BUKAN CINTA PENGGANTI

BUKAN CINTA PENGGANTI
Kunjungan


__ADS_3

Sekarang Farah sendirian berada di dalam ruangannya karena sang mama berpamitan untuk pergi melaksanakan salat zuhur.


Gadis itu duduk termenung di atas ranjang dan memikirkan di mana keberadaan Raka sekarang apalagi dia hanya tahu laki-laki itu berada di luar kota bahkan dia juga tidak bisa menghubungi.


Walaupun masih berstatus menjadi istrinya Farah baru-baru ini menghubungi Raka itu pun untuk memberi atau mencari kesempatan untuk memperbaiki hubungan mereka tetapi malah nomor laki-laki itu sudah tidak aktif lagi padahal nomor itu merupakan nomor lama bahkan saat mereka masih di zaman sekolah dulu.


Itu yang menjadi tanda tanya di kepala Farah kenapa baru sekarang nomor laki-laki itu tidak aktif padahal semenjak menikah Farah tidak pernah menghubungi suaminya itu kecuali waktu mereka masih sekolah Farah sering menghubungi Raka untuk mencari perhatian laki-laki itu.


"Apa Abang sedang bersenang-senang bersama perempuan itu?"Farah masih beranggapan jika Raka sudah menikah lagi dan menggantung status pernikahan mereka.


Tapi Farah merasa tidak adil karena di saat hubungan mereka masih sah tetapi Raka sudah memiliki pasangan lain walaupun di agama mereka semuanya boleh boleh saja tetapi sebagai perempuan tentu saja dia tidak terima diduakan seperti ini apalagi tidak diberitahu.


Ceklek....


"Assalamu'alaikum,"

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam," pintu ruangan Farah terbuka dan masuklah seorang gadis cantik yang merupakan adiknya sendiri siapa lagi jika bukan Sarah.


"Bagaimana?"


"Nggak ada kak, maaf ya," wajah Farah tampak murung mendengar jawaban adiknya dan ternyata apa yang dia minta tolong itu tidak membuahkan hasil sama sekali.


"Mungkin lagi sibuk," Farah memang meminta tolong kepada Sarah untuk mencari keberadaan Raka di apartemen ataupun di kantor tetapi memang laki-laki itu tidak ditemui keberadaannya.


Saat ditanya ke kantor pun masih menggunakan jawaban yang sama jika Raka berada di luar kota tetapi kenapa tidak bisa dihubungi bahkan oleh semua anggota keluarga yang ada.


"Tapi nomornya sampai nggak aktif kayak gini," jika bisa dihubungi setidaknya bisa bertanya kabar dan menanyai posisi benarnya di mana.


Tapi sekarang justru seperti ditelan bumi dan tidak ada kabar sama sekali atau celah untuk dicari.


Apalagi Raka hilang kontak beberapa hari sebelum operasi Farah dilakukan.

__ADS_1


"Mungkin lagi berada di lokasi yang susah mendapatkan sinyal, lebih baik Kakak berpikir positif dan cepat sembuh agar bisa tahu di mana keberadaan bang Raka," sarah juga tidak tega melihat kakaknya berlama-lama dirawat di rumah sakit apalagi dia cukup kaget mendengar kabar ini.


"Assalamu'alaikum,"


"Wa'alaikumsalam," pintu ruangan itu terbuka kembali dan menampilkan seorang perempuan cantik dengan melemparkan senyum manisnya.


"Duh kak cepat sembuh ya," tidak lupa dia memeluk tubuh Farah yang sedang duduk setengah tidur di ranjang nya.


"Makasih ya Riris, Rasya nggak ikut?" Yang datang adalah Riska adik ipar Farah.


"Abang lagi ada kunjungan ke toko jadi Riris pergi sendiri aja," Riska menarik sebuah kursi dan duduk di sebelah Farah berhadapan langsung dengan Sarah.


"Kok tumben Rasya membiarkan kamu Riris pergi sendiri?" Karena hampir tidak pernah Farah lihat jika Riska pergi sendiri bahkan laki-laki itu selalu menyempatkan diri untuk mengantarkan istrinya ke tempat tujuan.


"Mana ada, tadi antar kok sampai lift," Rasya tetaplah Rasya yang tidak akan pernah lepas tangan membiarkan istrinya pergi kecuali kabur seperti waktu itu ke kantor Raka.

__ADS_1


Laki-laki itu lebih mengutamakan kenyamanan serta keselamatan istrinya daripada pekerjaan yang masih bisa ditunda daripada membiarkan istrinya pergi sendiri lalu terjadi apa-apa maka dia akan menyesal seumur hidup.


__ADS_2