Black Shadow

Black Shadow
Musuh Bersama


__ADS_3

Raddas muncul dengan tubuh yang berlumuran darah, tersenyum semringah. “Hei, kupikir kau hebat. Tapi, hanya untuk mengalahkan orang ini, kau sampai dibuat kewalahan.”


 


Raddas mengeluarkan api yang begitu besar pada tangannya, dia menghancurkan lantai arena yang datang menyerang. Tidak hanya satu, dia harus berusaha lebih keras untuk mengatasi lantai arena yang bergerak menyerang mereka. Sementara Yan, dia hanya terdiam mengamati.


 


Di tengah kesibukannya menghancurkan lantai arena yang bergerak, tiba-tiba musuh muncul di samping kanannya. Raddas tersenyum, dia membombardir musuh dengan bola api.


 


Tengah arena penuh dengan ledakan, Yan santai mengamati. Dia begitu santai menonton Raddas yang sedang membantunya melawan musuh. Entah, sedang kesurupan makhluk apa dia?


 


Raddas mengamuk, menyerang lawan secara bertubi-tubi. Tidak membiarkan musuh membalas. Dia terbelalak, begitu melihat musuhnya bergerak perlahan. Maju ke depan. Arena turnamen yang melindunginya.


 


Yan yang bosan mengamati, dia bergerak maju. Muncul di samping musuh, mengerahkan serangan tapak yang sangat kuat.


 


Musuh yang sedang fokus pada Raddas, terlempar jauh. Menabrak dinding tribun. Dia langsung bangun, seperti tidak terjadi apa-apa padanya.


 


Melihat hal tersebut, Yan mengatupkan rahang. Tidak habis pikir dengan musuh mereka. Lebih tepatnya, peserta turnamen yang sedang dikendalikan. “Hei, saya tidak terima ini. Dia itu sedang bertarung denganku, sudah syukur kubantu. Kenapa kau tiba-tiba menyerangnya, seperti itu? Apa kau takut?”


 


“Saya tidak takut, tapi itu namanya strategi, bodoh!” Yan mengatai Raddas, tidak terima dengan Raddas yang mengatainya takut pada musuh.


 


Disaat keduanya berdebat, saling menghampiri. Bertatap muka. Musuh mereka bergerak maju, mengerahkan pukulan kuat pada keduanya. Yan sempat menghindar, tapi dia terhempas juga.


 


Keduanya terhempas, berusaha bangkit memegang perut masing-masing. “Ini semua gara-gara kamu!”


 


“Hei, semua itu salahmu. Tiba-tiba mengataiku takut pada orang yang dijadikan boneka, seperti itu. Kau benar-benar sedang menghinaku.” Yan tidak terima disalahkan atas yang terjadi pada mereka.


 


Lagi-lagi keduanya, harus menjadi sam-sak hidup bagi musuh. Tidak ada yang mau mengalah, hanya saling berdebat satu sama lain. Lebih mementingkan ego masing-masing. Keduanya, jadi mengabaikan musuh.


 


Yan terbatuk, baru saja terhempas. Bukan hanya dia. Lihatlah, Raddas sedang dihajar habis-habisan oleh musuh mereka, tidak diberi ruang untuk membalas.


 


Yan menciptakan akar yang terbuat dari energinya sendiri, akar tersebut muncul dari dalam tanah. Melilit kaki musuh mereka yang sedang menjadikan Raddas, sebagai sam-sak hidup.

__ADS_1


 


Akar tersebut merambat dengan cepat, hingga menghentikan gerakan musuh mereka. Tidak berkutik, terkekang oleh akar yang diciptakan oleh Yan.


 


Raddas tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut, tepat saat akar yang melilit musuh akan hancur. Dia bergerak mengerahkan pukulan dengan energi api, musuh terhempas cukup jauh.


 


Yan bergerak cepat, menyusul tubuh musuh yang terhempas, dia mengeluarkan energi es miliknya. Menyentuh punggung musuh, membeku secara perlahan. Namun pecah dalam waktu kurang dari dua detik, es tersebut belum sempat menyebar.


 


Melihat hal tersebut, Yan tidak kehabisan akal. Dia mengerahkan tinjunya, namun dapat dihindari oleh musuh. Yan menunduk, hampir terkena tendangan. Bangkit dengan pukulan keras, mengenai dagu musuhnya.


 


Hal tersebut membuat musuhnya, terjatuh ke lantai turnamen. Seperti tidak merasakan apa-apa, musuh mereka bangkit kembali dengan tawa serak.


 


Raddas muncul dengan mengerahkan pukulan berapi, tepat mengenai leher musuh. Hal tersebut membuat musuh terpental, dia mengeluarkan bola api yang terarah pada musuh. Tidak main-main, dia mengerahkan begitu banyak bola api.


 


Sebuah ledakan kecil muncul secara beruntun. Sementara itu, Yan menciptakan akar yang sangat tajam. Bengkok ke arah belakang musuh, menanti tubuh musuh tertancap pada ujungnya. Namun ekspetasi tidak sesuai realita. Saat akan tertancap pada akar tajam tersebut, musuh menyeimbangkan tubuh. Dia sedang berada di udara. Kaki di atas, tangan di bawah. Dengan cepat menghancurkan akar tersebut, mendarat dengan baik menghadap ke arah Yan dan Raddas.


 


Musuh tersenyum sinis, matanya hitam pekat, terdapat merah di sana. “Apa kau takut?”


