
Farah ke kantor dengan pikiran berkecamuk atas permintaan Raka tadi pagi.
Dia tidak menyangka jika Raka seberani itu meminta harinya walaupun cuma satu hari tapi rasanya dia berat untuk memberikan.
"Kenapa dia masih baik saat aku selalu memperlakukan dia ketus?" Bukannya Farah tidak menyadari bahwa kelakuannya selama ini sangat jauh dari kata ramah bahkan menghargai pun rasannya sangat tipis sekali.
"Memang dari dulu sikap dia seperti itu selalu memperlakukan baik sehingga orang malah salah mengartikan kebaikannya," sikap Raka yang baik seperti itulah yang membuat Farah di masa lalu menyukai laki-laki itu hingga selalu mengejar-ngejar bahkan selalu mencari kesempatan mengunjungi kediaman orang tua Raka.
Namun karena sering mendapat penolakan Farah berbalik mengubur perasaan itu hingga sekarang dia justru biasa saja bahkan terkesan membenci.
"Tapi apakah harus aku memberikan dia kesempatan meski satu hari atau mengabaikan begitu saja?" Farah dilema atas permintaan Raka.
Rasanya dia berat sekali untuk menghabiskan waktu seharian bersama Raka.
"Apa selama ini aku sudah sangat keterlaluan? Tapi perlakuan dia selama ini sedikit mengetuk hatiku," siapa yang tidak meleleh selalu diberi perhatian setiap hari bahkan walaupun tidak pernah dihargai tetapi Raka tidak pernah menyerah untuk meluluhkan kerasnya hati gadis itu.
"Dia itu sebenarnya sangat baik hanya sikapnya yang dulu membuat aku hilang respek kepadanya," Farah memang mengakui bahwa Raka laki-laki yang begitu baik bahkan menghargai pasangan namun cinta masa remajalah yang mengikis serta menutup matanya tentang kebaikan Raka.
"Jika aku melepaskan dia dan memberikan kesempatan kepada bos apakah aku akan diperlakukan baik seperti dia memperlakukan aku?"Farah semakin dilema tentang keputusan yang akan diambil sebab ini bukanlah keputusan yang kecil dan butuh pertimbangan yang matang.
Dia hanya takut jika melepaskan Raka dan memberi kesempatan untuk orang lain belum tentu dia akan mendapatkan perlakuan yang baik dari orang yang dia dari kesempatan itu padahal yang baik sudah jelas di depan mata.
Padahal jika Farah mau, gadis itu tidak perlu melakukan apapun hanya cukup membuka hati dan memberikan kesempatan untuk Raka membuktikan keseriusannya atas pernikahan mereka.
Tetapi agaknya gadis itu lebih menyukai hidup ribet dan bersosialisasi lagi dengan orang baru.
Padahal jika dia mau maka hubungan itu akan cepat dekat dan berkembang maju apalagi mereka sudah kenal lama dan tahu sifat masing-masing.
"Aduh," Farah memegang perutnya tiba-tiba terasa sakit dan ini sudah sering terjadi setelah dia melakukan pemeriksaan tetapi sampai sekarang belum mendapatkan informasi bahwa dia sudah mendapatkan donor ginjal atau belum?.
__ADS_1
Gadis itu sangat berharap pandangan itu cepat dapat dan sekarang dilakukan operasi sebelum keluarganya tahu dan pasti akan membuat hidup semua orang apalagi ini rahasia besar yang dia sembunyikan sendiri.
"Kenapa sakit sekali," Farah memegang pinggang nya dan rasanya sesak hingga ke dada.
"Sampai kapan aku harus menanggung semua ini, rasanya sangat tidak enak," ingin rasanya Farah berbagi sakit sama orang tuanya namun dia tidak ingin membuat orang tuanya cemas akan keadaan dia.
Farah mengambil obat di dalam tas yang selalu dia bawa kemanapun yang di berikan dokter beberapa waktu lalu.
Setelah meminum obat itu rasa itu perlahan mereda dan Farah bisa bernafas lega.
