
Farah mengendarai mobilnya menuju tempat yang sudah dia janjikan tadi walaupun dia sedikit bertanya-tanya atas ajakan adiknya bertemu.
"Mungkin Sarah hanya kangen sebab kami nggak lagi tinggal bersama," alasan yang cukup masuk akal tetapi tidak tahu juga jika Sarah memiliki tujuan lain mengajak sang kakak bertemu.
Tidak membutuhkan waktu lama Sarah sampai di tempat tujuan dan berjalan masuk lalu biaya melihat sang adik sudah datang daripada dia.
"Kakak kangen sama kamu Sar," Farah langsung memeluk adiknya sebab dia benar-benar kangen apalagi beberapa bulan belakangan ini mereka sudah tidak tinggal lagi bersama semenjak Farah menikah.
"Aku juga kangen kakak," Sarah membalas pelukan itu tak kalah erat karena dia juga merindukan masa-masa tinggal bersama.
"Ayo duduk kak tadi aku udah pesan makanan kesukaan kita berdua," seperti saudara pada umumnya begitu juga yang mereka lakukan menghabiskan waktu bersama hunting makan makanan baru dan mengobrol receh untuk mengisi obrolan mereka.
Tidak lama pesanan mereka datang.
"Yang ini enak kak," Sarah menyuapi kakaknya karena tadi dia memang sengaja memilih satu menu baru yang baru dikeluarkan oleh cafe itu.
"Hm iya enak, rasanya pas," Farah setuju sama adiknya bahwa makanan yang disuapi itu memang enak dan sangat pas oleh selera mereka berdua.
Hingga makanan mereka itu habis tidak membutuhkan waktu lama dan yang tersisa hanyalah dessert.
"Tumben kamu ngajak Kakak ketemu di luar seperti ini? biasanya nyuruh datang ke rumah," semenjak menikah jika Sarah merindukan Farah maka adiknya itu akan meminta dia untuk datang ke rumah dan tentu saja Farah tidak akan menolak dan dia akan mampir setelah pulang dari kerja.
Jadi cukup mengherankan jika bertemu di luar seperti ini.
"Pengen ganti suasana saja," memang benar jika bertemu di rumah terus rasanya pasti bosan dan mereka membutuhkan suasana baru untuk sekedar mengobrol santai.
"Bagaimana kamu kuliah? Apakah menyenangkan," Sarah memang baru memasuki dunia perkuliahan dan dia memang satu tahun lebih muda dari Riska adik Raka.
"Sangat menyenangkan dan juga kebetulan senior-seniornya pada baik, apalagi aku berkuliah di tempat yang sama dengan kak Riska," Sarah memang sengaja mengambil tempat kuliah yang sama dengan Riska agar dia memiliki orang terdekat saat memasuki tempat yang baru jadi dia bisa bertanya-tanya sebelum memasuki kampus itu.
"Kakak sampai lupa jika Riska berkuliah di sana juga bahkan tahun depan dia sudah mau lulus," Riska memang mengambil kuliah 3 tahun saja dan mungkin dalam waktu dekat istri dari Rasya itu akan memasuki dunia magang.
"Selama ada yang nggak aku pahami di kampus jadi aku bertanya sama kak Riska saja," hubungan mereka memang sudah dekat sejak kecil jadi tidak heran bahwa Sarah dekat juga dengan Riska begitupun dengan Farah.
Dulu sebelum ada panah asmara yang tumbuh di hati Farah untuk Raka maka mereka berempat cukup dekat tapi semenjak hari itu hubungan Farah dan Raka semakin menjauh bahkan Farah untuk saat ini saja tidak mau melihat laki-laki yang masih berstatus menjadi suaminya.
"Kak aku boleh nanya nggak?" Sarah tampak ragu-ragu dalam nada bicaranya mungkin dia ingin membicarakan hal serius.
"Kamu kenapa berekspresi seperti itu? Jika ada yang ingin ditanyakan tanyakan langsung saja," Farah sedikit heran dengan ekspresi wajah adiknya itu tetapi dia tidak ambil pusing mungkin Sarah hanya ingin berbicara tentang dunia perkuliahan saja, fikir Farah.
