BUKAN CINTA PENGGANTI

BUKAN CINTA PENGGANTI
Chapter 129


__ADS_3

Meninggal kan sejenak pasangan yang lagi melepas rindu itu tidak perlu di intip nanti ke pengen kan ribet jika tidak mempunyai pasangan halal atau suami belum pulang jadi mau berduel dengan siapa.


Hubungan Dean dan Via sudah semakin dekat saja sejak kejadian malam di mana Dean tertidur di balkon hotel tanpa selimut.


Apakah kejadian ini bisa di katakan anugerah atau keberuntungan untuk Dean hingga dia bisa tau perasaan Via terhadap nya.


Dean semakin menunjukkan rasa cintanya pada Via dan dengan senang hati menyambut semua itu sebab sudah tidak meragukan lagi perasaan Dean terhadap dirinya.


Bahkan setiap ada pertemuan di sana Dean tidak malu memperkenalkan Via sebagai calon istri nya bukan sebagai pacar agar jika ada yang berniat untuk mendekat di harapkan mundur teratur.


Sepertinya siang ini.


"Selamat siang tuan," Sekarang mereka lagi mengadakan pertemuan di sebuah restoran mewah di sebuah hotel tidak jauh dari tempat Dean dan Via menginap.


"Selamat siang tuan Dean silahkan duduk. Kenapa tuan Raka tidak ikut?" Ini bukan kali pertama Raka tidak ikut dalam pertemuan mereka biasanya Raka selalu datang hingga menghadiri semua pertemuan yang ada.


"Maaf tuan, pak Raka harus segera kembali karena tidak bisa meninggalkan istrinya yang lagi hamil muda," Jelas Dean agar kliennya tidak merasa tidak di hargai karena cuma mengirim kan perwakilan perusahaan untuk pertemuan ini.


"Oh tidak apa tuan Dean, saya maklum kalau ibu hamil tidak mau jauh dari suaminya," Tersenyum simpul karena dia juga sudah menikah dan punya anak jadi tau bagaimana repotnya menghadapi sifat ibu hamil yang gampang mudah berubah mood.


"Kalau boleh tau siapa nona cantik ini?" Karena untuk pertama kali mengajak seorang wanita dalam pertemuan jadi wajar akan menjadi tanda.


"Kenalkan Via calon istri saya," Setelah merasa cukup basa-basi mereka memulai membahas kerja sama yang sudah lama terjalin dan pertemuan kali ini membahas kelanjutan kerja sama mereka dan sepakat untuk di perpanjang dengan proyek baru.


Perusahaan mereka saling menguntungkan jadi tidak salah jika kerja sama di lanjutkan dan sayang jika harus selesai begitu saja.


Pertemuan ini berlangsung selama satu jam lebih dan di tutup dengan makan siang bersama.


Setelah nya klien itu pamit lebih dulu.


Tugas Via di sana bukan sekedar menemani tapi juga mencatat hal penting dalam pertemuan ini.


"Akhirnya selesai juga sayang," Panggilan Dean pada Via sudah berubah jadi lebih romantis lagi.


Dean sepakat mengubah nama panggilan agar hubungan mereka terasa hangat dan dekat.


Untuk Via lebih memilih memanggil Dean dengan sebutan nama karena belum menemukan panggilan yang cocok dan Dean menerima keputusan Via.


Selama hubungan mereka belum sah masih bisa di tolerir.


"Iya, ternyata melelahkan juga ya," Keluh Via yang harus duduk diam sambil mencatat segala hal penting untuk jadi laporan nanti.


Dia yang biasa kerja sambil ngobrol atau sedikit berjalan untuk meregangkan otot agar tidak terasa kaku kini harus bisa bertahan tanpa berdiri.


Benar-benar sebuah ujian.


"Ini baru beberapa hari tapi kamu sudah mengeluh gimana kalau tiap hari," Mengambil tisu lalu mengelap titik keringat di jidat Via.


Walau ruang ber-AC tapi entah kenapa Via berkeringat.


Pipi Via memerah jika di perlakukan seromantis ini oleh pasangan sendiri di tambah dadanya bertalu-talu serasa ingin lepas dari tempatnya.


