BUKAN CINTA PENGGANTI

BUKAN CINTA PENGGANTI
Yang mau Unbox


__ADS_3

Gadis cantik itu masih terpaku duduk di tempatnya mendengar pertanyaan sang mommy, otak pintarnya berputar-putar mencari jawaban atas pertanyaan itu hingga pas sampai akhirnya dia tersadar.


'aduh Riris Kenapa kamu bodoh sekali dan kenapa juga kamu nggak menyadari kebutuhan suamimu yang satu itu dan tanpa kamu sadari kamu harus menyiksa suamimu dengan harus menahan diri setiap hari apalagi dia sudah bisa menyentuhmu bahkan mencium mu sesuka hati namun untuk melakukan satu itu mungkin dia butuh izin dulu walaupun sebenarnya dia sudah berhak'


Gadis itu merutuki dirinya tidak peka akan satu hal padahal selama ini dia sudah berusaha menjadi istri yang baik serta mengurus suaminya dengan baik namun kewajibannya satu itu kenapa tidak dia sadari sejak awal.


"Apakah harus mom?" Riska memilih pura-pura bertanya daripada disalahin karena tidak mengerti akan kebutuhan suami.


Kalau sekarang dia merasa bersalah karena membiarkan suaminya menahan diri terlalu lama padahal bisa saja Rasya bertindak sesuka hati namun dia lebih memilih menghargai istrinya.


"Itu tidak bisa dikatakan sebuah keharusan lagi tapi merupakan sebuah kewajiban. Adek tahu nggak mommy menikah sama daddy itu karena apa?" Khira ingin menyadarkan anaknya bahwa kewajiban seorang istri bukan hanya memasak serta mengurus rumah seperti pada umumnya namun kewajiban di atas ranjang merupakan hal yang utama untuk memperkokoh hubungan mereka selain tugas yang itu.


Riska menggeleng karena memang dia tidak tahu bagaimana orang tuanya bisa bersama namun yang dia lihat orang tua mereka saling mencintai dan tampak romantis setiap hari.


"Sebenarnya mommy dulu akan menikah dengan om Reno tahu kan Om Reno? (Riska mengangguk, tentu tahu siapa Om Reno yang dimaksud itu) nah Om Reno itu sebenarnya dulu adalah calon suami mommy tapi karena suatu hal yang tidak bisa mommy menjelaskan Om Reno itu tidak datang dan kebetulan saat itu daddy hadir di sana sebagai tamu dan entah apa yang dipikirkan oleh Oma hingga Oma mengusulkan daddy sebagai calon suami pengganti untuk mommy.


Namun selesai acara kami sabar kumpul dan para orang tua memberikan nasehat kepada kami berdua untuk bisa menerima pernikahan kami dengan ikhlas dan menjalani seperti pernikahan pada umumnya, juga mommy saat itu tidak menunjukkan penolakan atau melawan karena dalam hati mommy berkata bahwa setiap kejadian yang terjadi di bumi ini sudah ada ketetapan termasuk kejadian saat mommy menikah dan saat mommy menerima pernikahan itu tidak butuh waktu lama untuk kami saling mencintai hanya butuh waktu satu bulan dan setelah itu mami telah melaksanakan kewajiban mommy sebagai seorang istri kepada daddy baik secara lahir maupun batin.


Jadi menurut mommy adek nggak ada alasan untuk menunda menunaikan nafkah batin untuk suami karena kalian menikah bukan karena terpaksa seperti yang mommy alami dulu.


Mommy yang kenal daddy secara mendadak saja bisa cepat menjalani kewajiban sebagai seorang istri lalu kenapa adik nggak apalagi kalian saling mencintai sejak awal.


Jadi jangan pernah menjadi istri yang dilaknat Tuhan karena mengabaikan keinginan suami walau suaminya kita nggak memintanya apalagi adek masih sekolah tapi apakah adek memikirkan jika suami adek menahan itu setiap hari apalagi dia laki-laki normal,"


"Salah satu cara mempererat hubungan suami istri itu adalah menunaikan nafkah batin sebagai seorang istri, dan berdosa jika terus menunda,"


Dari sekian panjang ucapan dari sang mommy, gadis itu cuma menangkap dua ungkapan yang membuat dia tidak percaya bahwa Arka bukanlah calon suami mommynya yang seharusnya menikah saat itu dan yang kedua mommynya bisa menerima pernikahan dengan orang yang tidak dikenali sama sekali bahkan berakhir bahagia seperti sekarang.


