Black Shadow

Black Shadow
Di Bawah Rembulan


__ADS_3

“Apa Paman mengenal Gin?” Yan penasaran dengan tatapan Paman Ten yang tak berkedip pada Gin.


“Tidak, hanya saja dia...” Paman Ten tak melangsungkan perkataannya. Dia merasa menjelaskannya pada sekalipun tidak akan menjawab kebingungannya sendiri pada Gin yang mengingtkannya pada seseorang yang sangat penting dalam hidupnya.


“Hanya saja apa, Paman?” Yan benar-benar penasaran.


“Tidak, bukan apa-apa. Sebaiknya, kita tak perlu membahas hal yang tidak perlu tersebut.” Paman Ten langsung mengalihkan topik pembicaraan, karena entah mengapa dia merasa, bahwa hal tersebut adalah yang sangat sensitif baginya.


“Baiklah, ada hal apa yang sampai membuat Paman sampai repot-repot datang secara langsung kemari.” Yan mendadak melupakan rasa penasarannya pada Paman yang sejak memasuki tempat peristirahatan mereka terus memerhatikan Gin.


“Oh ya, Paman sampai lupa. Ini Paman membawakan kalian ramuan obat yang lumayan bagus untuk luka dalam dan luar, sekalian Paman ingin melihat kondisi kalian berdua. Toh, lagipula kalian telah berjasa bagi klan Gajah perkasa, karena dengan sukarela ikut dalam pertempuran tersebut untuk membantu klan Gajah perkasa.”


Paman Ten merasa berhutang budi kepada Gin dan Yan. Dia secara diam-diam berjanji dari lubuk hatinya yang paling dalam, jika suatu hari nanti Gin dan Yan memerlukan bantuannya, walaupun harus mempertaruhkan nyawanya sekalipun dia akan membantu mereka.


“Wah, terima kasih banyak Paman.” Yan tanpa basa-basi langsung meminum ramuan tersebut. Dia juga menyisakan untuk Gin. Tanpa sepengetahuan Yan, Paman Ten sekali-dua kali melihat ke arah Gin.


Setelah berbincang-bincang sepatah dua kata, Paman Ten langsung pamit. Sepeninggal Paman Ten Yan berbaring kembali hingga terlelap dalam mimpi.


Gin dan Yan bangun disaat yang bersamaan, saat itu matahari akan terbenam ke ufuk barat. “Wow, ramuan tadi berkhasiat sekali, hanya butuh waktu beberapa jam saja luka dalamku telah sembuh dan luka luarku telah kering. Kau harus mencobanya Gin, tetapi jangan menghabiskannya, yah. Lumayan buat stok ke depannya.”


Ten merasa tubuhnya telah pulih seutuhnya. Dia juga dapat bergerak dengan bebas tanpa memerlukan tongkat lagi. Sementara Gin baru saja meminum ramuan tersebut, dia kemudian keluar dari ruangan tersebut untuk berjalan-jalan.


Kediaman Ketua klan menjadi begitu sepi, jika diingat lagi kemarin sore kediaman ini terlihat begitu sibuk. Gin tiba-tiba terdiam sejenak dan berkata, “Semuanya berubah begitu cepat, kemarin banyak Pelayan maupun anggota klan yang bermondar-mandir di halaman ini.”

__ADS_1


“Huft, benar kata Bibi semua yang bernyawa akan mati, sekaya apapun dia, semiskin apapun dia, selemah apapun dia, sekuat apapun dia, selama dia hidup pasti mati juga. Hanya menunggu waktunya saja. Jadi, apa yang harus disombongkan oleh manusia?”


Gin lalu menyusuri setiap sudut tempat pertempuran, walau kondisinya tak separah semalam. Akan tetapi, bercak darah masih memenuhi halaman klan Gajah perkasa. Hal ini membuat Gin menghembuskan nafas kasar.


Dia juga melihat bangunan-bangunan yang telah runtuh, akibat pertempuran yang dasyat semalam. Kejadian semalam adalah pengalaman yang sangat berharga bagi Gin. Mungkin dia tidak akan melupakan kejadian semalam seumur hidupnya.


Gin juga menyusuri puing-puing bangunan, Gin juga sempat mampir ke makam para Pahlawan klan, setelah Gin hening sejenek dan melanjutkan perjalanannya menuju ke kediaman milik Ketua klan. Dia mampir sejenak di makam Ketua klan dan masuk ke dalam kediaman Ketua klan, dia memutuskan untuk kembali ke tempat peristirahatannya bersama Yan.


Pada saat Gin membuka pintu, dia melihat Yan sedang duduk bersila. Ketika dia membuka mata, Yan dapat melihat Gin sedang melihatnya tanpa berkedip. “Kau seperti Paman Ten saja, Gin.”


“Seperti Paman Ten? Apa maksudmu.?” Gin menjadi bingung dengan pernyataan Yan.


“Iya, seperti Paman Ten selalu memperhatikanmu saat kau tertidur.” Yan kemudian menyudahi aktifitasnya.


“Mengapa Paman Ten memperhatikanku?”