Ah kenapa punya pacar tampan sangat mendebarkan begini.


"Mungkin aku mengirim surat pengunduran diri," Balas Via yang sudah mulai nyaman berinteraksi dengan Dean dalam jarak sedekat ini.


Tapi jantung nya yang belum bisa aman jika lebih lama dengan jarak sedekat ini.


Bisa tidak ini jantung di ajak kompromi dan diam saat di dekati.


Kalau sampai Dean dengar kan malu sendiri, ketahuan kalau lagi deg-degan.


Bisa di ledek yang ada.


"Sekarang kita mau kemana sebelum pulang ke tanah air?" Via menatap untuk memastikan kalau pendengaran nya tidak salah dengar.


Sudah mau pulang saja perasaan baru kemarin sampai, berdebat dan berbaikan.


"Pulang," Mengulang kata pulang dan terasa berat untuk melakukan


"Iya pulang sayang kan nggak mungkin kita honeymoon dulu sebelum nikah, mau ngapain coba?" Ah kenapa jadi menggemaskan gini kekasih nya ini.


Apa dia tidak rela di ajak pulang dan lebih betah berlama-lama berduaan di sini.


Dean mau saja tapi takutnya jika kelamaan akan beda cerita, bisa saja mereka pulang nanti sudah bertiga.


"Oh iya," Via merutuki dirinya yang sangat ketara kalau tidak mau pulang.


'lo mikirin apa sih Via?" Bodoh sekali otaknya ini kenapa sampai tidak ingat jika sekarang bukan di tanah air.


Apa terlalu terlena bersama Dean dan lupa jika ada keluarga yang menunggu kepulangan nya.


"Nanti kita kesini lagi untuk honeymoon,"


"Ayo kita jalan-jalan," Menggandeng tangan Via keluar dari ruangan itu.


Via hanya bisa menurut karena sudah kepalang malu dengan pemikiran sendiri.


Dean mengajak Via menuju sebuah pusat perbelanjaan untuk membeli sesuatu.


"Kita ngapain kesini?" Heran Via saat mobil sudah berhenti di parkiran.


"Berkebun sayang, ya belanja lah," Menggandeng tangan Via memasuki mall yang sedang ramai pengunjung karena ini akhir pekan di tambah mall ini yang terbesar di kota itu.


Jadi wajar banyak orang datang berkunjung ke sana.

__ADS_1


"Ayo pilih cincin yang kamu suka untuk pertunanganan kita nanti," Tujuan pertama Dean adalah toko perhiasan untuk membeli cincin pertunangan dan acara nya akan Dean lakukan setelah pulang dari sana.


Jadi segala yang bisa di persiapan bakal mulai di lakukan.


"Ini beneran jadi di lamar?" Dean semakin gemas dengan tingkah kekasihnya seolah ucapan Dean tempo hari hanya main-main.


Kalau begini menggemaskan Dean ingin mengurung Via di dalam kamar saja.


"Atau kamu mau kita langsung nikah aja?" Dean tidak masalah jika langsung nikah justru itu lebih baik jadi tidak perlu menunggu terlalu lama.


Kemana perginya kekasih dewasanya ini.


Masa harus di bicarakan berulang kali baru percaya.


Hubungan itu bukan sebuah mainan jadi sekali iya maka tetap iya sampai nanti.


"Nggak," Via langsung memilih cincin sesuai keinginannya karena sejak masuk ke sana dia sudah menemukan pilihan yang bagus dan kalau soal harga itu urusan Dean.


Karena dia yang mengajak kesana berarti punya uang banyak untuk membayar.


Dan bagi Dean itu tidak masalah selama itu Via dan kekasihnya senang.


Sudah mulai bucin ya gini, mungkin jika Via minta di belikan mall ini ada di kabulkan tapi yang jadi pertanyaan apakah pemilik mall mau menjual mall nya.


"Udah," Pelayan toko membungkus cincin pilihan Via lalu Dean membayar.


"Ayo ke tempat selanjutnya," Menenteng paper bag di tangan sebelah kiri lalu tangan kanan menggandeng Via agar tidak terpisah.


