BUKAN CINTA PENGGANTI

BUKAN CINTA PENGGANTI
Flashback ( Farah yang sudah tak menyukai Raka )


__ADS_3

Di rumah mewah Dean keluarga mereka tampak lagi melaksanakan sarapan pagi.


Parah makan dengan tenangnya bahkan tidak melihat kedua orang tuanya ia memperhatikan mereka dengan heran karena sudah beberapa hari belakangan ini bukan sudah satu bulan ini, sikap Farah lebih banyak diam dan terkesan tidak banyak bicara apalagi membahas soal raka.


Dengan diamnya Farah begini menimbulkan tanda tanya Di kepala kedua orang tuanya.


Tidak seperti biasanya Farah banyak diam serta tidak lagi menjahili adiknya dan entah apa Itu penyebabnya.


"Kakak baik-baik aja kan? "


Tanya sama mama karena dia jauh dari seperti biasanya.


"Memangnya Kakak kenapa mah? Kakak merasa masih seperti biasanya dan kakak masih menjadi putri cantik mama,"


Balas parah karena dia merasa dia baik-baik saja dan tidak ada perubahan pada dirinya, memang dia memilih banyak diam daripada banyak bicara seperti biasanya.


"Kakak Kenapa banyak diam akhir-akhir ini dan mama khawatir jika kakak lagi menyembunyikan sesuatu,"


Vya tidak ingin jika anaknya berubah jadi pendiam seperti sekarang dan dia lebih suka anak yang usil dan selalu heboh apapun kondisinya.


"Mama jangan terlalu banyak pikiran, Kakak baik-baik saja mungkin karena efek lagi banyak tugas aja jadi kakak nggak mood untuk melakukan apa-apa,"


Farah belum berani jujur kepada kedua orang tuanya karena dia merasa masalah ini tidak besar dan masih bisa diatasi sendiri. Dan juga dia tidak mau mamanya merasa bersalah karena sejak awal mamanya lah yang mengasih tahu terlebih dahulu jika dia mau di jodohkan dengan Raka, namun pada kenyataannya laki-laki itu tidak menyukainya sama sekali.


Jika dia berkata jujur maka mamanya pasti akan merasa sedih.


"Mama harap juga begitu dan kakak nggak pernah menyimpan apapun dari mama, jika Kakak butuh teman cerita Mama siap mendengarkan,"


Farah mengangguk mengerti dan melanjutkan sarapannya.


'maafkan kakak mah kakak cuma hanya nggak mau membuat mama merasa bersalah dan memikirkan masalah yang sebenarnya nggak penting. Biar kakak saja menanggung ini dan juga Kakak sudah ikhlas melepaskan orang yang nggak pernah menyukai kita'.


Selesai sarapan Farah dan Sarah berapa meter berangkat ke sekolah menggunakan sopir seperti biasanya.


Di rumah Dean.


"Kok aku merasa Farah berubah akhir-akhir ini dan dia seperti lebih banyak diam dari biasanya,"


Sekarang pasang suami istri yang masih tampak muda itu duduk di balkon kamar mereka walau kamar mereka terletak paling pojok tapi memiliki balkon dengan pemandangan sangat indah.


Dean hari ini memang memilih meliburkan diri dan entah apa Itu penyebabnya.


"Aku juga merasakan hal yang sama ma dan aku merasa anak gadis kita pasti mengalami sesuatu yang berat tapi dia nggak mau berbagi sama kita, Aku khawatir jika terlalu lama dia menanggung sendiri itu malah akan mengganggu baik kesehatan fisik atau mental,"


Khawatir seorang papa yang gelisah dengan perubahan anak gadisnya dan itu sangat tidak membuatnya nyaman.


Sebagai orang tua mereka pasti tahu perubahan anaknya walau sekecil apapun. Dan untuk kondisi parah perubahan itu sangat jelas terlihat dan itu membuat mereka khawatir tapi mereka tidak akan tinggal diam, mereka akan mencari tahu kenapa anaknya berubah sedrastis itu.


