
POV Raka.
Perasaan datang dengan sendirinya tanpa di minta tanpa di undang.
Namun jika perasaan itu hanya untuk menghancurkan atau merusak suatu hubungan yang sudah terjalin lama , apakah perasaan itu harus tetap di pertahankan.
Memiliki rasa pada seseorang adalah hak semua orang dan tidak bisa memilih kepada siapa hati ini akan berlabuh.
Aku sadar rasa yang aku miliki akan menyakiti satu orang namun jika aku menerima dia maka aku menyakiti diri sendiri dan juga dia
Sebab menerima dia karena tidak ingin di sakiti namun aku mengorbankan perasaan sendiri.
Aku menyukai adiknya namun kakaknya menyukai aku.
Jika seandainya perasaan aku berbalas terhadap adiknya apakah hubungan dua saudari itu akan tetap sama seperti dulu saat tau kakaknya tersakiti di sini atau dia akan merelakan aku untuk kakaknya.
Namun aku tidak akan menerima itu, bukan aku egois hanya saja perasaan tidak bisa di paksa pada seseorang.
Jika dia mengalah maka aku lebih baik pergi dan meninggalkan semua perasaan yang pernah ada dan mencari pelabuhan lain.
Bukan tidak memikirkan perasaan dia hanya saja aku juga punya perasaan dan ingin aku perjuangkan.
Jika yang di inginkan menyerah kan aku pada orang lain walau itu saudari sendiri, aku tidak bisa.
Jika pun aku mau maka akan saling menyakiti dan aku tidak mau itu terjadi.
Aku akan memilih pergi dan mencari hati yang benar-benar mau menerima aku apa adanya dan tidak menyerahkan aku pada orang lain dengan alasan demi kebahagiaan bersama.
Mana ada menyerahkan orang yang kita sayangi akan mendapat kebahagiaan.
Aku masih ingat dengan obrolan ku dengan om Dean saat aku datang ke ruangan nya siang itu.
"Eh calon menantu om datang, kenapa kangen ya sama calon mertua,"
Sambut om Dean saat aku di persilahkan masuk dan aku duduk di kursi depan om Dean yang hanya berbatas meja kerjanya saja.
"Eh emang udah di resmikan om?"
Canda ku saat sudah mendaratkan bokong di kursi empuk itu.
Aku melihat wajah tampan yang lagi duduk di depan ku ini dengan teliti.
Pantas jika anaknya cantik dan berhasil membuat aku terpesona dalam kecantikan yang di miliki hanya saja orang yang di jodohkan dengan mu bukan orang yang aku inginkan.
Itu yang aku pusingkan saat ini.
Di jodohkan dengan kakaknya sedangkan aku menyukai adiknya.
Apakah ini adil namun aku merasa aku tidak bersalah di sini sebab rasa tidak bisa di paksa pada siapa akan berlabuh.
"Mau di percepat ya? Atau udah nggak sabar?,"
Goda om Dean padaku.
Aku hanya mengulas senyum bingung mau menjawab apa.
Aku kesini untuk mencari teman yang bisa di ajak bicara dari pada di ruangan daddy yang membahas hal membuat aku aku kesal.
Daddy aku kok gitu amat ya.
"Sepertinya nggak deh om,"
Jawab ku ambigu hingga aku dapat melihat gurat bingung di wajah tampan yang akan memasuki usia kepala lima itu.
Ya aku memperkirakan usia daddy dan om Dean sudah mau masuk kepala lima.
Tapi garis wajah mereka belum menunjukkan usia segitu.
Masih muda di usia paruh baya.
Aku juga ingin seperti mereka yang awet muda.
"Kenapa nggak jadi? Om ngerti kok jika kalian masih sekolah tapi nggak usah buru-buru juga,"
Ah bukan ini maksudnya aku.
Maksud ku nggak jadi sama Farah sebab aku menyukai Sarah, adiknya.
Apakah udah saatnya aku bercerita atau mengasih tau jika yang aku sukai itu adalah Sarah bukan Farah.
Jika aku mengatakan sekarang apakah berdampak baik atau bisa saja om Dean sama tente Vya bisa perlahan memberi pengertian pada Farah jika dia harus menyadari jika perasaan tidak bisa di paksa.