Jelas dia tahu siapa Om Reno dan sekarang pun hubungan mereka terjalin erat bahkan anak mereka pun saling mengenali satu sama lain bahkan tidak ada kejanggalan terlihat di sana bahwa di masa lalu jika mommy Khira pernah menjalin hubungan bersama Om Reno.


Karena saat mereka berkumpul keluarga semua itu seperti tidak ada kejadian di masa lalu yang menyakitkan bahkan mereka bisa berbaur tanpa perlu melihat ke belakang lagi, memang seharusnya begitu di kehidupan mendatang kita tidak perlu melihat ke belakang apalagi membahas sesuatu yang menyakitkan.


"Kok Riris nggak pernah tahu jika mommy pernah akan menikah dengan om Reno dan malah berakhir dengan daddy,"


Gadis itu tak kalah kaget mendengar kenyataan yang baru dia tahu jika ayahnya sekarang bukanlah suami yang sebenarnya akan menikah dulu, datang hanya sebatas seorang tamu.


"Seperti itulah kenyataannya karena itulah takdir yang harus mommy menjalani dan terima. Tapi di balik semua itu mommy percaya bahwa kebahagiaan sudah menanti dan terbukti mommy bahagia menjalani hidup rumah tangga hingga sekarang dan Riris bisa lihat bagaimana kami selalu bersikap romantis bukan karena ingin mengumbar kemesraan tapi sebagai bentuk rasa syukur atas apa yang telah digariskan,"


Khira mengatakan ini karena dia tahu karena anaknya belum dewasa untuk tahu ke arah sana dan sebagai orang tua dia wajib memberitahu anaknya bahwa kewajiban seorang istri itu bukan hanya memasak dan mengurus rumah tapi nafkah batin harus juga terpenuhi.


Karena anak pada umumnya di usia sekarang masih fokus untuk kuliah saja bukan seperti anaknya yang harus berbakti konsentrasi antara kuliah dan suami dan itu bukanlah hal yang mudah walau ada juga beberapa dari anak yang memilih menikah muda.


"Terus Riris harus apa mom?" Walau sudah paham maksud dari nafkah batin namun gadis itu bingung harus memulai dari mana karena pengetahuan dia ke arah sana adalah nol besar.


Setelah disadarkan seperti ini gadis itu tahu bahwa seorang suami juga membutuhkan nafkah batin selain nafkah lahir karena kebutuhan perut memang sudah handal oleh Riska namun kebutuhan batin gadis itu sampai lupa bahwa suaminya adalah laki-laki normal yang bakalan bernafsu saat mereka dalam jarak dekat apalagi sudah bebas dalam bersentuhan fisik.

__ADS_1


"Mommy tahu jika adek mengerti apa maksudmu mommy dan jika belum siap untuk saat ini setidaknya persiapkan diri atau berikan kejutan untuk suami adek agar pengalaman pertama kalian itu berkesan dan tidak terkesan buru-buru seperti orang dikejar rentenir yang lagi hutang,"


Otak Riska sudah berputar memikirkan apa yang akan dilakukan untuk malam pertama mereka dan apa yang harus dipersiapkan serta momen yang pas untuk mereka melakukan itu.


Jujur saja Riska merasa deg-degan apalagi jika dia yang harus memulai atau meminta duluan tentu saja sensasinya sangat berbeda dan rasa nervous itu jelas terasa.


"Baiklah Riris tahu kapan waktu yang tepat dan sebentar lagi Abang ulang tahun, mungkin itu waktu yang tepat ya mom,"


Riska baru ingat jika sebentar lagi suaminya akan ulang tahun dan dia merasa itulah waktu yang pas untuk memberikan kado yang spesial di hari ulang tahun suaminya berbeda dari kado ulang tahun sebelumnya.


