
Sebelumnya.
Ketiga gadis itu memasuki ruangan opa Dio dengan perasaan yang berbeda-beda, namun yang jelas mereka begitu mengkhawatirkan keadaan sang opa yang belum menunjukkan perubahan yang signifikan.
Mereka bertiga berjalan beriringan sambil bergandengan tangan seperti orang mau menyeberang jalan, baru memasuki ruangan itu saja mereka sudah disuguhkan dengan opa Dio yang masih senantiasa menutup mata.
"Kata para papa tadi opa udah sadar, atau apalagi tidur ya?"
Berbicara pelan takut mengganggu sang opa yang memang sebenarnya lagi istirahat.
"Iya mungkin kak, opa memang butuh waktu istirahat lebih banyak Jadi wajar di kaupa saat ini sedang tertidur. Tapi jika tidur Kenapa kita disuruh masuk ya?"
Daripada mereka berbicara terus lebih baik mendekati opa Dio, mereka bertiga berdiri di sisi ranjang lalu memperhatikan opa Dio yang masih begitu lelap.
Memperhatikan wajah yang mana di mata mereka selalu tampan walau kerutan di wajahnya tak dapat disembunyikan lantaran usia yang sudah lanjut.
"Tidur aja opa ganteng ya apalagi waktu masih muda pasti jadi rebutan para gadis,"
Memuji sang oppa yang mana ketampanannya tak lekang dimakan usia.
Pantas saja para papa mereka ketampanannya tidak ada duanya karena turunan dari opa Dio.
"Kalau opa masih muda aja mungkin kakak mau sama opa asal nggak memiliki hubungan darah,"
Makin jauh pikiran mereka tapi memang diakui jika opa Dio masih muda serta tidak memiliki hubungan darah dengan mereka maka mereka bisa dipastikan akan menjadi bagian dari para gadis yang mengejar opa Dio, namun tetap pemenangnya adalah oma Dea.
"Terserah kakak berdua aja,"
Jengah Riska mendengar percakapan absurd kedua kakaknya yang memuji ketampanan upa Dio serta ingin memiliki pasangan seperti sang opa.
Gadis kecil ini juga mengagumi ketampanan opa Dio namun hanya sebatas kagum tidak pernah terlintas di pikirannya hal yang sama dipikirkan oleh kakaknya.
"Cucu cucu opa sudah datang!"
Seru opa Dio hingga menyadarkan mereka bahwa beberapa menit yang lalu obrolan mereka sudah didengar oleh opa Dio.
Saat laki-laki lanjut usia ini membuka matanya dia langsung disuguhkan dengan obrolan kecil dari para cucu cantiknya yang mana itu sukses membuat senyum terbit di wajah tua itu.
"Opa udah bangun, bagaimana perasaan opa sekarang apa ada yang sakit atau opa mau Riris pijit?"
Mata gadis kecil itu tampak berbinar saat opanya sudah bangun dan langsung mencerca beberapa pertanyaan.
"Opa malah jauh lebih baik saat melihat kalian semua datang dan jika Tuhan memanggil opa saat ini opa sudah rela namun ada satu permintaan apa sebelum apa pergi,"
Ucapan opa Dio membuat gemuruh di hati mereka saling bersahutan yang tak bisa mereka kontrol karena ucapan opa Dio seperti ada sebuah tangan yang menarik jantung lepas dari tempatnya.
Nafas yang tercekat di tenggorokan bahkan mereka sulit bernafas bahkan kaki mereka rasanya loyo jika tidak berusaha menahan diri mungkin mereka sudah ambruk terduduk di lantai.
"Opa ini ngomong apa sih? Opa itu sehat-sehat aja, dokter cuma kangen opa makanya disuruh nginep di sini,"
Berbicara dengan nada suara bergetar karena dia takut apa yang dikatakan opadio barusan sungguh mengguncang jiwa mereka masing-masing karena berpisah dengan opadio bukanlah hal yang mudah mungkin bisa menjadi pukulan terberat untuk mereka yang ditinggalkan nanti.
