BUKAN CINTA PENGGANTI

BUKAN CINTA PENGGANTI
Telat Pulang


__ADS_3

Sepulang dari kantor Raka menyempatkan diri mampir ke suatu tempat...


Padahal di rumah sudah ada yang menunggu..


Raka membawa mobilnya menuju suatu tempat yang khusus dibuat untuk keluarga dan itu tempat dimana paling enak menenangkan diri jika sedang kalut seperti Raka sekarang.


Raka menatap hamparan rumput yang luas ada didepannya.


Sekarang dia lagi berada disebuah lapangan luas milik keluarga nya.


Ini yang bakal Raka lakukan kalau lagi sedih atau mau menenangkan fikiran.


"Masih sama seperti beberapa bulan yang lalu ternyata udah lama gue nggak kesini saking sibuknya kerja.


Sangat terawat pasti mommy menanam bunga baru lagi," Raka melihat ada bunga yang ditanam ditepi lapangan itu.


Lapangan itu seperti lapangan bola tapi ditepinya ada kebun bunga mengelilingi lapangan dan tengah-tengah dibiarkan kosong biasanya kalau mereka kesana rame-rame maka akan digunakan untuk piknik keluarga, main bola atau bahkan main layangan juga sehingga dibiarkan lepas agar saat main layangan tidak menyangkut dan hanya menanam pohon dibagian tepi.


"Nanti kalau ada waktu luang gue akan ajak kamu kesini yang pasti suka.


Tempat ini tak kalah cantik dengan kamu dan pasti kamu lebih cantik dari apapun tapi tetap nomor dua setelah mommy sebab perempuan pertama yang paling cantik itu mommy dan mommy juga perempuan pertama yang mencium gue padahal kamu belum," Otak Raka mulai tidak benar, iyalah buat seorang anak orang tuanya lah yang menjadi cinta pertama mereka.


Orang tua yang menjadi panutan mereka baik buruk seorang anak tergantung pada orang tua yang mendidik tapi juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan sikap seorang anak.


"Gue lapar tapi malas makan," Mendengar perut yang berbunyi sejak tadi tapi Raka abaikan.


Sebenarnya Raka bukan tipe orang yang suka mengabaikan sesuatu hanya saja hari ini mood dia benar-benar tidak baik sejak pulang dari meeting tadi.


Masalah lapar tidak Raka hiraukan lagi yang terpenting masalah yang ada harus selesai.


"Hubungi orang rumah dulu deh," Raka merogoh kantong buat mengambil hp untuk menghubungi orang rumah buat menanyakan bagaimana Farah dirumah.


Padahal tadi pagi sudah di ajak ikut ke kantor, tapi Farah menolak.


Namun saat tangan Raka sudah menggeledah kantong celananya yang dicari tidak ada.


"Kemana perginya?" Raka mengecek semua kantong tapi yang dicari memang tidak ada.


"Ah gue lupa kan waktu meeting tuh hp habis daya.

__ADS_1


Gara-gara kejadian tak mengenakkan sampai lupa cas hp," Raka menepuk jidat sendiri saat ingat kalau hpnya masih mati.


Cukup lama Raka berada disana hingga malam menjelang dia tidak beranjak duduk sama sekali hanya pergi shalat sebentar lalu duduk lagi disana tanpa mengisi perut.


"Nggak kerasa udah malam aja," Raka bangun dari duduknya berjalan menuju mobil.


Suasana disana sepi tidak ada orang berkunjung kesana sebab tempat itu tidak dibuka untuk umum tapi untuk umum ada di taman sebelah hanya berbatas tembok.


"Udah jam sepuluh aja," Melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan, itu bukan jam murah tapi tidak mahal banget juga namun harga standar dengan harga bisa membeli satu buah motor.


Rata-rata barang yang Raka gunakan adalah barang bermerek walau bukan branded karena Raka kurang suka barang branded dipakai tiap hari terkesan boros difikiran Raka ada beberapa barang branded Raka tapi jika itu ada acara khusus atau penting saja.


Raka melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang tidak mau buru-buru sampai rumah asal selamat.


Setengah jam Raka sudah sampai rumah dan seperti biasa disambut sama kepala pelayan.


"Aden udah pulang?," Senang karena tuannya sudah pulang dengan waktu hampir tengah malam.


"Kalau nggak pulang mau tidur dimana bik?," Heran Raka kadang asisten rumah suka becanda kalau ngomong.


Ini rumah Raka jelas lah dia pulang ke sana mau kemana lagi coba?.


