
"Far makan dulu yuk abang udah masak," ajak Raka saat melihatnya istri keluar dari kamar.
Farah menggunakan baju yang rapi dan entah akan kemana gadis itu padahal sekarang sudah lewat Magrib dan sebentar lagi jam makan malam.
"Aku tidak lapar," secara tidak langsung Farah menolak ajakan Raka dan ini bukan ajakan yang pertama kalinya.
Bahkan gadis itu langsung pergi tanpa berpamitan kepada sang suami dan tanpa mengatakan ke mana dia akan pergi.
Sepertinya gadis itu benar-benar tidak menganggap pernikahan ini dan dan merasa dirinya masih single.
Jangankan untuk menghargai Raka berpamitan pun saja tidak, sudah sangat keterlaluan sebagai seorang istri tingkahnya itu.
Ini sudah terhitung bulan ke-6 usia pernikahan mereka tetapi tidak ada kemajuan sama sekali bahkan gadis itu terkesan semakin dingin kepada Raka.
"Apakah memang seperti ini akhirnya?"Raka menatap pintu yang tertutup dan dia membuang nafas dengan kasar sebab usaha yang dilakukan selama beberapa bulan ini tidak ada membuahkan hasil sama sekali bahkan gadis itu semakin menjauh jaraknya walaupun mereka tinggal bersama.
Dan untuk pekerjaan gadis itu sudah mengundurkan diri di tiga bulan pernikahan mereka dan memilih bekerja di tempat lain dengan alasan ingin mencari pengalaman padahal Raka tau jika itu hanyalah sebuah alasan agar dia tidak terus berinteraksi dengan Raka.
Tapi laki-laki itu tidak bisa menolak karena setelah menerima surat pengunduran diri Farah gadis itu tidak pernah datang lagi ke kantor.
"Lebih baik gue makan sendiri daripada terbuang sia-sia," terpaksa Raka memakan makanan itu sendiri karena tidak mungkin dia membuang makanan apalagi dimasak dengan tangan sendiri.
Walau Raka berasal dari keluarga kaya raya tetapi dia tidak pernah ditoleransi untuk membuang-buang makanan jadi sejak kecil dia diajari menghargai makanan.
Di tempat Farah.
Gadis itu melaju kan mobilnya menunju sebuah rumah sakit.
"Kenapa sakit lagi sih?" Farah memegang sebelah perutnya karena terasa sakit tiba-tiba dan ini sudah dirasakannya beberapa minggu belakangan ini namun diabaikan karena menganggap mungkin efek karena dia telat makan saja.
__ADS_1
Tapi hari ini dia memutuskan untuk periksa kesehatan dan kebetulan dokter itu hanya bisa malam hari.
Sampai rumah sakit.
"Selamat sus dokter Dina ada?" Farah menanyakan dokter yang sudah membuat janji kepadanya lalu sang suster mengantar Farah menuju ruangan dokter Dina.
"Silahkan Bu Farah," Farah duduk di depan dokter muda itu, dokter Dina bisa dibilang dokter muda karena usianya baru tiga puluh tahun.
"Terima kasih dok," Farah duduk sambil sesekali meringis karena merasa sakit di bagian perut dan terasa sangat melilit.
"Apakah ada gangguan sama ginjal Bu Farah?" Tanya dokter Dina saat melihat di mana tangan Farah berada dan sudah pasti di posisi ginjal.
Jadi wajar dokter Dina bertanya demikian apa lagi melihat wajah kesakitan Farah.
Sudah pasti ini masalah serius.
"Saya tidak tau dok, beberapa Minggu ini memang sering sakit saya fikir mungkin karena efek telat makan dan maag saya kambuh," Farah memang memiliki penyakit sakit maag jadi dia beranggapan jika sakit perut dan dirasakan itu hanya maagnya yang kambuh.
"Bagaimana dok?" Farah sudah duduk di depan dokter Dina lagi dan ingin tahu apakah benar ada masalah dengan ginjalnya atau cuma penyakit maag yang kambuh.
