BUKAN CINTA PENGGANTI

BUKAN CINTA PENGGANTI
Kado Untuk Rasya


__ADS_3

Setiap hari Riska selalu mencari referensi untuk mempersiapkan malam pertamanya dengan sang suami dan sesekali bertanya kepada mommynya siapa tahu ada masukan lain yang bisa membuat dia memberikan hal berkesan di malam pertamanya.


Namun semua yang dia lakukan dilakukan secara perlahan agar suaminya tidak curiga dan kejutan itu berakhir tidak gagal.


"Sayang kenapa kok akhir-akhir ini abang lihat sering bermain HP? Nggak lagi chat-an sama cowok lain kan?"


Riska memicingkan matanya ke arah suaminya dan memandang dengan tatapan selidik serta penuh tanda tanya.


"Maksud Abang apa bicara begitu? Abang pikir Riris main serong gitu atau lagi dekat sama mahasiswa yang ada di kampus? Please deh bang buang jauh-jauh pikiran seperti itu karena suami Riris ini jauh lebih mempesona daripada mahasiswa-mahasiswa yang ada di kampus itu dan mereka nggak ada apa-apanya dibandingkan Abang,"


Gadis itu mulai gelisah karena gerakannya sudah mulai terbaca karena sering bermain HP saat berada di rumah padahal biasanya tidak karena mereka lebih suka menghabiskan waktu bersama baik mengobrol atau mengerjakan tugas bersama namun sekarang dia asyik dengan hp-nya tapi bukan melakukan seperti yang dituduhkan suaminya namun mencari referensi lain sebelum kejutannya dimulai.


Namun dia tidak tersinggung sama sekali atas tuduhan itu karena dia tidak melakukan dan tidak kepikiran sampai ke arah sana. fokus dia sekarang hanya kepada kejutan malam pertama untuk suaminya.


"Iya Abang tahu sayang nggak mungkin melakukan itu tapi qbang hanya heran kenapa sayang akhir-akhir ini sering memainkan HP biasanya kan tidak,"


Karena tidak ingin memperpanjang masalah akhirnya gadis itu menyimpan hp-nya dan akan melanjutkan penelusurannya lagi nanti saat berada di kampus jam istirahat atau saat dia pulang cepat di mana suaminya masih berada di kampus jadi dia bisa bergerak bebas dan tidak dicurigai seperti ini.


"Tadi cuma membahas tugas kelompok yang akan dikumpulkan minggu depan bang dan kami berencana akan mengerjakan di cafe depan kampus,"


Tugas kelompok bukanlah hal baru saat mereka mengerjakan tugas dan kafe depan kampus adalah tempat yang paling nyaman untuk mereka apalagi itu merupakan cafe tongkrongan ala-ala anak muda jadi sangat pas untuk mereka bersantai sambil mengerjakan tugas.


Gadis itu duduk di sebelah suaminya lalu menggenggam tangan kekar itu dan ditaruhnya di atas pangkuan. Mengusap pelan lalu melihat wajah yang semakin hari semakin tampan itu dan dalam hati dia berkata-kata "semakin tampan Bang Rasya maka semakin banyak juga para gadis di luar sana yang tergila-gila kepadanya dan gue sebagai istri harus mempertahankan posisi agar enggak tergeser atau dibuat goyah oleh ulat bulu di luar sana karena posisi gue jauh lebih kuat dari mereka yang hanya debu yang bakalan terbang saat ditiup angin "


"Tapi alangkah baiknya selama kita di rumah kita mengurangi kegiatan memainkan HP dan lebih baik menghabiskan waktu bersama,"


Oke Riska mengangguk setuju dan ini lebih baik daripada membantah dan berakhir dengan perdebatan yang tidak ada akhirnya.


Mereka juga butuh me time.


Waktu akan terasa sangat berharga kita jika kita habiskan dengan melakukan kegiatan kecil atau hanya sekedar mengobrol daripada memainkan HP yang tidak ada akhirnya itu.


"Iya suamiku tercinta,"


Riska melesat masuk ke dalam pelukan suaminya dan dia bergumam melirih melontarkan kata nyaman dan hangat karena memang itu yang dirasakan saat berada di dalam pelukan suaminya.


Rasa itu hampir sama saat berada di dalam pelukan daddy Arka atau Raka sang abang.


Rasya menyambut baik tubuh mungil yang sudah nemplok di dadanya dan mengusap pelan punggung kecil itu dari atas hingga sebatas pinggang dan dia lakukan berulang kali hingga rasa nyaman itu seakan enggan untuk dilepaskan oleh istrinya apalagi hanya untuk sekedar menggeser sedikit dari tempat duduknya.

__ADS_1


\=\=


Dan tidak terasa waktu yang dinanti Riska sebentar lagi akan tiba dan sekarang dia lagi mempersiapkan segala sesuatunya tapi bukan di rumah tempat mereka tinggal melainkan dia menyewa sebuah kamar hotel yang tidak jauh dari tempat mereka tinggal dan tentu saja itu tanpa sepengetahuan dari Rasya.


"Pokoknya semua harus berjalan lancar dan gue nggak mau membuat abang kecewa serta menunggu lebih lama lagi karena gue tahu jika abang menahan ini setiap hari apalagi gue semakin hari semakin enak saja memeluk dia dan gue mengabaikan keinginan dia yang satu itu,''


Pulang kuliah tadi Riska sudah berpamitan kepada suaminya namun tidak mengatakan jika dia mempersiapkan pesta kejutan untuk suaminya dan dia juga sudah berpesan kepada Raka untuk menahan suaminya hingga dia memberi kabar dan mengantar suaminya menuju hotel yang telah dikirimi alamatnya serta nomor kamar.


