BUKAN CINTA PENGGANTI

BUKAN CINTA PENGGANTI
Chapter 115


__ADS_3

Sungguh chat singkat itu menampar Farah begitu nyata. Kenapa mamanya menanyakan hal yang suaminya sendiri tidak pernah menanyakan itu.


Dan juga suaminya tidak atau belum pernah bertanya soal anak, suaminya itu tenang-tenang saja.


"Maksud mama apa?" Pandangan Farah jauh ke depan memikirkan ucapan dalam pesan mamanya.


Anak! walau pernikahan mereka sudah mau dua tahun dan baru beberapa bulan dan mereka baru pulang honeymoon tiga bulan lebih.


Farah meraba perut ratanya memikirkan kapan dia datang bulan dan seingatnya bulan itu dia belum dapat dan juga jika di hitung sesuai tanggal ini sudah lewat.


"Tapi apa mungkin?" Tangan masih di perut dengan mengusap pelan.


Apakah benar sudah ada kehidupan di perutnya? Atau cuma telat dapat saja.


Kini fikirannya berkecamuk memikirkan segala kemungkinan yang bisa saja terjadi.


"Hubby, anak,"


Pernah beberapa kali menanyakan tanda-tandamenyinggung soal anak atau menanyakan apakah dia sudah hamil atau belum karena sejak pulang honeymoon suaminya tidak pernah absen dinas malam kecuali sedang berhalangan.


Tapi iya juga setia orang yang menikah pasti menginginkan anak hadir di antara mereka tak terkecuali mereka berdua.


Tangan itu masih betah mengelus perut ratanya yang terasa berdenyut pelan tapi tidak begitu terasa.


"Apa aku periksa aja ya?, tapi kalau hasilnya nggak sesuai gimana? Atau aku pergi sendiri dulu?" Sungguh Farah tidak menyangka akan tiba hari ini yang sangat berat bagi dia.


Perkara anak dalam rumah tangga adalah suatu yang harus di bicarakan sejak awal.


Tidak mungkin seorang lelaki yang sudah menikah tidak ingin seorang anak apalagi dari benih sendiri.


Anak adalah anugerah juga penguat hubungan suami istri, dengan adanya anak mereka semakin harmonis dan juga merasa sempurna sebagai pasangan.


Tapi tidak semua pasangan menikah yang bisa di karunia anak atau cepat di kasih anak.


"Atau di coba tes pakai tespek aja ya?" Hah kenapa jadi membingungkan seperti ini, barusan dia habis bicara dengan suaminya di suruh istirahat namun sekarang tidak bisa lagi, fikirannya sudah ada yang merasuki dan harus segera diselesaikan.


"Baiklah ke rumah sakit aja," Putus perempuan itu masuk ke rumah berjalan menuju kamar untuk mengganti baju dan membawa segala keperluan.


**By aku mau keluar dulu ada yang mau di beli, aku izin ya**


Farah mengirim pesan pada suaminya sebab saat di telpon tidak di angkat mungkin lagi sibuk.


**Hati-hati sayang, kalau sudah selesai langsung pulang**


Balas pesan itu Raka mengizinkan istrinya keluar dan jangan lupa supir sudah dia siapkan jika ingin keluar tidak ada alasan akan menggunakan transportasi umum.


Dia tidak mau istrinya berduaan dengan orang lain atau berdesakkan.


Sangat melarang.


"Sudah rapi, bismillahirrahmanirrahim ya Allah, semoga hasilnya nggak mengecewakan," Berharap hasilnya sesuai apa yang dia fikirkan.


Berjalan menuju teras depan sebelum ke kamar sudah berpesan pada bibik untuk bilang pada supir kalau dia ingin pergi.


Jangan sangka supirnya lelaki tapi perempuan dan jika lagi tidak mengantar Farah maka dia akan bekerja membantu pekerjaan rumah.


"Rumah sakit ya mbak," pinta dia saat sudah duduk di kursi belakang.


"Baik nona," Mobil itu melaju depan kecepatan sedang.


Sepanjang jalan Farah merasa deg-degan menjelang sampai rumah sakit.


Meremas pelan jarinya menyalurkan rasa cemas. Ini pertama kali dalam hidupnya.


Seharusnya pergi bersama suaminya namun takut mengecewakan lebih baik pergi sendiri jadi kalau kecewa cukup dia sendiri yang merasakan.


Tidak lama mobil berhenti depan rumah sakit.


"Semoga ya Allah," Masih sibuk berdoa sambil berjalan menuju ruangan dokter kandungan dan mengambil nomor antrian setelah dapat dia menunggu giliran.


Masih ada beberapa orang lagi sebelum dirinya.


Setengah jam berlalu dia belum juga di panggil dan orang yang di cemaskan tiba-tiba duduk di sebelahnya.


"Sayang," Panggil suara sangat terdengar tepat di telinga Farah, sontak Khira menoleh hingga hidung keduanya bertemu saking dekatnya jarak di antara mereka.


"Hubby," Farah terbata memanggil suaminya yang kenapa tiba-tiba sudah berada di sana.