 


 


Raddas dan Yan bergerak cepat, menyerang musuh mereka. Saling bersisian dalam bertarung melawan musuh. Jika Raddas mundur, Yan akan mengisi kekosongan. Keduanya saling melengkapi.


 


Yan yang melumpuhkan musuh, maka Raddas yang menghajarnya. Terkadang melepaskan rentetan bola api kecil, keduanya benar-benar bekerja sama. Di sisi lain, Raddas sedang kesal pada Ayahnya. “Bisa-bisanya Ayah ingin menggulingkan Raja dari takhtanya, saya memang sering kelewatan dalam bersikap, tapi ini? Kupikir Ayah sudah melewati batas!”


 


 


Raddas melampiaskan kekesalannya pada musuh, dia bahkan menangkap tangan musuh. Memelintirnya hingga terdengar bunyi, suara tulang retak. Dia memegang kepala musuh, mengeluarkan energi api. Alhasil, rambut musuh mereka terbakar hangus, api membara di kepala musuh.


 


“Apa kau sadar, orang ini bahkan tidak terluka sedikitpun, setelah dihajar habis-habisan?” Raddas mulai memerhatikan hal tersebut.


 


Yan mengangguk mantap, “Kau benar!”


 

__ADS_1


Musuh mereka bergerak maju, kepala dengan kobaran api. Seperti sedang tidak terjadi apa-apa. Arena turnamen mulai bergelombang, bergerak seperti ombak.


 


Yan dan Raddas kesulitan menjaga keseimbangan, mereka juga dihadapkan dengan lantai arena yang siap menyerang. Yan melompat, begitu lantai arena yang begitu tajam mengarah padanya.


 


“Fiuh, hampir saja. Terlambat sedikit saja, saya pasti sudah menjadi mayat. Tidak bernyawa.” Yan sangat kesulitan menjaga keseimbangan, belum terbiasa dengan lantai turnamen yang bergelombang. Bergerak terus-menerus. Dia beberapa kali, hampir terjatuh.


 


Raddas sedang sibuk mengatasi lantai arena yang terus menyerangnya, bahkan lantai arena yang seharusnya menyerang Yan. Jadi menyerang Raddas. Sepertinya, musuh ada dendam pribadi.


 


Yan ingin tertawa, api pada kepala musuh mulai padam. Rambutnya habis, terbakar. Tidak bersisa alias botak, bahkan sehelai ‘pun tidak ada.


 


Yan terbahak, dia sampai terpingkal-pingkal dibuatnya. Tidak sanggup menahan tawa, sementara Raddas yang mendengar tawa Yan. Pelipisnya berurat, tersinggung oleh tawa Yan. “Hei, bantu saya.”


 


Baru saja meminta pertolongan, Raddas sudah terhempas jauh. Dia batuk darah, terkena pukulan keras pada dadanya.


 


Yan yang melihat hal tersebut, mengeluarkan busurnya. Menarik anak panah, terbuat dari energi es miliknya. Pada saat anak panah dilepaskan, anak panah menjadi banyak, terarah pada arena turnamen yang bergerak menyerang mereka sejak tadi. Rucing pada ujungnya. Seketika anak panah tersebut meledak. Hal tersebut membuat arena yang bergerak menyerang, beku seketika. Hancur dengan sendirinya.


 


Musuh mereka bergerak maju, menyerang Yan. Akan tetapi, Raddas tiba-tiba muncul, mengerahkan sebuah pukulan yang sangat kuat. Tidak hanya itu, pukulan tersebut diiringi dengan energi api yang sangat besar. Jubah yang dikenakan musuh dibuat robek. Terbakar.


 


Raddas tanpa sadar mengeluarkan energi yang sangat besar, dia mengarahkan serangan tersebut pada musuhnya. Sebuah serangan api yang sangat ganas, mengarah pada musuh.


 


Yan tidak tinggal diam, dia mengerahkan anak panahnya yang terbuat dari energi es miliknya. Kali ini anak panahnya sedikit berbeda, energi yang keluar dari anak panah tersebut sangat besar.


 


Salah satu komandan yang sedang bertarung melawan penghianat, melihat Raddas mengeluarkan energi yang begitu dasyat. “Anak ini! Apa dia ingin menghancurkan arena turnamen?”


 


Orang yang bertarung di tribun merupakan para komandan Kerajaan, bahkan Juras Sang Komandan Perang Berzirah Baja ikut dalam pertemouran tersebut. Hanya saja, beberapa ada juga tetua Kerajaan. Ada yang memihak Raja, juga memihak Barbara.


 


Para komandan yang memihak Raja, dibuat kaget oleh keputusan yang diambil Juras, yaitu berpihak pada Barbara. Mereka tidak menyangka, Juras akan berkhianat pada Raja. Sekaligus, menyayangkan keputusan yang diambil olehnya.


 


Mereka saling membunuh sama lain, hanya karena kekuasaan. Takhta Raja. Hanya itu, ratusan nyawa melayang. Bahkan tidak hanya prajurit istana, rakyat biasa juga banyak yang menjadi korban.

__ADS_1


 


Serangan keduanya mengarah pada musuh. Pada saat serangan keduanya menghantam tubuh musuh mereka, tercipta ledakan yang sangat besar. Bahkan menghancurkan arena, beserta tribun turnamen. Setengah gedung hancur begitu saja.


__ADS_2