"Nanti aku bilang sama dokternya bahwa oppa baik-baik saja dan nggak perlu menginap di sini karena rumah opa jauh lebih nyaman dari kamar ini,"
Walau hati mereka menolak kenyataan yang ada namun sekuat jiwa kenyataan sekarang bisa saja mengguncang jiwa apalagi terjadi sesuatu yang tidak pernah mereka harapkan.
"Dokter itu ngeselin tau opa, udah opa disuruh nginep eh bayar lagi,"
Mereka bertiga tidak mengindahkan opa Dio karena mereka lagi mencoba menghibur diri sendiri daripada menunjukkan kesedihan ya bisa saja opadio mencemaskan keadaan cucu-cucunya.
"Opa berkata serius dan opa ingin jika sebelum apa pergi opa ingin melihat cucu-cucu cantik opa ini menikah,"
Ucapan opa dio tentang kepergian untuk kedua kalinya membuat mereka menitikan air mata dan menggenggam tangan yang tak lagi kencang itu.
Dada mereka bergemuruh karena ucapan opa Dio seperti pertanda bahwa waktu kebersamaan mereka tak akan lama lagi.
"Apa nggak boleh ngomong gitu, kami yakin apa pasti sembuh dan akan berkumpul bersama kami lagi,"
'tapi entah mengapa firasat kami mengatakan yang sebaliknya'.
Walau berusaha mengelak pun namun perasaan akan ditinggalkan semakin kuat dan mereka seperti ditarik dari kesadaran untuk menerima kenyataan.
"Apa permintaan kecil opah ini tidak bisa dituruti? Apakah salah laki-laki tua ini ingin melihat cucunya menikah sebelum dia pergi,"
Mereka bertiga memeluk opadio dan menangis diperlukan laki-laki tua itu karena mereka seperti dipaksa menerima kenyataan jika opa Dio sudah menunjukkan tanda-tanda akan pergi meninggalkan mereka.
Tentu saja Ini begitu berat untuk mereka terima bahkan sampai kapanpun mereka belum siap.
"Kami akan menikah jika opa sudah sembuh dan menyaksikan kami menggunakan gaun pengantin yang cantik bersama pangeran kami tapi jika opa meminta sekarang kami tidak bisa opa,"
Menolak halus serta menjadikan permintaan opa Dio sebagai penyemangat untuk sembuh dan menyaksikan mereka tersenyum bahagia bersama pasangan masing-masing.
"Lagian kami belum memiliki kekasih opa Jadi siapa yang akan menjadi pasangan kami,"
Mengelak agar permintaan opa Dio bisa ditunda dan berharap opa Dio mau mengerti.
Bagaimana mungkin mereka menikah di saat apa Dio masih dirawat di rumah sakit dan itu adalah hal yang mustahil walau sebenarnya bisa dilakukan.
Bukankah mengadakan pernikahan itu, di mana semua anggota keluarga berkumpul dengan senyum penuh kebahagiaan bukan seperti sekarang di mana mereka sedang dalam masa bersedih.
Tidak mungkin bukan judul pernikahan mereka "tertawa di atas derita".
"Pemilik restoran di jalan X itu siapa, wakil CEO di perusahaan Y itu kekasih si mbak di rumah atau yang memiliki toko baju dekat antara sekolah dan kampus itu selingkuhan siapa?"
Mereka masing-masing mendengus kecil lantaran opa Dio tahu tentang kekasih mereka padahal mereka belum pernah memperkenalkan kepada keluarga mereka masing-masing.
Tapi opa Dio mengatakan secara lancar seperti sudah mengenal kekasih mereka masing-masing.
"Jangan bilang opa memata-matai kami selama ini?"
Tebaknya yang memiliki firasat ke arah sana dan jika benar berarti gerak-gerik mereka selalu dalam pantauan keluarga.
"Opa tidak pernah memata-matai kalian, hanya ingin melindungi dari jarak jauh,"
__ADS_1
Memang selama ini keluarga tidak pernah mengatakan jika mereka mengirimkan pengawal untuk mengawasi anak-anak mereka agar tidak terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan.
"Itu sama saja opa main mata-matai sama mengirim pengawal itu sama-sama tahu kegiatan kami serta dengan siapa kami bertemu, opa mulai nggak asik ah,"
Cemberut, walau mereka berada di luar rumah namun mereka selalu dalam pantauan serta keamanan keluarga mereka.
