BUKAN CINTA PENGGANTI

BUKAN CINTA PENGGANTI
Flashback 2


__ADS_3

"Bukan abang mau membiarkan Riris pulang sendiri.


Tapi Riris tau kan jika Farah mendekati Riris hanya untuk bisa mendapat dukungan agar lebih mudah mendekati Abang.


Abang nggak suka cara dia seperti itu.


Jika dia benar menyukai abang dia harus mendekati abang dengan caranya sendiri, bukan seperti ini.


Dia harus berjuang sendiri tanpa bantuan siapapun.


Dan juga Abang nggak ada rasa sama dia dan abang nggak mau mikirin punya kekasih untuk saat ini.


Yang lebih penting adalah abang udah punya orang yang abang suka,"


Jelas Raka panjang lebar.


Selain tidak memiliki perasaan Raka juga tidak ingin adiknya di manfaatkan demi kepentingan Farah sendiri.


Bukan benci sama Farah namun caranya yang salah.


Mereka masih sama-sama kecil dan belum saatnya membahas soal perasaan.


Masih terlalu dini untuk itu.


Raka hanya ingin fokus sekolah dan kuliah.


Dan juga dia sudah bertekad untuk kuliah jurusan bisnis dan melanjutkan perusahaan yang sekarang Arka jalankan.


Dia ingin Daddy-nya di rumah saja dan menghabiskan masa tua bersama sang mommy.


Raka ingin membahagiakan orang tuanya di masa tua dan tidak memikirkan kerjaan lagi.


Tanpa Raka tau jika umur Arka tidak setia itu untuk berhenti bekerja.


Masih berusia awal empat puluh masih bisa bekerja untuk sepuluh tahun ke depan.


Mereka juga belum ada yang tau jika Khira lebih tua dari Arka.


Jadi dengan kesimpulan sendiri Raka menganggap Arka sudah tua dan sudah waktunya untuk pensiun dari dunia kerja.


"Iya juga sih bang, soal perasaan dan cinta nggak bisa di paksa walau itu orang tua sendiri.


Perasaan itu datang dengan sendirinya dan nggak tau pada siapa dia akan berlabuh ya bang.


Walau kak Farah menyukai abang jika abang nggak menyukai kak Farah, kak Farah bisa apa coba.


Dan juga masih sekolah udah mikirin pacaran aja.


Seharusnya sekolah dulu yang benar kan bang kayak Riris,"


Reflek Raka menjitak kepala Riska karena gemas.


"Au sakit tau bang, kenapa di jitak coba? Di sayang kan bisa atau di cium.


Kalau Riris geger otak gimana?"


Riska mengusap kepala yang habis di jitak barusan.


Jitakan itu tidak sakit hanya saja bermanja dan minta kasih sayang lebih tidak masalah bukan.


Jitakan sayang mana ada yang sakit.


Beda dengan jitakan marah yang di lakukan dengan sepenuh hati.


"Biar aja geger otak.


Masih kecil juga udah pintar bahas masalah cinta.


Sekolah yang benar jangan pernah pacaran.


Kamu itu adik kesayangan abang dan nggak boleh yang menyakiti kamu selain Abang tau,"


Abang macam apa itu.


Jika untuk menyakiti mungkin sudah sering Raka lakukan dan Riska tidak jera sama sekali.


Bagaimana bisa jera jika cara menyakiti beda dari yang lain.


Menyakiti tapi lebih banyak kasih sayang yang di dalamnya.


Sebagai seorang saudara pernah rela jika orang tersayangnya di sakiti oleh orang lain.


Walau dia sering membuat adiknya menangis namun tak rela jika orang lain yang melakukan.


Sejahat apa pun dia jangan harap ada kesempatan orang untuk menyakiti.


"Kalau abang yang menyakiti nggak terhitung lagi banyaknya.


Saking banyaknya satu buku masih kurang,"


"Masuk yuk bang, kayak anak terlantar kita duduk di teras gini,"


Berjalan duluan masuk rumah di ikuti Raka dari belakang.


Memandang punggung itu dengan penuh kasih sayang.


Saudara satu-satunya yang di miliki di jaga sepenuhnya hati.


Saudara yang sering di jahili namun kejahilan itu membuat mereka makin dekat.


'Walau kamu sering nyebelin dan sering bikin Abang kesal tapi percayalah Abang akan jadi orang pertama yang melindungi mu'.


Masuk ke dalam kamar masing-masing untuk membersihkan diri dan berganti pakaian.


Sebagai saudara satu-satunya dan laki-laki sudah sepatutnya Raka menjaga Riska selain orang tua mereka yang tidak selalu bersama mereka.


Bukan tanggung jawab yang kecil.


Menjaga saudara perempuan harus lebih ekstra di bandingkan dengan saudara laki-laki.


