
"Untung bos dan juga sahabat kalau enggak udah gue pites itu orang," Gerutu Dean sepanjang jalan menuju ruangan Via berada.
Dia harus segera menyampaikan namun itu sudah mengurus cuti Via selama pergi.
Siapa yang bakal membantah jika sudah Dean bertindak.
Seharusnya Dean mengasih tau Via dulu baru mengajukan cuti untuk gadis itu namun dengan percaya diri dia bertindak sesuka hati.
Semoga Dean tidak kecewa.
"Via," Panggil Dean saat sudah berdiri di pintu ruangan Via bekerja.
Yang di panggil menoleh lalu menyerngit heran karena Dean datang di jam kerja dan belum masuk waktu istirahat.
Dengan langkah malas Via berjalan mendekat.
**Mau apalagi ini orang eh pacar baru maksudnya**
"Ada apa?" Berjalan sedikit menjauh dari sana agar tidak ada yang mendengar.
Hubungan mereka belum ada yang tau termasuk Farah sahabatnya.
"Nanti sore ikut aku ya," Ajak Dean yang sudah yakin Via tidak bakal menolak.
"Kemana?" Sore masih lama dan ini baru beberapa jam bekerja, masa mau bahas untuk sore aja.
"Ke luar negeri temani aku kerja," Kasih tau Dean.
"Ngapain? Itu bukan bidang aku dan juga nggak mudah cuti mendadak," Ini sudah pasti Via menolak, tidak tau saja kalau Dean sudah mengurus semuanya hanya tinggal menyuruh Via bersiap membawa baju ganti selama di sana.
"Semua udah aku urus, sekarang ambil tas dan pulang untuk packing," Suruh Dean agar Viaa bersiap untuk pulang.
"Ada ya orang semenyebalkan seperti kamu di dunia ini dan sayangnya pacar aku lagi," Via masuk membereskan meja kerja dan mematikan komputer.
"Mau kemana Via?" Heran temannya saat melihat Via membereskan meja.
"Ada urusan mendesak, bye semua," Tidak mungkin jujur sekarang pasti bakal heboh yang ada.
Hubungan ini belum saatnya di publik biar saja berjalan sebagaimana mestinya.
Biar perasaan mereka yakin satu sama lain baru setelah benar-benar yakin baru orang lain boleh tau.
"Ayo," Berjalan duluan, sungguh Via dongkol namun tidak ingin ribut.
Jika nanti di kena teguran maka Dean harus bertanggung jawab.
"Jangan manyun," Melihat wajah Via tidak enak di lihat.
Tau ini mendesak tapi salahkan Raka yang ngasih tau juga mendadak.
"Bukan itu, kalau aku dapat teguran kamu harus tanggung jawab," Menjawab tanpa melihat sebab malas berbalik atau sekedar memutar kepala.
"Tenang kamu nggak akan di pecat kok," Jika sudah keluar ultimatum dari Dean maka tidak bisa di bantah.
Suara Dean akan di dengar setelah Raka, jadi jika keputusan Dean sudah sama dengan keputusan bos mereka.
Memanfaatkan kesempatan yang ada tidak salah bukan.
Mereka sampai parkir.
"Silahkan," Dean membukakan pintu untuk Via lalu setelahnya Dean masuk duduk di kursi kemudi.
Mobil itu melaju meninggalkan kantor menuju rumah Via.
Tidak lama mereka sampai.
"Kamu masuk dan beres-beres biar aku yang izin sama Tante," Tidak mungkin membawa anak gadis orang tanpa izin yang ada restu juga sulit di dapat.
"Iya," Via masuk kamar segera untuk berkemas.
Meninggalkan Dean lagi duduk di ruang tamu bersama mamanya.
"Tumben jam segini udah pulang?" Heran mama Via melihat anak sudah pulang sebelum jam kantor bahkan ini masih tengah hari belum masuk jam makan siang.
