
Sampai di sebuah restoran...
"Ayo," Raka membukakan pintu untuk Farah lalu mereka berjalan bergandengan tangan menuju meja yang sebelumnya sudah dipesan oleh laki-laki itu.
Sambil melangkah Farah melihat tangannya yang sedang digandeng atau lebih tepatnya digenggam oleh tangan itu.
Kedua pipi Farah menghangat dan dadanya berdebar sebab dia tidak menyangka bahwa sekarang dia bisa merasakan masa-masa indah bersama orang tercintanya.
**Semoga saja Ini bukan mimpi dan saat terbangun nanti kami masih bersama selamanya**
"Farah kamu di sini? Jika jodoh ngga kemana ya?"
Baik Farah ataupun Raka menghentikan langkah mereka saat mendengar suara yang menyebut nama Farah apalagi Raka begitu penasaran sosok seperti apa yang begitu lancang mengucapkan kalimat yang sangat tidak dia sukai.
"Kamu," Farah berbalik lalu melihat lelaki tampan yang berdiri tidak jauh dari dia dan Raka.
Farah kaget ternyata yang menyapa adalah mantan Bos tempat dia bekerja dulu setelah keluar dari kantor suaminya.
"Iya saya, jika memang jodoh pasti akan ketemu ya," dia bicara dengan percaya dirinya tanpa menghiraukan Raka yang berdiri di sebelah Farah apalagi mereka sedang bergandengan tangan.
Apakah dia tidak melihat keberadaan Farah atau hanya fokus kepada gadis cantik itu saja dan menganggap Raka adalah sosok tembus pandang yang tidak kelihatan keberadaannya.
"Jaga bicara anda," Raka menyela obrolan itu karena dia tidak suka apalagi melihat jika laki-laki itu masih menyimpan rasa untuk istrinya.
Raka tahu laki-laki ini pernah menyatakan perasaan kepada istrinya namun Farah menolak apalagi dia lebih memilih mempertahankan hubungan yang ada daripada memulai dengan orang yang baru.
"Anda siapa? Berani ikut campur urusan kami," apakah perlu diberitahu bahwa laki-laki yang berdiri di samping Farah adalah suami sahnya.
__ADS_1
"Kamu bertanya siapa saya? Apakah masih butuh jawaban," Raka mengangkat tangan mereka yang bergandengan dan tidak lupa dia merengkuh pinggang mungil istrinya hingga mereka berdua berdiri tanpa jarak.
"Atau anda masih belum percaya," dan tidak lupa Raka melabuhkan kecupan di pipi istrinya yang mana perbuatan dia itu menjadi pusat perhatian apalagi pengunjung restoran sedang ramai.
"Siapa tau Farah hanya saudara anda," tidak percaya dan mengelak bahwa apa yang dia lihat barusan hanyalah sebuah interaksi antara saudara yang saling melindungi dari jerat laki-laki buaya yang memanfaatkannya.
"Apakah ada saudara yang seperti ini,,,cup," bahkan kini Raka berani mengecup bibir Farah di depan laki-laki itu dan tentu saja banyak pasang mata yang menyaksikan pertemuan dua buah benda kenyal itu.
"Liat saja saya tidak akan menyerah untuk mendapatkan Farah," laki-laki itu pergi meninggalkan pasangan Raka dan Farah dengan membawa kekesalan di hatinya apalagi Farah sama sekali tidak bersuara bahkan membela dirinya.
Padahal saat tadi melihat keberadaan Farah di sana dia sangat berharap bisa mendekati Farah lagi dan meyakinkan gadis itu bahwa cinta yang dimilikinya tulus.
"Ayo kita makan," Raka menggandeng Farah menuju meja yang sudah dipesan tadi lalu dia langsung memesan makanan.
Setelah pelayan mencatat menu yang mereka pesan lalu meninggalkan meja itu.
"Maaf," Farah menunduk sedih dengan buncahan penyesalan di hatinya sebab semua ini terjadi karena dia pernah memberi kesempatan untuk laki-laki lain masuk ke dalam hubungan mereka.
"Makasih bang," Farah lega setidaknya suaminya tidak mungungkit ataupun mempermasalahkan kejadian barusan.
"Stop panggil abang terus, tugas pertama mu sebagai istri adalah memikirkan nama panggilan sayang," Raka merasa risih karena Farah terus memanggil dia Abang seolah-olah mereka tidak memiliki hubungan apapun seperti dulu.
Raka ingin Farah memiliki panggilan khusus untuk dia agar dia merasa spesial dengan panggilan yang diberikan apalagi mereka ini pasangan suami istri bukan pasangan adik kakak ataupun pertemanan seperti dulu.
Padahal panggilan itu sebenarnya wajar tetapi Raka tidak ingin Farah memanggil dia sama seperti adiknya memanggil.
Lagi pula kita harus memiliki panggilan spesial untuk orang yang spesial bukan.
__ADS_1
"Tapi," Farah sedikit merasa keberatan tentang tugas pertama yang diberikan oleh Raka walaupun sebenarnya tidaklah berat hanya saja dia sudah biasa memang di Raka dengan panggilan Abang.
"Nggak ada penolakan atau abang antar balik nih nggak usah jalan-jalan!" Ancam Raka sebab dia ingin di panggil beda.
"Boleh kasih waktu dulu ngga?" Bukannya apa tetapi Farah membutuhkan waktu untuk menemukan panggilan yang pas untuk suaminya.
"Boleh, waktunya Sampai sore atau malam nanti," Farah menganga di tempatnya sebab tidak menyangka bahwa waktu yang diberikan begitu pendek dan masih dalam hari yang sama.
"Nggak bisa di perpanjang waktunya?"
"Nanti malam atau sekarang?" Farah memajukan bibirnya lantaran Raka memberi pilihan yang sama-sama berat menurutnya.
Padahal dia ingin setidaknya memberi waktu beberapa hari bukan beberapa jam.
"Iya nanti malam," lebih baik Farah menjawab nanti malam daripada sekarang karena dia belum menemukan panggilan yang cocok untuk Raka.
"Bagus, itu baru istri yang soleha," lalu tidak lama kemudian makanan datang dan mereka makan dengan tenang apalagi Farah masih sedikit canggung karena ini pertama kali mereka makan bersama setelah menikah selama 1 tahun lamanya.
Tetapi tidak untuk Raka karena ini adalah momen yang dia tumbuh selama ini walaupun dia bisa saja memaksa Farah saat itu tetapi Raka lebih memilih untuk menunggu agar kesannya mereka sama-sama menikmati.
Di tempat lain, tepatnya di rumah Rasya.
"Abang kok jelek sekarang," Rasya memang tidak pergi ke toko lantaran dilarang oleh istrinya jadi seharian ini dia hanya menemani istrinya yang sedang malas-malasan bahkan sudah siang seperti ini masih berbaring di atas ranjang dengan menggunakan piyama tidurnya.
"Jelek dari mana? Ganteng gini kok," Rasya tidak terima dikatakan jelek sebab semua itu adalah fitnah yang tidak memiliki bukti sama sekali.
"Kayaknya mata kamu bermasalah deh sayang," tambah Rasya lagi.
__ADS_1
"Pokoknya abang jelek, hhuuaaa," Riska bahkan sampai menangis lantaran Rasya membantah ucapannya.
"Abang jelek, abang jahat," Riska masih menangis yang malah membuat Rasya heran sama istri kecilnya ini.