
Sekarang di kantor Arby Group...
Farah pergi meninggalkan temannya berjalan menuju ruangan bos sekaligus suami tampan nya.
Memasuki lift lalu memencet tombol teratas gedung ini, menghembuskan nafas pelan.
Sekarang waktunya bertemu suami semakin banyak mengingat mereka satu kantor dan bisa satu kemungkinan terjadi kalau Farah bakal di tarik kerja hingga mereka setiap saat berinteraksi.
Hah membayangkan itu saja Farah bakal merasa di awasi setiap hari, namun bagi Farah tidak masalah tapi ada kemauan dia yang bekerja seperti biasa.
Semoga suaminya tidak menggunakan kuasa yang dimiliki agar mereka tidak selalu dekat saat kantor.
"Padahal baru mulai masuk kerja eh udah di panggil aja,,awas hubby aku kurangi jatah malam,"
Sudah merencanakan akan mengurangi jatah malam Raka yang tidak pernah absen sejak honeymoon hingga sekarang, selalu mengajak dirinya lembur tiap malam bahkan hampir subuh kalau hari Minggu.
Ancaman ini cukup bagus untuk membuat Raka tunduk dan tidak melakukan sesuatu yang menguntungkan dirinya saat kerja.
Hingga tidak lama Farah keluar lift dan berjalan mencari ruangan bos, jujur dia sedikit gugup walau sering menginjakkan kaki di lantai ini. Biasanya cuma orang tertentu yang bisa menginjakkan kaki disini dengan kepentingan masing-masing.
"Hey kamu Farah kan?"
Sapa seseorang yang berlawanan arah dari tempat Farah berjalan.
farah melihat siapa pemilik suara itu, hah dia lagi batin Farah sinis dalam hati.
"Ada apa pak ya?, maaf saya buru-buru mau ke ruangan bos,"
Balas Farah saat melihat sebuah ruangan dengan tulisan CEO.
Malas juga bicara lama-lama sama orang itu apalagi kesan mereka bertemu tidak ada baik.
Ucapan beberapa pekan lalu masih segar di ingatan Farah dan mungkin jika Farah mau maka dia bakal dapat teguran walau dia adalah perwakilan dari kantor cabang.
Jika ada niat jahat dalam hati Farah mungkin sekarang adalah kesempatan yang ada.
Membuat dia jera dengan apa yang sudah di lakukan terhadap Farah, seenaknya bicara tanpa berfikir apa akibatnya.
"Ngapain buru-buru coba, kan bos mu suami mu,"
Jika tidak dosa menabok orang maka dengan senang hati Farah lakukan atau jika tindak kekerasan tidak bakal dapat hukuman maka tempat sampah yang tidak jauh dari mereka akan Farah lempar dengan senang hati.
"Kalau di kantor dia bos saya pak beda kalau di rumah baru suami, emang bapak masih jomblo ck kasian permisi pak jomblo,"
Pergi meninggalkan dia yang masih terpaku di tempat saat mendengar ucapan Farah yang mengatakan kalau dia jomblo dan berkata pak jomblo.
Kok perkataan Farah seperti menyuruh dia untuk segera memiliki kekasih dan memamerkan pada dia.
"Untung istri bos dan sahabat kalau nggak udah gue pecat,"
Decak kesal dia, entah perasaan dia atau apa? Tapi yang jelas dia merasa Farah sudah berani menjawab ucapannya atau menyindir dirinya secara langsung.
Apa sebegitu hebatnya posisi sebagai nyonya bos hingga mulut lupa diri juga.
Meninggalkan lelaki dengan hati yang bergemuruh sebab di katai jomblo, kini Farah sudah berdiri di depan pintu ruangan besar yang mana di dalamnya ada suami tercintanya.
"Ketuk nggak ya? Di dalam nanti mau ngomong apa? Atau bilang gini, maaf ada pak ya manggil saya? Atau saya melakukan kesalahan? Ah kok gue jadi bingung sendiri.
Ish gue kan nggak pernah berfikir bakal punya bos sekaligus suami secara bersamaan,"
Farah masih berdiri di depan pintu dengan fikiran berkecamuk.
Masih memikirkan apa yang mau di sampaikan di dalam nanti.
"Atau gue tanya, ada apa hubby. Ih sekarang kan di kantor bukan di rumah,"
__ADS_1
Decak Farah yang masih enggan mengetuk pintu tanpa dia tau orang dalam ruangan itu melihat apa yang Farah lakukan lengkap dengan tingkah menggemaskan di matanya.
"Punya istri cantik dan menggemaskan gini, jadi ingin di ajak masuk kamar,"
Terkekeh sendiri melihat tingkah yang tidak berhenti itu, lagian kalau mau masuk kan masuk saja kenapa harus mancak-mancak tidak jelas gitu.
"Kalau dia menggemaskan gitu orang yang liat juga bakal jatuh hati,"
Tapi belum mau menegur aksi itu, menikmati dengan senyum-senyum sendiri.
Beruntung lantai itu sepi dari lantai lainnya hingga tidak perlu kwartir akan ada yang melihat.
