
Selesai menikmati kuliner negara sekitar pasangan suami istri itu memilih balik ke kamar, ini juga sudah menunjukkan memasuki malam dan istirahat.
Memasuki kamar dengan perasaan deg-degan memasuki kamar dengan perasaan tidak menentu.
"Aku atau kamu yang mau mandi dulu sayang?"
Raka juga merasa deg-degan karena ini waktu yang dia nanti selama ini dan membuktikan jika dia melakukan ini bukan karena nafsu semata juga cinta besar ada di sana.
"Kamu aja duluan, aku mau bersihin make up dulu,"
Raka masuk kamar mandi meninggalkan Farah sendirian di sana.
"Kok aku deg-degan banget ya.
Tenang Farah tarik nafas lalu buang, ingat dia suami kamu sekarang jadi jangan cemas ok,"
Farah sangka tadi kegugupan sudah berakhir ternyata masih ada lagi.
Membersihkan make up yang menempel di wajah cantik itu.
Setelah setengah jam Raka keluar kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk yang menutupi aset berharganya saja.
Entah kenapa sekarang dia berani melakukan itu sejak awal menikah mana mau takut istrinya tidak nyaman.
"Sayang sekarang kamu mandi ya,"
Farah langsung masuk kamar mandi tanpa menjawab ucapan suaminya.
"Bikin gemas saja,"
Geleng-geleng kepala melihat istrinya yang lagi malu-malu.
Di dalam kamar mandi Farah langsung mandi, sebelum masuk ke dalam tadi Farah sudah menyiapkan baju ganti Raka dan membawa baju gantinya.
Tidak lama Farah keluar dengan baju lengkap dan menggunakan handuk yang melilit rambutnya karena keramas membuat dia merasa lebih rilek.
"Sayang sini duduk,"
Meminta Farah duduk di sampingnya dan Farah menurut saja.
Wajah cantik alami itu membuat Raka terpesona, walau bukan pertama kali melihat.
"Kenapa menunduk?,"
Farah tidak berani menatap Raka yang sudah menyandang status sebagai suami.
Menarik dagu Farah dan pandang mereka bertemu.
Lalu mendekatkan wajahnya pada wajah Farah hingga jarak mereka kian menipis.
Tangan Raka terangkat berniat membuka handuk di kepala Farah karena dia merasa tidak masalah melakukan itu pada Farah dan Farah hanya membiarkan apa yang mau Raka lakukan pada dirinya.
"Bismillah hirrahma nirrahim, kamu sangat cantik sayang tanpa kerudung ini.
Percayakan semuanya sama aku ya,"
Raka berhasil melihat wajah cantik Farah dengan wajah bersemu merahnya.
"Kamu siap sayang?"
Tanya Raka sebelum memulai dia harus memastikan kalau Farah juga sudah siap melakukan tugasnya sebagai istri dan tidak ada paksaan saat mereka melakukan.
"Aku siap by, lakukanlah aku siap menjadi milik mu seutuhnya malam ini,"
Bangga juga terharu sebab Raka tidak langsung melakukan apa yang dia inginkan malah minta persetujuan dulu walau sebenarnya Raka sangat berhak atas dirinya namun akan lebih indah jika bertanya.
Tidak lama Raka membisikkan doa di telinga Farah dan memulai dengan memainkan titik sensitif Farah sebelum mulai pada permainan intinya.
Adzan subuh sudah berkumandanng menandakan waktu subuh sudah tiba, sepasang pengantin yang baru menikmati indahnya surga dunia itu masih terlelap di bawah selimut yang menutupi tubuh polos mereka berdua hanya kepala saja yang kelihatan.
Perlahan Raka mengerjapkan mata saat mendengar panggillan subuh itu.
Matanya terbuka sempurna dan perlahan nyawanya terkumpul semua.
Duduk bersandar pada sandaran tempat tidur lalu saat dia hendak turun dari sana dia ingat sesuatu lalu melirik ke sampingnya.
__ADS_1
Dapat dia lihat bidadari hatinya masih terlelap dengan nyenyak setelah pertempuran mereka semalam.
Wajah yang sangat cantik saat masih.
"Sungguh sangat cantik,"
Ucap Raka menyibakkan rambut yang menutupi wajah Farah.
Sebelum itu Raka memakai celananya dulu baru setelah itu.
"Sayang bangun udah subuh,"
Membelai pipi Farah pelan agar tidak kaget.
"Hhhmmm,"
Gumam Farah yang masih merasa ngantuk.
"Udah subuh sayang shalat dulu nanti lanjut lagi tidur nya atau mau lanjut yang semalam,"
Benar-benar ya Raka, semalam udah di gempur masa pagi mau di lanjut dulu, kasian sama istri Raka kan masih bisa nanti malam juga.
