BUKAN CINTA PENGGANTI

BUKAN CINTA PENGGANTI
Honeymoon Selesai


__ADS_3

Hari berlalu begitu cepat, perjalanan honeymoon yang hampir berjalan sepuluh hari itu harus berakhir hari ini.


Perjalanan yang sangat mengesankan juga menyenangkan walau ada sedikit insiden kurang mengenakkan namun tidak berpengaruh besar pada pasangan yang sedang di tumbuhi kembang bunga dalam dada itu.


Kejadian itu di anggap sebagai penguat hubungan mereka agar percaya satu sama lain, bukan di jadikan sebagai alasan berselisih paham dan berakhir pertengkaran.


Datangnya orang ketiga dalam hubungan kita sebagai salah satu ujian apakah kita bisa melewati semua itu atau tidak.


Jangan jadikan orang ketiga sebagai ajang saling menyalahkan dan mencari cara buat menyalahkan pasangan dan berakhir dengan mencari pelampiasan di luar sana.


Orang ketiga datang bukan tanpa alasan, semua sudah ada yang mengatur bahkan terencana agar kita bisa saling ada untuk pasangan masing-masing.


Sekarang mereka sudah berkemas bersiap untuk pergi ke bandara dan pulang untuk meleburkan rindu pada orang rumah.


Jauh dari orang tua sangat menyesakkan dada sebab harus menahan namun di balik itu dia juga bahagia.


"Yuk sayang,"


Menggandeng tangan Farah keluar kamar menuju lobby, di sana mobil sudah menunggu siap mengantarkan pasangan itu menuju bandara dan sebagai hari terakhir mereka bersama setelah sekian lama selama sepuluh hari dan hari perpisahan itu juga ada.


"Makasih by, love you,"


Bisik Farah lirih saat mereka sudah berada dalam mobil yang melaju pelan.


Raka terkekeh pelan, hampir setiap saat ucapan cinta itu Farah lontarkan mengungkapkan betapa dia bahagia di ajak honeymoon dan kejutan demi kejutan disana yang di dapatkan.


"Kalau di kantongin udah tumpah kayaknya sayang,"


Namun tak ayal Raka bahagia melihat raut bahagia itu.


Selama di sana fokus Raka hanya membahagiakan istrinya dan bagaimana caranya senyum cantik itu terus terbit di bibir candunya.


"Ya pindahin pada kantong sebelah by,"


Ada-ada saja jawaban istrinya, bisa gitu di pindahkan? Bagaimana kalau kantong cuma satu masukin kresek gitu?.


Mendusel pada dada itu sambil menunggu sampai bandara jangan lupa tangan Raka seperti biasa sudah nangkring atas kepala Farah.


Tangan itu secara alami bergerak sendiri melakukan tugasnya.


Tidak lama mobil memasuki kawasan bandara dan langsung menuju pesawat yang sudah siap mengantar kembali pada negara sebelumnya.


Turun sambil mengulurkan tangan pada Farah yang belum turun dan jalan bersama masuk pesawat dan menuju kamar istirahat.


Perjalanan masih panjang dan mereka memilih berbaring dari pada duduk yang bisa mengakibatkan pegal pada pinggang.


"Tidur sayang,"


Pinta Raka saat sudah melepaskan hijab itu saat mereka hanya berdua.


Meletakkan pada sandaran kursi dan melepas blezer Khira juga hingga menyisakan baju tanpa lengan yang di kenakan.

__ADS_1


"Nggak usah by belum ngantuk,"


Tolak Farah memilih bersandar pada dipan ranjang dengan menyelimuti badan hingga pinggang.


"Mau tidur sendiri atau abang tidurin?"


Pertanyaan horor itu membuat Farah mendelik pada Raka.


Bisa-bisanya membahas itu saat pesawat baru lepas landas dan tadi mereka juga sudah melakukan saat selesai subuh.


Heran stamina suaminya tidak pernah habis sejak malam pertama mereka dan membuat Farah bergadang hampir tiap malam.


"Itu sih mau kamu by,"


Berbaring dan menarik selimut hingga dada menyisakan kepala saja.


Bukan tidak mau rasa lelah tadi masih ada masa mau di tambah.


Kan masih ada waktu nanti dan hari lainnya.


Kenapa suaminya bertambah mesum saat sudah mendapat haknya sebagai suami.


"Emang kamu nggak mau yang?"


Menaik turunkan alisnya menggoda Farah dan ikut berbaring setelah membuka baju dan menyisakan daleman pas badan.


