
Pesawat yang Raka tumpangi siap mengantarkan pasangan suami istri itu ke negara tujuan.
Raka membaringkan Farah di atas ranjang dan tidak lupa menyelimuti hingga sebatas dada.
Lalu ikut berbaring di sampingnya dan memeluk dengan lembut.
"Nyenyak banget sih sayang,"
Membelai pipi itu lembut lalu melabuhkan ciuman di bibir yang sudah menjadi candu bagi Raka dan ******* sedikit.
"Kenapa rasanya nggak mau berhenti ya,"
Melanjutkan lagi setelah mengambil nafas sebentar, benar bibir Farah menjadi candu Raka.
Ah kenapa menikah begitu membahagiakan begini, apa semua orang menikah akan merasakan hal yang sama, gumam Raka masih melanjutkan aksinya.
Saat di rasa sudah cukup lalu Raka menjauhkan wajahnya dan lalu mengecup kening itu.
"Kalau di lanjutkan kasian dia yang bangun sendiri, sabar ya sebentar lagi nggak bakal lama,"
Melihat sesuatu yang sudah mulai bangun dari tidur panjang selama ini, ya walaupun pada kenyataannya saat pertama kali mendapat ciuman dari Farah dia langsung tersadar kalau teman duetnya sudah datang namun beda dengan sekarang yang cepat merespon kalau mereka melakukan kontak fisik.
Sudah seperti kulit bayi yang sensitif saja.
Raka ikut terlelap di samping Farah dengan memeluk tubuh mungil itu yang pas dalam pelukan.
Menikmati perjalanan ini dengan saling memberikan kehangatan satu sama lain.
Beberapa jam berlalu mata cantik itu mengerjap lalu secara perlahan terbuka dan melihat sekeliling tempat yang di tiduri berbeda dari kamar mereka.
"Hah aku di mana,?"
Kaget Farah langsung duduk melihat ruangan asing itu yang belum pernah dia tempati sebelumnya dan kini dia berada di sana.
"Apa aku di culik?"
Fikiran Farah menerawang jauh takut ada yang berniat jahat sama dia terlebih mantann bosnya yang kembali bisa saja melakukan hal di luar akal.
Lalu Farah tersadar ada tangan hangat melingkar di perutnya dan dia bernafas lega saat melihat wajah tampan milik siapa.
"Huft untung ada hubby,"
Lega Farah sebab di mana pun dia berada meski di tempat asing tidak masalah asal ada suaminya.
Lalu melihat lagi sekeliling kamar itu yang sangat mewah namun asing bagi dia.
"Ini dimana? Bukan di kamar rumahkan?"
Dia tidak mungkin lupa sama kamar sendiri dan dia yakin ini bukan kamar yang biasa di tempati.
"By bangun,"
Menggoyangkan lengan yang melingkar di perutnya itu, tidak mungkin menunggu lagi ingin tau berada di mana sekarang.
"Abang ngantuk yang,"
Lirih Raka tidak kunjung bangun walau sudah di bangunkan.
Mungkin karena efek tidur terlalu malam hingga matanya berat untuk terbuka walau bisa menjawab pertanyaan orang.
Farah melepaskan tangan itu perlahan, setelah terlepas Farah turun dari ranjang setelah merapikan selimut Raka dan berjalan keluar untuk memastikan sesuatu agar tidak penasaran.
"Ada yang bisa saya bantu nona?"
Sapa ramah pramugari yang bertugas berjaga di dekat pintu untuk berjaga jika sewaktu-waktu majikannya membutuhkan sesuatu.
Dia langsung mendekat saat melihat pintu terbuka dan Farah yang keluar dari dalam saja.
"Ah iya, aku mau tanya ini lagi di mana ya?"
Melihat ruangan itu yang tidak terlihat seperti ruangan rumah namun ada sofa juga.
Jadi sekarang dimana? Fikir Farah
"Kita lagi di pesawat nona,"
Memberi tau Farah kalau mereka lagi berada dalam pesawat dan dia tau saat Raka datang membawa Farah dalam keadaan tertidur jadi wajar bertanya.