"Jadi bagaimana apakah permintaan apa bisa terpenuhi?"
"Apakah kami masih bisa menolak opa?"
Mencoba menawar untuk yang terakhir kalinya dan semoga saja berhasil.
"Kalian bisa menolak jika ingin melihat opa pergi dengan keinginan yang tidak terpenuhi,"
Jika sudah begini sudah bisa dipastikan keinginan opa Dio tidak bisa ditawar lagi.
Selesai berbincang mereka bertiga keluar dari ruangan itu setelah menemani opa Dio makan lalu membahas tentang pernikahan permintaan apa dia walau hanya melakukan akad nikah di rumah sakit.
\=\=\=\=\=
Ketiga calon pengantin itu sibuk mempersiapkan segala sesuatu yang akan digunakan untuk besok mulai dari pakaian hingga cincin pernikahan. Walaupun semua ini mendadak tapi mereka ingin memberikan hal yang berkesan untuk pasangan masing-masing apalagi ini merupakan sebuah acara sakral yang hanya akan dijalani sekali seumur hidup.
Mereka sangat serius mempersiapkan semuanya dalam waktu yang sangat singkat tapi tidak ingin ada kesalahan. Para orang tua pun meminta izin pada pihak rumah sakit untuk bisa mengadakan acara yang terkesan mendadak ini dengan menyewa aula rumah sakit yang biasa digunakan sebagai tempat pertemuan.
Setelah mendapat izin mereka mendekor sedikit ruangan itu agar ada kesan acara sakral di dalamnya tidak lupa mereka meletakkan kursi pelamin serta hiasannya yang akan digunakan untuk berfoto bersama besok.
"Yang mana yang bagus cincinnya sayang?"
Rasya dan Riska mengunjungi sebuah toko perhiasan di sebuah mall setelah membeli kebaya yang akan digunakan besok.
"Yang ini aja Bang yang simpel agar saat digunakan saat sekolah nggak begitu mencolok,"
Riska memilih cincin dengan ukiran sederhana agar bisa digunakan saat pergi ke sekolah dan dia nyaman serta puas atas cincin pilihannya.
Selesai membayar rahasia mengajak calon istrinya itu pakai untuk mengisi perut karena tadi belum sempat lantaran saat memilih kebaya mereka banyak menghabiskan waktu karena ada saja kurangnya kebaya itu di mata Rasya.
Bukan tidak bagus tapi dia tidak mau kebaya yang digunakan Riska besok terkesan seksi walau dia menggunakan hijab.
Memang pada zaman sekarang belum semua orang mengenakan hijab jadi para desainer masih banyak yang membuat kebaya dengan tampilan terbuka.
"Capek juga ya Bang!" Sekarang mereka sudah berada di sebuah restoran dan menunggu pesanan datang.
"Iya karena ini sangat mendadak bahkan ibu sama bapak saja kaget saat Abang mengatakan akan menikah besok,"
Orang tua mana yang tidak kaget jika anak mereka menikah sangat mendadak seperti ini bahkan mereka tidak memiliki persiapan apa-apa jadi untung saja mereka tidak terkena serangan jantung saking kagetnya.
Tapi setelah mendengar penjelasan Rasya orang tuanya mengerti dan memahami keadaan anak mereka jadi mengizinkan serta akan datang di acara sakral besok.
"Semoga besok berjalan dengan lancar ya Bang dan opa segera lekas sembuh,"
Harap Riska ingin opanya sembuh dan bisa berkumpul bersama mereka lagi. Seperti ada yang kurang karena opa Dio belum pulang ke rumah mereka.
"Iya semoga saja"
Makanan datang dan mereka makan dengan tenang bahkan Riska terlihat tidak bersemangat mungkin masih kepikiran opa Dio.
Pernikahan yang seperti ini sebenarnya jika orang banyak tahu bakal berpikir yang macam-macam dan yang pasti mereka akan menganggap jika telah terjadi sesuatu diantara mereka.