Lebih baik saat ulang tahun Rasya dan dia bisa mempersiapkan diri semaksimal mungkin, tentunya juga harus bisa mengontrol diri agar dia tidak grogi karena untuk memulai itu bukanlah hal yang mudah apalagi seorang perempuan yang memulai pasti butuh keberanian yang besar.


"Baiklah mommy balik dulu, assalamu'alaikum,"


Saat mereka mengobrol tadi bukan lagi di sofa tunggu yang ada di toko melainkan mereka mengobrol di lantai atas yang mana tempat itu nyaman untuk bersantai yang memang sengaja Rasya sediakan agar istrinya merasa nyaman saat menikmati waktu berdua.


Riska mengantar mommynya hingga ke depan dan menunggu mobil yang ditumpangi menghilang dari pandangan.


Setelah tidak kelihatan lagi barulah gadis itu masuk sambil otaknya berpikir persiapan apa yang harus dilakukan sebelum memberikan kejutan kepada suaminya dua minggu lagi.


Sore hari.


"Sayang kenapa melamun? Kok abang pulang sampai nggak sadar gitu?"


Rasya yang baru pulang ngecek toko heran melihat istrinya yang sedang melamun duduk di tepi ranjang dengan masih mengenakan mukenanya.


"Kapan abang sampai?" Haruskah kaget lalu menoleh ke arah suami yang sudah berdiri di depannya dan tidak lupa dia menyalami.


Membuka mukenanya lalu meletakkan di tempat biasa dan mempersiapkan air mandi untuk suaminya karena sudah biasa saya pulang dari luar mereka membersihkan diri terlebih dulu.


"Apa ada sesuatu yang terjadi hingga sayang sampai melamun atau lagi ada masalah?''


Riska berdiri dari tempatnya saat mendengar pertanyaan suaminya dan dia bingung harus menjawab apa.


Apakah harus jujur tapi itu tidak mungkin karena dia ingin memberikan kejutan kalau diberitahu sekarang bukan kejutan lagi namanya.


"Nggak ada apa-apa Bang, Riris hanya memikirkan tugasnya lagi banyak,"


Tapi dia tidak sepenuhnya berbohong memang akhir-akhir ini tugas kuliahnya lagi banyak dan itu tentu menguras tenaga dan pikiran namun bukan itu yang jadi pokok masalahnya yang tidak bisa disampaikan sekarang karena akan menjadi kejutan.


Gadis itu mengambilkan handuk untuk suaminya lalu diberikan namun bukan hanya handuk saja yang diambil Rasya tapi juga menarik tangan istrinya hingga terduduk di pangkuannya.


Sontak saja pergerakan Rasya itu membuat jantung Riska berdetak dua kali lebih cepat walau mereka sudah sering dekat lebih intens seperti ini namun masih saja salah tingkah apalagi mendadak seperti ini.


"Abang mandi dulu aja," Gagap Riska menyuruh suaminya untuk mandi karena dia kurang nyaman berada di posisi seperti ini apalagi deru nafas suaminya berhembus mengenai leher jenjangnya.

__ADS_1


'kenapa gue masih salah tingkah padahal bukan kali pertamanya kami sedekat ini bahkan sudah bisa dibilang terbiasa namun rasa deg-degan Ini belum bisa gue kontrol sepenuhnya'


Tapi bukan menuruti keinginan istrinya, Rasya malah mengeratkan pelukannya ke pinggang ramping yang sangat pas diperlukannya bahkan sangat nyaman sekali dan rasanya tidak ingin dilepaskan dan jika perlu akan dipeluk setiap saat.


\=\=


Setiap hari Riska selalu mencari referensi untuk mempersiapkan malam pertamanya dengan sang suami dan sesekali bertanya kepada mommynya siapa tahu ada masukan lain yang bisa membuat dia memberikan hal berkesan di malam pertamanya.


Namun semua yang dia lakukan dilakukan secara perlahan agar suaminya tidak curiga dan kejutan itu berakhir tidak gagal.


