BUKAN CINTA PENGGANTI

BUKAN CINTA PENGGANTI
Mungkin Itu Keinginannya


__ADS_3

Raka membaca lembaran demi lembaran kertas yang dia terima dari seseorang lebih tepatnya orang kepercayaannya.


Dia dengan teliti membaca huruf demi huruf yang tertulis di kertas itu bahkan tak satupun yang terlewat oleh matanya.


Hingga dahi Raka berkerut tulisan singkatnya membuat dia kaget bahwa informasi itu sungguh sangat mengejutkan.


"Ginjal," yang Raka baca itu adalah laporan dari orang yang mengikuti Farah dan sangat mengejutkan apa yang baru dia ketahui.


Farah mengidap penyakit ginjal dan dia tidak diberitahu sama sekali


Raka teringat tadi pagi dan Farah tidak ada membahas tentang ini seandainya saja Raka tidak menempatkan orang untuk mengikuti Farah kemanapun gadis itu pergi pasti berita sebesar ini dia tidak akan pernah mengetahui.


Jadi keputusannya menempatkan orang untuk mengikuti Farah merupakan pilihan yang tepat hingga dia tahu apa yang terjadi kepada Farah apalagi Raka bertanggung jawab terhadap istrinya itu.


"Kenapa rahasia sebesar ini dia malah memilih menyembunyikan?" Tanpa bertanya pun Raka sudah pasti tahu jawabannya dan Raka akan berpura-pura tidak mengetahui penyakit Farah ini.


Dia akan bertindak seolah-olah tidak mengetahui apa-apa.


"Gue harus mencarikan pendonor secepatnya sebelum penyakit itu semakin parah dan sulit untuk Farah memiliki keturunan," walaupun diperlakukan demikian rupa oleh gadis itu tetapi mereka tidak bisa menutup mata serta menutup telinga terhadap apa yang dialami oleh Farah.


Dia akan mengupayakan untuk mencari donor ginjal itu apapun caranya asal Farah bisa tertolong.


Apapun tanggapan Farah nanti Raka tidak peduli yang dia inginkan Farah segera sembuh.


"Halo carikan donor ginjal secepatnya," Raka hubungi orang-orang kepercayaannya untuk secepatnya mencari pendonor untuk Farah.


Sudah pasti itu akan mengeluarkan nominal uang yang sangat besar untuk memberi kompensasi bagi siapa saja yang mau mendonorkan ginjalnya.


Setelah keluarnya Farah dari kantor itu Raka mencari sekretaris baru tetapi seorang laki-laki karena dia tidak nyaman bekerja dengan lawan jenis.


Apalagi mengingat jika Raka sudah menikah jadi dia harus menjaga jarak dengan perempuan manapun.


"Pak Raka sebentar lagi kita akan bertemu dengan klien dari perusahaan X," walaupun dia baru bekerja di sini tetapi sangat cekatan dan begitu pintar menyusun jadwal Raka.


Bahkan dia cepat menyesuaikan diri apalagi dia orangnya cepat tanggap serta cepat memahami hingga tidak perlu banyak tanya saat bekerja tetapi banyak tindakan.


"Apakah semuanya sudah siap?"


"Sudah pak," karena sebelum memberitahu kepada Raka sudah pasti dia mempersiapkan segala sesuatunya untuk meeting.


"Baiklah Ayo kita berangkat," Raka tidak ingin menunda-nunda waktu.


Karena sudah memiliki sekretaris laki-laki jadi jika untuk pergi meeting mereka hanya pergi berdua tanpa menggunakan supir lagi.


Tapi jangan salah Raka akan memberikan gaji lebih karena sekretaris itu yang mengendarai mobil.


Sampai di tempat tujuan.


"Silahkan tuan," mereka beriringan masuk menuju tempat yang sudah di janjikan.


"Selamat datang tuan Raka," mereka saling berjabat tangan hingga pandangan Raka berhenti pada seseorang.


"Maaf membuat tuan menunggu," Raka merasa tidak enak karena kliennya datang lebih dulu.


