
"Semoga saja kami masih di beri kesempatan untuk bersama," doa Farah di dalam hati dan sangat berharap jika dia masih bisa berada di sisi Raka.
"Itu kan!" Farah melihat mobil Raka dan juga laki-laki itu yang duduk di kursi kemudi mobilnya yang kebetulan bersisian dengannya di lampu merah apalagi kaca mobilnya terbuka.
Jadi tidak menyulitkan Farah untuk mendapati suaminya bersama seorang perempuan.
Lampu berubah menjadi warna hijau karena penasaran Farah mengikuti hingga mobil itu memasuki area bandara.
"Kenapa mereka pergi ke bandara? Apa mereka mau pergi honeymoon?" Pikiran Farah berkecamuk dan belalang buana entah ke mana serta dia memikirkan sesuatu membuat dadanya sesak.
Farah masih mengikuti langkah mereka berdua dalam jarak yang aman dan dapat parah liat bahwa perempuan itu berpegangan kepada lengan Raka tanpa mendapatkan penolakan sama sekali dari laki-laki itu.
"Mereka mesra sekali," Farah memang tidak melihat ziapa perempuan yang bersama Raka sekarang dan beranggapan jika itu adalah istri baru dari suaminya.
Mata Farah memanas melihat adegan mesra itu apalagi tidak ada penolakan yang ditunjukkan dari gerak-gerik tubuh Raka bahkan laki-laki itu enjoy saja dipegang.
"Mereka sudah sejauh ini dan aku,,,aku cuma jadi orang bodoh yang menunggu tanpa kepastian," Farah memilih meninggalkan bandara dan dia menuju tempat untuk menenangkan diri setelah mengetahui kenyataan bahwa kesempatan dia untuk bersama Raka kembali sudah tertutup rapat.
Sebelum melajukan mobilnya Farah menenangkan diri dulu karena dia tidak ingin gegabah dan menyetir dalam keadaan menangis.
"Aku harus kemana sekarang?" Setelah dirasa cukup tenang Farah melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang dan dia melihat tempat yang dilewati yang sekiranya dirasa bisa digunakan untuk menenangkan diri sebab untuk pulang pun tidak mungkin karena tidak ingin membuat orang tuanya cemas.
Hingga akhirnya Farah menghubungi sahabatnya dan kebetulan bisa di ajak ketemu.
Farah butuh tempat untuk mencurahkan isi hatinya dan hanya kepada sahabatnya dia bisa curhat.
Di sebuah restoran, Farah baru saja memarkirkan mobilnya dan memasuki tempat yang tidak terlalu ramai karena ini bukan jam makan siang, sekarang masih sekitar jam sepuluh pagi jadi masih satu-satu pengunjung yang datang.
"Udah lama Far?" Beberapa menit Farah menunggu dari sahabat datang.
"Enggak kok aku juga baru sampai dan juga aku sudah memesankan cemilan untuk kita," Farah tidak keberatan menunggu apalagi memang dia yang mengajak secara mendadak jadi menunggu beberapa menit bukanlah masalah.
Lagi pula jika dia tidak melihat Raka bersama perempuan lain maka tidak mungkin Farah mengajak ketemuannya secara mendadak seperti ini dan tentu saja Farah ingin fokus pada pengobatannya dulu.
"Sekarang lo mau cerita tentang apa lagi? Atau masih masalah yang sama yang belum kelar sampai sekarang?" Tentu saja maksudnya adalah hubungan pernikahan sahabatnya yang belum jelas kedudukan hingga sekarang apakah masih bisa dilanjut atau berakhir di keputusan sidang.
__ADS_1
"Itu yang membuat gue bingung sekarang apalagi gue pernah mendengar bahwa dia sudah memiliki seseorang yang dicintainya lalu gue pernah mendengar dia membahas pernikahan bersama perempuan dan yang terakhir tadi gue lihat dia sangat mesra sekali kembar sama perempuan di bandara," jika tidak ingat ini di tempat umum maka rasanya ingin sekali Farah menangis dan mencurahkan segala kegundahan hatinya.
