
Raka tidak suka adiknya jadi bahan omongan anak lelaki di sekolah.
Dia ingin adiknya bersekolah dengan tenang tanpa ada gangguan dengan alasan menyukai dirinya.
Cukup Raka yang merasa tidak nyaman saat di dekati gadis di sekolah dan adiknya jangan.
Adiknya butuh ketengan saat sekolah.
Jangan ganggu dengan perasaan labil dan mengganggu sekolah.
Jika ingin mendekati tunggu sampai waktunya jika tidak saat sudah masuk perguruan tinggi.
"Mata lo buram ya? Nggak liat itu Riska cantiknya nggak ngotak mana soleha lagi.
Cocok untuk di jadikan calon ibu untuk anak-anak gue di masa depan.
Andai dia punya saudara apa lagi laki-laki gue mau mendekati saudaranya dulu untuk mendapat restu,"
Khayal Rasya.
Andai dia tau siapa saudara Riska pasti akan lebih dulu mendekati saudaranya untuk mendapatkan dukungan serta restu.
Sebab mendapatkan restu saudara serta mendapatkan hati pujaannya sama-sama memiliki kesulitan tersendiri.
Jika fokus mendekati sang pujaan hati lalu mengabaikan ada keberadaan saudara yang juga tak kalah penting.
Restu saudara juga penting.
Saudara adalah peran penting untuk di dekati juga.
Setelah orang tua restu saudara juga penting.
Jangan anggap setelah orang tua mengasih restu dan kita abai akan restu saudara.
Itu pun jika mereka bukan anak tunggal.
Namun jika pun anak tunggal masih ada orang lain yang bisa menghalangi seperti memiliki saudara sepupu yang tak kalah jika mereka memiliki sepupu posesif.
"Mimpi kok pagi hari,"
Cetus Raka yang jengah mendengar sahabatnya memiliki semangat jika sudah membahas tentang Riska adik kesayangannya juga adik yang sering jadi bahan keisengan Raka.
Adik yang akan di sayangi melebihi diri sendiri.
Adik yang akan di jaga sepenuh hati.
Adik yang akan di prioritaskan paling utama di atas keinginan sendiri.
Raka akan memastikan kebahagiaan Riska dulu baru mementingkan kebahagiaan nya.
Sebab dia tidak akan tenang bahagia sendiri sedangkan adiknya masih jauh dari kata bahagia atau berada di tangan yang salah.
Raka akan memastikan Riska mendapatkan lelaki baik dan akan menjaga dengan sepenuh hati.
Jangan hanya menerima Riska karena berasal dari keluarga berada dan memanfaatkan kekayaan orang tua mereka.
Tidak apa dapat laki-laki biasa asal tulus menerima Riska tanpa ada embel-embel di belakangnya.
Tidak perlu dari keluarga sederajat, tidak perlu memiliki pendidikan tinggi, tidak perlu memiliki pekerjaan mapan dan juga tidak perlu wajah tampan tapi buaya.
Semua itu tidak penting dan tidak ada gunanya jika hanya ada kepalsuan di dalamnya.
Lebih baik sederhana dan di cintai dengan cara luar biasa.
"Gua mah nggak heran lagi jika lo nggak minat sama Riska, selera lo kan beda dari lelaki normal lainnya,"
Sebal Rasya yang mana otaknya sama otak Raka tidak sejalan dalam membahas Riska.
Padahal di lihat dari sudut manapun Riska itu tidak ada celanya.
Bahkan bisa dikatakan kategori sempurna untuk gadis seumur dia.
Masih kecil namun kecantikan yang di miliki sulit untuk mengalihkan pandangan.
Siapa sih saudara pujaan hati ku itu? Fikir otak Rasya berputar.
Sudah mendekati susah di tambah dengan kesulitan untuk mengetahui siapa saudara Riska.
Ah andai Rasya tau jika saudara Riska adalah Raka, orang yang sering di ajak membicarakan Riska.
Orang yang selalu tidak mendukung dirinya jika sudah membahas primadona di kelas sepuluh.
Jika Rasya tau sudah pasti akan heboh dan akan mengorek informasi tentang Riska sekecil apa pun.
Sahabat sendiri adalah saudara orang yang kita suka.
Keberuntungan yang besar tapi itu masih jadi rahasia sampai sekarang dan entah sampai kapan akan tersimpan rapat.
Atau ada kesempatan untuk terbongkar dengan sendirinya.
