BUKAN CINTA PENGGANTI

BUKAN CINTA PENGGANTI
Chapter 109


__ADS_3

Sifat Via sangat-sangat membuat Dean frustasi memikirkan apalagi cara yang harus di gunakan.


Meminta bantuan pada Raka belum sempat karena kesibukan masing-masing hingga waktu mengobrol tidak ada kadang hanya sekedar menyapa lalu sibuk lagi.


Kenapa kisah dia tidak semulus yang di bayangkan bahkan terkesan banyak kerikil tajam yang menghadang.


Sudah seminggu lebih Via menghindar saat mereka secara tidak sengaja bertemu atau bertemu pun Via mencari alasan agar segera pergi.


Siang ini Dean sudah berniat ingin mengajak Via pergi makan siang dengan Via dan dia sudah berjalan menuju ruangan Via, jam istirahat tinggal beberapa menit lagi tapi Dean sudah lebih dulu mendatangi agar Via tidak pergi lagi.


Jika mengingat sifat Via yang seperti ini ingin Dean menyeret Va dan menaruh Via dalam satu ruangan yang sama dengan dirinya tapi jika menggunakan cara itu bukannya mendapatkan Via malah surat pengunduran diri Via dia terima.


"Ya makan siang yuk,"


Ajak Dean saat di sana mereka semua masih bekerja belum ada tanda-tanda akan selesai.


"Maaf pak saya udah janji sama teman saya,"


Tolak Via halus walau biasanya mereka pergi bersama dan untuk sekarang hanya alasan ini yang bisa Via gunakan.


"Kalian keberatan saya mengajak Via makan siang bersama?" Menatap satu persatu mereka yang ada di sana lalu dengan kompak mereka menggeleng sebagai tanda tidak keberatan.


Bagaimana bisa menolak kalau yang bicara bos mereka sendiri dan seharusnya Via bersyukur dia didekati bos fikir mereka yang merasa iri.


Memang jiwa iri tidak akan jauh dari diri manusia yang ingin mempunyai pasangan perhatian tanpa mereka sadari kalau pasangan mereka akan melakukan hal sama untuk mereka.


Dean memang sudah di pindahkan ke kantor pusat atas permintaan laki-laki itu.


"Ya udah saya tunggu sebentar lagi juga jam istirahat,"


Dean memilih menunggu di luar ruangan itu tanpa meninggalkan takut Via kabur dan sekarang memastikan kalau Via tidak akan bisa mengelak lagi.


Dalam ruangan kerja Via.


"Gila itu orang Na, udah gue tolak masih aja maksa,"


Bisik Vka pelan agar tidak di dengar oleh yang lain, karena ini masalah pribadi dan juga Via tidak mau ada orang yang tau selain teman satu ruangan sendiri.


"Di kasih kesempatan kenapa sih Ya?"


Usul Nana yang lama-lama merasa tidak tega juga.


Nana sudah pernah mendengar cerita tentang Dean yang mana semua bisa di bilang baik hanya saja kejadian waktu itu dan juga sudah jelaskan kalau Dean hanya iseng menggoda Nana.

__ADS_1


"Kan lo bilang sendiri kalau dia nggak bener orang nya, gimana sih?"


Sebal Via, apa Nana lupa bahwa pernah menceritakan tentang Dean yang tidak baik walaupun itu keisengan Dean saja namun sukses membuat Via berfikir memberi kesempatan.


"Semua itu nggak benar Ya,"


Nana kan juga mau sahabatnya mempunyai pasangan kalau bisa sampai menikah.


Di saat sudah ada yang mau hanya saja kesan pertama tidak baik hingga menjadi alarm agar menjauh.


Tanpa Via sadari kalau semua orang berhak mempunyai kesempatan kedua dan memperbaiki diri.


"Maksud lo apa? Kan lo sendiri yang bilang gimana sih,"


Jika bukan karena doktrin dari Nana mungkin hubungan ini bisa di pertimbangkan namun karena dua kata itu Via jadi tidak berfikir mau menolak Dean.


Termasuk jahat tidak sih tidak memberi kesempatan padahal usaha sudah di lakukan namun tidak di anggap.


"Udah banyak cerita tentang pak Dean, Dia sebenarnya baik kok sifat mereka berdua hampir sama dan untuk waktu dia ngajak selingkuh itu hanya pancingan agar lo merasa bahwa dia memiliki rasa buat lo tapi dia salah langkah," Jelas Nana pada sahabat yang sudah di anggap seperti saudara itu.


Tidak mau kesalahpahaman ini segera berakhir dan ingin memberi kesempatan Dean untuk berjuang.


Lagian Dean bukan tipe bos yang suka menggoda semua karyawan wanita setiap di lewati malah dia terkenal dengan bos jomblo karena tidak pernah terlihat bersama seorang perempuan.


Sebagai sahabat jahat sekali, jomblo bersama menikah tidak mengajak.


"Terus sekarang gue harus apa Na? Masa iya tiba-tiba ngomong gue ngasih kesempatan kan malu," Lirih Via hampir tidak terdengar, sedikit merasa bersalah telah menuduh yang tidak-tidak.


Duduk berdempetan pada Nana sambil menyenderkan kepala di lengan Nana sambil memejamkan mata.


