
Di tempat lain seorang lelaki tampan tampan sedang beberes mempersilahkan segala keperluan untuk pulang dia adalah Raka suami Khira.
Semua kerjaan di sana sudah selesai dan hari ini akan pulang menemui istrinya yang sudah seminggu lebih di tinggalkan dengan sejuta kerinduan.
Sebelum pulang sudah menyiapkan oleh-oleh untuk orang rumah terutama istrinya.
"Semangat sekali yang mau bertemu guling hidupnya," Sindir Dean yang lagi duduk di sofa kamar hotel Raka karena Rska lagi menyusun semua bawaan ke dalam koper.
"Dari pada bacot lo mending bantuin sini biar ada guna lo," Balas Rska pada Dean yang tidak beranjak dari sofa.
"Eh tapi lo juga punya tapi sayang belum bisa di peluk, di sun apalagi di bawa ke atas ranjang kasian sekali," Tambah Rska senang bisa membalas lebih sadis lagi.
Biar lah di ledek Dean asal sampai rumah bisa memeluk istrinya sampai puas beda dengan Dean yang paling mentok pegang tangan masih kalah jauh dengan dirinya.
"Sahabat laknat emang," Kesal Dean jika di ingatkan tentang itu.
Sepertinya keputusan Dean melamar Via pulang dari sini sudah mantap dan kalau bisa langsung nikahin aja biar bisa merasakan apa yang Raka bilang apalagi di bagian bisa bawa ke atas ranjang.
Rasanya Dean sudah tidak sabar.
Otak pintar Dean mulai berfikir.
"Makasih pujiannya," Sekarang waktu setempat sudah menunjukkan mau malam tapi Raka tidak mau menunda kepulangan nya apalagi sekarang menggunakan pesawat pribadi keluarga jadi bisa terbang kapan saja.
Demi siapa coba Raka melakukan itu? Demi bumil yang sudah pasti merindukan dirinya di rumah.
"Kalau nggak takut Farah jadi janda udah gue lempar lo dari atas gedung ini," Kesal Dean melempar Rska dengan bantal sofa.
Apa salah dia waktu dalam kandungan hingga memiliki sahabat durhakim seperti Raka.
"Kayak udah siap aja lo liat Via di pinang lelaki lain?" Jangan panggil dia Raka kalau membalas ucapan Dean tidak bisa, wajar banyak orang yang mengajukan kerja sama di perusahaan Raka kalau dia saja pintar membalikkan keadaan.
"Rese emang punya sahabat," Raka sudah selesai berkemas dan siap di antar Dean menuju bandara.
Sebagai sahabat senang membantu sahabat sendiri dan siapa tau nanti saat Via hamil Raka memberi keringanan untuk dirinya.
Sudah jauh saja fikiran Dean padahal melamar saja belum tapi tidak salah menata masa dengan dalam angan nanti di wujudkan jadi kenyataan.
"Yang bener lo kerja di sini," Sekarang mereka sudah sampai bandara dan lagi berjalan menuju pesawat yang sudah menunggu Raka untuk di tumpangi.
"Kayak kerjaan gue selama ini nggak bener aja," Memukul bahu Raka cukup kuat.
Apa lelaki ini tidak sadar diri dia pulang meninggalkan kerjaan menumpuk di sini seenaknya menyuruh kerja bener.
"Ya siapa tau kerjaan lo pancaran aja kan," Tau sahabatnya lagi berbunga-bunga dan hingga lupa kerja.
"Untung lo ingatkan," Balas Dean mengiringi Raka hingga masuk pesawat setelah melakukan salam perpisahan ala laki-laki.
Setelah itu Dean kembali ke mobil untuk balik ke hotel karena tadi melarang Via untuk ikut dan menyuruh istirahat di hotel saja.
Pesawat yang Raka tumpangi lepas landas meninggalkan bandara.
Setelah mengudara cukup lama pesawat mendarat dengan selamat dan waktu setempat menunjukkan pukul dia dini hari.
Sebelum berangkat tadi Raka sudah minta di jemput jadi bisa langsung pulang dan memeluk jiwa yang tertinggal.
Tidak lama mobil itu berhenti di depan rumah mertua Raka.
"Maaf ya pa ma mengganggu malam-malam," Raka tidak enak hati membangun kan mertuanya tapi apalah daya.
"Tidak apa nak yang penting kamu sampai dengan selamat, udah istirahat sana pasti pagi nanti Farah senang kamu udah pulang," Raka berpamitan pada mertuanya untuk masuk kamar.
Kepulangan Raka memang di rahasiakan pada bumil agar menjadi kejutan saat dia bangun.
Membuka pintu itu dengan pelan lalu masuk dan menutup.
"Seminggu lebih tapi rasanya sudah bertahun nggak ketemu," Mengecup kening itu yang lama tidak di lakukan.
"Abang mandi dulu sayang baru nanti di kasih pelukan hangat," Sebenarnya ini masih terlalu cepat untuk mandi tapi Raka tidak ingin tidur dalam keadaan badan kurang nyaman.
Raka mandi cuma sebentar dan keluar dengan wajah segar.