"Jadi maksud lo gue nggak normal gitu? Justru karena gue normal makanya gue nggak suka sama tuh cewek,"
'Kalau dia bukan adek gue mungkin gue akan berfikir untuk menyukai dia juga.
Namun apa daya jika kami berasal dari embrio yang sama dan bibit yang sama.
Lagian tuh bocil kenapa bisa secantik itu dan membuat para bujang klepekan.
Awas lu bocil'.
Kadang telinga dia juga panas saat teman satu kelasnya membahas Riska.
Bagaimana keramahan gadis itu.
Senyum manis yang tersungging tanpa di sadari.
Menjawab sapaan setiap kali di lontarkan.
Namun tetap keramahan yang di tunjukkan tidak memberi celah untuk di dekati.
Hampir sama dengan Raka.
Jinak-jinak merpati.
"Jadi maksudnya gue yang nggak normal karena menyukai Riska itu.
Wah parah lo jadi laki, gue doain lo nggak pernah bakal suka sama dia hingga gue nggak punya saingan berat kayak lo,"
Senang Rasya.
Jika sampai Raka menyukai Riska juga sudah pasti kalah saing sama Raka.
Idola gadis di sekolah
Bersaing sama Raka lebih baik mengundurkan diri sejak awal dari pada buang waktu dan tenaga karena titik kemenangan tidak akan tercapai atau bahkan terlihat.
Bersaing sama Raka lebih di utamakan sadar diri.
"Gue juga ogah punya saingan kayak lo, menang sebelum bersaing, nggak ada perjuangan sama sekali,"
Mendengar jawaban Raka sangat menjengkelkan terdengar di telinga Rasya.
Kenapa jika orang ganteng dan populer yang bicara masih bisa di toleransi.
Tidak akan menimbulkan kebencian yang mendarah daging.
Kan orang tampan bebas mau melakukan apa pun.
Ingin sekali Rasya menampol jika tidak ingat ini sahabat sendiri.
Orang yang mau menerima dia sebagai sahabat yang berasal dari kalangan biasa.
Namun di balik kata-kata itu tidak ada kata kasar berlebihan.
Hanya sekedar kata-kata untuk sebagai penghibur saja.
Tidak pernah di masukkan ke dalam hati bahkan sampai menjadi dendam di kemudian hari.
Menjalin hubungan sebagai sahabat harus bisa menerima segala kelebihan dan kekurangan pada teman sendiri.
Jangan mau hanya menerima kelebihan dan acuh terhadap kekurangan.
"Dasar sahabat nggak ada akhlak, bantu teman mu ini kenapa dalam memperjuangkan sang pujaan hati bukan malah menjatuhkan lalu di injak-injak lagi.
Salah apa hamba ya Allah hingga memiliki sahabat seperti orang satu ini,"
Rasya mengangkat tangan sambil berdoa agar Raka di balikkan pada jalan yang lurus.
Memasang wajah sengsara agar Raka mau membantu Rasya dalam memperjuangkan cinta Riska yang sulit sekali di gapai.
Jika menggunakan Raka yang memiliki wajah dengan ketampanan yang hakiki sudah pasti Riska akan cepat luluh.
Siapa yang tidak menyukai Raka dan akan menolak pesona seorang Raka di sekolah elit itu.
Pesona Raka memang sudah terkenal di seluruh penjuru sekolah dan tidak ada salah jika Rasya memanfaatkan ketampanan temannya untuk kepentingan pribadi.
Tapi yang jadi pertanyaan adalah apakah Raka mau di jadikan tumbal demi perjuangan cinta Rasya yang belum memulai namun sudah pusing setengah hidup karena tipe Riska yang sulit di dekati walau ramah.
"Kan baru di injak belum gue tenggelamkan ke dalam bumi,"
Wajah Rasya makin mendelik kesal.
Sahabat siapa sih ini? Bukannya mendukung malah menjatuhkan tanpa perasaan.
Seharusnya sebagai sahabat Raka mendukung sahabat dan membantu mendekati pujaan hati.
Rasya memukul bahu Raka pelan.
Tidak ada ucapan Raka yang mendukung sama sekali.
Ingin teriak dan mengatakan jika dia butuh teman untuk berjuang tapi bukan sebagai saingan.
Cukup tau diri jika ingin bersaing.
Biarlah yang memiliki wajah di bawah standar Raka berjuang sendiri dan jika Raka memiliki jiwa besar membantu Rasya.