"Jalani aja sebagai mana mestinya, nggak usah menghindari dia lagi dan jika dia minta kesempatan baru jawab," Mengelus lengan sahabat baiknya ini, Nana juga merasa bersalah tapi apa mau di kata semua sudah terjadi dan semua itu juga berawal dari Dean sendiri sehingga mereka berasumsi sendiri.


"Udah deh, tapi kalau hati gue nggak nerima berarti bukan salah gue ya," Putus Via akan berusaha memberi kesempatan namun belum di sampaikan.


Tapi jangan salahkan dia kalau hati sendiri yang menolak karena masalah hati tidak bisa di paksa walau orang itu sempurna di mata orang lain.


"Yang penting di jalani dan di coba kalau nggak seperti itu bagaimana kita bisa tau hasilnya,"


"Ingat lupakan kejadian lalu dan jalani hal baru bersama dia, udah sana udah istirahat juga," Menyuruh Via keluar sebab Nana yakin kalau Dean pasti menunggu di luar tidak akan pergi sebelum Via ikut dengan dirinya.


Sudah cukup juga melihat kegigihan Dean dan sayang jika tidak di beri kesempatan.


Dengan langkah gontai Via berjalan keluar sambil menenteng tas tidak mungkin mereka makan di kantin kantor untuk awal pendekatan mereka pasti akan membawa Via ke tempat yang lebih layak untuk pendekatan.

__ADS_1


"Maaf pak menunggu lama," Lirih Via saat sudah berdiri tepat di samping Dean dengan kepala sedikit menunduk antara malu dengan masih belum terbiasa.


"Tidak apa tapi jangan nunduk terus, saya di sini bukan di bawah," Jika di area kantor Dean suka bicara formal takut ada yang dengar maka sebisa mungkin menjaga sikap.


"Ayo," Menarik tangan Via namun di tolak secara tidak sadar oleh Via.


"Maaf saya tidak sengaja, ayo," Merasa dapat penolakan Dean berjalan duluan di ikuti Via berjalan di belakang.


Dean menyakinkan diri untuk jangan terburu-buru apalagi sampai bersentuhan secara fisik, jadi wajar Via menolak.


Sampai depan lift Dean menunggu Via yang masih berjalan pelan di belakangnya dan itu sukses membuat Dean heran tidak biasanya Via kalem dan tidak sinis.


"Kalau terpaksa lain kali saja kita pergi," Melihat langkah pelan Via, Dean berfikir Via terpaksa pergi karena dia tunggu padahal Via hanya merasa bersalah telah berburuk sangka.


"Tidak kok pak, mungkin karena belum masuk jam istirahat jadi saya takut ada yang liat kalau saya istirahat sebelum waktunya," Alasan Via agar Dean tidak berfikir jauh dan merasa Via terpaksa.


Itu hari sebelumnya tapi kalau sekarang Via akan mencoba membuka diri.


"Oh saya kira kamu terpaksa, tidak apa tidak ada yang lihat kan kita menggunakan lift petinggi perusahaan,"


Mereka masuk lift yang langsung bisa mengantar ke parkiran khusus sehingga tidak akan ada yang melihat kedekatan mereka berdua atau menggosipkan mereka nanti.


Via mengikuti saja toh mengelak mau menggunakan alasan apalagi dan juga tidak baik mengambilkan niat baik seseorang.


Orang yang berjuang akan tau cara mempertahankan miliknya berbeda dengan orang yang di perjuangkan maka dia berfikir cara mendapatkan karena dia sudah terbiasa menerima hasil tanpa usaha.


"Kamu mau makan apa?" Sekarang mereka sudah memasuki mobil Dean yang terletak di parkiran, di sana tidak terlalu banyak mobil hanya orang penting atau tamu penting perusahaan saja jadi tidak serame parkiran karyawan.


"Lagi pengin yang berkuah pak," Jawab Via tidak mau menjawab terserah sebab dia juga tau kalau itu bukan jawaban malah membuat seseorang bingung mau membawa makan di mana.


Andai di dunia ini menu makanan dengan nama terserah maka kaum adam tidak perlu berfikir keras mengartikan kata terserah, namun di balik keunikan itu kaum adam tidak pernah bosan bertanya dan di jawab dengan jawaban sama. Alasannya cuma satu adalah ingin wanitanya nyaman saat berada di dekatnya.


"Kita ke restoran seafood aja ya, sepertinya soap kepiting keliatannya enak," Ajak Dean melaju kan mobil menuju restoran seafood yang terkenal dekat kantor, cukup menempuh waktu sekitar sepuluh menit sudah sampai.


"Apa tidak bisa di tempat biasa aja," Usul Via karena dia tau harga di restoran jauh lebih mahal di bandingkan di tempat biasa dengan rasa yang tak kalah nikmat.


Bukan Via tidak mampu bayar hanya saja sayang uang harus keluar banyak hanya untuk seporsi makanan.


"Tidak apa, jangan fikirkan harga, karena saya yang mengajak jadi saya yang bayar," Tau isi kepala Via yang takut akan harga mahal untuk sekedar makan siang.


"Tapi kita tidak sedekat itu hingga bapak harus membayar makanan saya," Tolak Via tidak mau di traktir.


"Makanya sekarang saya lagi berusaha mendekati kamu," Jawaban Dean sukses membuat Via terdiam tidak tau harus menjawab apa.

__ADS_1


Iya memang tujuan Dean mendekati dirinya tapi apakah harus berterus terang atau memang ini sifatnya.


__ADS_2