"Apa ini berhubungan sama Raka? Kok aku tiba-tiba kepikiran ke arah sana ya dan entah kenapa aku merasa hal yang membuat para berubah berhubungan dengan Raka,"


Tebak Vya, sebagai seorang ibu Saya rasa dia mengatakan seperti itu dan dugaannya semakin kuat dengan perubahan anaknya yang sekarang.


Selama ini anaknya happy-happy saja bahkan setiap sarapan atau makan malam Farah selalu membahas tentang Raka dan sudah satu bulan ini anaknya tidak pernah membahas lagi dan itu semakin memperkuat dugaannya.


"Kita nggak bisa asal menembak saja dan kita harus menyelidiki terlebih dahulu agar jatuhnya tidak menjadi fitnah,"


Dean juga merasakan hal yang sama namun dia juga harus menyelidiki terlebih dahulu karena jika dia asal tuduh maka berakibat juga pada hubungan baik yang sudah lama dia jalan bersama Arka.


Sebenarnya ini yang dia takutkan hubungan mereka akan terguncang jika ada cinta yang sepihak di antara anak mereka dan ketakutan dia itu benar-benar terjadi sekarang karena cuma Farah yang menyukai Raka sedangkan laki-laki itu malah acuh terhadap anaknya.


"Iya kita harus selidiki terlebih dahulu, aku juga nggak ingin hubungan baik kita renggang karena masalah asmara anak kita yang tak terbalas ini,"


Vya setuju dan mengikuti saran suaminya untuk menyelidiki asal muasal Kenapa anaknya bisa berubah sedrastis ini.


"Papa kenapa nggak pergi kerja? Kantor kan nggak libur kenapa meliburkan diri,"


Dia juga heran kenapa suaminya tidak pergi ke kantor dan malah bersantai di rumah. Apa dia lupa jika Arka belum masuk kantor dan dia juga tidak masuk. Masa iya kedua orang memiliki jabatan tertinggi di kantor malah meliburkan diri sedangkan bawahannya masih terus bekerja.


"Lagi males aja dan juga bosan nggak ada Arka di kantor tapi bukan itu alasannya karena nggak ada kerjaan yang terlalu penting untuk hari ini dan juga meeting juga nggak ada jadi aku lebih memilih di rumah saja dan menemani istri cantikku ini,"


Vya tersipu mendengar pujian dari Dean, walau mereka sudah menikah belasan tahun tapi gombalan masih mampu membuat dia salah tingkah.


Bagian yang merasa gemas dengan istrinya mencubitnya lalu menarik masuk ke dalam pelukannya.


"Padahal aku sudah merasa semakin tua dan kamu masih tampak mudah saja, kadang aku berpikir apakah kamu akan tetap setia menemani istri yang makin tua dari kamu, "


Bukan tanpa alasan dia mengatakan seperti itu, di usia Dian yang baru mau masuk ke kepala empat ini ketampananlaki-laki itu sama sekali tidak memudar bahkan ketampanan yang dimilikinya masih bisa menarik perempuan muda di luar sana berbanding terbalik dengan dirinya yang sudah semakin tua apalagi perbedaan umurnya lebih tua 5 tahun dari Dean.


"Kamu kamu ini ngomong apa? Jangan mengatakan sesuatu yang mana akan menyakiti dirimu sendiri dan juga apa kamu berpikir aku laki-laki yang mudah tergoda dengan daun muda di luar sana. Dan jika aku seperti itu sudah dari dulu aku lakukan. Kenapa kamu mengungkit itu lagi dan aku merasa selama kita menjalani rumah tangga yang hampir dua puluh tahun ini aku merasa kamu belum percaya sepenuhnya sama aku dan itu membuat aku kecewa kamu meragukan bagaimana aku mencintaimu,"


Setelah mengatakan itu Dean bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan istrinya karena dia kecewa setelah cukup lama mereka tinggal bersama tapi istrinya masih meragukan kesetiaannya.


Dia kesal Kenapa istrinya itu suka sekali membahas hal yang mana akan berdampak pada dirinya sendiri, jika Dean ingin dia bisa melakukan itu tapi dia bukan laki-laki yang suka bermain di luar sana dan menyakiti wanita yang sudah berjuang melahirkan keturunannya.