Jika perasaan aku buat Sarah bukan untuk dirinya.
Ya, mungkin aku harus berterus terang agar perasaan ku bisa tenang jiga dan tidak selalu di teror dengan di jodohkan bersama Farah.
"Bukan begitu om tapi aku udah memiliki wanita yang aku sukai,"
Jujur ku sudah mengambil kesimpulan jika aku akan memberi tau atau menjelaskan jika aku tidak bisa menerima Farah sebagai pasangan ku kelak.
Walau pun ku tau, aku belum tentu berjodoh dengan Sarah namun untuk sekarang hati ku sudah Sarah miliki tanpa gadis itu ketahui.
"Maksud kamu, kamu udah memiliki gadis yang kamu sukai begitu? Siapa gadis beruntung itu atau Farah ada yang kurang dari anak om ini?"
Cerca om Dean kaget, aku mengatakan jika aku sudah memiliki gadis yang aku suka.
Namun bukannya jujur lebih baik dari pada diam seolah memberi jalan seolah aku menerima semua ini.
Akan sangat terlihat kejam jika aku dia dan tanpa ada kata penolakan.
Aku tidak mau terkesan memberi harapan.
Ntar aku di sangka pemberi harapan palsu lagi ibarat kata trennya PHP.
"Siapa gadis itu? Apa dia lebih segalanya dari bidadari om ini?"
Aku saja belum sempat menjawab dan om Dean malah semakin penasaran.
Aku seperti tersangka yang sedang di introgasi saja.
Aku menggaruk kepala yang tidak gatal.
"Jawab Ka, jangan garuk kepala kayak orang kutuan begini,"
Hah, apa kata om Dean aku kutuan! Yang bener saja.
Jangankan kutuan melihat bentuk kutu saja aku tidak pernah
Benar-benar ajaib jalan pikiran calon mertua ku ini.
Memang jika orang menggaruk kepala itu kutuan semua apa? Nggak juga kali.
"Kalau aku kasih tau, aku harap om jangan kaget atau teriak,"
Aku harus mewanti-wanti agar tidak ada suara teriakan om Dean yang bakal membuat aku kaget.
"Iya om janji nggak bakal teriak,"
Tapi aku merasa kurang yakin ya, tapi nggak apa deh lebih baik aku kasih tau sekarang.
"Cepat katakan siapa gadis itu dan om ingin melihat nanti.
Apakah dia lebih baik dari anak om,"
Nah kan aku belum bicara malah di potong lagi.
"Gadis itu juga anak om tapi orangnya bukan Farah,"
Ucap ku cepat agar tidak di desak lagi.
Om Dean ini jika sudah dalam mode kepo, sudah seperti emak-emak yang belanja di tukang sayur minta diskon.
__ADS_1
"Maksud kamu, kamu menyukai Sarah,"
Teriak om Dean, suaranya memenuhi seisi ruangan ini.
Padahal aku sudah mengatakan jangan kaget dan berteriak eh malah berteriak juga.
Apa aku kurang jelas mengatakan untuk jangan teriak.
Untung calon papa mertua jika tidak heh udah aku jitak juga ini om-om.
"Iya om,"
Balas ku dengan masih memegang dada karena kaget atas insiden teriakan barusan.
Selama aku kenal om Dean ini pertama kalinya aku mendengar teriakkan om Dean udah ngalahin orang hutan.
Ada ya orang kayak om Dean dan jika tuhan mengizinkan maka akan menjadi papa mertua lagi.
"Kamu tau kan jika kamu menyukai Sarah maka Farah yang akan terluka.
Apa nggak bisa mencoba untuk menerima Farah sebab dia sudah sangat menyukai kamu Raka,"
Aku terhenyak di tempat.
Apa maksudnya om Dean mengatakan hal demikian.
Aku di suruh menyukai dan menerima orang yang tidak ada di hati ku.
Aku bukan tidak mau namun beberapa waktu setelah di beri tau akan di jodohkan dengan Farah aku sudah mencoba namun hati tidak bisa di paksa.
Sekali lagi hati seseorang tidak bisa di paksa untuk menyukai orang tidak bisa masuk ke dalam hati kita.
Aku tidak menjawab ucapan om Dean.
