BUKAN CINTA PENGGANTI

BUKAN CINTA PENGGANTI
Bab 10


__ADS_3

Happy Reading.


Devan memarkirkan mobilnya di depan mini market untuk mengantarkan Nafisa membeli beberapa keperluan pribadinya.


"Aku tunggu disini, kamu masuk aja nanti aku yang bayar," ucap Devan.


Nafisa menoleh menatap Devan sebelum membuka pintu mobil, wanita itu menggeleng pelan, "tidak perlu, aku bisa bayar sendiri," kemudian Nafisa segera buka mobil dan keluar.


Devan segera mengambil ponselnya yang sejak tadi terasa bergetar, iya memang sengaja tidak ikut masih bisa masuk ke dalam minimarket karena ingin membuka pesan di ponselnya itu yang sudah bisa dia tebak dari siapa.


Cintami : Devan, kamu bisa kesini sekarang, gak? Aku butuh bantuan mu ...


Cintami : kamu gak lembur Kan? Ingat nanti malam kamu udah janji mau nonton sama aku!


Cintami : kok gak di bales? Kamu masih kerja apa udah pulang?


Cintami : jangan-jangan kamu bersama dengan Nafisa ya? Pokoknya nanti kita jalan, titik!!


Devan menghela nafas, ucapan Cintami yang terakhir memang benar, bahwa saat ini dia sedang bersama dengan Nafisa.


Dia itu menekan nomor Cintami untuk menghubunginya.


"Halo Cintami, maaf aku sedang mengantarkan Nafisa pulang, setelah itu aku akan pergi menemanimu."


"Ya, ya, aku bisa mengerti, antarkan saja dulu wanita itu." Terdengar sebuah decakan di sebrang telepon.


Devan menghela nafas, kenapa jadi seperti ini? Bukankah seharusnya disini yang berhak marah adalah Nafisa, tapi kenapa Cintami marah hanya karena Devan mengantarkan Nafisa pulang atau belanja.


"Baiklah, nanti aku hubungi lagi kalau sudah on the way, aku akan mengantarmu kan Nafisa dulu," ucap Devan sebelum mematikan panggilannya.

__ADS_1


Pria itu menyugar rambutnya kasar, kenapa sekarang Cintami bersikap seakan dia adalah kekasihnya, ada sedikit rasa tidak suka di hati Devan melihat kelakuan Cintami yang seperti ini, tapi Devan juga tidak bisa melarangnya.


Nafisa sudah mendapatkan beberapa barang yang ia inginkan, tiba-tiba ada seseorang yang menepuk bahunya dari belakang ketika wanita itu mengantri di kasir.


"Hai, kita ketemu lagi," ucap seorang pria tersenyum lebar.


Nafisa memicingkan matanya menatap pria dari depannya ini, yang seketika dia ingat bahwa dia itu adalah tetangga apartemennya.


"Oh, hai! Kamu sedang belanja juga?" Tanya Nafisa sedikit berbasa-basi terhadap Rafael.


Meskipun sebenarnya dia tidak ingin, tapi akan terlihat tidak sopan jika Nafisa mengabaikan sapaan dari Rafael.


"Iya kebetulan kopi robusta gue habis, sama nyari bahan-bahan makanan buat stok di kulkas," jawab Rafael menyunggingkan senyumnya.


Nafisa hanya mengangguk untuk menanggapi, kemudian wanita itu berbalik ke arah kasir karena telah tiba gilirannya.


"Ya udah gue duluan, ya!" ucap Nafisa saat dia sudah selesai membayar belanjaannya.


Sebenarnya dia memang akan mengadakan pesta kecil-kecilan bersama temannya terdahulu pada saat masih SMA. Rafael pergi meninggalkan Indonesia untuk kuliah di luar negeri dan juga bekerja di salah satu perusahaan milik pamannya.