"Pesawat,!"
Kaget Farah tidak menyangka kalau berada dalam pesawat.
"Iya nona,"
Ramah pramugari itu menjawab.
"Kita mau kemana?"
Tidak mungkin pergi tanpa tujuan dan juga tadi Farah masih ingat saat selesai makan malam tadi dia mengantuk dan di ajak ke kamar lalu tertidur dan setelahnya Farah tidak ingat apa pun lagi.
Sekarang berada dalam pesawat yang dia sendiri tidak tau mau kemana.
"Maaf nona itu hanya bisa di jawan oleh tuan,"
Itulah pesan yang dia dapat agar tidak menjawab pertanyaan Farah jika bertanya ingin kemana.
"Makasih ya,"
Farah memutuskan masuk ke dalam lagi dan di lihatnya Raka masih betah menutup mata.
__ADS_1
Duduk di samping Raka membelai wajah tampan itu dengan lembut.
"Kamu mau bawa aku kemana by, udah kayak pencuri aja,"
Wajar Farah seperti di culik, tidur di kamar rumah dan bangun di kamar pesawat siapa yang tidak akan bertanya-tanya.
"By bangun,"
Menggoyangkan lengan Raka lebih kuat dari tadi.
Dia tidak mau menunggu lebih lama lagi dan juga dia tidak tau kemana tujuannya dan berapa lama akan segera sampai.
Dan jika ingin tau jawabannya maka ada pada suami tampannya ini.
"Ada apa sayang?, sini tidur lagi ini masih malam,"
Menarik Farah hingga terjatuh tepat di atas dada Raka.
Farah memberontak ingin minta di lepaskan, bukan ini yang dia mau tau tapi jawaban atas kemana dia mau di bawa.
"Nggak mau, jawab dulu kita mau kemana? Kamu nggak niat mau menjual aku kan?"
Raka membuka mata saat mendengar penuturan istrinya yang kelewat jauh berfikir.
"Menjual apa sih yang? Yang mau menjual kamu siapa? Kalau mau menjual kenapa harus di repot di antar biar aja yang mau beli jemput sendiri,"
Memeluk Farah erat, kenapa istrinya bisa berfikir kreatif begini.
Orang gila mana yang mau menjual istri secantik ini? Apa Raka sudah hilang akal.
"Kalau nggak mau jual aku atau kamu mau jatuhkan aku dari pesawat ini?"
Mulut manis itu berucap sesuka hati.
Apa otak cantiknya tidak bisa berfikir positif sama suami sendiri.
'iya menjatuhkan kamu nanti pada lautan kenikmatan' batin Raka.
"Kita mau pergi honeymoon sayang,"
Terus terang Raka agar istrinya tidak berfikir jauh lagi. Punya istri cantik buat apa di jual apalagi mau menjatuhkan dari atas pesawat lebih baik di jatuhkan atas kasur dan mengarungi yang namanya surga dunia itu lebih baik.
"Ha honeymoon, kok nggak bilang-bilang?"
Kaget Farah saat tau dalam perjalanan mau pergi honeymoon.
Yang benar saja pergi honeymoon tanpa memberi tau sebelumnya dan sekarang dalam perjalanan yang tidak tau mau di ajak kemana.
"Di bilang atau nggak, nggak akan merubah apa pun sayang, udah tidur pagi ya,"
Mengusap lembut punggung Farah dan tidak lama tangan itu berhenti dengan deru nafas Raka berhembus pelan tanda dia sudah tidur lagi.
Benar apa yang Raka fikirkan Farah akan berfikir tentang kerjaan.
Menolak juga tidak mungkin mereka sudah dalam perjalanan, menyalahkan Raka juga tidak mungkin.
Bisa saja Raka sudah mengurus semua tanpa aku tau, fikir Farah berfikir positif.
"Tidak ada suami yang berniat jahat sama istri sendiri,"
Gumam Farah ikut menutup mata karena kantuk yang sudah mendera lagi.