"Sayang kenapa kok akhir-akhir ini abang lihat sering bermain HP? Nggak lagi chat-an sama cowok lain kan?" Riska memicingkan matanya ke arah suaminya dan memandang dengan tatapan selidik serta penuh tanda tanya.


"Maksud Abang apa bicara begitu? Abang pikir Riris main serong gitu atau lagi dekat sama mahasiswa yang ada di kampus? Please deh bang buang jauh-jauh pikiran seperti itu karena suami Riris ini jauh lebih mempesona daripada mahasiswa-mahasiswa yang ada di kampus itu dan mereka nggak ada apa-apanya dibandingkan Abang,"


Gadis itu mulai gelisah karena gerakannya sudah mulai terbaca karena sering bermain HP saat berada di rumah padahal biasanya tidak karena mereka lebih suka menghabiskan waktu bersama baik mengobrol atau mengerjakan tugas bersama namun sekarang dia asyik dengan hp-nya tapi bukan melakukan seperti yang dituduhkan suaminya namun mencari referensi lain sebelum kejutannya dimulai.


Namun dia tidak tersinggung sama sekali atas tuduhan itu karena dia tidak melakukan dan tidak kepikiran sampai ke arah sana. fokus dia sekarang hanya kepada kejutan malam pertama untuk suaminya.


"Iya Abang tahu saya nggak mungkin melakukan itu tapi Abang hanya heran kenapa sayang akhir-akhir ini sering memainkan HP biasanya kan tidak,"


Karena tidak ingin memperpanjang masalah akhirnya gadis itu menyimpan hp-nya dan akan melanjutkan penelusurannya lagi nanti saat berada di kampus jam istirahat atau saat dia pulang cepat di mana suaminya masih berada di toko jadi dia bisa bergerak bebas dan tidak dicurigai seperti ini.


"Tadi cuma membahas tugas kelompok yang akan dikumpulkan minggu depan bang dan kami berencana akan mengerjakan di cafe depan kampus,"


Tugas kelompok bukanlah hal baru saat mereka mengerjakan tugas dan kafe depan kampus adalah tempat yang paling nyaman untuk mereka apalagi itu merupakan cafe tongkrongan ala-ala anak muda jadi sangat pas untuk mereka bersantai sambil mengerjakan tugas.


Gadis itu duduk di sebelah suaminya lalu menggenggam tangan kekar itu dan ditaruhnya di atas pangkuan. Mengusap pelan lalu melihat wajah yang semakin hari semakin tampan itu dan dalam hati dia berkata-kata "semakin tampan Bang Rasya maka semakin banyak juga para gadis di luar sana yang tergila-gila kepadanya dan gue sebagai istri harus mempertahankan posisi agar enggak tergeser atau dibuat goyah oleh ulat bulu di luar sana karena posisi gue jauh lebih kuat dari mereka yang hanya debu yang bakalan terbang saat ditiup angin "


"Tapi alangkah baiknya selama kita di rumah kita mengurangi kegiatan memainkan HP dan lebih baik menghabiskan waktu bersama,"


Oke Riska mengangguk setuju dan ini lebih baik daripada membantah dan berakhir dengan perdebatan yang tidak ada akhirnya.


Mereka juga butuh me time.


Waktu akan terasa sangat berharga kita jika kita habiskan dengan melakukan kegiatan kecil atau hanya sekedar mengobrol daripada memainkan HP yang tidak ada akhirnya itu.


"Iya suamiku tercinta,"


Riska melesat masuk ke dalam pelukan suaminya dan dia berguma melirih melontarkan kata nyaman dan hangat karena memang itu yang dirasakan saat berada di dalam pelukan suaminya.


Rasa itu hampir sama saat berada di dalam pelukan daddy Arka atau Raka sang abang.


Rasya menyambut baik tubuh mungil yang sudah nemplok di dadanya dan mengusap pelan punggung kecil itu dari atas hingga sebatas pinggang dan dia lakukan berulang kali hingga rasa nyaman itu seakan enggan untuk dilepaskan oleh istrinya apalagi hanya untuk sekedar menggeser sedikit dari tempat duduknya.


\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Bersambung 😘


__ADS_2