"Kenalkan dia sekretaris baru saya, Farah," klien Raka memperkenalkan Farah lalu mereka berjabat tangan seperti orang yang tidak saling mengenali.


"Raka,"


"Farah,"

__ADS_1


Raka menyimpan rapat rasa kagetnya sebab Farah bekerja di perusahaan ini dan dia tidak akan menegur Farah atau bertindak seolah-olah mereka sudah kenal lama.


Raka akan bersikap seperti keinginan Farah sebelum-sebelumnya.


"Baiklah mari kita mulai meetingnya," apakah benar-benar tidak menganggap jika Farah adalah istrinya di tempat kerja seperti ini dan juga dia tidak ingin menegur gadis itu yang bisa saja hanya akan membuat dia malu.


Belum tentu Farah akan menjawab sapaan dia.


'Cukup fikirkan donor ginjal buat dia aja'


Raka mengenyahkan pikiran itu dan hanya ingin fokus untuk membantu Farah mencari donor ginjal yang cocok.


Apapun urusan Farah di luar rumah Raka cukup memantau saja dari jauh dan akan menolong jika Farah dalam kondisi terancam.


Di luar dari itu Raka tidak akan ikut campur.


"Baiklah saya setuju," hingga kesepakatan itu mereka dapatkan lalu menandatangani kontrak kerjasama.


"Bagaimana jika kita makan siang dulu," ajak klien Raka karena ini jam makan siang.


"Boleh tuan," Raka tidak mungkin menolak ajakan kliennya ini dan juga dia sudah merasa lapar.


Sambil menunggu makanan datang mereka mengobrol ringan, hingga.


"Menurut tuan Raka apakah saya cocok sama nona Farah?" Jantung Raka berdegup kencang mendengar pertanyaan seperti itu.


Ini bukan kali pertama dia mengalami hal demikian tetapi Raka tidak berdaya untuk mencegah semua itu.


"Kalau itu saya kurang tau tuan," tidak mungkin kan Raka berkata jika mereka berdua itu cocok.


Jadi lebih baik dia mencari jawaban lain apalagi sekarang hatinya lagi tidak baik-baik saja.


"Tapi saya sedang melakukan pendekatan sama nona Farah, semoga nona Farah menerima cinta saya," terlalu blak-blakan sebenarnya tetapi klien Raka yang satu ini memang suka ceplas-ceplos orangnya apalagi mereka hampir seumuran.


Farah yang menjadi objek obrolan sepihak itu hanya bisa menundukkan kepala sebab dia juga tidak tahu harus menanggapi dengan kata apa?.


Di sini bosnya sedang berusaha mendekatinya dan bertanya serta meminta pendapat kepada suaminya sungguh kondisi yang sangat membingungkan.


"Jika saling menyukai pasti akan ada jalan berbeda jika mencintai sepihak saja," sepertinya Raka sedang membicarakan diri sendiri.


Karena yang diucapkan sekarang itu seperti keadaan dia sekarang yang hanya mencintai istrinya sedangkan sang istri masih membenci dia hingga sekarang.


Entah akan sampai kapan rasa benci itu menaungi hati Farah.


"Iya juga tuan Raka anda benar, tapi saya rasa nona Farah juga menyukai saya namun hanya malu-malu saja," yakin jika Farah juga menyukai dia terlihat dari sikapnya yang malu-malu selama ini.


"Bagus jika memang saling menyukai," dari pada saling menyakiti atau tidak pernah di anggap, lanjut Raka dalam hati.


Hingga makanan mereka datang lalu makan dengan tenang.


Selesai makan mereka berpisah di parkiran karena harus kembali ke kantor masing-masing.


Di tempat Farah.


"Far yang saya ucapkan tadi itu serius," sekarang mereka dalam perjalanan kembali ke kantor.


Dan bos Farah membahas tentang dia yang menyukai dirinya.


Di satu bulan kerja di sana, sang bos sudah menunjukkan gelagat bahwa menyukai Farah bahkan sudah pernah mengungkapkan perasaannya.

__ADS_1


"Maksudnya?" Walau Farah mengerti apa yang di bahas tetap saja dia butuh pembicaraan yang jelas.