"Kamu mencari apa sayang?"
Heran Raka saat Farah melihat kesana kemari.
"Hijab aku mana, kan ngak boleh buka hijab di depan laki-laki,"
Masih mencari hijabnya dan melupakan sesuatu yang penting.
"Ngak usah sayang,"
Cegah Raka saat Farah menemukan apa yang dia cari dan mulai memakai.
"Dosa,"
Masih melanjutkan tapi di cegah Raka..
"Kamu nggak pake baju aja nggak malu terus ngapain pake hijab,"
Seketika Farah membeku di tempat.
Apa yang udah terjadi? nggak mungkin kan.
Raka tersenyum melihat tingkah Farah ada ada saja fikirnya.
"Apa yang udah terjadi?"
Cemas Farah saat tau tak ada pakaian yang melekat di badannya.
"Iya seperti yang kamu fikirkan sayang,"
Santai Raka menikmati ekpresi wajah Farah yang menurut Raka sangat imut.
"Tapi, ini nggak benar,"
Pupus sudah harapan Farah .
"Nggak benar apa sayang?"
Ingin rasanya Raka tertawa sekarang.
"Kamu lupa kita kesini mau honeymoon jadi wajar sekarang nggak pakai baju,"
Ah kenapa istrinya jadi menggemaskan setelah melewatkan malam yang panas bersama.
Bahkan ekspresinya seperti ingin mengulang kejadian semalam.
"Maaf aku lupa,"
Sesal Farah dan bersamaan juga bernafas lega, kenapa dia lupa sudah punya suami tampan lagi selama lebih satu tahun ini.
"Yuk mandi ntar habis waktu subuh,"
Ajak Raka mulai berdiri.
__ADS_1
"Kamu duluan aja by,"
Tolak Farah yang masih merasa malu dan juga belum mengenakan pakaian dan ternyata pakaiannya tergeletak di lantai dengan mengenaskan.
"Bareng sayang,"
Menyibakkan selimut dan membopong Farah ke dalam kamar mandi.
"By malu,"
Menyembunyikan wajahnya di dada Raka dan wajah bersemu merah.
"Nggak usah malu, aku udah liat semua nya dan juga merasakan,"
Ucapan Raka tanpa filter sedikit pun.
Ini akibat terlalu lama menahan hingga lupa jika ucapannya sukses membuat wajah cantik istrinya bersemu lagi.
Akhirnya mereka mandi bersama tanpa ada adegan tambahan mengingat belum shalat subuh.
Dan ini bukan pertama kali mereka shalat berjamaah.
Selesai shalat Farah merapikan tempat tidur dan juga mengganti spraynya dengan yang baru.
"Capek hhmm?"
Membelai kepala Farah dengan sayang yang mana mereka lagi duduk di atas sofa di depan jendela kaca itu sambil menikmati pagi sebagai pasangan suami istri yang menikmati waktu honeymoon.
"Sedikit,"
Raka menarik Farah agar bersandar di dadanya sambil membelai rambut Farah.
"Maaf semalam aku terlalu bersemangat,"
Mencium pucuk kepala Farah dengan sayang, sadar semakin lama permainannya sedikit kasar waktu tidak menyakiti istrinya.
"Nggak apa by, itu udah jadi tugas aku sebagai seorang istri,"
Jawab Farah tanpa ada niat buat merubah posisi sekarang.
"Makasih udah menjaga nya buat aku,"
Beruntung jadi yang pertama bagi Farah.
"Cuma itu yang bisa aku berikan selian cinta kasih sayang selama ini,"
Sebagai perempuan hanya kehormatan yang paling berharga yang di berikan pada suami kelak.
"Seharusnya aku yang ngomong gitu sayang, dan semoga cepat jadi Raka junior di sini,"
Membelai perut rata Farah.
"Aammiinn by, kita sama sama berdoa,"
Balas Farah memegang tangan Raka yang masih berada di perutnya itu.
"Bukan hanya sama sama berdoa aja sayang tapi juga sama sama berusaha,"
Sambung Raka dan berharap semoga cepat punya baby.
"Mau sarapan apa?"
Mengingat waktu sudah mau menunjukkan jam tujuh pagi.
"Apa aja by,"
Jawab Farah meluruskan posisi duduk dan menatap wajah tampan Raka.
"Kenapa liatin aku gitu? tampan ya?"
Farah tak berkedip menatap wajah Raka dari jarak dekat.
"Banget, kok aku baru sadar ya,"
Sebab selama ini Farah tidak pernah menatap Raka seintens dan sedekat ini.
__ADS_1