Memejamkan mata menyusul Raka ke alam mimpi dan menunggu waktu di mana dia akan menginjakkan kaki saat terbangun nanti.
Menyerahkan semuanya pada Raka yang tidak mungkin melakukan hal yang membuat dia kecewa nanti.
Setelah menempuh perjalanan yang jauh akhirnya pesawat yang membawa pasangan suami istri itu mendarat dengan selamat di negara tujuan.
Mereka sudah bangun satu jam yang lalu sebelum pesawat melakukan pendaratan dan membersihkan badan.
Sampai di sana memasuki waktu menjelang subuh sehingga mereka memutuskan shalat di masjid bandara sebelum menuju hotel yang akan mereka tempati selama berada di sana.
"Suka nggak?"
Kini mereka sudah berada dalam mobil yang menjemput mereka yang sudah di siapkan sebelum berangkat.
"Suka by makasih ya, belum terang aja udah keliatan indahnya gimana kalau mentari udah terbit nanti,"
Menyandarkan kepala di pundak Raka dengan tangan Raka mengusap lembut kepala Farah lembut.
Senang dan bahagia saat mendengar istrinya senang di ajak ke sana.
Semua sudah di siapkan jauh-jauh hari dan ternyata pilihannya tidak salah.
"Nanti siang baru kita jalan-jalan ya, sampai hotel kita istirahat dulu,"
Memulihkan tenaga sebelum menjelajahi negara yang terkenal dengan keindahan alam.
Walau di perjalanan banyak tidur tapi tetap saja rasa lelah itu ada, beda jika kita istirahat di rumah.
Sampai di hotel mereka langsung di antar oleh petugas hotel menuju kamar yang sudah di pesan, setelah sampai kamar Farah menyusun baju yang di siapkan Raka tanpa dia tau dan koper mereka lebih dulu sampai pesawat ketimbang pemiliknya sebab Raka mengirim kopernya duluan.
Selepas menyusun baju.
"Mandi dulu by abis itu baru istirahat,"
Meletakkan baju ganti Raka di sebelah Raka duduk.
"Iya, abis itu gantian ya,"
__ADS_1
Melabuhkan ciuman di sudut bibir Farah lalu masuk kamar mandi dengan tampang tanpa dosa.
Bagi Raka melakukan itu menjadi hal biasa, kan mereka suami istri dan sudah tau perasaan satu sama lain, jadi tidak salah dan tidak perlu takut melakukan itu saat seperti baru menikah.
Farah hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah suaminya yang kian hari makin berani.
"Apa sekarang udah saatnya,"
Gumam Farah menyenderkan badan pada sofa yang di duduki, bukan dia tidak tau kalau keberangkatan mereka honeymoon bukan sekedar liburan juga akan menjadikan mereka pasangan suami istri seutuhnya.
Namun jauh sebelum itu Farah sudah siap, hanya Raka yang belum mau menyentuh dia hanya sebatas ciuman dan pelukan hangat saat tidur.
Kini beda lagi, kini mereka berada di negara orang dengan ucapan Raka 'kita mau honeymoon' itu sudah membuktikan kalau hubungan mereka akan berlanjut pada yang sesungguhnya.
"Sepertinya aku harus menyiapkan diri untuk nanti malam,"
Sudah bisa menebak kalau siang ini tidak mungkin mereka melakukan itu karena mereka masih capek dan butuh istirahat.
Dan Raka tidak mungkin melakukan buru-buru karena Raka bukan tipe seperti itu.
Sama seperti mendapatkan hati Farah, Raka tidak pernah terkesan memaksa agar Farah menerimanya.
Tidak lama pintu kamar mandi terbuka menampilkan wajah segar Raka sehabis mandi.
"Gantian yang, biar segar dan kita bisa istirahat,"
Farah menyambut dengan senyum manis lalu masuk kamar mandi.
Raka menggosok rambutnya lalu berjalan menuju balkon kamar menikmati keindahan kota ini sambil melihat suasana pagi yang indah.
"Nanti gimana mulai nya ya?"
Jujur antara bingung dan juga gugup. Ini pertama kalinya untuk Raka jadi dia bingung mau mulai dari mana.