"Nanti setelah Riris selesai sekolah kita akan mengadakan resepsi,"
Rasya tidak ingin hanya ijab qabul apalagi itu dilaksanakan di rumah sakit jadi setelah Riska menyelesaikan sekolahnya dia akan memberikan resepsi untuk calon istrinya ini.
Biarlah akad nikah saya sederhana ini asal saya resepsi dia bisa memberikan kenangan terindah untuk Riska Riska.
"Riris nggak apa Bang jika nggak ada,"
Riska paham jika kekasihnya ini masih membutuhkan modal yang besar untuk mengembangkan usahanya jadi dia tidak mau kekasihnya memaksakan diri membuat resepsi yang akan menelan banyak biaya.
Cukup akad nikah saja sudah cukup baginya asal mereka memiliki hubungan yang sah dan tidak perlu was-was lagi saat berdua contohnya seperti sekarang.
"Riris tenang saja Abang sanggup kok membuat resepsi untuk Riris dan juga abang ingin memberikan kenangan indah yang hanya terjadi sekali seumur hidup kita, masa iya hanya ijab qobul saja tanpa resepsi,"
Rasya tetap ingin membuat resepsi setelah hari selesai sekolah karena jauh-jauh hari pun dia sudah merencanakan semua ini hanya saja akad nikahnya sangat mendadak jadi tidak bisa di satukan dengan resepsi.
Sejak awal dia juga sudah menabung untuk pernikahannya kelak bersama Riska jadi tidak akan menjadi beban yang begitu berat untuknya.
"Ayo abang antar pulang, istirahat yang banyak agar besok tampak segar dan nggak kelelahan,"
Mempersiapkan ini saja rasanya tenaga mereka terkuras habis padahal hanya membeli kebaya serta cincin.
Kelelahan bukan karena membeli itu tapi sangat mendadak dan juga permintaan ini sungguh membuat mereka sedikit syok karena tidak pernah kepikiran sebelumnya.
"Iya bang,"
Riska juga bangun dari duduknya setelah Rasya membayar makanan mereka lalu keduanya berjalan menuju parkiran.
Sepanjang perjalanan mereka membahas tentang acara besok serta rencana rencana kedepannya.
Keesokan harinya.
"Daddy nggak nyangka akan memiliki menantu secepat ini, padahal daddy berpikir bahwa Bang Raka yang akan menikah lebih dulu,"
Arka masih shock dengan permintaan papinya dan juga dia tidak menyangka jika anak bungsunya lah yang menikah lebih dulu.
Padahal dia masih menunggu jawaban Rasya atas permintaan dia untuk segera menghalalkan hubungannya dengan sang anak namun jalan itu dipermudah oleh permintaan papinya.
"Jadi daddy nggak rela Riris menikah secepat ini? atau daddy nggak tega melihat anak daddy yang jomblo ini nggak ada teman debatnya lagi karena ditinggal nikah sama Riris,"
Ucapan Riska mendapat cibiran sinis dari Raka karena nama dia juga dibawa-bawa sebagai makhluk jomblo yang belum memiliki pasangan sampai sekarang.
"Udah kalau mau nikah nikah aja sana nggak usah bawa-bawa Abang, nanti abang nikah setelah abang tamat kuliah,"
Entah mengapa Raka refleks saja berkata demikian dan tidak berpikir bagaimana efeknya kedepannya.
__ADS_1
"Jomblo aja sampai sekarang sok-sokan mau nikah tahun depan, palingan setelah Riris menikah Abang bakal kesepian karena nggak ada teman ribut lagi,"
Ledek Riska kepada Raka, sekarang mereka baru selesai melaksanakan salat Subuh dan masih berada di mushola rumahnya karena semalam orang tuanya pulang setelah mempersiapkan segala sesuatunya di rumah sakit dan opa Dio ditemani oleh papi Arga di rumah sakit.
"Nggak apa jomblo asal jomblo berkelas dan nanti yang akan menjadi istri Abang adalah perempuan beruntung karena dia akan menjadi urutan ketiga menempati posisi di hati abang,"
Balas Raka santai dan mungkin dia mengikuti jejak Arka yang mana akan menikah tanpa pacaran dulu seperti yang dialami oleh Riska karena adiknya ini sudah nanyain hubungan dua tahun bersama Rasya baru menikah sekarang.