"Begini Tante saya mau minta izin mengajak Via untuk ikut memantau cabang perusahaan yang ada di luar negeri," Izin Dean tidak mungkin jujur bilang mengajak Via hanya sebagai teman saat Raka pulang duluan nanti.
Dengan alasan melihat cabang perusahaan akan lebih mudah mendapatkan izin dari pada bilang mengajak Via hanya sebagai teman.
Pasti bakal ada saja halangan jadi lebih baik cari jalan aman saja.
"Baiklah, Tante titip Via selama di sana ya nak Dean," Tidak bisa menolak kalau masalah kerjaan dan juga dia tau mereka bukan hanya sekedar atasan dan bawahan.
Kalau cuma sebatas itu hubungan mereka Dean tidak perlu repot minta izin sama dirinya.
__ADS_1
"Tante tenang aja, saya akan pastikan Via aman selama bersama saya di sana," Tidak mungkin juga membiarkan Via dalam bahaya apalagi ini kekasih sendiri jadi akan lebih ketat lagi menjaga Via.
Urusan perizinan sudah selesai tinggal menunggu Via yang belum turun juga.
Mungkin masih menyiapkan keperluan.
Tidak lama nampak Via menenteng koper menuju lantai bawah dengan sigap Dean membantu takut kekasihnya menggelinding ke bawah.
"Sini biar aku bantu," Mengambil alih koper itu karena tau itu tidak ringan.
"Makasih," Berjalan mengekor di belakang Dean dan duduk di sebelah mamanya.
"Ma Via pergi dulu ya, mama baik-baik di rumah sama papa," Walau Dean sudah minta izin namun dia juga ingin sebagai tanda sopan santun.
"Iya kamu hati-hati di sana jangan menyusahkan nak Dean ya," Pinta mama pada anak gadisnya ini.
Bukan tidak percaya hanya saja itu tempat baru jadi bisa saja dia merepotkan Dean.
Mama tidak tau kalau Via ikut karena ulah Dean yang mengajak padahal tidak tau apakah akan membantu atau hanya menemani saja selama di sana.
"Pasti ma, ya udah kita berangkat dulu ya ma assalamu'alaikum," Menyalami mama sebelum keluar dan Dena menyeret koper berwarna ciri khas perempuan.
"Wa'alaikumsalam hati-hati," Melepas anaknya pergi untuk beberapa saat walau berat dia tau ini tuntutan pekerjaan yang tidak bisa di tolak.
Masuk rumah setelah mobil itu sudah tidak keliatan lagi.
"Ngapain ngajak aku sih? padahal aku nggak bakal ngerti juga," Tanya Via sedang dalam perjalanan menuju restoran untuk makan siang dulu.
Kenapa Dean cepat menjemput Vya karena dia ingin lebih lama bersama Via karena dia tidak ingin jauh-jauh.
"Sebagai teman aja kok," Balas Dean enteng dengan masih fokus menyetir mencari restoran untuk makan.
"Teman, emang kamu takut di sana sendiri?" Buat apa takut di sana ramai, kan bukan hutan fikir Via.
Itu luar negeri banyak bertemu orang bukan mau pergi ke hutan yang bakal bertemu hewan jadi buat apa bawa teman.
"Bukan takut sendirian hanya aja takut kangen sama kamu makanya aku ajak," Jelas Dean serius hingga Via terdiam.
Terdengar sederhana namun entah mengapa ucapan dengan sukses membuat hatinya menghangat.
Dean melihat wajah cantik itu memerah, diam-diam dia mengulum senyum saat sukses menggombali pujaan hati.
Walau bukan playboy tapi untuk menggombal bisa walau tidak mahir.
**Sial ini hati kenapa deg-degan, padahal dia cuma takut kangen. Lemah banget sih nih hati di gomballin berondong aja luluh.
Sungguh hati Via tidak sekuat itu menahan godaan jika sudah gomballin.
Sebagai perempuan pasti suka di buat melting oleh pasangan sendiri walaupun masih dalam paksaan tapi bukan terpaksa kali.
\=\=\=\=\=
Waktu berputar begitu cepat, pulang dari kantor tadi Raka langsung menemani istrinya sebelum berangkat.