Namun setelah cukup sukses dan merasa bisa untuk menghandle perusahaannya sendiri akhirnya dia memberanikan diri untuk pulang ke Indonesia dan akan mengambil posisi jabatan presiden yang seharusnya sudah ia lakukan sejak beberapa tahun lalu setelah ayahnya meninggal.


"Ya, nanti gue usahain untuk datang," jawab Nafisa cepat. Sebenarnya Nafisa tidak mudah akrab ketika bersama orang yang baru dia kenal.


Tapi mungkin karena melihat Rafael adalah tetangga apartemennya, jadi dia menghormati Rafael sebatas itu.


"Hai, sudah belanjanya, sayang?" tanya Devan saat wanita itu masuk ke dalam mobil.


"Iya, sekarang langsung antarkan aku ke apartemen," ucap Nafisa yang sepertinya ingin cepat segera pergi dari tempat itu.

__ADS_1


Hal itu pun membuat Devan merasa sedikit lega, karena bisa dipastikan dia akan lebih cepat ke tempat Cintami, karena Nafisa ingin segera diantarkan pulang.


Padahal sebenarnya Nafisa merasa ingin segera pulang karena perutnya merasa kram.


Setelah Devan mengantarkan Nafisa dia pun mengabari Cintami bahwa sedang on the way ke tempatnya.


"Devan kenapa kamu lama banget sih, tadi tuh aku nggak bisa gunain bath up aku, airnya tadi mampet nggak bisa nyala, tapi kamu nya nggak bales-bales pesan dari aku ya udah aku mandi di shower aja," ucap Cintami sedikit manja.


"Tadi aku harus mengantarkan Nafisa pulang," Jawab Devan jujur.


"Kenapa sih kamu selalu antar jemput dia? apa dia tidak punya mobil? Dasar manja," Cintami memberengut.


"Ya dia kan kekasihku dan hal ini sudah biasa aku lakukan, menjemput dan mengantarkan Nafisa," jawab Devan mendudukkan dirinya di sofa.


Cintami menuangkan jus jeruk ke dalam gelas untuk Devan, "sebenarnya perasaanmu untuk Nafisa itu seperti apa? Aku kan sudah datang, seharusnya kamu putusin dia, dong! Jadi kita bisa kembali bersama dengan terang-terangan!" ucap Cintami menyodorkan segelas jus jeruk pada pria itu.


Devan tiba-tiba mengepalkan tangannya, rahangnya pun langsung mengeras ketika Cintami mengatakan hal tersebut.


"Apa hak kamu menuntut ku untuk memutuskan Nafisa? Bukankah dulu kamu yang tidak ingin mempertahankan hubungan kita? kamu memilih pergi meninggalkanku untuk mengejar karirmu, lalu kenapa sekarang setelah 10 tahun kamu kembali dan memintaku untuk memutuskan kekasihku?"


Cintami langsung diam mematung mendengar ucapan Devan. Padahal menurutnya selama ini Devan sudah berada di genggamannya karena masih sangat mencintainya, tapi kenapa reaksinya malah seperti ini ketika Cintami menginginkan Devan memutuskan Nafisa.


Devan yang merasa moodnya tiba-tiba memburuk karena perkataan Cintami, akhirnya dia berdiri dari duduknya.


Cintami yang tahu bahwa Devan sudah marah, akhirnya segera meminta maaf agar dia itu luruh kembali.


"Oke Devan, aku minta maaf bukan maksud aku mengatakan hal seperti itu, aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku masih sangat mencintaimu, kukira kamu mau menungguku tapi ternyata kamu telah menemukan pengganti ku," ucap Cintami dengan sendu, wajahnya pun terlihat memelas dan sedih.


Devan segera duduk kembali karena merasa iba dengan Cintami.

__ADS_1


"Sudahlah jangan seperti ini, aku tidak menyalahkan mu dan aku juga tidak mau kamu menyalahkan k, lebih baik kita segera pergi kalau kamu ingin ku temani!"


Bersambung.


__ADS_2