
Siang ini terhitung sudah sebulan Farah pisah rumah sama Raka, bahkan gadis itu tidak ada mendapatkan kabar dari laki-laki yang masih berstatus suami nya itu.
"Apa memang sudah nggak bisa di perbaiki lagi?" Semakin hari rasa penyesalan di hati Farah semakin mengakar.
Dia menyesali perlakuan nya selama ini terhadap sang suami, dan kini rasa penyesalan itu semakin menggerogoti hatinya apalagi setelah dia ketahuan oleh sang papa apalagi Raka sudah lama tidak mengunjungi kediaman orang tuanya.
"Besok aku coba ke kantor bang Raka," bahkan sekarang saja dia sudah berani memanggil nama laki-laki itu dengan panggilan Abang padahal biasanya Farah enggan untuk menyebut nama laki-laki yang masih berstatus sebagai suaminya.
Namun sekarang disuruh nama itu sudah seperti nama kesayangan yang harus diucapkan tiap waktu.
"Lebih baik aku tidur dan besok pagi ke kantor bang Raka," Farah menyadari dan menyesali perbuatannya selama ini dan dia sudah bertekad untuk meminta maaf kepada suaminya.
Urusan dimaafkan atau tidak Farah tidak peduli yang terpenting dia ingin berjuang untuk mendapatkan hati suaminya.
Memang itulah hasil salat yang setiap malam dia lakukan dan dia mendapatkan jawaban untuk mempertahankan rumah tangga mereka walaupun sepertinya Farah harus lebih berjuang keras lagi karena sejak awal dia yang membangun dinding pembatas maka sekarang dia jugalah yang harus merobohkan sendiri.
Pagi hari,,,,
"Pagi pa ma, dek," seperti niat Farah tadi malam bahwa dia akan mengunjungi kantor suaminya maka pagi-pagi sekali dia sudah rapi menggunakan pakaian santai.
"Kakak mau kemana pagi gini udah rapi?" Karena mereka semua tahu jika gadis itu sudah tidak bekerja lagi jadi cukup mengherankan jika pagi-pagi begini sudah menyenangkan pakaian rapi.
"Mau ke kantor bang Raka," Farah tidak bisa bohong tentang tujuannya dia ke mana karena setelah obrolannya dengan sang papa waktu itu membuat dia menyadari serta rasa penyesalan semakin besar di hatinya.
Karena tanpa dia ketahui selama ini tiap langkahnya selalu diikuti dan setiap tindakannya selalu diketahui oleh orang tuanya hanya saja mereka berlagak tidak tahu namun setelah hari itu Farah begitu menyesal karena menyiapkan laki-laki sebaik Raka.
"Jika memang terpaksa lebih baik lepas kan, dia juga berhak bahagia," bukannya sudah tidak menyayangi Farah lagi tetapi Dean merasa tidak enak kepada sahabatnya karena anaknya dipermainkan bahkan tidak pernah dianggap keberadaannya tetapi laki-laki itu tidak pernah mengadu sikap jelek Farah selama ini.
"Apakah kesempatan kedua itu memang tidak ada?" Jika ditelisik lagi ke belakang maka apa yang akan Farah lakukan saat ini maka sama apa yang akan dia lakukan waktu masih sekolah.
Di masa sekolah dia pernah mencintai Raka tapi laki-laki itu disuruh mencintai adiknya dan setelah menikah dia menyia-nyiakan dan berakhir dengan penyesalan lalu sekarang dia akan mengulang kembali kisah masa lalu dengan versi yang berbeda.
"Bukan tidak ada, jika melakukan ini hanya sebagai rasa bersalah maka biarkan dia bahagia sama orang lain,"
Deg....
Membayangkan Raka bahagia bersama orang lain Farah merasa sakit dan tidak rela.
Apakah dia akan sanggup melihat Raka bahagia bersama yang lain? Jika di tanya ke hatinya tentu saja Farah tidak rela.
"Sekarang jawab pertanyaan papa untuk terakhir kalinya, kakak memperbaiki hubungan ini karena rasa bersalah atau cinta masa lalu yang sebenarnya tidak pernah pergi?" Dean juga sebenernya berat mengatakan ini tapi jika di biarkan sebagai orang tua dia merasa gagal dan malu sama Arka sahabat nya.
__ADS_1
Bukannya menjawab justru wajah Farah bersemu merah padahal dia hanya membayangkan wajah suaminya.
Dean yang melihat perubahan wajah anaknya hanya geleng-geleng kepala.
"Hadeh, tidak usah di jawab. Selamat berjuang semoga abang belum menemukan pengganti apa lagi dia pengusaha muda yang sukses maka tidak menutup kemungkinan jika banyak yang menyukainya walau masih punya istri,"
Deg....
Lagi, hati Farah berdesir saat mendengar kata istri apa lagi selama ini dia sangat jauh dari kata itu.
Jangan kan jadi istri jadi teman saja tidak dia berikan kesempatan untuk suaminya.
Setelah menyelesaikan sarapan dan membantu membereskan meja makan Farah berapa meter kepada orang tuanya dan melajukan mobilnya menuju Arby group.
Di kantor....
"Permisi mbak pak Raka nya ada?" Farah harus mengetahui apakah Raka sudah sampai di kantor atau belum apalagi dia tidak mengetahui jadwal laki-laki itu.
"Apakah mbak sudah membuat janji?" Dengan rasanya Farah menangis dalam hati karena untuk bertemu suaminya saja harus membuat janji dulu begitu jahatnya dia di masa lalu hingga orang-orang saja harus menanyakan dulu apakah dia sudah memiliki janji atau belum?.