"Kok nomor tiga sih Bang? Kenapa nggak nomor satu?"
Heran Riska karena biasanya laki-laki akan menempatkan kekasihnya atau istrinya berada di posisi nomor satu di hatinya tapi Raka malah menempatkan posisi nomor tiga.
"Sebagai pendatang baru dia harus menempati posisi yang masih kosong bukan menggantikan posisi yang sudah ada pemiliknya. Yang jelas nomor satu ditempati oleh mommy, yang nomor dua yaitu lo kecil dan yang ketiga baru istri Abang jadi ya nggak bisa protes kenapa nggak menempati posisi nomor satu,"
Riska mengangguk mengerti mendengar penjelasan dari Raka, dia paham sekarang jika posisi nomor satu bakal tetap diisi oleh orang tua baru setelah itu saudara.
Jadi sekuat apapun sebagai seorang istri meminta posisi nomor satu di hati suaminya maka semua itu tidak akan bisa terjadi.
Memang benar sebagai anak laki-laki akan menempatkan posisi seorang ibu nomor satu di hatinya sebagaimana seorang ibu juga akan menjadi cinta pertama anak laki-lakinya dan itu tidak bisa diganggu gugat.
Selesai sarapan dan mereka bersiap dari rumah karena mereka tidak mungkin membawa tukang rias ke rumah sakit jadi mereka akan pergi ke rumah sakit setelah semuanya rapi.
Sampai di rumah sakit mereka menuju ruangan yang telah disediakan dan saat masuk mereka sudah bisa melihat opa Dio sudah ada di sana bersama anggota keluarga lainnya.
"Akhirnya pengantin satu lagi datang,"
Memang Riska datang belakangan dan saat masuk kedua calon pengantin sudah ada di sana.
Penghulu yang dicari secara dadakan kemarin juga sudah datang dan sudah menempati posisi duduk di meja yang mana akan menjadi tempat akad nikah berlangsung.
"Baiklah untuk mempersingkat waktu lebih baik acara ini kita mulai sekarang,"
Pasangan pertama yang menikah duluan adalah anak papa Abra dan nama Nafiza.
Mereka duduk bersisian menghadap penghulu serta papa Abra yang ada di depannya. Tidak lama kemudian kata sah menggema dalam ruangan itu lalu diikuti oleh pasangan kedua dan ketiga.
Acara akad nikah itu berlangsung dengan lancar tanpa ada hambatan sama sekali.
"Nggak nyangka gue udah punya mantu aja,"
"Perasaan baru kemarin gue buat anak eh sekarang udah punya orang tua aja dan mungkin tahun depan udah punya cucu,"
"Kok gue tiba-tiba merasa nggak rela ya jangan lupa pas anak gadis gue yang masih kecil itu menikah,"
Para papa itu duduk berdampingan sambil memperhatikan ketika pengantin baru itu berdiri di ranjang pembaringan opa Dio.
Memandang dengan tatapan yang berbeda-beda dan juga setidaknya mereka lega karena anak mereka menikah dengan laki-laki yang mencintai anaknya.
"Terima kasih sudah mau menuruti keinginan opa ini, opa tau ini sangat mendadak dan terkesan buru-buru tapi entah mengapa opa ingin sekali melihat cucu cantik opah ini menikah dan sekarang keinginan itu sudah terwujud. Dan untuk cucu menantu opa, opa hanya meminta bahagiakan cucu opa melebihi opa membahagiakan mereka selama ini dan opa harap kalian lebih mementingkan keluarga daripada pekerjaan karena jika kita membuat hati seorang istri sedih atau tersakiti maka kekayaan sebanyak apapun tidak ada gunanya lagi karena tidak ada kebahagiaan di dalamnya maka perjuangan itu sia-sia.
Utamakan keluarga daripada urusan yang lain dan jangan pernah mengorbankan keluarga demi apapun karena kebahagiaan keluarga kita akan memperlancar rezeki yang kita punya.