Tidak ingin membuat istrinya tidak berkesan atau merasa kurang puas dengan apa yang dia lakukan nanti.
"Ternyata lebih deg-degan ini dari pada rapat penting,"
Jelas beda lah Rak, rapat itu hanya menghadapi orang untuk mendapatkan sebuah tender yang bernilai miliyar tapi kalau ini jika sukses harganya tak ternilai dengan sebuah uang atau hal lainnya.
Semua memiliki porsi berbeda dan ini bukan tentang apa yang akan di dapat dan rasakan namun tentang bagaimana cara kita memperlakukan pasangan agar terkesan dan merasa di perlakukan seperti ratu.
Farah keluar kamar mandi dengan handuk yang melilit kepala menandakan dia habis keramas agar kepala terasa segar.
"By,"
Panggil Farah tidak melihat keberadaan Raka dalam kamar.
"Udah selesai sayang?"
Menghampiri Farah yang lagi duduk depan meja rias. Membantu Farah mengeringkan rambut Farah dengan menggunakan hidrayer.
"Iya by,"
Memakai pelembab di wajahnya tanpa merias diri karena mereka tidak akan keluar sekarang.
"Udah kering, sekarang kita istirahat ya,"
Menuntun Farah menuju ranjang untuk istirahat, Farah menurut sebab dia juga merasa lelah habis melakukan perjalanan jauh tanpa di duga.
"By kok nggak ngasih tau sih kalau mau pergi?"
Mereka sudah sama-sama berbaring dengan Farah menjadikan lengan Raka sebagai bantal.
Sejak hubungan mereka semakin dekat dan mengungkapkan perasaan masing-masing Farah tidak butuh bantal lagi jika ingin tidur. Cukup badan Raka yang menggantikan dan Raka dengan senang hati melakukan.
"Kalau ngasih tau bukan kekuatan namanya sayang, kenapa kamu nggak suka ya?"
Mengecup sesekali pucuk kepala Farah dengan sayang.
"Bukan nggak suka by, aku senang malahan.
Hanya aja aku seperti di culik tau nggak, tidur di kamar dan bangun di pesawat,"
Cemberut Farah yang merasa bahagia di saat bersamaan. Cuma kaget saja saat bangun sudah beda tempat.
"Namanya juga kejutan yang, kalau ngasih tau bukan kejutan lagi namanya,"
Jelas Raka singkat, mengajak istri liburan dan membahagiakan tidak perlu harus memberi tau.
Dengan kejutan seperti ini pasangan kita akan merasa di istimewakan.
"Makasih by,"
Memeluk erat tubuh kekar itu, tidak ingin bertanya lebih jauh lagi sejauh apapun dia pergi selama bersama suaminya bagi Farah tidak masalah.
"Sama-sama sayang, sekarang kita istirahat dulu ya,"
Menarik selimut hingga menutupi pinggang keduanya.
Farah mendusel wajah di dada Raka mencari kenyamanan sebelum tidur.
'Aku tidak pernah menyesal mempunyai suami seperti kamu dan nggak pernah mengalahkan orang tua ku menerima kamu sebagai suami kala itu dan juga aku mau berterima kasih pada Tuhan yang menunjukkan siapa jodoh aku sebenarnya hingga aku merasakan apa itu kebahagiaan sesungguhnya dan di beri kebahagiaan tanpa aku duga' Farah menjemput mimpi setelah merasa apa yang dia miliki sekarang sudah lebih dari cukup.
Mempunyai suami paket komplit dan mertua yang sangat menyayangi juga.
Ya seperti itulah takdir seseorang tidak ada yang tau, segala sesuatu yang sudah di rencanakan belum tentu akan berjalan lancar seperti keinginan kita.
Kadang tuhan masih ingin menguji hambanya dengan segala kesedihan agar kelak kebahagiaan datang menjemput dengan cara manis tanpa kita duga.
__ADS_1
Seperti itu juga yang di alami Farah sekarang harus merasakan kepedihan dulu sebelum menyambut bahagia.