__ADS_1


Dia merasa tidak ada menghubungi dirinya akan kesini dan sekarang sudah berada di sana.


"Apa yang kamu lakukan di sini?" Melihat sekeliling banyak perempuan ada yang sendiri ada yang di temani suaminya.


Dia jadi gelagapan harus menjawab apa, tujuannya datang kesana belum tercapai dan sudah ketahuan.


"Aku, aku by," Bagaimana dia harus menjawab saat pertanyaan itu sendiri belum terjawab, bolehkan dia berdoa supaya suaminya di hilangkan dulu dari sana.


Berdosa kah dirinya mendoakan suami seperti itu?.


Tapi dia bingung mau jawab apa?.


"Poli kandungan!" Melihat di sekitar itu cuma ada satu ruangan dokter dan sudah pasti istrinya ingin ke dokter kandungan.


Jangan tanya kenapa dia bisa tau istrinya ada di sana karena supirnya sudah memberi tau saat di jalan tadi tanpa perempuan itu tau pas berhenti di lampu merah.


Laki-laki sangat menjaga sekali keselamatan istrinya jadi kemana pun istrinya pergi pasti dia tau.


"Kamu ngapain kesini? Kamu hamil?" Belum ada jawaban dari Farah yang masih terdiam mematung sambil meremas jarinya saking gugup.


Sungguh ini lebih gugup dari pada interview kerja atau mau melakukan malam pertama mereka dulu.


Dia sudah seperti orang yang ketahuan maling namun tidak mau mengakui.


"Jawab yang kamu hamil?" Beruntung tempat duduk mereka agak jauh dari yang lain, sehingga obrolan mereka tidak ada yang mendengar namun tetap saja dia merasa seperti menjadi pusat perhatian saat ini.


"Aku, aku belum tau by," pelan Farah menunduk dalam, matanya sudah berkaca-kaca menahan air mata.


Raka menghela nafas dalam lalu melepaskan secara perlahan.


"Kalau belum tau, kenapa kesini?," Kenapa jadi begini? Siapa yang sudah mempengaruhi istrinya sehingga seperti ini dan berani bohong pada dirinya.


Izin cuma ingin membeli sesuatu dan bukan ke rumah sakit dia sedikit kecewa karena istrinya sudah berani berbohong.


Dia harus mencari tau, siapa yang mendorong Khira hingga berbuat ini.


"Aku cuma ingin memastikan aja by, cuma itu," Jujur Farah, ya dia kesini ingin memastikan apakah dirinya hamil atau belum tapi kenapa malah jadi seperti ini.


Suaminya tau mereka jadi bertengkar.


"Kenapa nggak ngajak aku?" Farah terhenyak saat Raka memanggil dirinya aku bukan abang lagi seperti biasa.


"Aku takut hasilnya nggak sesuai dan kamu pasti kecewa by," Tes, air mata Farah keluar juga setelah sekuat tenaga dia tahan, namun karena dia menunduk dari suami tampannya belum melihat.


Berusaha menahan Isak tangisnya yang entah mengapa dia ingin menangis saat ini walaupun tanpa sebab.


"Sejak kapan aku pernah kecewa sama kamu, justru dengan seperti ini aku kecewa," Jujur dia merasa seperti suami yang tidak di anggap walau ini kesalahan kecil namun jika di biasakan akan jadi kebiasaan buruk.


Segala kebohongan berawal dari kebohongan kecil yang berulang.


Jangan pernah berfikir gini ah tidak apa bohong dikit dan juga ini demi kepentingan bersama, tidak. Tidak ada kebohongan itu baik apalagi mengatasnamakan kepentingan bersama.


Sekali bohong tetap bohong walau kecil.


"Liat aku," Memegang dagu itu dengan pelan namun Farah menahan takut suaminya melihat air mata yang membasahi pipi cabi kesukaan Raka.


Dengan sedikit paksaan akhirnya kepala Khira terangkat.


Alangkah kaget Raka mengetahui istrinya sudah membasahi pipinya.


"Maaf," Haish jika sudah seperti ini bagaimana caranya Raka melanjutkan kata-katanya.


Dia tidak suka orang yang di cintai meneteskan air mata apalagi saat berdua dan apalagi itu di sebab kan dirinya.


Menarik istrinya ke dalam pelukan untuk menenangkan istri cantiknya itu agar supaya reda tangisnya.


"Siapa yang nyuruh nangis? Abang nyuruh menjawab bukan menangis,"


Merubah panggilan pada diri sendiri, sadar panggilan itu cukup membuat dirinya seperti bicara dengan orang lain.


Mengusap punggung bergetar itu dengan pelan.


Melonggarkan pelukan itu lalu perlahan mengusap air mata itu dengan menggunakan tangan.


Bukan tidak ada tisu atau sapu tangan hanya saja ingin menyalurkan kehangatan agar istrinya segera tenang.


"Maaf," Cuma satu kata itu yang mampu di lontarkan untuk mengungkap rasa bersalah.

__ADS_1


Raka memandang lekat wajah cantik itu, hatinya teriris melihat bekas air mata di pipi istri tercinta dan dia akan berusaha untuk menjadikan ini air mata terakhir yang jatuh untuk sebuah kesedihan.


