BUKAN CINTA PENGGANTI

BUKAN CINTA PENGGANTI
Flashback - Rasya dan Riska


__ADS_3

Setelah dirasa cukup mengobrol dengan sepupunya, Riska berpamitan untuk mencari Rasya dan ingin melihat bagaimana reaksi kekasih tampan nya itu.


Yang lagi bersama gadis cantik itu di taman rumah sakit tadi adalah Aby anak dari papi Arga.


"Jangan langsung menjelaskan apa yang dilihat tadi dan anggap Riris nggak mengetahui keberadaan dia saat kita bersama,"


Aby sudah memperingati sepupunya ini agar berpura-pura tidak melihat keberadaan Rasya tadi.


Riska hanya mengangguk dan berlalu pergi dari sana tidak lupa dia menghubungi Rasya untuk menanyakan Di mana keberadaan lelaki tampan itu.


Setelah tahu di mana keberadaan Rasya, Riska langsung menuju ke sana dan ternyata lelaki itu berada di depan ruangan rawat pakai Rio sambil duduk.


"Kok Abang di luar?"


Riska langsung duduk di sebelah Rasya dan menanyakan Kenapa laki-laki ini ada di luar, bukannya berada di dalam lebih nyaman.


"Nggak apa kok tadi udah cukup lama di dalam dan Abang sebenarnya sudah mau berpamitan mau pulang karena ini sudah sore,"


Karena sudah cukup lama berada di sana dan sudah saatnya untuk pulang. Tapi dia menunggu Riska segera berpamitan karena tidak mungkin pulang tanpa memberi kabar walau dia bisa mengabari lewat udara.


"Nggak bareng kita aja? Bentar lagi Riris juga mau balik sama bang Raka. Biar Abang nggak naik angkutan umum,"


Tawar Riska.


"Nggak apa Abang bisa balik sendiri dan juga jarak rumah abang beda dengan rumah kalian nanti dan itu akan membuat Raka putar balik terus,"


Walau dari rumah sakit arah rumah mereka berdua sama namun saat di persimpangan jalan nanti maka mereka memiliki arah yang berbeda jadi lebih baik Rasya memilih naik angkutan umum saja daripada merepotkan sahabatnya.


"Abang boleh tanya nggak?"


Rasa ingin menuntaskan keingintahuan ya tentang apa yang dilihat di taman rumah sakit tadi. Dia tidak mau memendam lebih lama dan membiarkan kesalahpahaman bertahan di hatinya.


"Apa mau tanya apa? Jika Riris bisa jawab maka Riris akan dengan senang hati menjawabnya,"


Walau Riska sudah tahu apa yang mau rasa tanyakan tapi dia akan berpura-pura tidak mengetahui apapun dan dia ingin rasa sendiri yang mengatakan atau bertanya kepadanya.


"Tadi abang mau nyusul Riris keluar hingga sampai ke taman rumah sakit dan saat Abang sampai abang melihat Riris lagi bersama laki-laki. Apa nggak mau salah paham dan marah-marah nggak jelas karena abang tahu bagaimana Riris ya nggak mungkin berdekatan dengan laki-laki yang bukan muhrim kita,"


Dari cara bicara Rasya ini saja, sudah bisa Riska simpulkan jika kekasihnya ini bisa berpikir dengan bijak. Sama dengan apa yang dibilang sepupu tampannya tadi jika Rasya benar-benar mencintainya dan tidak mungkin menyimpulkan sesuatu yang hanya dilihat dari jarak jauh tanpa meminta penjelasan apalagi sampai membawa amarah di dalamnya.


"Jika Abang melihat Riris di taman, kenapa Abang nggak menghampiri Riris tadi dan malah pergi?,"


Padahal jika Rasya menghampirinya tadi dia bisa mengenalkan mereka berdua tapi sayang sekali Rasya lebih memilih pergi daripada menghampirinya.