Dia pergi menuju garasi dan melajukan mobilnya meninggalkan rumah karena dia kesal karena ucapan istrinya barusan. Dan kepergian Dean itu dilihat oleh istrinya dari balkon dengan mata yang berkaca-kaca.


"Maafkan Aku, Aku cuma takut dan rasa percaya diriku lemah akhir-akhir ini aku juga tidak tahu apa alasannya,"


Vya membiarkan suaminya pergi dulu memberi ruang untuk suaminya menenangkan diri. Setelah suaminya pulang nanti dia akan meminta maaf dan perbaiki kesalahan yang tadi.


\=\=\=


Di sekolah Farah gadis itu baru saja datang setelah mengantarkan Sarah ke sekolahnya yang berada tidak jauh dari sana. Garis itu berjalan dengan santai menuju kelasnya dan pasti itu melewati parkiran. Di sana dia melihat orang kaya masih berdiri di dekat mobilnya tapi dia mengabaikan tidak menyapa seperti biasanya bahkan menulis saja tidak.


"Ini jauh lebih baik rasanya daripada menyapa tapi diabaikan dan dijawab seadanya,"


Gumam gadis itu melanjutkan langkahnya menuju kelas yang berada di lantai dua.


Farah tidak peduli lagi dengan sisa-sisa perasaannya kepada Raka dan dia lebih memilih menghapus rasa itu hingga habis sebelum dia membuka hati lagi untuk yang baru.


Dia tidak akan larut terlalu lama dalam kesedihannya hanya untuk orang yang tidak pernah menghargai perasaannya. Farah juga tidak akan menutup hatinya hanya karena satu orang yang telah menyakitinya.


"Ini rasanya jauh melegakan dan berat badanku terasa jauh lebih ringan karena beban yang ditanggung selama ini secara perlahan sudah lepas dari pundakku,"


Farah duduk di bangkunya dan mengeluarkan buku pelajaran pertama. Tidak lama kemudian baru pelajaran pertama sudah berbunyi dan tidak lama guru masuk serta siap untuk memulai pelajaran pagi ini.


Beberapa jam kemudian jam istirahat sudah datang.


"Kamu nggak gabung sama bang Raka?"


Tanya teman sebangku Farah karena setiap istirahat gadis itu pasti bergabung bersama Raka tapi kali ini dia memilih duduk menjauh dari Raka bahkan menganggap tidak ada keberadaan Raka di kantin.


"Kamu tahu kan aku menyukai bahwa mereka sudah sejak lama dan selama itu juga perasaanku nggak dihargai jadi beberapa waktu yang lalu aku lebih memilih melepaskan rasa itu daripada terbelenggu terlalu lama dengan rasa sakit yang enggak berkesudahan,"

__ADS_1


Jelaskan, karena teman ini tahu bagaimana Farah mengejar Raka setiap kali ada kesempatan dan sekarang mengabaikan Raka yang berada di kantin yang sama dengan mereka.


Jadi wajar dia heran dan sekarang dia tahu apa alasan Farah tidak menganggap ada Raka sekarang walau dia nyata di depan mereka.


"Iya emang seharusnya begitu dan sebagai sahabat gue nggak mau lo tersakiti lebih jauh lagi apa lagi orang yang kegantengan seperti Raka walau gue akui pesona dia banyak siswa di sekolah yang tergila-gila apa adanya tapi gue bukan salah satu di antara mereka,"


Memang sahabat suara ini cuma sebatas mengagumi Raka dari jarak jauh dan tidak ada memperlihatkan kegenitan seperti siswa lainnya bahkan secara terang-terangan menunjukkan rasa sukanya kepada Raka.


Dia juga tidak suka kepada Raka hanya sebatas kagum dengan ke ketampanan yang Raka miliki tapi berdebar melihat Raka itu pun sama sekali tidak pernah dia rasakan.