Tapi pertanyaan itu Raka anggap sebagai salah satu perhatian yang menunggu tuan rumah pulang dan kwatir jika pulang terlambat.


"Ya tetap kesini emang aden punya rumah lain?, Aden udah makan bibi panaskan makanan ya?" Mengikuti langkah Raka menuju dapur karena mau mengambil minum.


Kepala pelayan tidak akan tidur sebelum Raka pulang atau Raka mengasih kabar kalau dia tidak pulang malam ini karena kalau tidak dikabari yang ada kepala pelayan tidak tidur sampai Raka pulang.


"Istri aku udah makan bi?" Raka tidak menjawab pertanyaan itu yang ada dalam fikiran Raka, istri cantiknya yang ditinggalkan sejak pagi tadi dan Raka kebablasan pulang sampai malam.


Melihat hidangan yang masih utuh sudah bisa Raka tebak kalau Farah belum makan malam sama sekali.


"Nyonya belum makan sejak siang den," Takut-takut bibi kena marah karena nyonya baru rumah itu belum makan.


Bibi takut Raka akan marah saat tau istrinya belum makan dirumah sendiri seperti tamu yang takut makan di rumah orang lain saat datang.


"Telpon kamar bik dan suruh turun buat makan," Kesal Raka.


Mau menguji kesabaran Raka lebih dalam lagi?.

__ADS_1


Entah pada siapa Raka marah sekarang pada dirinya yang meninggalkan istri sendiri dirumah atau pada Farah yang mulai menunjukkan sifat keras kepala.


Raka duduk dikursi meja makan sambil mengetuk jari pada meja menunggu bibi menelpon kamarnya.


"Udah dikasih hukuman bukannya nurut malah membangkang begini.


Makan itu nggak susah bukan disuruh masak atau membersihkan rumah.


Untung istri sendiri coba kalau pekerja udah gue pecat mungkin,"


Kesal Raka saat melihat jejeran makanan masih utuh tidak tersentuh satu suapan pun.


Tidak menghargai pada bibi yang memasak untuknya, tidak tau betapa bibi berusaha cepat memasak agar dia tidak kelaparan menunggu.


"Hukuman apa yang pas gue berikan agar dia jera tapi tidak meninggalkan efek trauma.


gue nggak boleh kasar terhadap perempuan apalagi sekarang dia adalah tanggung jawab gue yang harus gue jaga,"


Raka memikirkan cara mendidik Farah lebih baik lagi.


Raka hanya ingin istrinya menurut dengan apa yang dia bilang padahal tidak susah hanya hal kecil tapi kalau tidak dituruti bisa saja akan menjadi besar jika diabaikan.


Raka yang dididik di keluarga yang berpendidikan tinggi serta agama yang bagus menjadikan Raka berkepribadian tegas serta lugas setiap apa yang mau diperbuat atau tindakan maka memikirkan dulu akibat apa yang bakal di timbulkan.


Tidak mau bertindak cepat dan berakhir fatal seperti bertindak atau mengambil keputusan dalam keadaan emosi.


"Nanti aja gue fikirkan lagi dan bicarakan berdua agar komunikasi kami timbal balik tidak searah saja, sepertinya gue harus lebih sabar lagi menghadapi istri cantik gue itu. Dia tuh gemesin kalau lagi dalam mode diam jadi pengin cubit itu pipi,"


Putus Raka yang lebih memilih membicarakan segala hal bersama apalagi sekarang sudah ada orang yang harus Raka tanggung segala perbuatannya dan Raka akan terus berusaha memantapkan diri agar rumah tangga mereka tidak hambar dan berjalan ditempat.


Rumah tangga akan bertahan lama dengan adanya keterbukaan diantara pasangan suami istri dalam segala dimulai dari hal kecil hingga hal serius sekalipun.


Rumah tangga itu bukan pada memberi nafkah lahir batin dan merasa itu sudah cukup.


Itu memang termasuk juga tapi pondasi suatu pernikahan akan kokoh jika keduanya saling menguatkan dalam segala hal.


seperti halnya dengan seorang istri yang mengharuskan patuh serta menurut dengan suami selama ini baik dan membantah jika merasa apa yang diajarkan sudah keluar dari ajaran yang semestinya.


Patuh istri ada tempatnya dan memberontak istri juga pada tempatnya.

__ADS_1


Jangan pernah sesekali seorang istri membantah suami jika yang disuruh demi kebaikan.


"Dalam fikiran gue nggak pernah kebayang memiliki istri yang lebih cepat dan akan menikah dalam waktu dekat, sebab gue sudah punya agenda sendiri dan harus gue rombak lagi,"


__ADS_2