Saudara perempuan itu butuh penjagaan ekstra baik dari segi keamanan atau kenyamanan.


"Cinta dan perasaan, masih terlalu dini,"


Decak Raka saat keluar kamar mandi hanya menggunakan handuk selembar membalut tubuh atletis Raka.


Badan Raka tercetak bagus karena sering melakukan olah raga.


Segala jenis peralatan olahraga sudah tersedia di rumah itu jadi Raka rajin menggunakan bahkan di sela waktu sebelum berangkat sekolah.


Seperti habis shalat subuh mungkin.


Tidak perlu waktu senggang tapi senggang kan waktu untuk melakukan olahraga sebentar setidaknya lima belas menit.


\=\=


Keesokan harinya di sekolah.


"Bang Raka kenapa nggak bilang jika kemarin nggak bisa pulang bareng.


Padahal kemarin aku pulang sama Riris,"


Farah mensejajarkan langkah kakinya dengan Raka yang berjalan di koridor menuju kelas.


Raka cuma melirik sekilas dan terus melanjutkan langkah kaki menuju kelas.


Baginya baik kehadiran Farah atau omongan Farah tidak ada yang penting.


Buat apa membahas hal yang membuat mood belajar jadi hilang.


Raka ingin menegaskan agar Farah tidak terlalu dekat sama dia namun bingung cara menyampaikan takut menyakiti hati Farah.


Juga segan sama orang tua Farah.

__ADS_1


Berada di posisi serba salah.


Raka hanya merasa tidak nyaman dengan di dekati begini.


Di tambah dengan tatapan siswa lain yang menghunus tajam pada Farah yang bisa dekat dan bicara sama Raka.


Kan impian semua orang.


"Ada kelas tambahan,"


Balas singkat Raka.


Sama dengan yang di katakan pada Riska kemarin.


Dan untuk detail alasannya cukup Raka dan Riska saja yang tau.


Dua adik kakak itu tidak ada rahasia sama sekali.


Mereka saling terbuka dan saling dukung.


"Benaran ada kelas tambahan atau ada acara lain bang?"


Selidik Farah kepada Raka ingin tau pasti kenapa Raka tidak pulang bersama kemarin.


Dia sudah sangat senang pulang sama Riska secara otomatis akan pulang sama Raka juga.


Dan angan hanya tinggal angan.


Jika saja kemarin jadi maka Farah akan mengambil kesempatan memotret Raka dari samping lalu di jadikan story agar yang menyukai Raka iri sama Farah bisa pulang sama Raka.


"Apakah semua kegiatan ku harus di laporkan kepada mu?"


Raka tidak bisa di introgasi seperti ini.


Di tambah mereka tidak memiliki hubungan khusus yang mengharuskan Raka mengasih tau Farah apa kegiatan dia satu hari.


Catat sekali lagi, mereka dekat karena orang tua mereka bersahabat dan jika tidak belum tentu mereka saling kenal bahkan bisa bicara dengan bebas.


Tau sendiri jika Raka sulit didekati namun ramah saat di sapa.


Raka kan jinak-jinak merpati.


Jangan di dekati jika tidak ingin dia pergi.


"Bukan begitu maksud aku bang,"


Gagap Farah salah tingkah.


Dia cuma ingin bertanya namun kenapa malah di balas tidak mengenakan sekali.


Dia bertanya demikian karena melihat beberapa pasang mata melihat ke arahnya dan ini kesempatan dia untuk menunjukkan jika dia selangkah lebih maju dari yang lain.


Namun lagi dan lagi ekspektasi tidak sesuai sama keinginan Farah.


Niat hati ingin pamer namun malah di jatuhkan di depan banyak orang.


"Tolong jaga jarak Farah, aku nggak ingin menyakiti mu lebih sering lagi,"


Raka sadar akan jawaban yang di berikan banyak sedikit pasti menyakiti hati Farah.


Namun Raka bukan tipe lelaki yang akan bermulut manis hanya untuk mempertahankan seseorang di sisinya.


Dia tidak suka basa-basi hanya untuk menarik perhatian seorang gadis.


Apa lagi hanya bertujuan untuk di permainkan.


Bukan tipe Raka sekali.


Dia memiliki adik perempuan jadi sebisa mungkin juga menjaga perasaan perempuan lain itu pun orang yang di ajak bicara cepat tanggap dan mengerti maksud perkataan tanpa harus di usir.


"Tapi abang kan tau kalau aku menyukai abang,"


Farah tidak menyerah dan secara tidak langsung dia sudah mengatakan perasaannya terhadap Raka.


Bagaimana reaksi Raka? Apakah akan menerima itu karena di saksikan banyak orang takut membuat Farah malu atau menolak karena memang tidak memiliki rasa apa pun.