Menemani istirahat siang menyuapi makan, shalat bersama. Semua Raka lakukan agar istrinya tidak terlalu sedih saat di tinggal nanti.
Tau mood ibu hamil tidak stabil jadi sebisa mungkin Raka jaga sikap takut cuma masalah kecil istrinya merajuk dan akan sulit untuk di bujuk.
Tidak masalah merajuk namun dia harus pergi jadi sebisa mungkin harus hati-hati.
Bahkan saat shalat siang tadi istrinya minta di mandikan dengan alasan gerah dan malas bergerak. Raka dengan senang hati melakukan membersihkan tubuh istrinya dengan telaten serta memakaikan baju.
Anggap saja semua dilakukan untuk menebus beberapa hari mereka berpisah dan juga sebagai cadangan jika nanti kangen.
Juga Arka tidak bilang Via ikut takut terjadi salah paham dan berfikir kenapa Via di ajak sedangkan dirinya di tinggal.
Biarlah nanti di lakukan penebus dengan mengajak kesana atau ke tempat lain.
"Sayang abang berangkat dulu ya!" Pamit Raka sekarang mereka lagi berada di kamar rumah orang tua istrinya.
Raka tidak mengizinkan istrinya untuk mengantarkan ke bandara atau ke bawah takut kelelahan.
"Hubby hati-hati ya, ingat di sini udah ada istri dan anak yang menunggu jangan nakal atau lirik perempuan lain yang lebih cantik dan seksi," Tidak menutup kemungkinan di sana bertemu berbagai jenis orang mulai yang menggunakan baju kekurangan bahan sampai kelebihan bahan.
Mengingat bahwa ada istri dan anak yang menunggu di rumah dengan segenap rindu di hati.
"Iya sayang, hati, jiwa, raga serta cinta ini hanya untuk kalian nggak usah ragu akan itu.
Di mata abang hanya kamu seorang yang paling seksi," Bisik Raka sambil menciumi telinga itu hingga memerah di buatnya tidak lupa memberikan gigitan kecil.
"By jangan gini, ntar nggak jadi pergi," bumil susah payah menahan suara merdu itu agar tidak keluar dan menghambat kepergian suaminya.
Dia sudah sekuat hati melepas suaminya kerja di luar jangan cuma karena suaranya jadi gagal pergi.
__ADS_1
"Sebentar sayang," Raka tidak berhenti sampai di sana, bibir itu sudah pindah ke pipi lalu berlabuh di candu yang memanggil dari tadi.
******* pelan sambil di sesap lembut terkesan memabukkan namun Raka tidak ingin menuntut lebih.
Tangan Raka tak tinggal diam, sudah menjelajah mencari titik sensitif bumil hingga suara yang susah payah di tahan lolos juga.
Bagaimana bisa bertahan jika godaan lebih besar dari iman.
"Sekali saja," Pinta Raka merebahkan bumil atas ranjang dengan tautan tidak terlepas, aksi Raka terus berlanjut hingga kegiatan itu berlangsung sampai kurang dari satu jam.
"Makasih sayang," Menyelimuti tubuh mungil itu agar tidak terekspos karena sudah tidak menggunakan apapun lagi.
Mencium jidat itu dengan lembut lalu setelahnya beranjak menuju kamar mandi untuk mandi lagi.
"Udah tau bakal gini, katanya mau berangkat ini malah isi daya dulu," Tak bisa di pungkiri bahwa dia juga menikmati kegiatan menjelang sore ini, tidak cepat seperti biasa karena dokter sudah bilang hanya boleh pelan asal sampai.
"Punya suami gagah perkasa nafsunya tinggi dan tak tau waktu," Menarik selimut hingga batas leher, tidak mau memperlihatkan pemandangan menggoda iman lagi takutnya tertunda lagi.
Raka keluar kamar mandi sudah rapi berjalan ke arah lemari mengambil baju istrinya sebelum di pakaikan dia mengelap badan itu dulu menggunakan tisu baru di pasangkan baju.