Permintaan om Dean sangat sulit untuk aku lakukan atau sampai kapan pun nggak bakal bisa aku lakukan.
Bukan tidak mau mencoba hanya saja sudah di coba hati ku tetap menolak.
Jadi bukan salah ku juga.
Saat ku rasa sudah tidak ada lagi yang akan di bicarakan aku pamit untuk pulang saja dari pada membahas atau memaksa sesuatu tidak pada tempatnya.
Aku berhak untuk memperjuangkan kebahagiaan aku sendiri.
\=\=\=\=\=
"Kamu tau kan jika Farah menyukai Raka sebegitu nya,"
Mulai Vya mengawali cerita yang sebenarnya.
"Iya aku tau kan sejak dulu kamu yang kekeh ingin menjodohkan mereka semua,"
Iya Khira masih ingat betul kejadian itu walau sudah berlalu belasan tahun lalu.
Namun keinginan sahabat nya masih seperti dulu.
"Iya aku tau, dan kamu juga tau kan jika yang Raka sukai itu adalah Sarah,"
Tambah Vya lagi mengasih tau dari cerita Dean.
Raka yang menyukai Sarah.
"Iya aku tau kok, si abang yang ngasih tau sendiri,"
Khira tidak kaget lagi soal ucapan Vya.
Dia sudah tau sejak awal jika yang Raka sukai adalah Sarah.
Sebagai orang tua Khira hanya ingin yang terbaik untuk anaknya.
Tidak ingin memaksa anaknya menerima orang yang tidak di sukai.
Menyuruh Raka menerima Farah sama saja menjerumuskan anaknya pada jurang kesengsaraan juga tekanan batin setiap hari.
"Jadi aku harus apa sekarang? Aku nggak bisa melihat salah satu anak ku tersakiti,"
Vya frustasi memikirkan solusi terbaik untuk masalah yang di awali belasan tahun silam dan sekarang menuai hasil.
Bukan hasil yang baik tapi hasil yang memusingkan.
Hasil yang tidak sesuai sama ekspetasi atau tidak sesuai yang di harapkan.
Hasil yang membuat kepala sakit tujuh keliling.
Huh kenapa jadi begini.
Kan maksud hati ingin memulihkan jodoh yang baik untuk anaknya namun malah menemukan jalan berlubang penuh kubangan air yang jika tidak hati-hati saat melewati bisa mengakibatkan kita terjatuh ke dalam sana.
Padahal keinginan itu akan terwujud juga walau bukan dengan Farah.
Tapi kan jika Raka bersama Sarah akan ada perang saudara.
Tapi semoga saja jika saat itu tiba Farah bisa menerima jika dia bukan di ciptakan untuk Raka.
Jodoh tidak ada yang tau pada siapa akan berlabuh dan pada siapa hati akan bertaut.
"Jangan kan kamu, aku aja juga ikut pusing.
Sebagai orang tua aku pasti ikut merasakan bagaimana rasanya menjadi kamu.
Dua-duanya anak kamu yang nggak bisa di bela salah satunya.
Jika satunya di bela maka yang satu lagi akan merasa di anak tirikan.
Tapi di sini aku juga nggak bisa memaksa Raka menerima Farah bukan, sebagai orang tua aku juga ingin anak ku bahagia.
Jadi aku nggak bisa berbuat banyak dan aku cuma bisa berdoa supaya jika saat itu tiba aku cuma bisa berharap jika Farah bisa menerima semua dengan lapang dada,"
Jelas Khira yang tidak bisa berbuat banyak, sejak Raka mengatakan menyukai Sarah dari pada Farah maka saat itu juga Khira tidak bisa berbuat banyak karena tidak bisa menyuruh Raka untuk merubah perasaan.
Perasaan hak lumrah bagi setiap umat yang bernama manusia.
Tidak bisa menentukan pada siapa hati akan berlabuh.
Tidak bisa mengatur jika kita ingin dia jodoh kita.
Tidak bisa mengatakan aku ingin dia saja padahal garis jodoh kita buka dia.
Jadi soal perasaan sudah merupakan ketetapan mutlak.
Jika perasaan bisa di rubah dan di kendalikan maka tidak ada yang namanya sakit hati dan dendam di hati.
Jika perasaan bisa di atur maka rasa benci di hati tidak tertanam hingga menjadi dendam yang tidak berkesudahan.