"Kakak sama abang baik-baik aja kan?" Farah menegang di tempatnya lalu secepat mungkin dia berusaha santai sebab tidak ingin adiknya itu curiga bahwa hubungan mereka memang tidak baik-baik saja sejak awal.
"Baik kok kami baik," balas Farah berusaha santai lalu otaknya berputar kepada kejadian-kejadian yang dialami bersama Raka dan sikap dia kepada laki-laki itu yang sangat jauh sekali dari kata sopan ataupun menghormati sebagai suami.
Bahkan semenjak menikah Farah tidak pernah menghargai sedikitpun usaha yang di lakukan Raka.
Tanpa gadis itu sadari bahwa dia terus menorehkan luka di hati Raka.
"Syukurlah jika kalian baik-baik saja berarti penglihatanku salah bahwa aku pernah melihat kakak jalan berdua dengan laki-laki lain tetapi itu bukan bang Raka," merasa ketar ketir mendengar ucapan adiknya itu.
Tetapi wajar jika Sarah sampai melihat itu karena mereka berada di tempat umum jadi tidak ada yang bisa disembunyikan.
"Kakak tahu kan Bang Raka itu orang baik dan berasal dari keluarga yang baik juga dan aku bisa melihat jika bang Raka itu sudah mulai mencintai kakak, jadi aku harap kakak nggak menyia-nyiakan orang sebaik-baik sebelum datangnya penyesalan," Sarah berani bicara seperti itu karena dia sudah melihat secara langsung bagaimana Raka mengatakan isi hatinya secara gamblang yang mana dia sudah mencintai Farah istrinya itu.
Jadi Sarah hanya bisa berharap jika kakaknya itu tidak pernah menyia-nyiakan laki-laki sebaik Raka.
"Kamu ini bicara apa sih dek? Mana mungkin dia mencintai kakak jika sejak awal dia itu mencintai kamu," Farah masih ingat betul kejadian itu di mana dulu Raka mengungkapkan perasaannya kepada Sarah dan Farah menyaksikan langsung bukan mendengar dari orang lain.
Jadi Farah menyimpulkan bahwa Raka tetap selamanya mencintai adiknya dan tanpa tahu kebenaran lainnya sama sekali.
"Itu hanyalah kisah masa remaja di mana perasaan kita sama-sama masih labil tetapi aku berkata jika Bang Raka mencintai kakak itu adalah kejadian yang sekarang dan aku hanya menyampaikan bukan untuk mempengaruhi kakak," Sarah tidak ada niat untuk mempengaruhi sang kakak ataupun mempercayai ucapannya tetapi Sarah hanya ingin suatu hari nanti Farah mempertimbangkan apa yang dia ucapkan dan memikirkan kembali akhir dari perjalanan rumah tangganya ini.
"Kamu nggak perlu membanggakan dia ataupun mengatakan dia adalah orang yang baik sebab kejadian di masa lalu sudah membuktikan bahwa dia bukanlah laki-laki yang baik," Farah tetap teguh pada pendiriannya jika Raka yang sekarang masih sama dengan Raka yang dulu.
Dia tidak akan pernah terpengaruh sama sekali sama ucapan adiknya ini dan dia percaya apa yang dia dengar dulu masih sama dengan yang sekarang bahwa Raka masih mencintai Sarah.
"Terserah Kakak mau percaya atau tidak tapi aku harap kakak nggak pernah menyesali keputusan hari ini, termasuk memberi kesempatan untuk laki-laki lain menghancurkan pernikahan kalian. Sebagai saudara aku hanya ingin memperingati agar kakak tidak memilih jalan yang salah," Sarah hanya tidak ingin jika suatu hari nanti Farah menyesali keputusannya hari ini dan larut dalam penyesalan yang tak berujung.
Jadi lebih baik dia nasehati dan sesama saudara bukankah sudah kewajiban kita untuk saling mengingatkan serta menegur jika ada saudara kita yang salah.
Tetapi jika orang itu tidak menerima masukan kita Itu semua terserah pada mereka yang penting tugas kita mengingatkan sudah dijalankan.