"Ah ini baru nyaman," Raka membaringkan badan di sebelah bumil dan menarik pelan tubuh yang sangat dirindukan ke dalam pelukannya.
Mencium dalam kening istrinya menyalurkan rasa rindu yang tertahan seminggu lebih ini.
Rasanya sangat melegakan seperti ibarat saat kita kehausan di kasih air sangat menyegarkan.
__ADS_1
"Baru di tinggal sebentar makin cantik aja," Mencium seluruh wajah itu dengan pelan agar tidak menganggu tidur nyenyak istrinya.
Kegiatan ini yang sangat di rindukan kala berjauhan.
Tidak lama Raka menyusul ke alam mimpi karena selama pergi kurang istirahat.
Pagi menjelang bumil menggeliat tapi tidak bisa seperti tertahan oleh sesuatu.
Namun karena penasaran bum membuka mata hingga kantuk nya hilang seketika saat melihat siapa yang memeluknya ini.
Meneliti lagi takut ini cuma mimpi.
Untuk meyakinkan bumil mencium tepat di bibir suaminya.
"Ini nyata?" Senang bumil saat merasakan benda kenyal itu menempel di bibirnya.
Dari sekian banyak bagian wajah entah mengapa bibir jadi tujuan Farah cium.
"Miss you," Mencium lagi karena masih belum percaya jika hanya mencium sekali.
Anggap saja ini bayaran karena di tinggal lama, kan dia juga kangen ciuman hangat Raka.
Tuh kan fikiran bumil pagi-pagi sudah berkelana tapi wajar karena sudah puasa seminggu lebih.
Farah menelusup kan kepalanya pada ketiak Raka, entah mengapa dia ingin mencium aroma ketiak Raka yang tercium wangi. Mungkin bawaan baby atau terlalu rindu.
"Makin tampan dan cinta kalau lagi bobok tampan gini," Kekeh bumil masih mendusel di ketiak suaminya.
Gerakan Farah sangat pelan takut membangun kan Raka karena tau pasti suaminya sampai tengah malam hingga dia tidak tau.
Sungguh ini pemandangan yang indah setelah seminggu lebih.
Ingin segera bermanja tapi biar di tahan sebentar lagi untuk Raka istirahat.
Dengan ada Raka di sebelahnya sudah cukup membunuh rindu seminggu lebih ini.
\=\=\=\=\=
Farah masih betah berada di ketiak suami nya yang lagi tertidur melakukan dengan pelan agar tidak menggangu istirahat sang suami yang terlelap pulas.
Sungguh pemandangan pagi ini tidak ada duanya karena sudah bisa melihat wajah tampan itu lagi dari jarak dekat setelah melewati fase LDR selama seminggu lebih dengan menanggung beban rindu tanpa bisa di ungkapkan dengan kata-kata takut mengganggu kerjaan Raka.
Sungguh bumil bahagia melihat wajah tampan itu dan bisa di belai bahkan di cium.
"Love you papa," Kekeh bumil pelan sambil terus mencium suaminya.
Karena merasa tidak puas mencium dari luar tangan lentik membuka kancing piyama yang Raka kenakan hingga terlepas semua.
Menelusup kan ke dada bidang itu sambil menikmati detak jantung itu yang berirama pelan.
Mencium kecil bahkan mengigit karena senang sudah bisa melakukan aktivitas yang dia rasa sudah lama tidak di lakukan.
Tonjolan kecil di dada Raka tidak lepas dari mulut bumil, di kulum pelan sambil terkekeh lagi karena merasa gemas saat menghisap tonjolan itu.
"Suami siapa sih ini tampan nya minta di karungin?" Mendongakkan kepala melihat wajah damai tidak terganggu sama sekali dengan kegiatan Farah.
Mengecup pelan dagu Raka pelan lalu kembali pada dada itu melingkarkan tangan ke badan Raka tanpa pembatas baju.
Ingin merasakan kulit itu langsung bersentuhan dengan tangan mulusnya.
"Wangi nya masih sama,"
"Tampan nya juga nggak berkurang,"
"Hangatnya selalu di rindukan,"
"Detak jantung nya membuat aku melayang,"
"Ciuman nya pasti masih memabukkan,"
"Keperkasaannya bertambah nggak ya eh,"
Ah kenapa memikirkan keperkasaan Raka sih bumil.
Lupa apa akibat keperkasaan Raka lah sekarang sudah ada hasil? Jadi apa yang mau di pertanyakan lagi.
Masih kurang ah lebih tepatnya rindu merintih manja di bawah kungkungan tubuh kekar itu.
__ADS_1
Merutuki otaknya yang mulai traveling kemana-mana mungkin efek di tinggal lama jadi merindukan kehangatan yang di berikan suaminya.
Menggeleng pelan mengetuk pelan kepalanya dan berusaha berfikir jernih tapi tidak bisa pesona suaminya terlalu sayang untuk di tolak.
Setelah cukup lama bermanja-manja sendiri Khira merasa tidak puas sebab tidak ada timbal balik. Hingga.
"Hubby bangun," Rengek manja bumil karena ingin di manja langsung oleh suaminya.
