnya. Hal tersebut diakibatkan kelelahan yang dialaminya. Tidak jauh dengan Big Baby. Keduanya ingin segera mengakhiri pertarungan secepatnya dan ingin berleha-leha di tribun atas.
Big Baby yang menanti kedatangan Rog, mengerahkan tendangan dengan seluruh sisa tenaga yang dimilikinya. Rog yang sudah memprediksi hal tersebut. Menarik pukulannya dan segera memutar tubuh ke sebelah kiri.
Semua sesuai rencana Rog, dengan memusatkan sebagian besar tenaga pada kakinya. Dia menendang kaki Big Baby. Hal tersebut membuatnya terjatuh. Kemudian bergerak di hadapan lawannya dan mengerahkan sebuah pukulan terakhir, sebagai penutup pertarungan keduanya.
Tubuh Big Baby terhempas ke udara cukup tinggi. “Kalah, ya. Tidak terlalu buruk, lagipula kalah dari orang sepertinya bukanlah hal yang sangat memalukan,” ucap Big Baby ketika tubuhnya meluncur ke bawah dan terjatuh di luar arena.
“Oh, para hadirin. Tidak disangka! Big Baby yang bertubuh besar dan digadang-gadang akan menyiksa Rog yang bertubuh mungil, malah kalah begitu saja. Hal ini membuktikan kekuatan sejati tidak harus berasal dari fisik luarnya saja. Rog... Rog mampu membuktinya secara langsung kepada kita semua.” Suara wasit menggema ke seluruh arena turnamen.
Penonton berteriak bergemuruh, setelah sempat terhenyak. Akibat tak percaya dengan yang mereka lihat secara langsung.
Perayaan kemenangan Rog, begitu meriah.
Kemenangan Rog menjadi pertanda akan segera berakhirnya group A. Penonton di tribun semakin berteriak, karenanya.
__ADS_1