"Gue bodoh terlalu lama dan baru kali ini gue menyadari perjuangan gue sia-sia Dan semoga saja ini belum terlambat untuk gue membuang rasa yang selama ini membuat gue bodoh,"


Ada sedikit rasa penyesalan di hati Farah karena dia terlalu bodoh mendekati laki-laki yang mungkin bisa saja tidak pernah menganggap dia ada. Andai saja orang tua mereka tidak saling kenal mungkin posisi Farah sama seperti siswa yang ada di sekolah ini.


Ada tapi tidak terlihat.


"Gue harap lo nggak mengalami hal serupa kedua kalinya dan gue juga berharap lo segera menemukan laki-laki yang benar menyukai lo dan membahagiakan lo supaya lo lupa bahwa di masa lalu lu pernah merasakan sakit yang amat terdalam,"


Doa tulus sahabat Farah karena sebagai sahabat dia sebenarnya tidak tega melihat Farah mengejar Raka segitunya, dia membiarkan mungkin suatu hari Raka bisa membuka hatinya dan membalas perasaan Farah tapi nyatanya bukan kesempatan yang didapatkan tapi sakit hati lagi dan lagi.


"Sebenarnya selama ini gue nggak tega melihat lo diabaikan begitu tapi gue selalu berdoa agar hati ini terbuka sedikit untuk loh tapi nyatanya tidak dia nggak pernah melihat ketulusan loh,"


Farah membalas dengan senyuman karena apa yang dikatakan sahabatnya itu benar bahwa ketulusan dan perjuangannya selama ini tidak berarti apa-apa untuk Raka dan justru dia seperti wanita bodoh yang mengejar laki-laki yang tidak menyukainya sedikitpun.


"Makasih ya lo bener-bener sahabat gue yang pengertian, seharusnya gue sadar sejak awal dan bukan menikmati rasa sakit yang gue rasakan setiap hari. Dan sekarang gue sadar berjuang sendiri itu nggak enak,"


Memang sudah Farah putuskan bahwa Raka tidak bisa lagi menempati posisi tertinggi di hatinya.


"Tapi dikasih seandainya suatu hari dia yang berbalik menyukai lo? Apa lo apa lo akan menerima dia dan membuka hati lo lagi untuknya?"


Bisa saja kan hal yang dikatakan sahabat Farah itu terjadi dan dia hanya takut Farah akan goyah dan terbuai hingga memberikan kesempatan dan untuk Raka memasuki hatinya lagi tapi hal itu juga tidak menutup kemungkinan jika Raka tidak akan menyakitinya lagi walau dengan cara yang berbeda.


"Gue jamin hal itu nggak akan terjadi walau di masa depan dia berbalik menyukai gue, gue hanya memberikan kesempatan satu kali pada orang yang sama dan nggak ada kesempatan kedua jadi di masa depan bagaimanapun dia berjuang gue nggak akan melirik masa lalu lagi apalagi sampai terjebak di dalamnya,"


Tekad Farah sudah bulat jika dia tidak ada yang namanya melirik ke belakang, hidup dia bukan seperti kendaraan yang memiliki kaca spion tapi dia juga menggunakan prinsip seperti kaca spion melirik ke belakang agar tidak melakukan kesalahan yang sama di masa depan jadi cukup sekali dia terjebak pada kesalahan yang akan menyakiti dirinya sendiri.


"Ini baru sahabat gue yang nggak mau melirik ke belakang apalagi sampai bersikap bodoh seperti lu kemarin yang malah menyukai orang yang nggak menyukai lo, itu tindakan konyol yang pernah gue lihat selama menjadi sahabat loh dan gue harap lo nggak mengulang itu di masa depan,"


Jika sampai hal itu terjadi dia akan memberi label kepada Farah wanita paling bodoh karena mau terjebak di masa lalu yang pernah menorehkan luka begitu membekas di hatinya.


Masih banyak laki-laki di bumi ini termasuk di sekolah ini jadi jangan mau dibodohi dengan resensi pihak dan bertahan tersakiti hanya karena sebuah kata mungkin suatu hari dia akan menyukai kita. Jangan pernah melakukan hal bodoh itu.