"Nggak apa, abang tahu tadi Riris lagi kesal Jadi Abang memberi waktu buat Riris untuk menenangkan diri dulu,"


Riska mengembangkan senyumnya karena Rasya begitu pengertian dan tahu kapan dia butuh waktu sendiri, bukan malah menghampiri atau memaksa kehendak.


"Dari interaksi yang Abang lihat tadi saja sudah bisa Abang simpulkan jika kalian memiliki hubungan bukan sekedar teman,"


Gadis cantik yang duduk di sampingnya ini adalah gadis baik-baik dan bisa menjaga dirinya agar tidak bersentuhan dengan lawan jenisnya.


Jadi tidak mungkin sembarangan Riska mau bersentuhan dengan orang jika tidak memiliki hubungan darah.


"Tadi itu bang Aby anaknya papi Arga yang rumahnya tepat berada di depan rumah Riris,"


Riska tahu rumah besar yang ada di depan rumah keluarga Riska dan itu sama mewahnya dengan rumah kedua orang tua Riska.


Dia tahu karena dia sudah pernah datang beberapa kali ke rumah diajak Raka.


"Pulang yuk cil,"


Raka keluar dari ruangan Kakak Rio dan mengajak pulang adiknya karena ini sudah sore jadi sudah waktunya pulang karena kedua orang tuanya masih menginap di sana.


"Bareng bang Rasya kan bang?"


"Sebenarnya Abang malas melihat hal yang berduaan tapi ya sudahlah, ayo kita balik,"

__ADS_1


Karena kakak tahu jika mereka bertiga satu dalam satu mobil maka sudah bisa dipastikan jika Raka sudah seperti seorang supir yang sedang mengantar majikannya pergi kencan.


Tapi mau bagaimana lagi dia juga tidak tega membiarkan sahabatnya pulang naik angkutan umum, jika dia bisa mengantar Kenapa tidak!.


"Nggak Ka gue bisa balik sendiri agar lu nggak perlu bolak-balik,"


Tolak Rasya karena dia bisa pulang dengan menggunakan bus atau taksi.


"Nggak usah sok nolak jika sebenarnya lo bahagia bisa bersama nih bocil dan melihat gue mengenaskan karena nggak bisa bersama gadis gue. Kadang adanya di hati gue untuk menenggelamkan kalian berdua,"


Walah jawaban Raka terdengar pedas tapi mereka berdua tidak sakit hati sama sekali karena apa mereka itu hanya menganggap luapan kekesalan makhluk jomblo seperti Raka.


Jadi yang memilih pasangan harap maklum dan terus menunjukkan kemesraan mereka agar Raka makin panas melihatnya.


"Baiklah jika lo maksa dan jangan salahkan kami jika jiwa iri lama ronta-ronta nanti,"


Lalu Rasya berjalan duluan bersama Riska dengan cara Rasya menarik tali tas Riska karena dia belum berani memegang tangan kekasih cantiknya ini.


"Benar-benar bikin sakit mata,"


Bener kata Rasya karena jiwa irinya langsung meronta-ronta melihat pasangannya di depannya ini tidak tahu tempat dan dia juga ingin seperti itu.


Tapi apa daya dinding pembatas dan jurang pemisah untuk meraih gadis pujaan ya masih terbentang nampak jelas.


\=\=\=


"Buruan turun sebelum gue tarik dong gue lempar loh,"


Saat mobil Raka sudah berhenti di depan rumah orang tua Rasya.


Dia langsung mengusir sahabatnya itu sebelum melanjutkan aktivitas dia sepanjang jalan tadi yang membuat Raka ingin sekali memukul kepala kedua orang itu, namun sayang dia tidak tega yang satunya adiknya dan yang satu lagi sahabatnya.


Bener-bener berada di posisi yang sulit.


"Gue tahu sejak tadi gue mencium bau gosong dan bau-bau iri dengki, bye sayang Assalamu'alaikum,"


"Wa'alaikumsalam bang,"


Raka langsung melajukan mobilnya sebelum Riska menurunkan kaca dan menyapa Rasya lagi jadi lebih baik dia pergi dari sana.