"Pokoknya semua harus perfect dan berkesan serta sulit dilupakan,"


Mulai dari dekor kamar, kue ulang tahun hingga baju dinas kiriman sang mommy sudah ada di dalam kamar itu.


Tentu saja Riska merasa kaget saat membuka bingkisannya dikirim dan ternyata isinya adalah baju tembus pandang yang mana siapa saja yang memakai tidak bisa menutupi tubuh kita saking tembus pandangnya bahkan.


"Ini baju atau saringan tahu kok tipis sekali? Mana mahal lagi harganya udah gitu ditarik dikit langsung robek kan sayang uangnya,"


Haruskah berkata demikian saat melihat harga baju lingerie yang dikirim masih menempel makanya dia tahu dan merasa harganya tidak sebanding dengan apa yang dibeli saking tipis serta transparannya lingeria itu.


"Ini mommy ngasih baju yang benar saja? Yakin nggak bakal masuk angin ini?"


Memutar-muter dengar baju yang dipegangnya dan diangkat sebatas wajah dan lingeria itu tembus pandang hingga menampakkan benda yang ada di sebelahnya.


"Tapi gue memakai di depan suami sendiri jadi nggak dosa dong,"


Gadis itu meyakinkan diri jika apa yang dia pakai itu bukan untuk dipertontonkan di tempat umum melainkan untuk menyenangkan suami dan tentu saja imbalannya adalah pahala karena sudah bisa membuat suaminya bahagia.


"Apa lagi ya yang kurang? Sepertinya ini sudah semua dan terakhir gue harus perawatan dulu agar makin kinclong dan wangi,"


Setelah dirasa semua persiapan di dalam kamar beres akhirnya Riska menuju spa yang ada di hotel untuk melakukan perawatan karena dia ingin tampil sempurna agar kejutannya tidak setengah-setengah.


Riska melakukan serangkaian perawatan dari ujung kepala hingga kaki dan itu membuat dia merasakan sangat rileks dan badannya terasa sangat ringan, merasa segala beban terangkat begitu saja.


"Nggak salah bayar mahal ternyata hasilnya begitu memuaskan,"


\=\=\=\=\=\=


Di kantor...


"Lo mau kemana?"

__ADS_1


Raka mencegat Rasya yang hendak pulang, karena dia sudah mendapat pesan dari adiknya untuk menahan Rasya agar tidak pulang cepat.


'untung adik gue yang minta kalau nggak ogah gue melakukan ini'


Raka sebenarnya juga sudah ingin pulang namun apa daya permintaan adiknya tidak bisa dia tolak karena selama ini dia belum pernah menolak keinginan adiknya apalagi ini hanya keinginan kecil agar menahan Rasya sedikit lebih lama sampai dia mendapat pesan untuk mengantar Rasya ke sebuah hotel.


"Ya pulanglah gue, emang mau ke mana lagi gue udah kangen istri tahu,"


Balas Rasya yang mencoba menarik tangannya yang dipegang oleh Raka karena dia memang benar sudah merindukan istrinya dan ingin cepat-cepat segera pulang.


"Temani gue dulu, ngapain sih baru juga datang juga besoknya gitu lagi emang lo nggak bosan?"


Raka menarik Rasya menuju mobilnya lalu mendorong sahabatnya itu memasuki mobilnya lalu dia mengendarai meninggalkan kantor.


"Lu mau ajak gue ke mana? Gue mau pulang Raka istri gue sendiri di rumah dan gue nggak mungkin pulang telat apalagi gue nggak ngasih kabar, lo jangan aneh-aneh ya?"


Rasya tidak bisa pergi tanpa mengajak istrinya walaupun itu bersama Raka, dia tidak bakalan tenang dan bakalan terus kepikiran.


Jadi jika pergi di mana ada Rasya pasti di sampingnya ada Riska dan itu tidak bisa dibantah.


"Nggak usah lebay lu jadi orang dan adik gue itu udah besar nggak bakalan hilang jika sendirian di rumah, gue juga kangen menghembuskan waktu bersama lo jadi jangan sok menolak ntar lu kangen lagi sama gue,"


"Najis gue kangen sama Lo, mending ngangenin istri yang bisa dipeluk, dicium bahkan menemani gue tidur,"


Raka memutar matanya dengan malas jika tidak terpaksa dia juga tidak akan melakukan ini namun demi kelancaran rencana adiknya dia harus bisa mengulur waktu lebih lama dan.


'tuh bocil mempersiapkan apa sih lama amat? Nggak mungkin bersemedi dulu kan timbang mempersiapkan kejutan ulang tahun aja kok repot gini'


Makhluk kesepian seperti Raka tahu apa dan jika Raka tahu bukan hanya pesta kejutan ulang tahunnya Riska siapkan mungkin dia akan mancak-mancak karena kejutan pesta ulang tahun sekalian dengan kejutan malam pertama untuk Rasya, jika laki-laki itu tahu mungkin dia tidak ingin membantu karena pasti jiwa irinya seketika meronta-ronta ingin juga merasakan berada di posisi Rasya nanti malam.


"Nggak usah pamer loh, nanti gue pamer dan gue bakal bermesraan dengan istri gua di depan lo,"


Raka mengajak Rasya mendatangi sebuah toko yang menjual berbagai macam kebutuhan pria dan dia memberikan sebuah kado untuk sahabatnya namun dia tidak mengatakan langsung bahwa itu kado ulang tahun untuk Rasya.


Raka memilihkan sesuatu yang pas untuk sahabatnya dan juga dia membelikan baju untuk adiknya siapa tahu mereka akan menginap di sana dan butuh baju ganti untuk besok.


Tentu mereka menginap tidak mungkin setelah merayakan pesta kecil-kecilan lalu pulang, rugi dong.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


Bersambung 😘


__ADS_2