"Tau,"


Setelah mengatakan itu Raka mempercepat langkahnya dan meninggalkan Farah dengan perasaan di gantung.


Tidak menjawab atau menolak namun Raka seperti menggantung perasaan Farah.


Seolah mengatakan masih ada kesempatan untuk di terima.


Farah melihat kepergian Raka dengan langkah lebar menuju kelasnya.


Memandang dengan tatapan entah seperti apa?.


Cuma Farah yang tau.


"Kenapa sih bang sulit sekali mendekati mu baik di sekolah atau di rumah,"


Keluh Farah pergi menuju kelasnya juga.


Perjuangan yang masih panjang membuat Farah harus memutar otak untuk mencari cara agar Raka mau menoleh kepadanya.


Raka yang baik dan ramah ternyata bukan awal mudah di dekati.


Padahal Farah juga sering mendekati Raka saat bersama keluarganya agar tidak ada alasan Raka untuk menolak namun tanpa Farah sadari jika kecerdasan Raka menurun dari Arka hingga tau mencari alasan tanpa harus menyakiti.


"Lo kenapa jalan cepat gitu? Lagi ada lomba jalan cepat?"


Tanya Rasya saat melihat Raka berjalan dengan cepat ke arah kelas.


Sejak bicara dengan Farah tadi Rasya sudah memperhatikan walau tidak tau apa bahan obrolan mereka.


Namun saat melihat raut wajah Farah sudah jelas jika Raka tidak suka akan obrolan mereka.


Dan juga bukan rahasia lagi jika melihat Raka di dekati gadis di sekolah.


"Iya sekarang lagi latihan,"


Balas Raka duduk di kursi sebelah Rasya.


Mereka duduk di meja yang sama.


Raka mengeluarkan buku catatan sambil menunggu guru mengajar akan masuk.


"Riska udah ada cowok belum nggak sih Ka?"


Penasaran Rasya akan sosok si cantik Riska yang menjadi salah satu primadona di kelas sepuluh.


Selain wajah cantik juga senyum yang menawan namun senyum itu seperti bulan purnama jarang terlihat namun sangat memikat bagi siapa saja yang melihat.


"Mana gue tau, bukan urusan gue juga,"


'Tuh bocil pasti bakal besar kepala jika tau ada yang naksir sama dia'.


Tebak Raka saja padahal belum tentu apa yang Raka fikirkan akan sama dengan yang di fikiran Riska.


Abang laknat memang, menuduh adik sembarangan aja.


Abang yang patut di tukar tambah kayaknya dengan yang lebih bagus lagi.


Raka tidak suka adiknya jadi bahan omongan anak lelaki di sekolah.


Dia ingin adiknya bersekolah dengan tenang tanpa ada gangguan dengan alasan menyukai dirinya.


Cukup Raka yang merasa tidak nyaman saat di dekati gadis di sekolah dan adiknya jangan.


Adiknya butuh ketengan saat sekolah.


Jangan ganggu dengan perasaan labil dan mengganggu sekolah.

__ADS_1


Jika ingin mendekati tunggu sampai waktunya jika tidak saat sudah masuk perguruan tinggi.


"Mata lo buram ya? Nggak liat itu Riska cantiknya nggak ngotak mana soleha lagi.


Cocok untuk di jadikan calon ibu untuk anak-anak gue di masa depan.


Andai dia punya saudara apa lagi laki-laki gue mau mendekati saudaranya dulu untuk mendapat restu,"


Khayal Rasya.


Andai dia tau siapa saudara Riska pasti akan lebih dulu mendekati saudaranya untuk mendapatkan dukungan serta restu.


Sebab mendapatkan restu saudara serta mendapatkan hati pujaannya sama-sama memiliki kesulitan tersendiri.


Jika fokus mendekati sang pujaan hati lalu mengabaikan ada keberadaan saudara yang juga tak kalah penting.


Restu saudara juga penting.


Saudara adalah peran penting untuk di dekati juga.


Setelah orang tua restu saudara juga penting.


Jangan anggap setelah orang tua mengasih restu dan kita abai akan restu saudara.


Itu pun jika mereka bukan anak tunggal.


Namun jika pun anak tunggal masih ada orang lain yang bisa menghalangi seperti memiliki saudara sepupu yang tak kalah jika mereka memiliki sepupu posesif.


"Mimpi kok pagi hari,"


Cetus Raka yang jengah mendengar sahabatnya memiliki semangat jika sudah membahas tentang Riska adik kesayangannya juga adik yang sering jadi bahan keisengan Raka.


Adik yang akan di sayangi melebihi diri sendiri.


Adik yang akan di jaga sepenuh hati.


Adik yang akan di prioritaskan paling utama di atas keinginan sendiri.