Dia harap-harap cemas menunggu jawaban dari sang dokter dan berharap semuanya baik-baik saja.
"Seperti dugaan saya sejak awal memang Bu Farah memiliki penyakit pada ginjalnya dan semua itu bisa diatasi dengan cara cangkok ginjal," Farah menganga di tempatnya mendengar dia diagnosa dokter bahwa dia memiliki penyakit ginjal dan lebih mencengangkan lagi dia harus mendapatkan donor ginjal.
Ke mana dia akan mencari pendonor itu dan apakah dia akan memberitahu keluarganya dan tanpa penyakit yang dia idap.
Farah bimbang tentang apa yang harus dia lakukan atau memilih merahasiakan ini semua.
"Terima kasih dokter, saya akan kabari jika sudah menemukan pendonor itu," Farah keluar dari rumah sakit itu dengan keadaan lesu sebab-sebab fakta yang sangat mengejutkan serta penyakit yang membutuhkan penanganan ekstra.
__ADS_1
Farah masih duduk di dalam mobilnya karena dia harus memikirkan ini secara matang antara memberitahu orang tuanya atau memilih merahasiakan sendiri dan berobat secara diam-diam.
"Kenapa semua ini harus terjadi pada gue apakah belum cukup menghukum gue dengan pernikahan ini? Lalu mengasih gue penyakit seperti ini juga yang bahkan bisa membuat gue nggak bisa memiliki keturunan," Farah semakin gundah ini merupakan sebuah rahasia besar dan jika dia simpan sendiri lalu suatu hari nanti korbannya tahu sudah pasti mereka akan kecewa.
Tapi jika dia jujur sekarang juga tidak ingin merepotkan semua orang.
Bahkan dia sempat merasa jika pernikahan ini merupakan ujian dia juga padahal jika dia mau membuka hati maka dia pasti akan mendapat dukungan penuh dari sang suami.
"Gue butuh teman curhat tapi ini udah malam," Farah sangat membutuhkan tempat berbagi saat ini tetapi untuk menelpon sahabatnya itu juga tidak mungkin karena sudah malam dan saatnya waktu istirahat.
Jadi gadis itu memutuskan pulang daripada berada di luar tidak jelas seperti ini.
Tapi yang jelas dia tidak akan memberitahu Raka tentang apa yang dialami ini sebab menurutnya itu tidak penting dan juga Farah berpikir bahwa Raka belum tentu peduli kepadanya.
Tanpa gadis itu tahu jika sang suami begitu mencintainya hanya saja Raka lebih memilih mencintai dalam diam.
"Capeknya," sampai di apartemen Farah langsung masuk dan membersihkan diri lalu gadis itu berbaring sebab merasa hari ini merupakan hari yang melelahkan.
Dia merasa ujian hidupnya semakin berat tetapi untuk berbagi ke semua orang rasanya tidak mungkin apalagi tentang masalah pernikahannya Farah tidak ingin orang tahu bahwa pernikahan itu hanyalah sebuah status di atas kertas.
"Gua bingung ini sebenarnya pernikahan apa?" kenapa baru sekarang dia mempertanyakan pernikahan ini seperti apa bukankah sejak awal Farah sudah bertanya akan sampai mana pernikahan ini dan Raka juga sudah menjawab.
Pernikahan ini bertahan sampai Farah menemukan seseorang yang dia anggap bisa membahagiakan dirinya dan Raka sebagai suami yang mencintai istri hanya bisa merelakan serta tersenyum di atas lukanya.
"Kenapa dia nggak minta pisah aja sih? merepotkan aja. Gue nggak apa nyandang status janda asal gue nggak merasa terbebani seperti ini," entah dapat pemikiran dari mana sehingga Farah lebih memilih menjadi janda daripada memperbaiki sesuatu yang sudah pasti di depan mata.
Apakah dia pikir status janda itu enak dan diagung-agungkan oleh orang.
kadang status janda itu diremehkan karena ada juga kadang status janda itu seperti perempuan murahan dan para istri beranggapan janda suka menggoda.
__ADS_1
\=\=\=\=\=
Bersambung 😘