Namun apakah mungkin jika lihat dari Raka menjawab ucapan Rasya yang menandakan tidak suka membahas Riska.
"Bunuh dulu Ka baru di kebumikan,"
Sebal Rasya mengambil buku saat melihat seorang guru masuk kelas mereka siap untuk memulai pelajaran pagi ini.
Raka hanya terkekeh geli melihat wajah Rasya yang sangat menghibur di mata Raka.
'Kalau gue bantu lo untuk mendapatkan tuh bocil sudah jelas dia akan sulit untuk menolak.
__ADS_1
Sebab dia percaya sama gue, apa yang gua kasih dia tau itu yang terbaik untuk dia.
Adik kesayangan gue itu walau bandel minta di kurung tapi nurutnya patut di acungi jempol'.
Raka melihat wajah tidak enak Rasya karena keinginan untuk membantu mendekati Riska tidak mendapatkan dukungan.
Jika Raka membantu Rasya maka sudah jelas jalan Rasya makin mulus.
Maka Rasya tidak akan merasakan apa yang namanya perjuangan dan tidak tau apa itu bertahan saat ada masalah yang datang.
Orang yang mendapatkan seseorang dengan penuh perjuangan maka akan tau rasanya takut kehilangan.
Beda dengan tidak tau apa itu perjuangan maka menganggap sesuatu akan di dapat dengan mudah.
Jadi jika ingin tau rasa takut kehilangan maka harus melalui tahap yang namanya perjuangan.
Jangan mau terima beres agar orang yang di sukai merasa di hargai
Begitu yang Raka harapkan.
Dia ingin adiknya di perjuangkan agar adiknya kelak tidak di sia-siakan atau merasa keberadaannya hanya sesuatu yang biasa.
Raka berharap adiknya memiliki pasangan satu untuk selamanya.
Jangan gonta-ganti pasangan karena saat mendapati dengan bantuan orang.
Berjuanglah agar saat kamu sakit atau berada di fase bawah kamu akan tetap di dampingi dan ikut berjuang bersama dalam segala kondisi.
Seandainya perjuangan itu tidak ada maka memperjuangkan untuk bertahan juga tidak akan di lakukan.
"Ayo Ka sebelum ke kantin lewat kelas Riska dulu,"
Jam istirahat baru akan beberapa menit lagi, namun mereka bisa cepat keluar karena tugas yang di berikan sudah selesai akhirnya bisa istirahat duluan.
Rasya mengajak Raka untuk melewati kelas Riska duluan untuk melihat pujaan hati rebutan banyak orang.
Menarik tangan Raka agar tidak berjalan ke lain arah karena jika dia sendiri yang pergi sudah jelas dia tidak akan sepercaya diri itu.
Berjalan sendiri akan terasa berbeda dan akan salting juga.
"Tapi nggak di tarik kayak orang pacaran juga bego,"
Raka menarik tangannya hingga terlepas kembali.
Risih saja di pegang oleh sesama jenis.
Bagaimana jika nanti ada yang melihat dan orang berfikir lain.
Bisa saja mereka mengambil kesimpulan jika Raka menolak mereka selama ini karena sudah memiliki pasangan yaitu Rasya sendiri.
Pantas mereka di tolak, penyuka sesama jenis ternyata.
\=\=
Wah bisa jatuh harga diri Raka jika sampai di gosip Raka jika sampai beredar gosip jika dia penyuka sesama jenis.
Dan pasti orang yang di salahkan Rasya karena dia yang secara tidak sadar menarik tangan Raka di sekolah.
Itu gosip yang harus di hindari.
Membayangkan saja Raka sudah bergidik geli.
Penyuka sesama jenis, jalan bergandengan tangan, pelukan, cium pipi.
Ih jika sampai itu terjadi muntah darah Raka yang ada.
Sial, otaknya malah mikir terlalu jauh.
"Buruan Ka ntar dia keburu ke kantin,"
Mau menyambar tangan Raka lagi namun sahabatnya itu buru-buru menyimpan tangan di belakang badan.
Ini saja yang sudah terlanjur di pegang bakal di cuci menggunakan sabun tujuh kali.
Ih kalau sampai di pegang lagi mencuci pakai tanah kali ya biar suci lagi.
Dasar Raka di kira Rasya itu najis apa sampai harus di cuci pakai tanah segala.
Sahabat durjana.