Tapi percayalah ini hanya saja sebuah alasan karena baru-baru ini Dean bisa memegang tangan Via.


Biasanya jalan seperti orang lagi berantem.


"Sekarang pilih yang kamu suka," Tempat selanjutnya adalah toko pakaian lengkap dengan tas, sepatu dan segala keperluan wanita.


Percayalah jika sudah masuk sana maka bisa khilaf belanja asal saldo cukup.


"Tapi," Sanggah Via merasa tidak enak karena merasa seperti wanita matre yang memanfaatkan kekasih sendiri.


"Nggak ada bantahan, anggap ini sebagai seserahan nanti," Lagi, Via hanya bisa menurut masuk ke dalam dan Dean memilih duduk sambil menunggu Via selesai.


Saat memilih baju Via menunjukkan pada Dean apakah baju pilihan nya cocok atau tidak agar bisa di ganti jika tidak cocok.


Begitu juga dengan sepatu,tas serta aksesoris lainnya.


"Itu juga cantik sayang," Tunjuk Dean pada sebuah tas mini simpel tapi percayalah kalau harganya tidak semini ukuran nya.


Pelayan toko mengambil tas yang di tunjuk Dean lalu memberikan pada Via.


"Ini," Menunjukkan tas itu pada Dean.


Jika dia melihat bon belanjaan itu pasti jantung nya tidak akan atau ginjal menjerit.


Setelah merasa cukup kini giliran Dean untuk membayar.


Para wanita pengunjung di sana merasa iri melihat belanjaan Via yang tidak murah itu di tambah Dean dengan gagahnya berjalan ke kasir untuk membayar.


Ingin seperti Via yang di belanja kan secara puas di tambah penampilan Dean seperti bos menambah rasa iri di hati mereka.


"Udah ya jangan belanja lagi," Keluh Via merasa tidak enak karena banyak menghabiskan uang Dean dalam waktu singkat karena tau semuanya tidak ada yang murah.


"Kenapa? Bukannya wanita suka belanja?" Heran Dean baru beberapa di belanjakan sudah mengeluh.


Apa tidak senang belanja gratis di tambah semua barang mahal?. Fikir Dean.


"Bukan nggak senang hanya merasa belum pantas aja, aku ini baru kekasih kamu bukan istri yang bebas membelanjakan uang suami," Jelas Via yang tidak mau di cap sebagai wanita matre.


"Bilang kek kalau mau segera di nikahkan," Balas Dean santai menanggapi ucapan Via barusan hingga gadis cantik itu terperangah kaget.


Bukan seperti itu maksudnya kenapa malah dia yang di tuduh tidak sabar untuk di nikahi.


Tolong jelaskan pada lelaki tampan ini apa maksud Via barusan.


"Aku nggak ngomong gitu," Sanggah Via karena tidak mau di cap sebagai perempuan gatal yang ngebet minta di nikahi.


Maksud Via merasa tidak pantas menghasilkan uang yang bukan miliknya.


"Tapi dari segi penyampaian terdengar seperti itu, tenang dari sini langsung aku lamar sebulan setelah nya kita nikah," Sepertinya disini Dean lah yang ngebet ingin nikah bukan Via tapi membalikkan keadaan seolah Via yang tidak sabaran.


Sangat cocok dia bersahabat dengan Raka karena suka mengorbankan pujaan hati demi tujuan tercapai.


"Udah jangan bahas nikah terus ntar aku minta nikah sekarang emang mau?" VIa berjalan mendahului Dean karena tidak kuat membahas nikah-nikah yang membuat otaknya traveling.


Catat dia wanita dewasa yang sudah saatnya menikah dan jika ada orang yang berkata demikian maka dia juga ingin terlebih kekasih sendiri yang mengatakan maka keinginan itu semakin besar.


Sahabatnya sudah menikah bahkan sedang hamil maka dia pasti akan menerima dengan senang hati pinangan pujaan hati.


Kemarin Farah menikah saja dia sudah tinggal selangkah dan sekarang lagi hamil maka Via merasa tertinggal jauh.