"Iya cukup sekali gue melakukan hal bodoh dan itu nggak akan gue ulang lagi ke depannya, masih banyak laki-laki yang jauh lebih baik dari dia dan gue nggak butuh ketampanan seseorang yang penting dia tulus menyukai gue itu sudah cukup bagi gue,"


Farah tidak ingat lagi menyukai seseorang hanya dari ketampanannya saja karena itu akan menyakiti dirinya sendiri seperti yang telah terjadi antara dia dan Raka.


Memang awalnya dia menyukai Raka karena ketampanan yang dimiliki laki-laki itu namun seiring berjalannya waktu rasa itu benar-benar muncul bahkan bertahta lama di hatinya.


Hingga.


"Kak Farah kok tumben nggak gabung sama kita?"


Ente datang dari mananya Riska gadis cantik itu sudah berada berdiri di sebelah parah sambil memegang sebuah minuman berwarna.


Lalu Riska mengambil tempat duduknya masih kosong di sebelah Farah dan menatap gadis cantik itu ia membalas senyumannya.


"Nggak apa kok dek kakak lagi pengen aja makan bersama sahabat kakak, kalau Riris mau gabung aja sama kakak,"


Ajak Farah, dia tetap baik kepada Riska karena dia tidak ada hubungannya dengan sakit hati yang dirasakan kepada Raka. Karena Riska tidak salah sama sekali.


"Emang nggak apa-apa kak Riris bergabung sama kakak entar Riris ganggu lagi? "


Riska sungkan karena Ini pertama kalinya dia bergabung duduk bersama sahabat Farah biasanya Farah lah yang bergabung bersama meja di mana ada Raka, Rasya dan juga Rika sahabat Riska.


Jadi agak merasa gimana gitu jika bergabung bersama Farah dan sahabatnya.


'kamu nggak salah jadi Kakak akan merasa jahat jika kakak menjauhi kamu karena bang Raka yang menyakiti hati kakak dan kamu akan tetap menjadi adik kakak sama halnya seperti Sarah'


"Iya nggak apa santai aja kali sahabat Kakak ini nggak gigit sama sekali jadi aman lah,"


Canda Farah karena melihat wajah tidak enak yang ditampilkan oleh Riska dan dia maklum karena jika Riska ini adalah adik Raka.


Farah bersahabat dengannya sudah cukup lama dimulai dari kelas 7 hingga sekarang jadi apapun bersangkutan dengan dia pasti sahabatnya itu tahu termasuk Riska adik Raka.


"Santai aja Kakak nggak masalah kok Riris gabung sama kami dan juga bener kata Farah Kakak nggak gigit,"


Riska tersenyum mendengar jawaban sahabat Farah dan dia tidak terlalu merasa canggung seperti tadi.


Mereka mengobrol santai tapi tidak ada satupun dari mereka yang membahas olahraga karena apa sahabat Farah juga tidak ada membahas laki-laki itu, laki-laki yang sudah menyakiti hati Farah.


\=\=\=


Setelah pulang dari sekolah Rasya sudah menunggu Riska di parkiran bersama Raka. Laki-laki itu berencana akan menjenguk kakek Rio lagi. Jadi dia dengan pergi bersama dengan Raka Dan Riska.


"Maaf Abang nggak jemput ke kelas Riris tadi dan ini karena Raka yang menarik abang langsung ke parkiran,"


Biasanya Rasya selalu mengantar dan menjemput Riska ke kelasnya.


Dan tadi tidak dia lakukan karena Raka langsung menarik dia menuju parkiran padahal dia sudah mau pergi menuju ke kelas Riska.


"Nggak apa bang Riris paham kok kalau jomblo itu suka iri,"


Balas Riska menyindir abangnya yang sampai sekarang masih jomblo padahal suka berkoar-koar jika dia memiliki gadis yang disukai namun sampai sekarang tidak ada tanda-tanda mau menunjukkan siapa gadis yang kurang beruntung itu, menurut Riska.


"Lah bocil baru punya pacar aja udah songong ntar ditinggalin nangis di pojokan,"


Mendengar ucapan Raka sontak Riska menoleh melihat Rasya dan menatap dengan tatapan menunggu jawaban atau tanggapan dari laki-laki tampan itu.