"Kalau udah ke kantin ya samperin aja, kok repot amat,"
Ini yang Rasya tidak suka dari Raka tidak mendukung sama sekali keinginan sahabat sendiri.
Coba kalau dukung setidaknya sedikit saja pasti Raka akan berguna sebagai sahabat.
"Jalan cepat atau gue gandeng lagi tangan Lo,"
Ancam Rasya yang di balas tatapan tajam dari Raka saat mendengar kata gandengan lagi.
Membayangkan bergandengan tangan sama Rasya di sekolah sudah sukses membuat perut Raka di aduk.
Kenapa kata itu sangat menggelitik di telinga Raka.
Jika bersama pujaan hati pasti Raka dengan senang hati melakukan bahkan tanpa di minta Raka sendiri yang akan melakukannya.
Menggandeng pujaan hati lebih menyenangkan dari pada menggandeng sesama jenis.
Auto wajah tampan Raka seketika tidak berguna jika sudah bergandengan tangan sama sesama jenis.
Namun tak urung Raka tetap mengikuti langkah Rasya menuju kelas Riska.
'Setidaknya hanya ini yang bisa gue bantu untuk saat ini, biar lo tau berjuang kayak apa.
Gue nggak mau adik gue di sia-siakan jika lo mendapatkan dengan cara tanpa berjuang'.
"Sebenarnya sih nggak tapi untuk sekarang pura-pura takut aja,"
Bukan marah tapi justru Raka terkekeh geli sama ucapan Rasya.
Jika takut ya takut saja tidak perlu sok pura-pura takut.
Ada ya orang seperti ini dan sayangnya pula itu sahabat Raka sendiri.
Mau marah tapi hubungan mereka bukan sekadar saat senang saja.
Menjalin hubungan persahabatan itu ada bumbu kasih sayang dalam versi berbeda.
Bukan kasih sayang yang melibatkan hati.
Jika melibatkan perasaan sebenarnya ih bisa langsung koma.
Ha ha ha.
"Kok rasanya gue mau nenggelamkan lo ke empang ya,"
Tidak lama kemudian mereka berdua tiba di kelas Riska yang mana siswa di dalam nya belum ada yang keluar.
Guru masih ada juga di sana.
Mereka berdua menunggu berdiri di dekat pintu agar orang yang di samperin tidak kelewatan.
Mata Rasya tidak lepas dari pintu agar saat Riska keluar langsung keliatan.
Tidak lama menunggu bel istirahat berbunyi dan satu persatu orang keluar kelas setelah guru yang mengajar meninggalkan kelas.
"Riska,"
Panggil Rasya saat melihat pujaan hatinya keluar kelas bersama temannya yang biasa di ajak ke kantin.
Orang yang di panggil namanya menoleh namun bukan orang yang memanggil yang di lihat melainkan orang yang berada berdiri di sebelah Rasya.
'Ngapain tuh si semprul ke sini?'
Monolog Riska melihat sang abang yang berada di kelasnya bersama orang yang Riska tau sahabat Raka.
Bukan rahasia lagi jika Raka dan Rasya bersahabat.
"Ya,"
Riska menjawab seadanya karena dia tidak kenal hanya tau mereka bersahabat.
"Mau ke kantin ya? Bareng yuk,"
Ajak Rasya mendekati Riska yang bersama sahabatnya.
"Iya kak,"
Riska menjawab setelah melihat ke arah Raka namun tidak ada tanda penolakan makanya Riska mau.
Tapi tidak tau maksud kata iya itu apa? Iya akan ke kantin atau iya mau di ajak ke kantin bersama.
Kata iya itu sebenarnya masih terdengar ambigu dan butuh penjelasan.
Namun bagi Rasya kata iya menandakan jika Riska mau di ajak kantin.
Akhirnya mereka bertiga berjalan beriringan karena tidak ada satupun yang menolak.
Apa lagi teman Riska yang senang bisa berjalan bersama Raka pujaan hati sejuta umat.
Bisa melihat Raka setiap hari saja sudah menjadi kebahagiaan tersendiri lah ini mereka berjalan bersama.
Pasti bakal jadi gosip dan akan jadi buah bibir mereka.
Ada juga yang iri dan ingin berada di posisi kedua gadis itu.
Namun keinginan itu hanya akan tersangkut di tenggorokan bahkan tidak akan pernah terucap di mulut.