Jika mereka kadang-kadang masih suka manja opa harap kalian memaklumi karena selama ini opa selalu memanjakan mereka bertiga dalam hal kasih sayang,"
"Untuk membahagiakan pasangan kita tidak selalu dalam hal materi bahkan perhatian kecil saja sudah bisa membuat pasangan kita bahagia dan juga jangan pernah meninggikan suara kalian di depan pasangan kalian karena hati wanita itu begitu rapuh serta perasa dan pesan terakhir opa jika suatu hari nanti kalian merasa tidak cocok lagi jangan pernah menyakiti cucu opa dan kalian hanya perlu mengembalikan mereka kepada kedua orang tuanya tanpa perlu menyakiti fisik ataupun batin,"
Opa Dio mengembangkan senyum bahagianya dan nampak jelas wajah berseri-seri yang dia tunjukkan.
Dia bahagia setidaknya sudah empat orang cucunya yang menikah hanya tinggal anak papa Abra serta anak Arka.
Opa Dio memperhatikan satu persatu wajah pasangan baru ini dan dia merekam di dalam ingatannya.
Nampak jelas raut wajah kebahagiaan di wajah tua itu.
Sebelum dia meminta cucunya untuk menikah, opa Dio sudah memastikan terlebih dahulu jika cucu menantunya ini berasal dari keluarga baik-baik dan juga orang baik-baik juga.
Dia tidak ingin cucunya jatuh ke tangan orang yang hanya memiliki tujuan tertentu dan itu sudah jelas akan menyakiti hati cucunya.
Tapi sekarang dia lega dan bisa melepaskan cucunya kepada orang lain.
"Kami berjanji akan menyayangi istri kami setulus hati, membahagiakan mereka serta melimpahkan kasih sayang dan perhatian. Kami juga akan memprioritaskan pasangan kami dari apapun karena kami menikahinya untuk dibahagiakan bukan untuk disakiti. Dan doakan hubungan kami semoga selalu dilimpahi keberkahan serta kami bisa membimbing keluarga kecil kami selalu berada di dalam lindungannya,"
Mewakili mereka bertiga apa yang ingin disampaikan dan mereka sudah berjanji akan membahagiakan istri mereka dan tidak akan menyakitinya.
"Sekarang opa lega dan jika pun opa pergi opa pergi dengan tenang, karena kalian sudah berada di tangan orang yang tepat,''
Opa Dio terus tersenyum dan memperhatikan cucu serta cucu menantunya satu persatu.
"Opa ini ngomong apa sih? Kami yakin opa bakal sembuh dan akan berkumpul bersama kami lagi Jadi kami nggak ingin mendengar opa bicara seperti itu seolah-olah opa ingin pergi jauh,"
''kami percaya opa akan sembuh jadi oppa Jangan pernah pesimis karena doa kami selalu menyertai opa dan berkumpulĀ bersama kami lagi di rumah,"
"Opa Kenapa sih bicara seperti orang yang sedang putus asa saja, kami sudah memenuhi keinginan opa dan sekarang opa harus memenuhi keinginan kami juga yaitu dengan kesembuhan opa,"
Menggenggam tangan tua itu dengan lembut lalu mengusapnya. Mereka tidak suka opa Dio bicara demikian.
"Iya opa janji dan sekarang opa ingin istirahat dulu,"
Setelah mengatakan itu opa Dio menutup matanya dengan nafas teratur.
Mereka menunggu beberapa saat kemudian baru setelahnya mau membubarkan diri menuju tempat duduk para orang tua yang sudah memperhatikan sejak tadi.
Orang tua mereka tidak hanya mengganggu obrolan anak dan menantunya jadi hanya jadi penonton saja tadi.
Baru setelah itu mereka melakukan sungkeman kecil serta meminta doa restu kepada kedua orang tua mereka agar hubungan mereka dilimpahi keberkahan serta kebahagiaan dan dijauhi dari segala macam masalah.
Setelah semua itu selesai mereka membubarkan diri dan juga opa Dio sudah dibawa ke ruangannya kembali.
Para menantu laki-laki ikut ke rumah orang tua istrinya karena mereka belum membicarakan di mana mereka akan tinggal setelah menikah karena acara yang mendadak begini Jadi untuk sementara waktu mereka akan tinggal bergantian di rumah orang tua masing-masing.
\=\=\=\=\=
Bersambung š
__ADS_1