Seolah tahu apa maksud dari tatapan Riska dan Rasya berkata.


"Jangan dengarkan maksud satu yang jomblo ini karena dia hanya iri dan bentuk dia mengeaskan sekali sebab dia hanya berkata menyukai seorang gadis tapi nyatanya semua itu hanya bohong dan abang nggak mungkin menyakiti Riris karena untuk mendapatkan nya saja begitu susah masa iya Abang sia-siakan dengan mudah,"


Benar apa yang dikatakan Rasya untuk mendapatkan Riska saja begitu mudah dan harus melalui restu kedua orang tuanya yang harus didapatkan jadi tidak mungkin dia menyakiti apalagi sampai menyia-nyiakan yang mungkin jika dia lepaskan, belum tentu akan dia dapatkan gadis sebaik Riska ini.


Riska begitu tersanjung mendengar ucapan Rasya dan tanpa dia sadari Riska berjalan mendekat ke arah Rasya.


"Eh eh mau apa? jangan menempel kayak ular bulu,"


Raka menarik tas Riska lalu membuka pintu mobil dan mendorong Riska masuk mobil dan di ikuti oleh Rasya yang duduk di kursi samping kemudi.


"Abang durjana ya gini, lo narik gue seperti anak monyet,"


Kesal Riska yang di tarik seperti orang mau membuang sampah.

__ADS_1


Harga dirinya di depan Rasya turun sedikit karena diperlakukan seperti itu oleh Raka.


"Bukan durjana tapi malas saja melihat kaum yang mungkin sebentar lagi akan ngebucin,"


Malas Raka sambil melajukan mobilnya meninggalkan pelataran sekolah menuju rumah sakit tempat kakek Rio masih dirawat.


Rasya sengaja dilarang oleh Raka untuk membawa motornya agar mereka bertiga bisa satu mobil menuju rumah sakit.


Laki-laki itu setuju saja asal itu selama bersama Riska dia tidak menolak sama sekali justru dia senang bisa berduaan ah bukan berdua tapi bertiga namun bisa mengobrol bersama Riska.


Tidak lama kemudian mobil yang agak kendarai sampai di arah parkiran rumah sakit.


Mereka keluar dan berjalan beriringan menuju ruang rawat kakek Rio.


"Assalamu'alaikum,"


Salam kompak mereka bertiga saat baru membuka pintu dan masuk ke dalam sana. Secara bergantian mereka menyalami semua orang yang ada di sana.


Di sana juga ada ovario dan Om ada ya jadi lengkap kedua kaki dan nenek Riska berada di sana.


Beda halnya dengan Rasya Ini pertama kalinya mereka bertemu orang tua dari Arka dan itu cukup membuat dia merasa canggung karena ada pertemukan dalam keadaan yang tak terduga.


"Jadi ini laki-laki yang bisa membuat cucu cantik opa jatuh cinta?"


Ujar opa Dio ketika Rasya menyalami dirinya dan mengusap lembut pundak Rasya.


Dia cukup kagum dan salut dengan cucunya yang pintar mencari pasangan yang tampan seperti Rasya.


"Opa jangan gitu ah Riris jadi malu,"


Gadis Itu tampak tersipu karena laki-laki yang di yang disukainya dipuji begitu gamblang oleh opa Dio.


"Salam kenal saya Rasya sahabat Raka,"


Sopan Rasya kepada opa Dio.


"Wah Dek ternyata dia nggak mengakui kamu sebagai pacarnya dan malah mengaku dirinya sebagai sahabat bang Raka,"


Wajah Riska membuat kesal Kenapa juga Rasya memperkenalkan dirinya sebagai sahabat Raka walau itu memang benar kenyataannya tapi dia juga ingin jika Rasya mengakui dirinya sebagai pacarnya tapi malah menyebalkan seperti ini.


"Udah ah Riris ngambek aja dan mau sama kakek Rio aja,"


Riska lebih memilih duduk di kursi yang tersedia di samping ranjang tempat kakek Rio berbaring lalu memegang tangan yang sudah mulai terasa hangat itu.