Tetapi bukanlah saatnya untuk menangisi semua yang telah dia lakukan karena Farah melakukan semua itu dalam keadaan sadar bukan dalam keadaan tertekan ataupun terpaksa jadi sedikit menerima karma dari perbuatannya tidak mungkin dong dia langsung terpuruk.
Padahal di awal pernikahan dulu Raka sudah pernah meminta jika tidak bisa menganggap dia sebagai suami maka anggaplah dia sebagai teman tetapi justru Farah mengabaikan semua itu jadi jika sekarang Raka berubah bukanlah sepenuhnya salah laki-laki itu karena setiap orang memiliki batas kesabaran dalam menunggu dan berjuang.
"Jadi maksudnya sekarang Lo sebenarnya sudah menyia-nyiakan laki-laki sebaik dia? Dan ingin memperbaiki hubungan kalian tetapi dia sudah bersama perempuan lain, ck tragis sekali sih nasib loh," padahal di awal sebagai sahabat dia sudah memperingati parah tetapi perempuan ini tidak mau mendengar dan masih teguh pada pendiriannya serta rasa sakit hati di usia remajanya hingga sekarang dia menuai apa yang dia tanam sendiri.
Apalagi Cinta monyet di masa remaja tidak perlu dibawa di masa depan yang akan hanya merusak serta menimbulkan penyesalan seperti sekarang.
Cinta monyet itu hanyalah cinta yang datang secara mendadak apalagi orang itu baik kepada kita maka timbul rasa kagum serta suka yang mana rasa itu hanyalah rasa sesaat yang gampang pergi serta datang tanpa diminta.
"Padahal dari dulu gue sudah yakin bahwa setelah gue menghapus rasa yang gue miliki terhadap dia maka rasa benci yang gue dapatkan namun seiring berjalannya waktu serta kebersamaan kami dan perhatiannya kepada gue, gue menyadari bahwa rasa yang dulu tidak pernah pergi hanya saja gue yang terlalu menutupi semuanya dengan rasa benci yang gue buat-buat," dulu Farah terlalu munafik dan menutupi rasa sukanya kepada Raka dengan rasa benci yang dia timbulkan sendiri tapi sayang waktu yang menghapus rasa benci itu di hatinya padahal dia sangat berharap rasa suka yang hilang tetapi malah rasa benci yang pergi hingga tinggal rasa cinta yang semakin hari semakin tumbuh mekar di hatinya tetapi laki-laki yang bersangkutan malah sudah berlaku di hati yang lain di saat dia masih berharap di hati yang sama.
"Padahal jauh-jauh hari kami sudah memperingati loh dan sekarang kejadian kan apalagi penyesalan itu tidaklah enak rasanya tapi sebagai sahabat gue berdoa semoga hubungan kalian masih bisa diperbaiki dan juga jika kesempatan itu ada Jangan pernah menyia-nyiakan apalagi mengabaikan sebab kesempatan kedua sangatlah jarang ada,"walaupun dia sudah mendengar cerita keseluruhan dari sahabatnya tetapi jauh dari lubuk hatinya sangat berharap ada secuil kesempatan untuk Farah bisa memperbaiki hubungan pernikahan mereka lagi.
Walaupun dia tidak membenarkan perlakuan Farah selama ini tetapi sebagai sahabat yang sudah bersama serta mengetahui sisi luar dalam sahabatnya maka dia hanya berharap penyesalan itu bisa membawa mereka untuk bersama kembali.
Setelah lama berbincang....
"Kenapa gue tiba-tiba begini ya," sampai di rumah Farah langsung mau minum obatnya dan mengganti baju untuk beristirahat.
Bahkan gadis itu melewatkan makan malamnya hingga pagi menjelang dia masih betah memejamkan mata di ranjang besar miliknya.
Di bawah...