"Maka dengan senang hati aku kabulkan sayang," Menyusul langkah Via yang sudah dahulu beberapa langkah tapi Dean tidak kesulitan mengimbangi karena langkah Via yang kecil jadi imbang dengan langkah Dean yang lebar.


"Jangan bercanda terus kenapa sih, aku lagi nggak pengen becanda.


Kamu tau kan keinginan aku menikah sudah sejak lama dan sekarang kamu bahas itu berasa di kasih angin surga tau nggak," Kesal Via yang tidak tau harus apa? Karena ini jauh dari keluarga andai dekat mungkin Via sudah menyeret Dean ke depan orang tuanya minta di lamar.


Biar lah di kata tidak sabaran atau ganjen tapi yang jelas di usia sekarang sudah waktunya menikah atau lagi sudah punya anak satu.

__ADS_1


"Aku serius sayang, pulang dari sini aku langsung lamar kamu kalau perlu setelah lamaran besoknya kita nikah," Memegang tangan Via dengan lembut tau kekasihnya ingin menikah di tambah Dean juga sudah siap jadi tidak perlu di pertanyakan lagi apakah sudah siap atau belum.


Memandang penuh kelembutan wajah cantik itu dan memancarkan keseriusan di mata Dean.


Keinginan Dean untuk menikahi dirinya bukan candaan semata tapi memang tulus dari hati.


Dean tidak ingin lama pacaran yang akan membuang banyak waktu tapi tidak tau tujuan.


Jika benar serius ayo nikah dan jangan cuma permainkan anak orang tak baik.


"Deal ya setelah lamaran langsung nikah, awas kalau ingkar aku potong itu punya simpanan," Ancam Via sambil melihat kebawah arah celana Dean berada tepat di balik itu tersembunyi sesuatu yang di sebut Via simpanan.


Kalau kebanyakan lelaki menyebut sebagai junior atau adik kecil beda dengan Via menyebut dengan simpanan.


Ya karena selalu di simpan mungkin.


Dean mengikuti arah pandang Via seketika bulu kuduknya merinding.


"Jangan dong sayang kalau di potong nanti kamu nggak kebagian," Mendelik tidak suka saat Via bermain dengan simpanan nya.


Itu aset masa depan dan juga aset penerus generasi mereka jika di potong lalu siapa nanti yang memanggil mereka dengan sebutan papa mama karena tidak memiliki hasil.


"Makanya jangan cuma janji doang, kalau nggak ada itu kan bisa cari yang lain," Santai Via berjalan dengan tangan nya di gandeng Dean.


Kemana perginya samua belanjaan Via, pastinya sudah Dean berikan pada orang suruhan yang selalu mengikuti mereka dan meminta mereka membawa belanjaan Via menuju hotel.


"Jangan asal ngomong sayang kalau aku hukum kamu mau?" Dean tidak suka mendengar kata cari yang lain, sungguh sampai kapan pun Dean tidak akan rela Via di miliki orang lain apalagi dia masih ada yakinlah orang itu segera hilang dari dunia ini.


Apa yang sudah menjadi miliknya tidak boleh di miliki orang lain bahkan jika boleh melirik tidak boleh karena sudah ada hak paten milik Dean.


"Kamu sangka aku anak sekolah apa? Pakai di hukum segala," Via tidak konek maksud hukuman dari Dean.


Otak Via yang kelewat polos atau memang belum pernah terkontaminasi dengan hal-hal berbau demikian.


"Hukuman ala orang dewasa sayang," Membisikkan sesuatu di telinga Via hingga wajah cantik itu memerah karena membayangkan hukuman yang bakal di dapat.


Hukuman nya adalah jika anak sekolah di suruh berdiri selama belajar beda hukuman ala orang dewasa yaitu begadang semalaman itu pun bagi yang sudah menikah bagi yang belum harap bersabar.


"Jangan mesum ya," Dengus Via tidak suka bisikan setan terlalu fulgar itu.


Bisa ya mengatakan seperti orang tanpa beban.