"Kalau mereka nggak mengakui Riris masih ada kakek yang selalu ada untuk Riris jadi tidak perlu bersedih,"


Hibur kakek Rio dengan lemah karena tenaganya belum begitu pulih.


Riska mengembangkan senyumnya lalu merebahkan kepalanya di atas telapak tangan kakek Rio.


"Kakek memang selalu pengertian nggak seperti mereka,"


Riska sengaja mengeraskan suaranya agar terdengar oleh mereka semua dan menyadari jika dirinya sedang kesal.


Mereka semua yang mendengar ucapan Riska hanya bisa tersenyum dan gemas sama cucu bungsu dari opa Dio dan Oma Dea itu.


Posisi Riska yang paling serba akhir, Arka anak terakhir sama dengan Riska sebagai anak bungsu juga serta cucu paling bungsu.


Wajar jika dia masih manja karena mereka semua memanjakan gadis itu.


"Salam kenal kek,,saya Rasya,"


Rasya juga menghampiri Kakak Rio dan menyalaminya. Posisi Rasya berdiri di sebelah Riska namun gadis itu mengabaikan keberadaan laki-laki tampan itu. Dia masih kesal karena tidak diakui di depan opa Dio.


"Kamu sangat tampan dan pasti jika memilih pasangan kelak maka wanita itu akan menjadi wanita paling beruntung karena memiliki pasangan saya tampan dirimu,"


Kakek Rio sengaja berkata demikian untuk menggoda cucunya ini rasanya kurang afdol jika hanya opadio ya menggoda Riska. Garis itu makin memberi karena sempat-sempatnya kakek Rio mengatakan hal demikian padahal sudah jelas jika dirinya lah pasangan Rasya sekarang.


"Emang pada jahat semua,"


Setelah mengucapkan kata itu haruskah bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan ruangan Kakak Rio, masih bisa Riska dengar mereka semua tertawa karena berhasil membuat dirinya kesal.


Di dalam kamar ruangan kakek Rio.


"Harap maklum Rasya karena Riska masih kecil dan selalu dimanja oleh kami semua jadi sifatnya masih suka kekanakan,"


Ujar kakek Rio setelah Riska tidak kelihatan lagi.


"Tidak apa-apa kek saya juga maklum karena Riris itu anak bungsu jadi wajar jika dia bermanja atau masih suka ngambek,"


Rasya tidak heran jika sifat Riska seperti itu karena adik-adiknya yang bungsu itu di rumah juga sering seperti Riska kadang sangat manja kadang ngambek dengan hal sederhana.


"Tapi kadang dia juga seperti orang dewasa jika lagi menasehati kakek namun lebih banyak sifat kekanakannya,"


Kakek Rio masih ingat saat Riska menginap di rumahnya nggak di situ memasak makanan kesukaan Kakak Rio namun karena kaki Rio masih merasa kenyang dia menolak dan mengatakan nanti saja dia akan makan tapi dari situ berbicara panjang lebar seolah-olah dia sedang menasehati anaknya yang malas makan.


Di lorong rumah sakit.


"Mereka pada jahat semua,"


Riska berjalan menuju taman rumah sakit.


Duduknya di taman rumah sakit sambil terus berkomat-kamit entah apa yang di ucapkan.


Hingga datang seseorang lalu langsung duduk di sebelahnya.


"Kenapa sedih gitu?"


Dia langsung duduk dan merangkul bahu Riska.


Gadis itu langsung merebahkan kepalanya di bahu dia dan memejamkan mata.


"Nggak apa,, apa cuma lagi bosan aja di ruangan kakek lagi banyak orang,"


Balas Riska tidak lupa memegang lengan itu yang di jadikan sebagai sandaran.


Riska bersandar dengan nyaman tanpa menyadari sudah ada Rasya yang berdiri di belakangnya sambil mengepalkan tangannya dengan erat hingga menampilkan urat yang nampak menegang.


Tadi setelah tidak lama Riska keluar, laki-laki itu menyusul dan bermaksud menenangkan gadis itu namun apa yang di dapatkan.


Pemandangan yang menyesakkan dada.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


Bersambung 😘


__ADS_2