"Kakak mana ma?" Mereka semua sudah bersiap untuk sarapan bersama namun Farah belum turun untuk bergabung bersama mereka.
"Mungkin sebentar lagi kakak turun lebih baik adek sarapan dulu agar tidak telat pergi ke kampus," mobil Sarah sudah selesai diservis dan dia bisa berangkat sendiri jadi tidak perlu meminta di antarkan oleh Farah.
Namun setelah selesai sarapan pun Farah belum menunjukkan batang hidungnya dan itu membuat mereka semua cemas apalagi Dean yang sudah tahu kondisi anaknya.
"Adek berangkat ke kampus aja, biar mwma yang liat kakak ke kamar," cara berpamitan kepada kedua orang tuanya untuk segera pergi ke kampus dan Vya berjalan menaiki tangga menuju kamar anaknya sebab dia juga mencemaskan anak sulungnya yang belum keluar dari kamar padahal ini sudah menunjukkan jam delapan lewat.
Tidak pernah Farah sama melewatkan jam sarapan apalagi semalam juga tidak turun untuk makan malam bersama.
__ADS_1
Tok...
"Kak,"
Vya mengetuk pintu kamar namun tidak ada jawaban dari dalam.
Tok...
"Kakak ngga sarapan?" Vya menampelkan telinga di daun pintu tetapi tidak ada suara dan hanya kesunyian membuat dia semakin cemas karena tidak ada jawaban dari dalam.
"Kenapa mam?" Karena sang istri tidak turun juga Dean sampai menyusul ke atas dan dapat dia lihat sang istri pasti berdiri di depan kamar anaknya sambil mengetuk pintu.
"Nggak tau pa, kakak ngga menjawab dari tadi," sebagai orang tua pasti cemas memikirkan keadaan anaknya.
"Coba buka pintu nya siapa tau nggak di kunci," walaupun mereka mendatangi kamar anak sendiri tetapi tidak bisa masuk sembarangan apalagi anak mereka sudah dewasa dan memiliki privasi sendiri.
Tapi jika kondisinya seperti ini maka tidak ada salahnya menerobos masuk agar mengetahui kondisi si pemilik kamar agar mereka tidak cemas juga.
"Nggak di kunci pa," Vya memutar handle pintu dan ternyata tidak terkunci dari dalam jadi memudahkan mereka untuk masuk.
Pasangan suami istri itu memasuki kamar anaknya dan saat tiba tidak jauh dari ranjang yang biasa ditempati oleh Farah dia melihat anaknya yang masih betah bergelung di bawah selimut dan memeluk guling.
"Kok masih tidur ya pa?'' ini memang sangat tidak biasa dari yang biasanya karena apa lagi Farah pulang kemarin dalam keadaan baik-baik saja dan pagi ini anaknya masih tidur di saat matahari sudah naik bahkan menjelang siang.
"Coba di bangunkan mam," menuruti permintaan suaminya dan perempuan itu menggoyangkan tangan anaknya namun tidak ada tanggapan sama sekali bahkan tangan itu lemah seperti tak bertulang.
"Nggak ada respon pa," tentu saja dia semakin cermas apalagi tidak ada pergerakan dari anaknya.
"Biar papa periksa," Dean memeriksa denyut nadi anaknya dan dia melotot karena denyut nadi itu lemah bahkan mereka baru menyadari wajah pucat Farah yang seperti mayat hidup.
"Astaghfirullah pa, Farah," Vya histeris melihat keadaan anaknya yang begitu pucat dan lemah tergeletak di atas ranjang.
Tentu saja dia tidak bisa membendung tangisnya dan menyesal tidak melihat anaknya sejak tadi dan beranggapan anaknya baik-baik saja di dalam kamar.
"Langsung bawa ke rumah sakit pa," Vya historis melihat anaknya yang memang tidak sadarkan diri dan Dean segera menggendong anaknya dan berjalan keluar dari kamar untuk membawa anaknya ke rumah sakit.
__ADS_1