"Aku juga ngerti kok Ra, semua ini juga berawal dari aku sejak dulu.
Seharusnya aku mendengar kan apa kata kamu dulu.
Aku yang kekeh ingin menjodohkan anak-anak sejak masih dalam kandungan.
Aku yang terkesan memaksa sejak awal padahal kamu sudah memberi tau aku kalau masalah jodoh anak-anak kita nggak usah ikut campur dan sekarang aku merasa sedikit menyesal karena ucapan ku dulu.
Sekarang aku sama Dean mulai mencari jarak agar Farah nggak sering bertemu Raka salah satunya mencarikan guru les untuk Farah kan kamu selama ini tau Farah suka menjadikan alasan belajar sama Raka agar bisa bertemu makanya kami mencari kan guru les agar Farah nggak terlalu sering bertemu Raka.
Semoga rencana kami ini mulai ada hasilnya sebab aku cuma bisa berharap dengan cara ini Farah secara perlahan mulai bisa melupakan Raka dan mendapatkan lelaki yang bisa menerima dia dengan apa adanya,"
Jelas Vya panjang lebar karena dia tau sejak awal keinginan itu belum tentu sesuai harapan dan sekarang terbukti dengan Raka yang menyukai Sarah.
Masih segar di ingatan Vya saat pertama kali Khira menolak usulan itu dan Vya kekeh juga terbukti apa yang di tanam dulu sekarang sudah memanen hasil.
Menghela nafas dalam lalu di hembuskan secara perlahan.
__ADS_1
"Apa Farah nanti di kuliah kan tempat neneknya aja ya?"
Usul Vya, orang tuanya kini memilih menghabiskan hari tua di kampung halamannya dengan suasana desa yang menyejukkan untuk orang lanjut usia.
Sejak kunjungan terakhir Vya kala itu orang tua Vya memilih menetap di sana di bandingkan kota yang banyak akan polusi udara.
Jadi jika Farah kuliah di sana sudah otomatis Farah akan jarang bertemu Raka dan akan menemukan lelaki baru di sana, semoga saja bisa menembus hati Farah dan di terima dengan baik oleh gadis itu.
"Tapi nggak gitu juga kali Vya memisahkan mereka, ini cuma cinta anak remaja dan belum tentu juga akan sampai akhir.
Dan jangan lupa jodoh dan perasaan udah ada yang mengendalikan.
Siapa tau nanti kita udah susah payah memisahkan mereka eh tau-tau nya menjalin atau memiliki rasa di antara mereka.
Jadi cukup ikuti alur saja.
Dalam urusan percintaan sudah pasti ada yang namanya patah hati.
Kamu lupa sama kisah aku bagaimana dan seperti apa aku kala itu.
Jadi jangan jadikan semua ini beban,"
Jika dalam urusan percintaan tidak ada yang namanya patah hati maka belum sempurna mereka menjalani urusan percintaan.
Kita akan di hadapkan apa yang namanya patah hati dan bersedih.
Itu kita alami agar saat menemukan kebahagiaan kita tau cara mempertahankan sebuah hubungan dan menganggap hubungan itu bukan sebuah hal mainan atau berfikir semua akan baik-baik saja.
Hubungan pasti ada yang namanya di uji juga cobaan.
Cobaan itu macam-macam dan tergantung kita bagaimana cara menyikapi dan mengatasi sebuah masalah.
"Iya juga ya Ra, aku masih ingat betul bagaimana kamu sama Reno menjalin hubungan cukup lama tapi yang nikahin malah Arka.
Ah kisah kamu patut aku jadikan acuan.
Menjalin hubungan lama bukan berarti orang itu jodoh kita.
Menikah belum tentu akan awet akan selama nya.
Kadang yang lebih menyedihkan adalah menjaga jodoh orang seperti yang kamu dan Reno alami.
Eh kamu nggak ada niatan besanan sama mantan calon suami kan? Secara anak Reno dekat juga sama Riska,"
Goda Vya mencoba menenangkan hati setelah mendengar penjelasan Khira yang ada benarnya itu.
Menyukai seseorang sekarang bukan berarti akan awet selamanya.
Bisa saja hanya perasaan semu seperti perasaan anak remaja pada umumnya.