"Ih bikin iri saja mereka berdua,"
"Pake pelet apa sih itu Riska sama temannya bisa jalan sama Raka,"
"Uh kan mau juga walau cuma di kasih kesempatan semenit saja,"
"Mau juga dong walau hanya berpapasan saja,"
"Ih seketika jiwa iri gue meronta-ronta,"
Banyak komentar iri mereka yang ingin dekat sama Raka.
Idola mereka berjalan sama primadona kelas sepuluh.
Sudah jelas mereka iri dua primadona beda generasi itu berjalan bersama.
Siapa yang tidak iri coba.
__ADS_1
Coba tanya pada para gadis atau lelaki ada yang tidak iri melihat mereka berjalan bersama.
Mana sudah seperti pasangan couple saja.
"Riska sama Raka cocok ya,"
Mereka berjalan dengan Raka dan Riska berjalan di tengah hingga mereka bersebelahan.
Banyak pasang mata ingin berada di posisi itu atau berjalan di belakang juga tak apa menikmati aromanya saja.
Segitunya mereka ingin padahal jika ingin membuka mata dan hati masih banyak lelaki di sekolah yang tak kalah tampan walau masih di bawah Raka.
Namun tetap Raka yang nomor satu tapi sulit untuk di dekati.
Apa perlu mereka menanyakan pada Riska ajian apa yang di gunakan hingga Raka dengan suka rela mendatangi Riska.
Dan sepertinya harus di tanyakan sebab berusaha tanpa ajian jitu akan sulit mendapatkan hasil atau hasilnya akan mengecewakan saja.
Ck fikiran mereka yang berfikir terlalu jauh.
"Tunggu di sini biar bang Rasya yang memesan, kamu mau makan apa Riska?"
Sebenarnya Riska tidak enak membiarkan Rasya yang memesan makanan namun jika menolak takut Rasya malu karena mendapatkan penolakan jadi dengan berat hati Riska menyebutkan makanan yang ingin di makan.
Sedangkan teman Riska lebih dulu pergi memesan karena jantung nya tidak aman jika berada di dekat Raka lebih lama.
Dasar wanita saat jauh di tanya-tanya eh sudah dekat malah menjaga jarak.
Maunya apa sih sebenarnya.
Di dekati atau di jauhi.
"Bang Rasya itu memang gitu ya bang?"
Riska bicara lirih agar tidak keliatan jika mereka sedang bicara.
Rasya sudah pergi memesan makanan dan tinggal hanya mereka berdua.
"Maksudnya kayak gitu itu apa?"
Heran Raka belum paham maksud ucapan Riska.
Emang ada yang salah sama sahabatnya itu atau ada keanehan yang Raka tidak tau.
"Maksud Riris itu menyamperin orang dan bersikap sok dekat,"
Hampir saja Raka meloloskan tawa saat mendengar penjelasan Riska sang adik.
Ini adiknya yang polos atau gimana.
Jika ada laki-laki yang mendekati kita bukan hanya bersikap sok dekat tapi lebih tepatnya ingin dekat sama seseorang itu dan sekarang itu yang Rasya lakukan kepada Riska.
Eh malah di tuduh sok dekat.
Jika Rasya tau bakal nangis tidak ya.
Masih berusaha ini eh malah di jatuhkan mentalnya.
Kena mental nggak tuh.
'Kok bisa ya gue punya adik polos gini.
Dia itu suka sama lo Riris bukan mau sok dekat.
Jika ingin sok dekat masih banyak orang lain'.
Biarlah Riska berfikir demikian agar adiknya tidak merasa kurang nyaman.
Raka juga tidak akan melarang siapa saja yang mendekati adiknya asal selama itu masih berada dalam pengawasan Raka.
"Nggak apa sok dekat dari pada kenal tapi nggak pernah dekat,"
Kening Riska berkerut mendengar ucapan Raka.
Apanya yang kenal tapi tidak pernah dekat? Atau sok kenal agar bisa dekat.
Riska jadi tidak mengerti apa maksud ucapan Raka yang terdengar ambigu itu.
Apa sekarang Raka lagi belajar kata ambigu untuk menambah kosakata yang ada.
Kau menambah kosa kata atau mau membuat orang pusing.
Aneh, otak Riska berfikir mentok.
"Abang ngomong apa? Membicarakan orang lain atau diri sendiri?"
Riska melihat Raka sekilas lalu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kantin yang mana banyak siswa yang antri makanan.
Seharusnya ini bisa jadi keberuntungan bagi Riska karena tidak perlu berdiri berdesakan mengantri makanan.