__ADS_1
"Sepertinya kamu kelelahan Ayo kakak antar pulang," Farah tidak tersinggung dengan adiknya yang menasehati tetapi dia tidak percaya bahwa Raka mencintai dirinya itu sangat mustahil, fikir Farah.
Kejadian di cafe tadi Sarah juga ikut mendengar serta melihat interaksi kakaknya dengan laki-laki yang belum dia ketahui siapa.
Apalagi mendengar jawaban sang kakak yang sangat-sangat tidak pernah dia pikirkan bahwa memberikan celah untuk laki-laki lain masuk ke dalam hubungan pernikahan mereka.
"Iya ayo antar aku pulang dulu," kebetulan Sarah memang tidak lagi membawa mobil karena mobilnya ada sedikit masalah dan tadi pun dia berangkat ke kampus diantarkan oleh sang papa.
Farah mengantarkan Sarah pulang terlebih dahulu dan dia mempir sebentar lalu berpamitan karena jika dia berlama-lama di rumah orang tuanya sudah pasti akan dicurigai sebab dia datang seorang diri tanpa bersama Raka.
Sudah pasti orang tuanya akan menanyakan keberadaan Raka yang tidak ikut serta bersama dia.
Sampai apartemen....
"Far kok baru pulang? Lagi banyak kerjaan ya?" Raka yang sejak tadi menunggu Farah pulang langsung berdiri saat melihat sosok Farah memasuki unit apartemen mereka.
Dia senang sebab istrinya pulang dalam keadaan selamat dan tidak ada kekurangan satupun ataupun lecet.
Walaupun Farah selalu memperlakukan Raka kurang baik tetapi laki-laki itu tidak pernah membalas ataupun terniat untuk memperlakukan Farah kurang baik.
Farah berdiri sejenak mendengarkan yang Raka menyapanya, lalu.
"Tidak usah sok perhatian cukup urus diri sendiri dan jangan saling mencampuri," setelah itu Farah melewati Raka lalu memasuki kamarnya sebab menurutnya tidak ada yang perlu mereka bicarakan lagi.
"Apakah gerbang terpisah itu sudah ada di depan mata?" Raka bertanya tanpa melihat ke arah Farah ataupun membalikkan badannya.
Farah yang mendapatkan pertanyaan itu sontak saja langsung menghentikan langkahnya.
"Kita lihat saja bagaimana akhirnya," Farah juga belum tahu pernikahan mereka akan sampai mana dan akan sampai kapan mereka pertahankan pernikahan hambar seperti ini.
Setelah menjawab pertanyaan itu Farah memasuki kamarnya dia tidak lupa mengunci pintu.
Gadis itu selalu ingat untuk mengunci pintu kamarnya sebab dia tidak ingin terjadi sesuatu yang tanpa dia inginkan.
Walaupun orang-orang berkata jika Raka adalah laki-laki baik tetapi pasti memiliki sikap khilaf dan Farah tidak ingin kejadian yang tidak dia inginkan dia alami.
Esok harinya.
Jika tidak pagi hari seperti ini maka mereka akan sulit sekali bertemu bahkan Farah sangat menghindari dia.
Selama menikah mereka belum pernah makan dengan satu meja yang sama bahkan Raka yang menyiapkan sarapan pun tidak pernah Farah sentuh makanan itu.
Entah kenapa hati gadis itu begitu keras dan sulit sekali untuk Raka hancurkan padahal ini bukan usaha pertama untuk meluluhkan hati gadis itu.
"Bicaralah jika itu penting karena saya tidak memiliki waktu banyak," hanya akan buang waktu saja, lanjut hati Farah.
"Bisakah abang meminta waktumu satu hari saja dan setelah itu biar hubungan ini tau akhirnya seperti apa," Raka sudah memikirkan ini semalaman Dan dia hanya ingin meminta waktu Farah satu hari saja untuk dia habiskan bersama setidaknya mereka memiliki kenangan manis selama pernikahan ini.
