
Farah masih belum berani keluar dari mobil padahal Raka sudah menunggu bahkan koper milik gadis itu juga sudah dikeluarkan dari bagasi mobil.
Jantung gadis itu berdebar-debar dan memikirkan segala hal yang mungkin saja terjadi di dalam jika dia masuk tetapi untuk pergi pun rasanya dia bingung akan pergi ke mana?.
"Apa yang harus aku lakukan? Sebenarnya selama ini bang Raka baik sekali sama ku tapi kenapa aku justru menutup mata akan hal itu dan eh tunggu jangan-jangan bang Raka mendengar obrolan kami waktu di cafe waktu itu, wajar jika dia marah bahwa aku mendekati laki-laki lain di saat status kami masih sebagai pasangan suami istri," Farah sangat gusar sekali tentang apa yang harus dia lakukan apalagi sekarang mereka sudah sampai di kediaman orang tuanya.
Dan jika tiba-tiba saja orang tuanya keluar maka sudah bisa dipastikan dia tidak bisa mengelak lagi.
"Pokonya aku harus bicara sama bang Raka dan semoga dia mengerti," Farah buru-buru turun dari mobil sebelum orang tua nya keluar dari rumah dan memergoki Raka membawa koper.
"Bang bisa kita bicara sebentar," Farah merasa harap-harap cemas dan takut jika Raka menolak karena sekarang dia baru menyadari bahwa tindakannya selama ini begitu menyakiti perasaan laki-laki itu.
Terlintas di ingatan nya bagaimana dia memperlakukan Kakak selama ini bahkan tidak pernah menghargai niat laki-laki itu untuk mempertahankan pernikahan mereka dan justru dia dekat dengan laki-laki lain yang merupakan bos tempat dia bekerja.
Bahkan selama menikah Raka tidak pernah memperlakukan dia buruk bahkan Raka tidak pernah membalas tindakan dia ataupun ucapan yang jauh dari kata ramah.
"Ayo kita masuk biar semuanya cepat selesai," Raka tidak menggubris ucapan Farah dan dia lebih memilih untuk mengajak gadis itu memasuki rumah.
Bagi Raka sekarang semuanya sudah hancur dan sudah berakhir tanpa sisa karena perjuangannya tidak membuahkan hasil yang manis jadi lebih baik dia mengembalikan Farah kepada orang tuanya daripada bertahan di sisinya namun tidak bisa membuat garis itu bahagia.
Tapi sebenarnya bukan Raka yang tidak bisa membahagiakan Farah tetapi gadis itu yang menolak untuk dibahagiakan jadi di sini bukan sepenuhnya salah Raka.
Jika saja Farah mau sedikit membuka hatinya maka sudah bisa dipastikan hubungan mereka ada kemajuan tetapi jangankan untuk memberi kesempatan melihat atau menganggap keberadaan laki-laki itu saja tidak pernah.
Dan lebih menyakitkan lagi ucapan Farah yang mengatakan bahwa pernikahan ini merupakan awal penderitaan dia maka Raka tidak memiliki alasan lagi untuk mempertahankan semua ini.
"Please sekali ini saja," Farah masih berharap Raka merubah keputusannya dan mereka kembali ke apartemen.
Dia tidak ingin membuat orang tuanya kecewa atas berakhirnya hubungan pernikahan mereka yang bisa dibilang baru seumur jagung.
"Aku tidak mau membuat papa dan mama kecewa jika kita sampai berpisah," Raka tersenyum getir mendengar alasan Farah karena memang sejak awal gadis itu tidak pernah mengharapkan pernikahan ini dan tidak pernah mau menerima serta mau menjalani.
Dia hanya takut mengecewakan orang tuanya dan tanpa memikirkan bahwa sudah berulang kali dia menyakiti perasaan suaminya ini dan mungkin saja sebentar lagi akan menjadi mantan suami.
"Kamu percaya lah semua akan baik-baik saja, ayo kita masuk," tanpa menghilangkan wajah memelas yang ditunjukkan oleh Farah.
Raka menarik gadis itu memasuki rumah mertuanya sambil menyeret koper besar itu.
__ADS_1
Jangankan Farah Raka pun sebenarnya takut tetapi sebagai laki-laki dia juga memiliki harga diri yang harus dipertahankan dan juga dia butuh kewarasan untuk melanjutkan hidupnya.
"Assalamu'alaikum,"
"Wa'alaikumsalam, loh kok bawa koper? Ada apa ini?" Farah hanya bisa menunduk dan tidak tahu harus menjawab apa pertanyaannya dilontarkan oleh orang tuanya.
Dia pun tidak menyangka jika akan seperti ini jadinya padahal dia belum memiliki kesiapan apapun.
"Bisa kita bicara berdua saja pa?" Raka tidak ingin pembicaraan ini didengar oleh kedua wanita itu jadi dia membutuhkan tempat privasi dan mungkin saja ada yang ingin dia sampaikan hal yang lebih penting.
"Baiklah," Dean penasaran tentang apa yang akan disampaikan oleh menantunya ini apalagi hanya berdua saja.
Mereka berdua berjalan menuju ruang kerja Dean yang terletak di lantai satu meninggalkan kedua orang itu yang menatap penuh penasaran.
Di tempat Farah berada.
"Ada sayang? Kok malam-malam lagi minum bawa koper?" Farah kikuk sendiri harus menjawab apa pertanyaan dari mamanya.