Raka akan memastikan kebahagiaan Riska dulu baru mementingkan kebahagiaan nya.


Sebab dia tidak akan tenang bahagia sendiri sedangkan adiknya masih jauh dari kata bahagia atau berada di tangan yang salah.


Raka akan memastikan Riska mendapatkan lelaki baik dan akan menjaga dengan sepenuh hati.


Jangan hanya menerima Riska karena berasal dari keluarga berada dan memanfaatkan kekayaan orang tua mereka.


Tidak apa dapat laki-laki biasa asal tulus menerima Riska tanpa ada embel-embel di belakangnya.


Tidak perlu dari keluarga sederajat, tidak perlu memiliki pendidikan tinggi, tidak perlu memiliki pekerjaan mapan dan juga tidak perlu wajah tampan tapi buaya.


Semua itu tidak penting dan tidak ada gunanya jika hanya ada kepalsuan di dalamnya.


Lebih baik sederhana dan di cintai dengan cara luar biasa.


"Gua mah nggak heran lagi jika lo nggak minat sama Riska, selera lo kan beda dari lelaki normal lainnya,"


Sebal Rasya yang mana otaknya sama otak Raka tidak sejalan dalam membahas Riska.


Padahal di lihat dari sudut manapun Riska itu tidak ada celanya.


Bahkan bisa dikatakan kategori sempurna untuk gadis seumur dia.


Masih kecil namun kecantikan yang di miliki sulit untuk mengalihkan pandangan.


Siapa sih saudara pujaan hati ku itu? Fikir otak Rasya berputar.


Sudah mendekati susah di tambah dengan kesulitan untuk mengetahui siapa saudara Riska.


Ah andai Rasya tau jika saudara Riska adalah Raka, orang yang sering di ajak membicarakan Riska.


Orang yang selalu tidak mendukung dirinya jika sudah membahas primadona di kelas sepuluh.


Jika Rasya tau sudah pasti akan heboh dan akan mengorek informasi tentang Riska sekecil apa pun.


Sahabat sendiri adalah saudara orang yang kita suka.


Keberuntungan yang besar tapi itu masih jadi rahasia sampai sekarang dan entah sampai kapan akan tersimpan rapat.


Atau ada kesempatan untuk terbongkar dengan sendirinya.


"Jadi maksud lo gue nggak normal gitu? Justru karena gue normal makanya gue nggak suka sama tuh cewek,"


'Kalau dia bukan adek gue mungkin gue akan berfikir untuk menyukai dia juga.


Namun apa daya jika kami berasal dari embrio yang sama dan bibit yang sama.


Lagian tuh bocil kenapa bisa secantik itu dan membuat para bujang klepekan.


Awas lu bocil'.


Kadang telinga dia juga panas saat teman satu kelasnya membahas Riska.


Bagaimana keramahan gadis itu.


Senyum manis yang tersungging tanpa di sadari.


Menjawab sapaan setiap kali di lontarkan.


Namun tetap keramahan yang di tunjukkan tidak memberi celah untuk di dekati.


Hampir sama dengan Raka.


Jinak-jinak merpati.


"Jadi maksudnya gue yang nggak normal karena menyukai Riska itu.


Wah parah lo jadi laki, gue doain lo nggak pernah bakal suka sama dia hingga gue nggak punya saingan berat kayak lo,"


Senang Rasya.


Jika sampai Raka menyukai Riska juga sudah pasti kalah saing sama Raka.


Idola gadis di sekolah


Bersaing sama Raka lebih baik mengundurkan diri sejak awal dari pada buang waktu dan tenaga karena titik kemenangan tidak akan tercapai atau bahkan terlihat.


Bersaing sama Raka lebih di utamakan sadar diri.


"Gue juga ogah punya saingan kayak lo, menang sebelum bersaing, nggak ada perjuangan sama sekali,"


Mendengar jawaban Raka sangat menjengkelkan terdengar di telinga Rasya.


Kenapa jika orang ganteng dan populer yang bicara masih bisa di toleransi.


Tidak akan menimbulkan kebencian yang mendarah daging.


Kan orang tampan bebas mau melakukan apa pun.


Ingin sekali Rasya menampol jika tidak ingat ini sahabat sendiri.


Orang yang mau menerima dia sebagai sahabat yang berasal dari kalangan biasa.


Namun di balik kata-kata itu tidak ada kata kasar berlebihan.


Hanya sekedar kata-kata untuk sebagai penghibur saja.


Tidak pernah di masukkan ke dalam hati bahkan sampai menjadi dendam di kemudian hari.


Menjalin hubungan sebagai sahabat harus bisa menerima segala kelebihan dan kekurangan pada teman sendiri.


Jangan mau hanya menerima kelebihan dan acuh terhadap kekurangan.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


Bersambung 😘


__ADS_2