Mendengar jawaban Gin seakan tak puas, karenanya dia telah dibuat penasaran. Melihat wajah Yan yang memang tak mengetahui apapun, membuat Gin tidak bertanya apapun lagi mencoba melupakan rasa penasarannya.


Malam itu benar-benar sunyi, hanya suara burung-burung yang berkicau-kicau. Hembusan angin sepoi-sepoi yang membuat penghuni kediaman Ketua klan, sekaligus orang-orang yang tersisa dari pertempuran terlelap dan sibuk dengan mimpi masing-masing yang hanya menyisakan Gin.


Gin melihat Yan telah tertidur lelap membuatnya tak tega bermain seruling di dekatnya. Akhirnya, Gun memutuskan untuk keluar sambil menikmati keindahan malam. Pada saat dia tiba diluar, Gin dapat melihat bulan sabit yang menemani gelapnya malam serta beribu bintang dilangit yang menambah keindahan malam itu.


Pada saat meniup serulingnya, nada yang sangat menyedihkan menggema hingga ke setiap sudut klan Gajah perkasa, nada ini juga sampai terdengar oleh Paman Ten yang masih terjaga memikirkan keterlambatannya untuk melindungi klan Gajah perkasa, diam-diam Paman Ten menyalahkan dirinya sendiri.

__ADS_1


“Jika, saya tiba-tiba sehari lebih cepat, mungkin Ketua klan dan yang lain tak akan terbunuh.” Di dalam keheningannya Paman Ten tiba-tiba mendengar sebuah lagu yang amat menyedihkan, tanpa sadar, dia menitikkan air mata.


Lagu tersebut benar-benar bagaikan mengiris hati paman Ten, walaupun lagu tersebut sangat menyedihkan. Lagu tersebut dalam sejenak membuat Paman Ten lupa akan rasa bersalahnya, dia juga merasa tenang, karena mendengar lagu tersebut.


Paman Ten benar-benar penasaran dengan orang memainkan lagu tersebut, kemudian dia mencoba mencari asal nada-nada indah tersebut. Nada indah tersebut menuntunnya hingga keluar dari kediaman Ketua klan.


Pada saat dia menghadap ke arah sebelah kediaman Ketua klan, Paman Ten melihat Gin sedanga memainkan seruling di atas atap salah satu kediaman anggota klan yang masih utuh. Dia melihat Gin dengan khusyu memainkan serulingnya di bawah bulan sabit, bintang yang bersinar terang serta terdapat dua burung yang hinggap di kedua bahu Gin.


Kedua burung tersebut seakan mendengarkan dan menikmati lagu yang dimainkan oleh Gin. Akhirnya, Paman Ten melompat ke atas atap untuk menemani Gin. Paman Ten duduk tepat sampingnya.


Pada saat Gin menyelesaikan lagunya, dia langsung menyimpan seruling tersebut. Tiba-tiba Paman Ten berkata, “Merasa sedih itu wajar, tetapi kita tak boleh larut dalam kesedihan. Karena hal tersebut tak akan merubah apapun yang telah terjadi, sebagai manusia kita hanya bisa menjalaninya sekuat mungkin.”


“Larut dalam kesedihan yang tak berkesudahan hanya akan menghancurkanmu secara perlahan.” Paman Ten memegangi pundak Gin.


“Paman tidak mengetahui, apa yang membuatmu sedih sampai seperti ini, tapi sebaiknya kamu harus bersahabat dengan kesedihanmu. Bukannya dihajar hingga babak belur seperti ini.” Paman Ten, entah mengapa ikut merasakan kesedihan Gin yang begitu mendalam.


“Maksud Paman?” Gin tidak mengerti dengan penjelasan Paman Ten.


Dengan senyum yang agak dipaksakan, Paman Ten berkata, “Suatu saat kamu juga akan mengerti dengan sendirinya. Dan ingatlah satu ini Gin dunia persilatan adalah puncak dari kekejaman dunia, karena pemeran utamanya adalah manusia yang jauh lebih berbahaya daripada iblis sekalipun. Manusia mempunyai tugas menjaga dunia akan tetapi, secara langsung maupun tidak, manusia jugalah yang menghancurkan dunia.”


“Kau tahu Gin, manusia adalah makhluk yang memiliki derajat yang lebih tinggi daripada iblis dan hewan. Tetapi pada suatu kondisi manusia jauh lebih rendah dibanding iblis sekalipun.”


“Keserakahanlah yang membuat manusia lebih rendah dibanding iblis, menuhankan uang sampai-sampai tega membunuh saudara sendiri, bahkan rela membunuh ibu dan ayahnya.” Paman Ten menjelaskan dengan tegas, sementara Gin mendengarkan penjelasan Paman Ten dengan serius tanpa memotong sepatah-katapun.

__ADS_1


Malam yang panjang bagi mereka berdua, mereka mengobrol hingga ayam menjalankan tugasnya untuk membangunkan manusia baru mereka menyelesaikan obrolanya. Bagi Paman Ten, Gin adalah teman mengobrol yang sangat baik, begitu juga dengan Gin menganggap Paman Ten merupakan teman mengobrol yang baik.


Padahal percakapan mereka hanya satu arah saja, Paman Ten sibuk berbicara ke sana-kemari, sementara Gin menjadi pendengar terbaik.


__ADS_2