Sepulang kantor, Farah segera beranjak dari meja kerjanya karena tidak ingin bosnya keluar dari ruangan nya dan mengajak pulang bersama.
Farah tidak bisa karena dia harus ke rumah sakit untuk memeriksa kondisi kesehatannya.
Di rumah sakit.
" Bagaimana dok kondisi saya?" Farah harap-harap cemas menunggu tentang kondisi dia saat ini.
Apa yang harus dia lakukan? Tetap merahasiakan atau memberi tau keluarganya.
"Kondisi ginjal Bu Farah semakin memburuk dan secepatnya harus mendapatkan pendonor agar tidak berefek pada organ tubuh lain," dokter menjelaskan bagaimana kondisi Farah sekarang sedang tidak baik-baik saja.
Farah tertegun mendengar jika kondisi dia malah menurun padahal dia selalu mengkonsumsi obat yang di berikan dokter.
Ternyata jalan terbaik yaitu operasi.
"Lalu, apakah belum ada pendonor dok?" Farah sangat berharap ada pendonor untuk dia.
"Sampai sekarang belum ada dan saya sarankan untuk memberi tau keluarga agar bisa membantu dan pendonor segera dapat," karena Farah mengatakan bahwa keluarganya belum di beri tau jadi dokter menyarankan demikian agar lebih banyak orang yang membantu.
__ADS_1
Semakin banyak yang membantu maka peluang untuk mendapatkan lebih banyak lagi.
"Orang tua saya belum tau dok," apakah Farah harus tetap menutup mulut atau membicarakan untuk mencari solusi sama-sama.
'Apa aku harus memberi tau papa dan mama tentang penyakit ku ini?'
Selesai periksa Farah berpamitan dan dia langsung pulang bahkan mengabaikan hp yang sejak tadi berdering tanda ada panggilan masuk.
Sampai di apartemen Farah langsung masuk kamar dan beruntung Raka belum pulang.
"Lebih baik aku mandi dulu," Farah bisa bernafas lega sebab tidak harus berpapasan dengan Raka saat sampai di apartemen.
Gadis itu masih belum mau untuk selalu bertemu dengan Raka meski mereka tinggal di satu atap yang sama hanya berbeda ruangan kamar saja.
Selesai mandi Farah membaca lagi kertas yang diberikan oleh dokter tentang penyakitnya yang tidak ada mengalami peningkatan sama sekali hanya ada satu jalan yaitu melakukan operasi.
"Jika aku memberitahu papa dan Mama, aku takut mereka akan bersedih," jika Farah memberitahu orang tua tentang penyakitnya, maka pembicaraan itu tidak akan sesederhana yang dianggap mungkin akan merambat mempertanyakan tentang pernikahan anaknya yang sudah hampir memasuki tahun pertama.
Farah juga takut jika orang tuanya nanti menanyakan sesuatu yang membuat dia kebingungan dalam menjawab jadi dia memilih menyimpan sendiri dan menyelesaikan sendiri tanpa melibatkan siapapun.
"Tentang permintaan itu apakah aku harus menyetujui atau menolak tapi jika menolak dosaku sudah terlalu banyak sebab selalu cuek sama suami," Farah menyadari jika sikapnya selama ini bukanlah cerminan sebagai istri yang baik bahkan sangat jauh sekali dari kata baik.
"Apa aku harus meneruskan yang sudah ada atau memulai dengan yang lain?" ini juga menjadi pertimbangan untuk Farah sebab setelah bertemu dengan adiknya itu dia sedikit memikirkan nasib pernikahannya ke depan.
Dia memang mengakui kebaikan Raka selama ini bahkan semenjak mereka kecil dan itu sedikit menjadi pertimbangan untuk dia mempertahankan pernikahan ini tetapi hatinya tidak menghadap atau menganggap jika Raka baik hanya karena orang tua mereka bersahabat.
Sulit sekali untuk membuka mata hati gadis itu dan sepertinya dia membutuhkan sesuatu hingga pintu hatinya terbuka dan melihat ketulusan dari suaminya.
\=\=\=\=\=
__ADS_1
Bersambung 😘