
Setelah drama yang di buat Farah dan Raka menjelaskan bahwa tidak ada orang ketiga dalam rumah tangga mereka.
Farah juga merasa lega bahwa semua itu hanya mimpi saja, tapi rasanya sungguh sangat nyata.
Kini di rumah besar bak istana itu seorang perempuan masih betah di alam mimpi karena merasa dirinya betah berlama-lama berkelana di alam mimpi.
Perempuan cantik itu masih menutup mata dengan betah. Matahari sudah mulai tinggi atau bisa di katakan hari sudah mulai siang bahkan melewati jam sarapan pagi yang paling telat.
Di kamar mewah itu sinar matahari dengan gigih memasuki tirai jendela agar mengusik perempuan cantik itu agar bangun karena bukan waktu untuk masih tidur dan untuk tidur siang juga belum waktunya.
Jika saja matahari memiliki tangan mungkin sudah sedari tadi menyibakkan gorden itu hingga cahayanya bisa masuk dan membangunkan seseorang yang masih betah menutup mata itu.
Bahkan para asisten rumah tangga tidak ada yang berani membangun kan atau sekedar mengetuk pintu untuk menyuruh sarapan.
Entah kenapa dia mulai menunjukkan pergerakan lalu dengan perlahan membuka mata indah itu.
"HM," Lenguhan itu terdengar pelan saat mata itu mengerjap pelan.
Kesadarannya belum pulih masih berusaha menarik kesadaran dari alam mimpi.
"Udah jam berapa ini?" Bergumam pelan setelah duduk bersandar di ranjang lalu mengedarkan pandangan ke seluruh kamar yang tampak sepi tanda tidak ada orang lain selain dirinya sekarang.
Hingga pandangannya berhenti pada jam dinding yang sudah menunjukkan waktu siang.
"Hah ya ampun udah jam sebelas siang," Kagetnya saat melihat jarum pendek sudah berada di angka sebelas dan jarum panjang di angka dua.
"Kenapa aku bisa ketiduran separah ini?" Memukul pelan kepala sendiri. Merasa malu dengan sikapnya yang sudah keterlaluan.
Mengingat kejadian tadi pagi di bangunkan lalu wudhu dan shalat setelah itu tidak ingat apa-apa lagi karena sudah ketiduran.
Yang dia ingat setelah shalat belum melepas mukena dan masih duduk di sajadah. Sudah dapat dipastikan suaminya lah yang memindahkan ke ranjang.
Merutuki diri sendiri karena tidak melayani kebutuhan suaminya pagi ini termasuk sarapan.
"Maaf by," Sesal Farah yang merasa jadi istri durhaka abai akan tugas sebagai istri.
Tapi entah mengapa semalam dia menyediakan baju kantor Raka.
Itu pertanda atau bukan tapi Farah tiba-tiba melakukan itu.
"Aku bikin malu aja," Berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri karena sudah merasa gerah, tadi pagi juga belum mandi.
Mengguyur badan langsing itu di bawah shower untuk menyegarkan diri.
Tidak berapa lama dia keluar kamar mandi dengan selembar handuk untuk menutupi **** ***** saja.
"Aku kenapa ya sampai ketiduran seperti tadi?" Masih belum mengerti dengan dirinya pagi ini, tidak seperti biasa namun tidak bisa menemukan jawaban yang pas.
Otaknya terus berfikir sambil menyisir rambut yang basah itu.
"Hubby marah nggak ya aku ketiduran seperti tadi?" Takut suaminya marah walau selama ini tidak pernah marah namun tidak menutup kemungkinan tidak akan marah.
Orang baik pasti memiliki sisi lain juga yang tidak banyak orang tau tapi selama mereka menikah jangan kan marah meninggikan suara sedikitpun tidak pernah.
Setelah merasa rapi dan menggunakan kerudung dia keluar kamar untuk mengisi perut yang sudah meronta minta di isi.
Perlahan menuruni tangga satu persatu, tujuannya sekarang adalah dapur.
"Bik," Panggil Farah saat melihat kepala pelayan melintas dekat dia berjalan.
__ADS_1
"Iya nona," Menghampiri majikannya yang sudah segar setelah bangun dan mandi.
"Hubby udah ke kantor ya bik?" Sudah tau kemana suaminya pergi namun ingin memastikan lagi.
"Iya nona, den Raka berpesan jangan membangun kan nona dan membiarkan nona istirahat," Jelas bibik saat Raka sebelum berangkat kerja yang tidak tega membangun kan tidur nyenyak istrinya.
"Makasih bik, bibik masak apa aku lapar?" Ini kali pertama dia menanyakan bibik masak apa hari ini, biasanya dia memasak sendiri.
"Masak makanan kesukaan nona, ayo bibik antar ke dapur," Mereka berdua berjalan menuju dapur, Farah duduk di kursi tempat dia biasa dan bibik mengambil masakan yang di simpan tidak lupa di panaskan lagi.
"Silahkan nona,"
Menyajikan makanan ke atas meja lalu menyiapkan air minum.
"Makasih bik, bibik sini ikut makan," Ajak dia yang merasa tidak enak makan sendiri.
"Tidak apa nona, bibik masih kenyang,"
Tolak halus bibik karena memang belum merasa lapar dan hanya menemani dia makan.
Farah makan dengan tenang sambil fikirannya mengarah pada suaminya.
Memikirkan suaminya sarapan pagi apa? Berangkat kerja jam berapa? Masih banyak lagi isi kepala kepalanya yang belum menemukan jawaban.
Ya.
Makan dengan keadaan badan di rumah dan fikiran jauh berada di kantor, bukan memikirkan kerjaan tapi memikirkan suaminya yang tidak di urus tadi pagi.