Kalau dia tidur terus maka rasanya seperti cinta bertepuk sebelah tangan.
"Hubby," Rengek manja lagi namun Raka belum ada pergerakan mungkin karena kelelahan kurang istirahat.
Karena sudah tidak sabar akhirnya bumil menggigit tonjolan kecil di dada suaminya dengan kuat.
Kesal sekali gus gemas karena panggilan di abaikan.
"Aw," Kaget Raka merasa sakit di dadanya dan langsung membuka mata mendapati wajah cantik istrinya tengah cemberut.
"Kenapa sayang? Suami pulang malah cemberut," Raka tidak tau apa penyebab istrinya cemberut karena dia benar-benar pulas tidur hingga kegiatan Farah tadi dia tidak tau.
"Hubby jahat," Lirih bumil dengan mata berkaca-kaca siap untuk menangis.
**Istri siapa sih ini? Manjanya nggak nahan jadi pengen makan habis** Tersenyum dalam hati melihat wajah menggemaskan itu dan melabuhkan kecupan di bibir manyun itu lalu di ***** sebentar.
"Jahat kenapa? Bilang abang jahat kenapa?" Jika jauh harus menahan rindu dan kalau dekat harus kuat menahan sabar.
Untung cinta.
"Udah aku bangunin tapi nggak bangun juga, nggak tau apa aku kangen?" Lirih manja bumil mendusel wajah di dada Raka.
Menggigit kecil lagi di dada itu hingga meninggalkan bekas kemerahan yang kontras dengan kulit putih Raka.
Raka gemas melihat tingkah bumil yang di rindukan selama seminggu lebih ini.
Dan kadar kemanjaannya meningkat mungkin karena lama di tinggal jadi sekarang di lampiaskan.
"Abang juga kangen sayang," Menarik dagu Farah pelan mendongak ke atas hingga tatapan mereka bertemu.
Raka mengikis jarak di antara mereka hingga daging tak bertulang itu bertemu.
Mulai menggerakkan bibirnya perlahan ******* pelan bibir candu yang sudah seminggu ini tidak di rasakan, rasanya sangat rindu memakan habis bibir itu.
Rasanya tidak puas jika sebentar saja menikmati candunya ini.
Raka ******* rakus bibir itu di tambah rasa manis di bibir itu membuat Arka semakin di hantam nafsu bergelora.
"HM HM," melenguh pelan karena sulit mengimbangi ******* Raka yang kian menggebu, karena sudah tidak tahan lagi Khira menepuk pelan dada Raka memberi kode kalau dia sudah mau kehabisan nafas.
Raka yang sadar istrinya kehabisan nafas melepaskan tautan bibirnya lalu menempelkan jidat mereka sambil tersenyum merekah.
"Sorry yang karena udah lama puasa jadi lupa diri,"
Mengecup bibir itu lagi sebentar dan melepaskan diri dari istrinya jika tidak bisa saja di lahap lagi candunya itu.
Gemas melihat wajah memerah istrinya dan mengecup keningnya dengan senyum mengembang sudah bisa menikmati apa yang sudah tersedia.
"Asal jangan lupa istri aja," Cebik bumil menahan senyum karena dia tidak marah hanya saja dia butuh mengambil nafas agar bisa melanjutkan kegiatan yang lebih enak lagi.
Ah melihat wajah tampan ini saja rasanya dada dia berdegup kencang lagi, berasa jatuh cinta lagi kepada orang yang sama.
Gila tidak sih? Namun tidak apa kalau jatuh cinta berkali-kali pada suami sendiri yang salah itu jatuh cinta pada suami orang.
Menantang maut.
"Nggak bakal lah lupa istri, masa istri secantik dan semenggemaskan ini bisa lupa. Rugi dong," Mengecup hidung yang tidak seberapa mancung itu.
Kecil tapi menggemaskan seperti orangnya, ingin gigit tapi takut merajuk hingga merambat pada jatah yang belum di dapat.
Kan bisa berabe masa puasa di perpanjang dan kalau beruntung kan bisa berbuka dengan yang manis pagi ini.
"Bisa aja menggembelnya," Balas bumil masih betah membenamkan wajah cantik itu pada dada bidang Raka.
"Menggombal sayang bukan menggembel gimana sih, jadi pingin makan kan," Kenapa istrinya di tinggal cuma selama seminggu jadi makin menggemaskan begini, ah apa Raka senang atau sedih di buatnya.
Memeluk erat eh tidak terlalu erat juga ingat karena mereka berpelukan bukan berdua lagi tapi ada baby di antara mereka sekarang yang jadi pembatas.
"Mau dong di makan, kalau bisa sampai habis ya," Tantang Farah yang sudah merindukan kehangatan serta belaian suaminya di tubuhnya tidak lupa mengedip genit.
__ADS_1
Baru seminggu tapi rasanya sudah sangat lama dan ingin segera membayar agar tidak terbawa mimpi lagi.
Kenapa di tawarkan sesuatu yang menggairahkan di pagi hari ini, apa tidak takut kalau Raka sampai khilaf untuk membayar waktu selama seminggu ini.