"Kalau kita sudah menikah kamu bakal suka aku mesumin bahkan bakal minta duluan," Tersenyum penuh kemenangan bisa menggoda Via hingga gadis itu terdiam lalu memandang Dean dengan tatapan tajam.


Darah Via naik seketika dan dada Via berdebar hebat.


**Kok gue bisa punya kekasih mesum gini? Dan sialnya gua udah cinta sama dia, sial nggak sih ini hidup?**


Via mulai sekarang harus bisa bersabar dan menahan diri agar tidak berkata kasar pada Dean.


Mengingat sebentar lagi hubungan mereka bukan sekedar sepasang kekasih bisa saja langsung jadi sepasang suami istri.


Via harus mengumpulkan kesabaran mulai sekarang selain mengumpulkan tenaga untuk meladeni Dean nanti.


"Mimpi aja dulu," Balas Via meledak Dean karena sejak menjalani hubungan Dean tidak pernah melampaui batas menyentuh Via selain pegangan tangan saja.


Ya gimana mau lebih jika Via bisa buas kapan saja.


Vi itu seperti harimau kalau di usik bakal menyerang orang yang mengusik nya.


"Udah jangan bahas itu dulu, sekarang nonton yuk aku udah lama nggak nonton," Ajak Via membawa ke lantai di mana gedung bioskop berada.


Dean hanya menurut untuk menonton, jangankan menonton membelanjakan Via dalam jumlah banyak Dean tidak keberatan sama sekali.


Apapun akan di lakukan untuk menyenangkan Vi pujaan hatinya.


"Tunggu di sini biar aku beli tiket sama cemilan," Menuntun Via duduk di kursi yang sudah di sediakan oleh pihak bioskop sambil menunggu film yang di tonton di mainkan.


Via menurut sambil memperhatikan Dean ikut mengantri di barisan orang membeli tiket.


Tersenyum manis karena sifat Dean semakin kesini semakin manis dan romantis bagaimana Via tidak cepat luluh coba dengan berondong nya ini.


Pada akhirnya Via mengikuti jejak sahabat nya menjalani hubungan dengan singkat lalu menikah.


Tapi usia bukan sebagai patokan, usia itu hanya sebuah angka yang tidak perlu menjadi patokan untuk menjalin hubungan.


Jika merasa cocok dan suka sama suka maka tidak ada larangan untuk menjalani hubungan.


"Ayo," Film yang di pilih Dean mendapat pemutaran cepat jadi tidak perlu menunggu lebih lama dan mereka segera masuk ruangan bioskop dengan menggandeng pinggang Via takut ketinggalan atau hanya modus Dean saja ingin merasakan lebih dekat dengan Vya.


**Hangat dan nyaman** Senang Dean saat merasakan kehangatan yang di salurkan dari tubuh Via dan Dean sangat menikmati kesempatan yang ada.


"Besok pagi kita pulang ya," Duduk di kursi yang tertera di tiket lalu menyuruh Via duduk di sebelah yang kebetulan juga perempuan jadi Dean tidak perlu kwatir kekasih cantiknya di dekati laki-laki lain.


"Iya," Patuh Via karena dia juga sudah kangen dengan keluarganya dan juga tidak sabar mengasih kabar kalau dia akan di lamar oleh Dean kekasih tampan nya.


Film segera di putar dan mereka menikmati film yang di pilih ternyata adalah film romantis jadi sepanjang film di putar mereka hanyut dalam film yang di tonton.


"Mau kemana lagi," Sekarang mereka sudah selesai menonton film dan bergandengan tangan menyusuri mall sebelum pulang ke hotel.


"Aku udah capek, balik aja ya," Keluh Via karena merasa capek sudah menghabiskan waktu seharian ini menemani Dean melakukan beberapa pertemuan lalu jalan-jalan sudah sewajarnya merasa capek.


Dean menyetujui ajakan Vi karena tidak ingin Via terlalu capek hingga jatuh sakit.


Sebisa mungkin Dean menjaga Vi agar terhindar dari sakit.

__ADS_1


Lelaki sejati menjaga wanita nya dengan sebaik mungkin tanpa harus menyakiti.


__ADS_2