"Makasih ya bik, aku mau ke taman belakang dulu," Bangkit dari kursi sambil membawa piring bekas makan, jangan sangka bibik akan melarang dia hanya membereskan sisa makanan lalu menyimpan lagi.
Berjalan menuju taman bunga dan buah yang ada di belakang bangunan megah itu lalu memilih duduk di atas ayunan di bawah pohon.
"Kok hubby nggak ada ngajarin?" Melihat hp yang sepi notif, apa ini perasaan saja atau memang Raka tidak ada menghubungi sama sekali?
"Apa hubby marah aku ketiduran tadi?" Masih memikirkan kemarahan suaminya yang tidak beralasan padahal kenyataannya malah gemas dengan tingkah Farah.
Kadang orang suka berfikir negatif terhadap orang lain.
Takut melakukan kesalahan.
"Hubungi nggak ya?" Masih menimang akan menghubungi atau tidak karena takut mengganggu tapi kalau tidak jadi gelisah sendiri.
Begini kan serba salah.
"Hubungi aja lah dari pada penasaran," Mencari nomor suaminya dan di hubungi tidak berapa lama sudah di angkat.
"Assalamu'alaikum sayang,"
**Suaranya nggak ada kedengaran marah, apa aku terlalu jauh berfikir** gumam Farah saat mendengar suara Raka seperti biasa dalam telpon.
"Wa'alaikumsalam by," Balas dia yang masih tidak percaya suaminya tidak marah tapi bukan mengharapkan juga.
"Sayang nya abang udah bangun uhm? Gimana nyenyak tidurnya?"
**Masih sempat menanyakan kenyenyakan tidur ku, apa ini wajar atau kenapa aku berharap di marahi karena lalai akan tugas**
"Maaf by aku ketiduran tadi, tapi beneran aku nggak sengaja," Dia memang tidak tau kenapa sampai melakukan itu.
Seumur belum pernah juga namun tadi seperti ada lem di matanya.
__ADS_1
"Nggak apa sayang akumaklum kok, gimana sekarang udah makan?" Perhatiannya tidak berkurang walau tidak diperhatikan tadi pagi.
**Perhatiannya tidak kurang, ah jadi makin cinta**
"Udah by baru juga selesai, hubby udah makan?"
*Iya aku makan sambil memikirkan dirimu suami ku yang sarapan apa tadi pagi**
"Bentar lagi sayang istirahat," Padahal di kantor tidak ada kerja cuma mendengar curhatan orang yang lagi jatuh cinta.
Ya walaupun mendengar tetap butuh tenaga juga.
"Mau aku bawakan makan siang by?" Anggap sebagai penebus kesalahan tadi pagi membawakan makan siang.
"Nggak usah sayang, hari ini kamu khusus di rumah istirahat aja ya jangan melakukan apa pun ok," Mau melakukan apa juga jika semua sudah memegang kerja masing-masing sampai mencabut rumput dalam pot bunga sudah ada orangnya saking lengkap pelayan.
"Maaf ya by," Merasa tidak enak, suaminya baik sekali.
"Minta maaf lagi aku pulang buat nyium itu bibir," Apakah boleh itu di anggap sebagai ancaman atau suatu keinginan saat ini.
"Mau," Rengek Farah yang malah meladeni ke mesuman suaminya itu. Lagian istri mana yang mau menolak di cium suami coba.
"Jangan mancing yang, lupa semalam belum dapat jatah,"
Bukan mengungkit hanya saja jika di pancing terus siapa yang bakal tahan di goda pasangan halal.
"Ya udah pulang sini aku tunggu, kita buat siang terik gini makin panas," Tidak tau kah perempuan cantik ini kalau di seberang sana suaminya sudah belingsatan menahan sesuatu.
"Jangan mulai yang, baik-baik di rumah aki kerja dulu buat istri aku yang cantik ini untuk beli berlian, assalamu'alaikum," Segera mematikan duluan sambungan telepon itu sebelum obrolan yang mulai tidak sehat merembes kian jauh dan alhasil dia meninggalkan kerjaan demi kegiatan yang jauh lebih penting dan tidak bisa di tunda.
"Wa'alaikumsalam, baru di gituin langsung on. Emang jiwa muda nggak bisa bohong," Kekeh Farah saat melihat layar hp sudah mati, niat banget mengerjai suami sendiri namun di balik itu dia juga senang Raka tidak marah sama sekali dan masih bisa di ajak bercanda.
Masih tertawa mendengar suara suaminya yang berubah saat di goda menandakan kalau dia sudah terbawa suasana.
Sangat mudah di pancing namun sulit di hentikan seperti itulah Raka.
Beruntung orang nya lagi di kantor kalau tidak bisa habis Farah di siang panas ini.
Ting...
"Mama,"
Melihat pesan chat yang di kirim mamanya namun belum di buka dengan segera xia buka.
\=Suami mu datang kerumah tadi pagi dan kamu belum bangun. Kamu nggak lagi berbadan dua kan Ra?\=
Dada Farah bergemuruh membaca pesan teks itu.
Segala pemikiran muncul di kepalanya dan segala kemungkinan dia fikirkan termasuk suaminya.
Kenapa sampai menceritakan ini pada sang mama apalagi membahas soal anak.
Padahal selama ini mereka tidak ada membahas ini dan Raka terkesan santai.
Apa Farah lupa kalau suaminya sudah sangat menantikan kehadiran seorang anak.
Tapi kenapa bukan pada dirinya dia bahas dan malah kepada mamanya.
Apa dia yang terlalu terbuai dengan kasih sayang suaminya sehingga lupa menanyakan keinginan itu.
__ADS_1