Riska langsung pindah di bangku depan sebelah Raka sebelum abangnya itu meminta karena dia tahu abangnya tidak mau duduk sendirian di depan dan akan berkata "Abang bukan sopir jadi lebih baik pindah ke depan".


\=\=\=


Di rumah keluarga Reno dan Lisa.


"Abang suka ya sama anak Om Arka?"


Raffi adik Rafa bertanya demikian karena beberapa kali dia pernah melihat jika abangnya suka mencuri pandang ke arah Riska saat mereka kumpul bersama.


Diantara mereka semua tidak ada yang tahu bahwa Reno adalah mantan calon suami dari mommy Khira.


Karena di antara mereka tidak pernah membahas itu dan sudah menganggap itu masa lalu serta tidak perlu diceritakan kepada anak-anak mereka.


"Ngapain nanya gitu? Siapa sih yang nggak suka sama gadis cantik dan sebaik dia tapi menyukai bukan harus mencintai kan,"


Rafa juga tidak tahu tentang apa yang dirasakannya terhadap Riska jadi dia hanya menjawab demikian. Umur dia masih kecil dan untuk masalah percintaan dia belum ada minat dalam waktu dekat.


Walaupun sebenarnya Riska tidak bisa dia tolak tapi untuk menjalin hubungan dengan seorang gadis belum ada kepikiran sama sekali.


"Tapi kalau abang nggak suka, Aku mau dekati ah,"


Balas Raffi dengan santai karena baginya Riska memiliki daya tarik tersendiri dan juga sulit menolak pesona anak bungsu dari Arka itu.


"Ingus masih meler aja sok-sok ngejar perempuan, sekolah masih minta uang jajan orang tua aja jangan sok macarin anak gadis orang,"


Ini salah satu alasan Raffa kenapa sampai sekarang dia tidak pernah menunjukkan ketertarikan pada seorang gadis, baginya ini belum saatnya karena uang jajan saja masih minta pada orang tua dan jika memiliki pacar tidak mungkin saat mau kencan minta uang dulu kepada orang tua.

__ADS_1


Walaupun kebanyakan dari remaja usianya seperti itu tapi dia belum ada kepikiran sampai ke sana.


"Tapi kalau dia mau aku juga nggak nolak bang,"


Jika kesempatan itu ada maka dia akan memanfaatkan.


"Apa kamu pikir nggak ada secantik itu tidak memiliki pacar dan apa kamu pikir dia mau sama kamu yang masih kecil ini!"


Rafa tertawa dengan keras karena melihat raut wajah yang nampak kesal karena dikatain bocil walau itu kenyataannya.


Dan juga siapa juga yang mau pacaran sama anak kecil yang umurnya lebih kecil dari kita, Kenapa tidak sekalian pacaran sama anak sekolah dasar.


Rafa yang sudah besar dari Rafi saja belum kepikiran sampai ke sana dan Kenapa adiknya sudah mulai memikirkan hubungan dengan lawan jenis.


Ingin rasanya Rafa getok kepala adiknya ini.


"Para lelaki tampan Mama lagi bahasa apa sih?"


Lisa datang menghampiri kedua anak bujangnya dan duduk diantara keduanya. Menatap mereka satu persatu lalu mengulum senyumnya karena dia tidak menyangka jika anaknya sudah sebesar sekarang.


Rasanya baru kemarin dia menikah dan melahirkan tapi sekarang anaknya sudah membahas anak gadis orang dan menjadikan bahan perdebatan.


"Ini mah bang Rafa katanya suka sama anak Om Arka,"


Rafa melotot mendengar ucapan adiknya, dia tidak ada bicara seperti itu tadi bahkan kepikiran saja tidak lalu kenapa sekarang dia malah di kambing hitamkan.


Sudah jelas dia belum ada kepikiran untuk menjalin hubungan dengan seseorang dalam usianya masih sekolah tapi tidak tahu nanti saat dia sudah memasuki dunia perkuliahan.