Dia tidak ingin menyalah artikan ucapan atasannya itu.


"Saya benar-benar menyukaimu sejak pertama kali bertemu," Farah yang cantik serta cekatan dalam bekerja menambah poin plus dan menjadi daya tarik tersendiri.


Farah tertegun di tempatnya, sebab tidak percaya bahwa ada seseorang yang mengungkapkan perasaan kepada dia di saat status sekarang masih seorang istri dari seorang Raka.


"Dan saya harap kamu tidak menolak," sang bos sangat berharap cintanya di terima.


Farah sendiri juga tidak menyangka bisa membuat bosnya suka pada dirinya.


Dia keluar dari perusahaan mertuanya dan mencari pekerjaan lain ingin bekerja dengan tenang, tapi ada saja yang membuat dia kurang fokus.


Kenapa dia berani berkata demikian karena status Farah di surat lamaran adalah single jadi dia beranggapan jika Farah belum menikah.


"Kasih saya waktu ya pak," entah apa maksud Farah menjawab seperti itu padahal kan bisa saja bilang dia sudah memiliki kekasih atau tunangan tetapi jika seperti ini sama saja dia memberi harapan dan melupakan statusnya sebagai seorang istri.


Farah benar-benar tidak berpikir jernih dan tidak memikirkan apa dampak yang akan terjadi di masa depan dengan status dia yang masih terikat dengan Raka.


Pulang kantor.


Farah sudah ada janji bersama sahabatnya dan bertemu di sebuah cafe sebelum gadis itu untuk kembali ke apartemen.


"Sorry lama ya!" Farah merasa tidak enak karena saat dia datang sahabatnya sudah datang duluan.


Tapi mau bagaimana lagi dia ini kerja di perusahaan orang lain jadi tidak bisa pulang seenaknya.


Farah harus mengikuti peraturan kantor yang ada dan tidak bisa seperti masih bekerja di perusahaan mertuanya.


"Nggak apa kok santai aja, kita juga baru sampai," Farah mengambil tempat duduk yang masih kosong lalu langsung menyeruput minuman yang memang sengaja sudah dipesan duluan sebelum dia datang.


Setelah pertemuan hari itu baru sekarang mereka bisa berkumpul lagi karena kesibukan masing-masing dan sulit untuk mencocokkan jadwal mereka yang sedang senggang dan baru sekarang bisa bertemu itu pun di saat jam pulang kantor.


\=\=\=\=\=


Malam hari.


Raka baru kembali dari kantor dengan penampilan kacau, ah bukan penampilan yang kacau melainkan perasaan dia.


"Assalamu'alaikum," wajah Raka tampak lesus sekali bahkan jasnya sudah tidak digunakan lagi hanya ditenteng bersama tas kerjanya.


"Wa'alaikumsalam," Farah yang kebetulan sedang menonton menjawab salam dari Raka tetapi tidak melihat sama sekali kedatangan suaminya itu dan dia lebih suka melihat tayangan di layar datar itu.


"Kamu udah makan?" Walaupun tadi Raka dihadapkan pada kenyataan yang menyakitkan itu tetap saja perhatiannya tidak akan berkurang dan rasa sakit hati itu biar saja dia simpan sendiri.


"Tidak usah berlagak baik," Raka tersenyum getir mendengar jawaban dari Farah.


Apakah salah seorang suami yang perhatian kepada istrinya? Tetapi Farah malah menanggapi lain.


"Maaf," Raka tidak banyak bicara lalu memilih masuk ke dalam kamarnya daripada banyak bicara hanya akan mendapat jawaban ketus.


Farah tidak melihat Raka yang berwajah sendu sebab jawaban istrinya sama sekali tidak memikirkan perasaan dia.


Padahal Raka sudah banyak melakukan cara agar bisa meluluhkan hati Farah, tapi tampaknya Farah sudah menutup rapat-rapat hatinya.


Bagaimana jika para orang tua tau jika pernikahan yang mereka alami tak lebih dari seperti orang ngontrak di bangunan yang sama dari negara yang berbeda.


Sangat terasa asing.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


Bersambung 😘


__ADS_2