"Nggak apa lain kali bilang mau kemana.


Masalah ini jangan terulang lagi.


Masalah anak, apa abang pernah mengungkit atau memaksa agar cepat punya anak?" Farah menggeleng sebagai jawaban tapi takut mengeluarkan suara.


"Abang diam bukan berarti nggak ingin, sangat ingin malahan namun semua itu keputusan yang di atas jangan pernah membebankan diri akan sesuatu hal yang bukan kuasa kita.


Abang nggak ingin istri ku merasa terbebani jika Abang bahas masalah anak, biar itu jadi rahasia Tuhan.


Jika belum di kasih kita tunggu saja sambil berusaha dan berdoa, anggap saja kita lagi pacaran kan kita belum pernah pacaran jadi nikmati waktu kita berdua jangan jadi beban.


Jika sudah waktunya pasti Tuhan akan mengasih tanpa di minta,"


"Jangan pernah berfikir jika Abang nggak ingin anak, sangat ingin malahan apalagi anak Abang di lahirkan oleh perempuan yang abang cintai.


Sekarang jangan jadikan itu fikiran, ingat pernikahan kita masih baru bahkan orang yang sudah bertahun-tahun menikah belum punya anak.


Jika tuhan merasa kita sudah mampu maka anak akan hadir di antara kita,"


Padahal menikah sudah lama tapi Raka menganggap masih baru.


Menggenggam tangan kecil itu sambil menatap saat bicara.


Seharusnya tidak bicara di sana dan mencari tempat yang tepat namun karena sudah terlanjur lebih baik di selesaikan.


Lagian istrinya sudah mengambil nomor antrian jadi lebih baik langsung periksa dan jika belum di karunia mereka bisa melakukan program kehamilan.


"Tapi kalau hasilnya nggak sesuai jangan kecewa ya by?" Kenapa harus memikirkan itu, padahal mulut Raka sudah panjang lebar menjelaskan kalau masalah anak di serahkan pada sang pencipta.


"kalau hasilnya nggak sesuai nggak apa sayang, kita masih muda masih banyak waktu untuk membuat dan juga kamu harus siap aku ajak lembur tiap malam, gampangkan.


Jangan di buat repot kalau bisa habis dari sini langsung kita buat, hotel ada dekat sini," Ucapan gamblang Raka sukses membuat wajah cantik itu bersemu merah, sangat frontal tanpa filter.


Apa tidak malu membahas itu di tempat umum, rumah sakit lagi.


"Tuh kan kamu udah membayangkan," Menusuk pipi yang masih merah itu.


Tersenyum senang istrinya mulai tenang.


Mengusap pucuk kepala itu dengan sayang.


"Ih by aku serius," Rengek Farah sambil mencubit pelan lengan yang berbalut jas yang di kenakan suaminya.


Lalu membuang muka ke samping takut di goda lagi.


"Abang lebih serius yang, kalau iya abang suruh Dean untuk pesan kamar," Please ini di tempat umum, nanti saja bahas ini jika sudah berdua di dalam mobil misalnya.


"Kamar di rumah masih nyaman by," pelan Farah pelan namun masih bisa suaminya dengar.


"Jadi maunya di rumah?" Wajah cantik itu makin merah saat ucapannya di dengar sang suami.


Kenapa suka sekali menggoda istri cantiknya ini.


Tidak tau apa kalau dada Farah sudah berdebar hebat.


"Menggoda lagi jatah aku kurangin," Ancam Farah agar suaminya berhenti menggoda dirinya.


"Yakin ngurangin jatah, sanggup kalau nggak dapat jatah atau bisa tidur sebelum di jatah? Demi mobil polisi yang tidak pernah ketemu di pom bensin ingin sekali Farah menenggelamkan suaminya ini di rawa-rawa.


Kenapa ke mesumannya sudah sampai pada level mematikan begini?


Kalau cuma tidak dapat sekali atau dua kali masih bisa di tahan namun kalau keterusan dirinya yang tidak tahan bisa-bisa menyerang suaminya saat sedang tidur.


Hingga tidak lama nama Farah di panggil untuk masuk ke dalam kerena sudah sampai pada gilirannya.


Tampak wajah gugup Farah segera Raka memegang untuk meyakinkan.


"Tenang yang kalau belum berhasil abang masih kuat kok, kalau perlu kita pergi honeymoon lagi. Ayo," Berjalan bergandengan tangan seperti kebiasaan itu tidak pernah terlewat jika mereka berdua.


Seakan ada magnet di antara kedua tangan itu hingga mudah menempel.


**Suami siapa ini Tuhan? Kenapa makin hari makin mesum tapi aku juga suka dia mesumkan eh**


Terkekeh sendiri saat suka di mesumkan, lagian istri mana yang tidak suka ke mesuman suami sendiri malah nagih.

__ADS_1


Menggeleng pelan untuk mengusir segala pemikiran kotor itu agar segera enyah di kepala.


Siapa yang menyuruh dia masuk tanpa permisi?.


__ADS_2