Dan dia sangat berharap Farah tidak menolak keinginan sederhananya ini sebab di kemudian hari belum tentu bisa terwujud atau bisa jadi hubungan mereka sudah di ujung tanduk.
"Saya sibuk," sepertinya Farah berniat untuk menolak permintaan Raka ini.
"Abang akan menunggu dan kasih tahu kapan kamu tidak sibuk," Raka akan menunggu walaupun bukan dalam waktu cepat Farah memberikan kesempatan itu tetapi setidaknya dia sangat berharap bahwa walaupun satu hari dia ingin membahagiakan istrinya itu.
"Jangan terlalu memaksakan kehendak sebab tidak semua keinginan itu akan terwujud," Farah bener-bener membentengi dirinya bahkan tidak terpengaruh sama permintaan Raka kali ini.
"Sekali ini saja, please," Raka terus membujuk agar Farah mau menyetujui sebab setidaknya dia ingin menjadi suami yang berguna walaupun itu hanya satu hari.
Bujukan demi bujukan Raka lakukan hingga akhirnya Farah menyetujui walaupun dengan berat hati tapi tidak dengan Raka dia sangat senang bahwa Farah mau menghabiskan waktu bersamanya walaupun itu sangat singkat.
Setelah bernegosiasi itu Farah segera pergi karena dia tidak ingin berlama-lama berada dalam satu ruang bersama Raka.
"Permintaan yang dikarenakan sekali," tapi walaupun begitu Farah tetap menyetujui walaupun sedikit dipaksa tetapi dia menemukan cahaya di balik semua itu semoga saja saya itu yang membuat dia menyadari akan suatu hal.
Setelah menghabiskan sarapannya Raka berangkat ke kantor juga sebab dia harus bisa menyelesaikan pekerjaannya sebelum Farah memberitahu kapan mereka akan menghabiskan waktu bersama.
Jangan sampai saat Farah lagi senggang justru Raka sedang sibuk makanya mulai sekarang dia harus bisa menyelesaikan pekerjaannya secepat mungkin agar hari yang ditunggunya tidak terganggu apalagi terancam batal.
"Semangat Raka," hanya diri sendiri yang bisa menyemangati karena Raka tidak bisa berbagi kisah pilu rumah tangganya kepada siapapun termasuk orang tuanya.
Ini merupakan suatu aib dan akan menjadi bahan tertawaan jika sampai ada orang luar mengetahuinya.
__ADS_1
Jadi Raka menyimpan rapat tentang masalah pelik pernikahannya.
Biarlah hanya mereka berdua saja yang tahu dan menjalani.
"Selamat pagi pak Raka,"
"Selamat pagi pak Raka,"
"Beruntungnya yang akan menjadi istri pak Raka nanti,"
"Pasti perempuan itu sangat beruntung sekali,"
"Pasti akan diperlakukan seperti Ratu,"
Banyak bisikan-bisikan karyawan yang Raka dengar tetapi ada beberapa yang membuat Raka menunjukan senyum getir.
Sebab ucapannya sama sekali tidak terbukti bahkan Raka seperti suami yang tidak memiliki istri.
Karena pernikahan Raka rahasiakan makanya mereka berspekulasi sendiri bahwa perempuan yang menjadi istrinya itu sangat beruntung hanya saja mensyukuri apa yang ada itu tidak bisa.
Memang benar Raka akan meratukan istrinya namun istrinya sendiri yang justru menolak.
"Dia sendiri yang nggak mau jadi ratu," Raka memulai kerjaannya dengan semangat yang menggebu-gebu sebab sudah tidak sabar lagi menunggu hari itu.
Tok...
Tok...
"Permisi pak di depan ada tuan Arka," entah kenapa tiba-tiba Arka mendatangi kantor tidak seperti biasanya.
Mungkin hanya ingin melihat perkembangan kantor selama dia pindah kepemimpinan kepada Raka, wajar jika sesekali Arka masih mengunjungi kantor Arby grup ini.
"Langsung disuruh masuk saja," tidak lama muncullah sosok tampan Arka ya masih sangat terlihat gagah di usianya yang ke empat puluh lima tahun.