Berkaca pada kisah Khira dan Reno yang menjalin hubungan cukup lama tidak menjamin mereka akan bersama.
Bahkan di hari dan jam mendekati ijab qobul Reno malah tidak datang dan di gantikan oleh Arka.
Siapa sangka suami pengganti Khira saat itu mengantarkan Khira pada kebahagiaan yang sebenarnya sekarang.
Terbukti rumah tangga mereka baik-baik saja cuma ada masalah kecil sebagai pemanis.
"Kalau aku pribadi nggak ada masalah jika Riska dekat sama Rafa ya Vya.
Itu hak mereka.
Berbesan sama bang Reno aku nggak masalah, urusan kami di masa lalu sudah selesai dan kamu juga tau hubungan kita makin baik tiap hari.
Jangan cuma karena bang Reno calon suami aku yang nggak jadi hingga aku melarang anak-anak untuk dekat.
Nggak gitu konsepnya.
Asal anak-anak saling suka aku nggak masalah.
Kan sejak awal aku bilang jika masalah hati dan jodoh adalah hak paten nggak bisa di ganggu gugat.
Berbesan sama bang Reno bukan hal buruk kok.
Dia dari keluarga baik-baik,"
Khira tidak masalah anaknya dekat sama siapa sekali pun itu sama anak sang mantan tidak masalah sama sekali.
Kan hati tidak ada yang tau akan pada siapa akan berlabuh.
Jangan sama anak mantan sama anak musuh pun jika itu jodoh mereka kita bisa apa.
Bukannya berdamai dengan masa lalu itu lebih baik, bermusuhan lama-lama akan hanya menambah penyakit hati.
Beda jika mereka saling jatuh cinta beda agama maka toleransi itu tidak ada.
Cinta beda agama itu bukan sebuah kesalahan tapi jangan meninggalkan sesuatu yang lama demi yang baru.
Maksudnya begini cinta beda agama adalah meninggalkan agama yang sudah lama kita anut kita tinggalkan hanya untuk orang baru.
Bukan salah hanya saja semua itu bukan hal bagus.
Jika dia bisa meninggalkan Tuhannya demi kita bukan hal aneh jika suatu hari nanti dia akan melakukan hal sama juga.
"Jadi nggak masalah besanan sama bang Reno?"
Khira mengangguk kan kepala tanda setuju.
Besanan juga masih sesama manusia juga tak ada yang perlu di masalahkan.
"Tapi iya juga ya besanan sama mantan nggak ada salahnya juga,"
Sambung Vya yang membenarkan ucapan Khira.
Mantan juga manusia bukan makhluk gaib yang kasat mata.
"Apa kamu juga ada niat besanan sama mantan?"
Timpal Khira menaik turunkan alis menggoda Vya.
Kan sama-sama punya mantan dan tidak menutup kemungkinan jika anak mereka akan berteman atau saling menyimpan rasa.
"Seperti kata kamu tadi, besanan sama mantan nggak ada salahnya,"
Mereka berdua tertawa bersama saat membahas besanan sama mantan.
Akan jadi apa nantinya jika hal itu benar-benar terjadi.
Apakah saat pertemuan itu nanti mereka akan bernostalgia dulu sebelum membahas persoalan anak-anak mereka atau langsung pada tujuan mereka berkumpul.
Ah pasti akan banyak nostalgia mengenang masa-masa yang pernah indah di masanya.
Tapi semoga saja tidak.
"Pasti kalau di buat film akan berjudul ' mantan ku besan ku' ah aneh ya judulnya tapi menarik juga,"
Jika membahas masa lalu tidak akan pernah ada habisnya.
Masa lalu itu adalah masa yang paling panjang di antara masa yang ada.
Masa lalu itu berbagai macam bentuk dan jalan nya.
Juga banyak cerita yang ada di dalamnya baik manis atau pahit.
Masa lalu cukup di jadikan kenangan dan juga acuan di masa depan agar bisa berubah ke arah yang lebih baik lagi.
Tidak ada orang yang tidak memiliki masa lalu dan ada juga seseorang yang tidak memiliki masa depan.
Jadi jangan cemaskan akan suatu hal yang belum terjadi.
\=\=\=\=\=
__ADS_1
Bersambung