"Bisa telepon saja sekretarisnya dan bilang Farah ingin bertemu," Farah meminta tolong kepada resepsionis itu untuk menghubungi sekretaris dari Raka saja karena jika Farah mengatakan bahwa dia istri dari atasan mereka tentu saja tidak akan ada yang mempercayai sebab hubungan pernikahan mereka saja hanya anggota keluarga yang mengetahui.
Sesampainya di atas.
"Pak Raka nya ada?" Farah sudah seperti orang lain yang ingin menemui Raka saja karena harus bertanya dulu tentang keberadaan laki-laki itu.
Sekarang rasa penyesalan itu semakin besar dan penyesalan itu sekarang adalah di saat dia meminta untuk menyembunyikan status pernikahan mereka dan sekarang dia harus melalui prosedur perusahaan untuk bertemu dengan Raka.
"Ada mbak, silahkan," Farah mengucapkan terima kasih lalu berjalan menuju ruangan Raka sesampai di depan ruangan itu dia berdiri sejenak untuk menarik nafas.
Tok...
Tok...
"Masuk," Farah mendorong pelan pintu besar itu lalu dia masuk dan menutup kembali.
Langsung saja dia dapat melihat keberadaan laki-laki itu yang sedang fokus kepada laptop yang sedang menyala dan dapat Farah lihat betapa tampannya laki-laki itu jika sedang fokus bekerja seperti ini.
Farah masih terpaku menikmati ketampanan dari laki-laki yang belum mengalihkan pandangannya dari layar datar itu.
"Assalamu'alaikum," salam Farah dengan pelan.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam," Raka mendongak dan dia dapat melihat bahwa istrinya semakin cantik saja setelah satu bulan tidak bertemu.
"Ayo duduk," Raka bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati istrinya itu dia berniat untuk menarik lalu duduk di sofa namun dia urungkan dengan tangan yang menggantung di udara dan semua itu tidak lewat dari pantauan Farah.
"Ayo duduk," Raka menarik tangannya lagi lalu mengajak parah untuk duduk bahkan laki-laki itu melangkah lebih dulu dan tidak jadi menarik Farah.
**Astaghfirullah** ingin rasanya Farah menangis dalam hati karena suaminya tidak jadi menarik dirinya namun dia menyadari di mana letak kesalahannya hingga suami sendiri takut untuk menyentuh dia walaupun hanya sekedar untuk berpegangan tangan.
Mata gadis itu sudah berembun menahan sesak di dalam dada dan dia mengikuti Raka untuk duduk dan mengambil tempat tepat di sebelah Raka.
"Abang ambil minum dulu," Raka kaget dengan Farah yang duduk di sebelahnya lalu dia berinisiatif untuk mengambil minuman dan duduk berhadapan langsung dengan Farah.
Menurutnya posisi ini lebih baik daripada duduk bersebelahan karena Raka tidak ingin membuat gadis itu tidak nyaman.
"Kamu apa kabar?" Sekuat tenaga Farah menahan tangisnya karena tidak ada gurat marah atau kekecewaan yang ditampilkan oleh wajah tampan itu.
Cuma sekali Farah melihatnya dan itu pun kejadian satu bulan yang lalu namun sekarang semua itu sudah seperti dulu waktu mereka masih tinggal bersama.
"Baik," Farah menjawab pendek pertanyaan dari Raka tetapi bukan karena dia masih mendiami suaminya itu atau masih memusuhinya lebih tepat tetapi dia kehilangan kata-kata saat sudah berada di depan suaminya.
Padahal dari rumah dia sudah mengumpulkan kata-kata serta permintaan maafnya dan tujuan dia mendatangi kantor suaminya namun setelah melihat wajah tampan itu semua kata-kata yang dikumpulkan hilang menguar begitu saja di bawahl udara.
"Kamu kok kurusan? Kenapa? Telat makan atau kurang istirahat?" Mereka tetaplah Raka yang akan selalu perhatian kepada orang yang dicintainya walaupun sudah pernah dikecewakan tetapi dia tidak bisa untuk menyimpan dendam di dalam hati.
Karena dia tahu disakiti Itu tidaklah enak maka laki-laki itu tidak mau membalas sesuatu yang sama apa yang dilakukan seseorang terhadapnya.
"Kok abang baik banget," setelah Farah merasa cukup lama berpisah dengan suaminya dan kebaikan laki-laki itu tidak pudar sama sekali justru semakin bertambah.
"Apakah salah seorang suami baik kepada istrinya?" Cairan benang itu sudah menganak sungai di pelupuk mata Farah namun sekuat tenaga dia tahan bahkan dia saja tidak berani menatap wajah tampan itu.
"Sebentar ya abang pesankan makanan dulu, seperti nya kamu kurang makan hingga kurusan gini," tanpa menunggu jawaban dari Farah Raka memesan makanan kepada sekretarisnya.
Disaat Raka lengah gadis itu mengusap air matanya dia meluncur bebas di pipi mulus itu tanpa dia sengaja padahal sejak tadi dia tahan agar cairan bening itu tidak terjun bebas namun usahanya tidak sekuat itu.
"Bagaimana pekerjaan mu? Lancar. Apa dia baik?" Bagaimana bisa seorang suami menanyakan kabar laki-laki yang pernah dekat dengan suaminya dan mungkin hanya Raka lah yang melakukan semua itu.
Jika ditanya bagaimana perasaannya tentu saja sangatlah sakit tetapi akan lebih menyakitkan memaksa seseorang berada di sisi kita tetapi hatinya tidak melihat ke arah kita.
"Ampun bang," tanpa aba-aba Farah bersimpuh di kaki Raka di saat laki-laki itu baru menduduki sofa yang dia tinggalkan beberapa menit yang lalu untuk memesan makanan.
Tbc,,,,
__ADS_1