"Kok nggak langsung masuk aja dad?" Padahal tidak akan ada satupun orang yang menghalangi langkah Arka memasuki kantor apalagi memasuki ruangan neraka
Karyawan kantor sudah mengetahui siapa bos besar mereka sebelumnya jadi kemanapun langkah Arka menyusuri kantor itu tidak akan ada yang bertanya ataupun menghalangi.
"Itu merupakan salah satu adab dalam bertamu walaupun Ini kantor punya Daddy, sama halnya yang pernah Daddy ajari saat kalian masih kecil jika ingin mengunjungi kamar adikmu harus mengetuk pintu terlebih dahulu sebab menjaga privasi serta aturan pemilik kamar," Arka memang mengajari anak-anaknya sejak dulu bahwa tentang tata krama mengunjungi ataupun mendatangi seseorang walaupun keluarga sendiri.
Bahkan semenjak anaknya kecil pun sudah diajari tidak boleh memasuki kamar saudara atau kamar orang tua tanpa seizin pemilik kamar sebab takutnya mereka dalam kondisi yang tidak pantas dilihat walaupun mereka memiliki hubungan darah apalagi jika mereka sudah dewasa seperti ini.
"Bagaimana dengan kantor apakah lancar?" Sekarang mereka duduk di sofa dan sebelumnya mereka sudah mengambilkan minuman serta cemilan untuk mereka berdua.
"Sejauh ini masih lancar dan ada beberapa dari perusahaan menjalin kerjasama dengan kita," di tangan Raka perkembangan perusahaan tampak jelas dan lebih berkembang dari sebelumnya apalagi laki-laki itu sudah belajar sejak masih sekolah dulu.
Kenapa Raka tidak memiliki usaha sendiri seperti anak orang kaya kebanyakan karena sejak awal orang tua mereka tidak membatasi kegiatan anak-anaknya hanya saja Arka selalu mengatakan.
"Jika Abang membuka usaha baru dengan kinerja sendiri daddy tidak melarang hanya saja Abang pasti tahu siapa yang akan meneruskan perusahaan keluarga kita sudah pasti abang kan dan jika Abang memiliki usaha sendiri juga dan nanti berkeluarga sudah bisa dipastikan waktu Abang akan habis untuk mengurus pekerjaan yang Abang didirikan sendiri juga mengurus perusahaan hingga waktu bersama keluarga sudah tidak ada lagi karena Riris tidak mungkin kan yang melanjutkan perusahaan sedangkan dia perempuan,"
Sejak saat itu Raka lebih memilih belajar tentang mengurus perusahaan daripada membangun usaha sendiri yang mana akan membuat dia ketar-ketir di kemudian hari apalagi setelah dia berkeluarga seperti ucapan sang daddy.
Dia membenarkan ucapan ayahnya itu karena jika dua mengurus usaha sudah bisa dipastikan waktu dia bakalan banyak tersitat untuk bekerja dan akan mengabaikan keluarga kecilnya kelak.
Dan juga Raka tidak akan mungkin membiarkan adiknya yang meneruskan perusahaan sedangkan dirinya ada jadi maka di sinilah Raka berada sekarang di kursi kepemimpinan perusahaan Arby group.
Perusahaan ini bukanlah perusahaan warisan melainkan perusahaan yang dibangun Arka sejak zaman sekolah dulu hingga sekarang tahtanya diteruskan oleh Raka.
Raka bukan berasal dari keluarga biasa ataupun menengah bawah melainkan kedua orang tuanya memiliki perusahaan besar yang hampir sama dengan yang dia miliki.
"Bagaimana dengan pernikahan abang? apakah berjalan dengan baik?" Raka tertegun mendengar pertanyaan dari sang daddy.
Apa yang harus dia jawab sebab dia tidak menduga akan mendapat pertanyaan seperti itu bahkan kedatangan Arka saja sangat mendadak tapi juga tidak bisa menolak.
\=\=\=\=\=
***Bersambung 😘
jangan lupa dukungannya ya, 😉
lebih panjang dari yg kemarin, 2500 kata cukup nggak ya🤗***
__ADS_1