"Udah rapi lagi, abang berangkat ya sayang," Mencium seluruh wajah itu namun saat akan berlabuh di bibir sontak bumil tahan.
"Kenapa?" Heran Raka karena kegiatannya terhenti.
"Jangan di sana nanti nggak jadi pergi," Bukan tidak mau melayani lagi hanya saja waktu pergi sudah di undur.
"Nggak akan," Mencium bibir itu, menikmati sebentar lalu di lepaskan.
"Abang berangkat dan kalau ada apa-apa hubungi langsung ya," Pergi setelah ritual perpisahan panjang itu, meninggalkan istrinya dengan langkah berat namun tidak bisa tinggal.
Bumil memandangi suaminya dengan tatapan nanar dan mata berkaca-kaca.
Di sudut mata sudah menganak sungai dan siap tumpah dalam satu kedipan mata.
"Lindungi lah suami hamba tuhan," Doa bumil mengiringi langkah suaminya.
Hanya doa yang bisa di kirim demi keselamatan suaminya selama jauh di negara orang.
Walau bukan ini pertama kali Raka pergi jauh, namun ini pertama kali mereka berpisah setelah menikah tentu terasa berat.
Raka berpamitan pada mertuanya sebelum pergi dan pergi ke bandara menggunakan supir.
Di bandara.
"Ngapain lo lama amat," Kesal Dean harus menunggu kedatangan sahabat nya yang molor dari jam janjian mereka datang, untung ada Via sehingga tidak terlalu bosan coba kalau tidak, tidak tau apa yang terjadi pada Dean mungkin udah jamuran.
"Kalau gue bilang pun lo belum bisa," Tidak merasa bersalah sama sekali karena datang terlambat dan berjalan santai menuju pesawat yang akan berangkat beberapa menit lagi.
Memang mepet saat DRaka datang namun belum ketinggalan pesawat.
Kalau ketinggalan paling pesan tiket lagi, gitu aja repot.
"Sahabat laknat," Sudah tau apa yang di lakukan Raka tanpa di jelaskan.
Sial kenapa kalau membahas itu Dean mati kutu.
Mau melakukan dengan siapa istri belum ada, tidak mungkin mengajak Via di terima jadi pacar sudah senang.
Memasuki pesawat dan duduk di kursi sesuai tiket dan Dean memilih kelas bisnis agar nyaman selama di perjalanan dan bisa istirahat sejenak tenang.
**Berasa pergi honeymoon** kekeh Dean saat Via sudah duduk di sampingnya.
Sengaja memilih kursi dua berdekatan dan Raka sendiri.
Kesempatan tidak boleh di sia-sia kan.
"Kalau ngantuk tidur aja," Menyuruh Via tidur karena perjalanan masih jauh dan juga pesawat baru lepas landas.
Via menurut memejamkan mata tenang tidak lama kepalanya di bawa Dean bersandar pada bahunya.
Kalau di bawa bersandar di dada takut kaget dan di marahi karena terlalu dekat.
Dean ingin melakukan secara perlahan agar Via tidak menjaga jarak lagi dan berfikir Dean lelaki mesum.
""Sayang abang udah berangkat, nanti kalau udah sampai abang hubungi'''' mengirimkan pesan pada istrinya agar tidak cemas karena tidak ada kabar.
Takutnya jika Raka abai istrinya kefikiran dan berpengaruh pada anak yang masih ada dalam kandungan.
Raka memejamkan mata sambil menunggu waktu sampai yang masih lama.
Bangun juga tidak ada yang bisa di lakukan, semua kesiapan sudah selesai jadi selama di perjalanan bisa istirahat.
Berbeda dengan Dean yang lebih menikmati perjalanan dengan tetep terbangun dan melihat wajah cantik itu yang bersandar di bahu kokohnya.
__ADS_1
Kapan lagi bisa melihat Via tidur dalam jarak dekat jika bukan sekarang.
Wajah cantik ini yang sukses mengalihkan dunia Dean.