Masuk dalam selimut yang sama dan menarik Farah ke dalam pelukannya.


Balas Farah menatap dalam Raka dan mencium pipi Raka dan masuk ke dada Raka sebelum di balas lebih.


"Berarti mau,"


Mengusap punggung Farah lembut lalu memasukkan tangan melalui celah baju tanpa lengan Farah dan menemukan sesuatu yang empuk dan pas untuk di pegang tangannya.


"Iya mau tidur aja by,"


Lirih Farah memejamkan mata dan menghirup aroma tubuh menenangkan itu dan siap mengantarkan menuju alam mimpi.


Raka membiarkan tertidur untuk sekarang namun tidak janji untuk nanti apakah dia masih bisa menahan atau tidak.


Wajar hasratnya terus on saat bersama sebab Farah tidak pernah menolak untuk melayani dan Raka juga tidak pernah memaksa, tau kapan harus bergerak dan istirahat.


Dan beberapa jam pesawat melewati gumpalan awan dan Raka sudah terbangun lebih dulu dengan tangan masih di posisi sebelum tidur, tapi bedanya sekarang sudah mulai bekerja sebagai mana mestinya.


"Hm HM,"


Farah bergumam dalam tidurnya dan melenguh pelan belum sadar apa yang terjadi dan melanjutkan tidurnya lagi.


Raka tidak habis akal dan terus bergerak menyingkap baju Farah hingga terbuka menyisakan bra renda rendah yang di gunakan Farah.


Pemandangan yang begitu indah di depan mata.

__ADS_1


Mengusap pelan dua gundukan itu dan mencium lembut hingga menyisakan jejak kepemilikan disana.


"Sayang dia udah bangun,"


Bisik Raka pelan di telinga Farah dan menggigit telinga itu pelan.


Masih tidak bergeming akan aksi Raka hingga Farah menarik celana lejing yang digunakan istrinya hingga menampakkan ****** ***** yang senada dengan bra itu.


"Sayang jangan tidur sendiri, ajak juga dia,"


Mendusel leher jenjang itu dengan sesekali meninggalkan jejak, ciuman itu turun menuju belahan dada meninggalkan jejak lagi lalu terus turun hingga perut rata itu.


"Hm by,"


Kesadaran Farah sudah mulai tertarik walau belum sepenuhnya, terbukti dengan matanya masih tertutup dan merasa ini mimpi.


"Nggak mau menikmati bersama,"


Melepaskan sisa kain penutup tubuh Farah di balik selimut tebal yang membalut tubuh mereka berdua.


Farah tidak menggunakan apapun di balik selimut ulah tangan nakal Raka.


Melakukan terus menggelitik semua titik sensitif Farah hingga sang empu perlahan membuka mata melihat wajah Raka begitu dekat.


"Udah sampai by?"


Serak Farah mencoba duduk namun ditahan Raka agar tetap berbaring.


"Belum, kan belum mulai,"


Seringai Raka lalu meremas gundukan itu hingga Farah tersadar bahwa dia tidak memakai baju.


"By apa yang kamu lakukan?"


Kaget Farah saat sudah tidak mengenakan baju lagi lalu melihat ke dalam selimut. Ternyata benar tidak ada lagi baju yang melekat di badannya.


Kapan dia membuka baju ku?' pekik Farah dalam hati, kenapa dia tidak sadar sama sekali? Dia cuma merasa mimpi dan ternyata bukan mimpi.


"Belum melakukan apapun yang, sekarang kita mulai ya,"


Naik ke tubuh Farah siap melakukan hal yang bisa membuat mereka berdua terbang kelangit ketujuh tanpa harus terbang meninggalkan bumi.


Apalah daya Farah jika sudah seperti ini, mau menolak juga tidak bisa jika baju saja sudah tidak di gunakan.


Tapi bukan terpaksa juga melakukan bersama suaminya sebab semua hal yang menyenangkan suami malah di balas pahala.


Dengan semangat Raka memulai dan mulai terdengar suara ******* serta rintihan nikmat yang Farah keluarkan melalui bibir candu itu.


Perjalanan pulang mereka habiskan waktu saling memberikan kehangatan serta kepuasan bersama.


Dan mereka sama sekali tidak keluar kamar untuk sekedar santai menikmati perjalanan sebab yang ini tidak kalah nikmat.

__ADS_1


Untuk makan tinggal di pesan saja dan melanjutkan lagi hingga mereka sama-sama kelelahan namun terlihat wajah bahagia pada pasangan itu.


__ADS_2