Hingga tidak lama.
Tok...
Tok...
Tok...
Ketukan itu yang di nanti sajak beberapa saat.
"Masuk,"
Langkah mungil itu membawa pemilik badan hingga masuk ruangan besar dengan fasilitas lengkap seperti di hotel.
Menunduk tidak mau melihat orang yang lagi duduk di kursi kebesaran itu.
Bukan tidak sopan namun perasaannya masih berkecamuk bingung, tidak pernah membayangkan akan berada di posisi ini, suami ku bos ku.
"Ada yang sesuatu yang jatuh? Kenapa jalan nunduk tidak takut nabrak?"
Kenapa semakin menggemaskan begini punya istri.
Pengin peluk lalu mengunyel leher jenjang yang tertutup hijab itu.
Lirih Farah saat jarak mereka cuma meja besar itu.
"Sudah di maafkan,"
Ingin tertawa lepas melihat tingkah lucu itu, sejak kapan dia makin menggemaskan dalam bertingkah, apa dia tidak sadar kalau dia itu begitu menarik jika bertingkah gini?.
"Ada apa bapak manggil saya?"
Berani Farah yang ingin segera pergi dari sana, tidak mau lama-lama.
Jantung dia tidak aman sekarang di tambah posisi dia serba salah.
"Tidak ada cuma kangen istri saya,"
Mengulum senyum supaya tidak mengeluarkan suara menahan tawa.
Ingat Ka sekarang lagi di kantor tidak bisa berbuat lebih kecuali ciuman bisa kali ya.
"Tidak ada istri bapak disini, kalau tidak ada keperluan saya permisi,"
Kembalikan badan untuk segera keluar, sudah tidak tahan lagi.
Di panggil hanya untuk di kerjain saja tidak ada kepentingan juga.
Ingat dia atasan dan Farah bawahan tidak bisa berbuat lebih.
Dengan cepat Raka bangun dan berjalan ke arah Farah dan memeluk dari belakang.
"Mau kemana sayang,"
__ADS_1
Lirih Raka berbisik di telinga Farah pelan.
Farah merinding mendapat perlakuan seperti ini dan beruntung suami sendiri.
"Bapak yang sopan ya,"
Masih berusaha profesional sebab ini masih di area kantor dan jam kerja walau dengan suami sendiri.
"Ini sopan loh, abang meluk istri sendiri,"
Mencium pipi yang mudah sekali bersemu merah jika sudah dapat sentuhan dari pasangan halalnya.
"Maaf pak bisa lepaskan? Saya masih banyak kerjaan,"
Berusaha melepaskan lilitan tangan yang melingkar di pinggang itu ternyata begitu erat namun tidak sesak.
"Sayang,"
Rengek manja Raka mengeluarkan suara andalan jika sudah tidak tahan.
Kembalikan badan Farah hingga mereka berhadapan dengan masih memeluk tubuh ramping itu.
"Hubby jahat bikin aku jantungan,"
Manyun Farah yang sejak tadi menahan diri untuk tidak kelepasan memanggil dengan panggilan sayang mereka namun Raka tidak gentar memanggil dengan kata sayang.
Memukul dada bidang itu dengan pelan seperti usapan.
"Abang jahat apa sih sayang?"
Terkekeh melihat wajah cantik yang tidak terlalu jauh dari wajahnya.
"Kenapa nggak bilang bakal datang coba?"
Mengeluarkan isi kepala yang sejak tadi berputar.
"Kan waktu kita honeymoon abang udah bilang dan berarti hari ini juga sama.
Kamu yang jahat sayang suami mau kerja nggak ada di siapkan baju kerja,"
Kembalikan keadaan kalau dia istri yang tidak pengertian jika suaminya akan mulai bekerja.
"Aku kan mana mungkin percaya dengan mudah dan Hubby tadi pagi juga nggak bilang dan sekarang mau bilang aku istri durhaka,"
Sanggah Farah yang tidak mau di salahkan sendiri.
Di sini Raka juga salah tidak memberi tau lagi dan memberikan kesalahan pada dirinya sendiri.
"Siapa yang mau bilang istri durhaka sih, lain kali kalau suami ngomong itu di percaya,"
Menjawil hidung yang tidak terlalu mancung itu.
Mencium jidat dengan lembut menyalurkan kasih sayang.
"Lain kali kalau gini lagi, jatah aku kurangin,"
Ancam Farah melepaskan belitan tangan itu dan beranjak mau keluar.
"Eits mau kemana? Ini nggak ada hubungannya dengan jatah ya jangan coba-coba sayang,"
Bagi para suami kata keramat itu tidak mau di dengar dengan alasan apapun itu.
Lebih baik dia kerja banting tulang dari pada tidak mendapat jatah malam.
"Kita liat aja nanti, cup,"
__ADS_1
Sedikit berlari keluar ruangan itu sebelum di tahan lebih lama lagi.
Bisa panjang ceritanya kalau terlalu lama dalam sana di tambah dengan otak mesum suami.