"Eh bocil kalau mau memfitnah itu di belakang orang ya jangan di depannya lo mau di tonjok ya,"


Enak saja dia bilang menyukai anak Om Arka walau pesonanya sulit ditolak tapi bukan berarti dia ingin menjadi hubungan dalam waktu dekat ini atau saat masih sekolah.


"Kalau iya juga nggak apa bang, menyukai seorang gadis itu adalah hal yang biasa dan juga masa remaja lah masa di mana kita mulai menyukai lawan jenis,"


Bisa tidak masalah sama sekali jika anaknya berpacaran di usia sekolah asal tahu batasan saja.


Melarang anaknya bukanlah pilihan yang bagus dan juga tidak ada yang salah dengan menyukai seseorang, dia tidak ingin anaknya mengalami nasib seperti dirinya pernah menyukai seseorang namun enggan mendekati karena merasa belum saatnya atau merasa tidak pantas.


Hingga pada akhirnya atasannya sendiri jatuh cinta padanya walau dia menunjukkan penolakan namun penolakan demi penolakan itu tidak menjadikan atasannya mundur bahkan dia memaksa Lisa untuk menjadi istrinya dan terbukti sekarang mereka hidup bahagia dengan kedua buah hati mereka.


"Laki-laki mana yang gak menyukai anak Om Arka sih ma tapi menyukai bukan harus memiliki hubungan lebih bukan?"


Bijak Rafa dia menyukai Riska dalam konteks yang masih dalam hal sewajarnya jadi belum ada kepikiran untuk menjalin hubungan lebih dengan gadis cantik itu.


"Abang benar menyukai seseorang nggak harus memiliki hubungan, berteman atau bersahabat juga boleh tapi nggak ada persahabatannya murni di antara laki-laki dan perempuan,"


Persahabatan antara laki-laki dan perempuan adalah rahasia umum yang mana persahabatan itu suatu saat nanti akan melibatkan perasaan dan yang lebih dulu menggunakan perasaan dalam hubungan mereka adalah perempuan karena menganggap perhatian yang diberikan adalah sebuah rasa suka.


"Sekarang para laki-laki tanpa nama ini mandi sekarang sudah sore dan sebentar lagi papa pulang, dengan sampai papa melihat anak bujangannya masih kucel,"


Dengan patuh kedua saudara itu bangkit dari duduknya sebelum pergi mereka melabuhkan satu kecupan di masing-masing pipi Lisa baru setelahnya pergi menuju kamar masing-masing.


"Nggak terasa anak-anak sudah besar saja dan sebentar lagi bang Rafa sudah mau tamat sekolah atas dan Raffi sebentar lagi juga memasuki dunia putih abu-abu, mungkin beberapa tahun kedepannya aku sudah memiliki menantu lalu satu tahun kemudian juga memiliki cucu,"


Bisa tidak menyangka hubungan yang sejak awal Reno paksakan padanya berjalan dengan bahagia dan memiliki dua anak yang begitu tampan yang menemani hari-harinya serta sebagai pelipur lara saat dirinya lelah mengurusi pekerjaan rumah.


Walau di rumahnya ada asisten rumah tangga tapi dia seperti istri Arka dan istri Dean yang lebih memilih memasak sendiri untuk suami dan anaknya selain itu pekerjaan rumah dikerjakan oleh asisten rumah tangga.


"Jika benar bang Rafa sampai menyukai anak Arka,! Akan seperti apa hubungan yang akan kami jalin bersama karena mas Reno adalah mantan calon suami dari istri Arka, tapi jika suatu hari anak kami sampai berjodoh sungguh kami nggak menyangka kehidupan kami seperti film ikan tenggelam,"


Tapi biar bagaimanapun jika anaknya memang anaknya menyukai Riska, sebagai orang tua dia hanya bisa mendukung dan mendoakan kebahagiaan anaknya.


Tidak peduli jika mereka harus berpesan dengan mantan calon istri suaminya.


Sebenarnya aku sangat lucu jika itu benar-benar terjadi tapi jika sudah jodoh maka mereka tidak mungkin memisahkan dua insan saling mencintai.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


Bersambung 😘


__ADS_2