Tidak banyak yang memperhatikan mereka sebab mereka lebih fokus untuk mendapatkan makanan dari pada melihat pemandangan yang membuat jiwa iri meronta ingin berada di posisi yang sama.
"Heh bocil kalau ngomong tolong pakai filter,"
Geram gemas Raka pada adik tersayangnya.
Jika bukan lagi berada di tempat umum.
Sudah pasti Riska akan habis di unyel-unyel oleh Raka hingga adiknya kehabisan nafas.
Kenapa bicara demikian di tempat umum.
Coba nanti di rumah Raka dengan hati mengunyel pipi Riska yang nampak sedikit gembul.
Adiknya itu termasuk kategori berisi namun tidak gemuk.
"Air ah bang pakai filter,"
Jawab Riska pelan.
Mana ada bicara pakai filter, kan bukan penyaringan air, aneh batin Riska mengambil hp yang bergetar di dalam saku rok yang di gunakan.
Melihat siapa yang mengirim chat lalu jidat mulus itu tampak berlipat setelah melihat isi hp nya.
Gerakan Riska tak luput dari pandangan Raka.
"Kenapa, siapa?"
Heran Raka saat melihat perubahan wajah Riska yang tidak seperti biasa.
Padahal barusan masih enak di lihat tapi sekarang wajah habis di kasih jeruk nipis.
"Kak Farah,"
Riska melihatkan isi chat Farah pada Raka.
Bukan Farah nya yang jadi masalah namun isi chat itu yang membuat Riska tidak nyaman.
Sama dengan Riska, Raka tampak tidak nyaman juga.
Merasa tidak percaya jika Farah mengatakan hal demikian.
Sebagai seorang adik Riska mana mau melakukan apa yang di katakan Farah.
Dia lebih mementingkan kenyamanan sang abang dari pada orang lain walau dia anak sahabat orang tua mereka.
Namun ini urusan mereka sesama remaja menuju dewasa, berhak menentukan pilihan sendiri.
"Bagaimana bang?"
Riska belum membalas chat Farah dan menunggu persetujuan Raka sebab ini ada hubungannya sama lelaki tampan itu.
"Biarin aja, anggap angin lalu,"
Raka tidak mau membuat adiknya jadi kefikiran.
Tapi dengan chat yang Farah kirimkan sudah sukses membuat adiknya tidak nyaman.
Chat yang bisa mengusik ketenangan adiknya dan itu Raka tidak suka sama sekali.
Dia ingin adiknya sekolah dengan tenang bukan di usik dengan urusan yang bukan urusannya atau urusan yang belum saatnya dia fikirkan.
Adiknya masih terlalu kecil dan belum saatnya di kasih beban.
Raka ingin adiknya menikmati masa remaja tanpa memikirkan perihal orang dewasa.
"Tapi kalau nanti kak Farah marah gimana bang?"
Gelisah Riska merasa tidak enak jika mengabaikan pesan Farah namun Riska lebih baik menurut sama Raka.
Abangnya itu tau apa yang harus dia lakukan.
Tau apa yang terbaik untuk dirinya Raka tau.
Riska tidak mungkin membantah ucapan Raka.
Walau memiliki hubungan baik dengan Farah namun Riska tidak begitu saja mengikuti ucapan Farah.
Apa lagi dia tau Farah mendekati dirinya karena ingin lebih dekat dengan Raka.
Jadi Riska merasa kadang di manfaatkan sebagai adik Raka.
Apakah begini yang di namakan berteman atau hubungan baik kedua orang tua mereka.
"Jangan di dengarkan dia dan juga dia nggak berhak marah sama kamu.
Dia nggak berhak marahin adik abang yang berhak itu Abang bukan orang lain,"
Riska mendelik kesal mendengar ucapan Raka.
Kalau Raka jangan di tanya lagi.
Satu hari saja Raka tidak menjahili adiknya seperti ada yang kurang saja.
Atau setidaknya membuat Riska kesal.
Ada kebahagiaan tersendiri saja.
Sesama saudara jika belum pernah atau jarang melakukan aksi saling ledek atau saling jahil maka hubungan persaudaraan mereka kurang dekat karena kurang interaksi di antara mereka.
Beda jika mereka jarang melakukan saling usil maka hubungan mereka akan sama seperti orang baru kenal sama orang lain.
Kenal iya tapi dekat tidak.
\=\=\=\=\=
__ADS_1
Bersambung 😘