"Besok aja aku jelaskan ya ma, sekarang aku mau istirahat dulu," tanpa menunggu jawaban dari sang mama Farah langsung saja menyeret kopernya menuju di mana kamarnya berada.
Beruntung sama mama tidak banyak bicara dan dia bisa lolos untuk kesempatan kali ini tapi tidak tahu untuk besok pagi.
Tetapi dia menghargai privasi itu dan akan menanyakan besok lagi dan mungkin saja anaknya memang lagi butuh waktu istirahat.
"Untung mama nggak banyak tanya," sampai di kamar Farah langsung mengunci pintunya dan merebahkan tubuhnya yang tiba-tiba saja terasa lelah padahal dia tidak melakukan pekerjaan yang berat.
Pikiran gadis itu menerawang dan memikirkan bagaimana kelanjutan pernikahan dia ini lalu langkah apa yang harus dia lakukan.
Dia tidak ingin membuat orang tuanya kecewa tetapi bertahan dalam pernikahan yang seperti ini membuat dia tidak nyaman, sekarang dia berada di dua pilihan yang sulit.
Di ruangan Dean.
"Apa yang sebenarnya terjadi bang?" Karena jika tidak terjadi sesuatu maka tidak mungkin anak serta menantunya datang malam hari apalagi Farah membawa koper.
"Abang cuma mau menitipkan Farah aja selama Abang di luar negeri karena perusahaan yang di sana lagi ada masalah," beruntung Raka memiliki alasan yang tepat dan kebetulan juga anak cabang perusahaannya yang di luar negeri memang sedang mengalami sedikit masalah jadi dia memiliki alasan untuk memulangkan Farah kepada orang tuanya.
Dan juga Raka tidak sepenuhnya ingin memulangkan Farah saat ini juga tetapi kebetulan momennya tepat dan dia memang sengaja tidak memberitahu Farah tentang rencananya ini.
__ADS_1
"Bagaimana dengan hubungan pernikahan kalian?" Rasanya tidak mungkin jika Dean tidak mengetahui bagaimana perkembangan hubungan anak dan menantunya.
Tidak mungkin rasanya dia ketinggalan informasi tetapi dia hanya ingin mendengar langsung dari mulut menantunya.
"Apakah Abang harus langsung menjelaskan? Bukannya papa sudah tahu semuanya!" Raka tidak bodoh bahwa dia tidak mengetahui jika selama ini dia selalu diikuti oleh pengawal yang selalu ditempatkan di sisinya jadi apapun yang terjadi sudah pasti langsung diinformasikan kepada orang tua serta mertuanya.
Jika pun dia berniat untuk menyembunyikan tetapi semua itu tidak akan mudah sebab pengawal itu sulit ditebak oleh Raka karena mereka tidak menggunakan pakaian seperti yang digunakan pengawal pada umumnya.
"Papa turut prihatin sama apa yang terjadi dalam pernikahan kalian, padahal papa sangat berharap pernikahan kalian seperti pernikahan orang tuamu yang walaupun secara mendadak tetapi berakhir bahagia hingga sekarang," Dean masih ingat bagaimana pernikahan orang tua Raka bisa terjadi bahkan sejak awal pun mereka tidak saling mengenali dan bertemu setelah menjadi pasangan suami istri.
Dan dia juga sangat berharap jika pernikahan Farah seperti itu tetapi dugaannya salah besar sebab anaknya sendiri yang tidak menginginkan pernikahan itu padahal mereka itu laki-laki yang baik hanya masalah di masa remaja membuat Farah menilai buruk seorang Raka.
"Tidak apa-apa mungkin memang sudah seperti inilah jalannya dan juga aku ingin menolongnya untuk satu hal, anggap saja itu sebagai pembuktian cintaku padanya,"
"Hah apa kamu mencintai dia?" Dean cukup kaget mendengar jika Raka mencintai Farah dia benar-benar tidak mengetahui satu fakta ini karena ranah pribadi Raka tidak bisa dimasuki oleh orang yang biasa mengikuti anak dan menantunya.
Apalagi Raka yang tidak pernah mengumbar-umbar bahwa dia mencintai Farah jadi tidak akan ada yang tahu jika laki-laki itu sangat mencintai istrinya.
"Iya, perasaan itu hadir di awal-awal saat kami baru menikah dan rasa itu semakin bertumbuh kembang hingga sekarang namun aku hanya bisa memendam sendiri," Raka mengingat dan membayangkan bahwa cintanya tidak semanis kisah cinta orang tuanya.
Padahal dia sangat berharap bahwa Farah mau membuka hati lagi untuk dia tetapi sayang bahwa Farah sudah terlanjur memberikan cap jelek untuk Raka.
"Maafkan anak papa yang menyakitimu," walaupun dia tahu pernikahan anaknya sudah di ujung tanduk tetapi ada sedikit kebahagiaan jika Raka mencintai gadisnya itu namun sayang Raka tidak mengizinkan untuk memberitahu Farah.
Biarlah dia memendam sendiri perasaan itu.
"Dan untuk pengorbanan itu, apakah kamu sudah yakin bang?" Karena ini bukanlah keputusan yang kecil dan juga Dean tidak ingin Raka salah langkah dan akan berakibat fatal kepada dirinya sendiri.
"Tidak apa pa, aku hanya ingin melihat gadis yang ku cintai bertahan tanpa memikirkan hal lain," Raka sudah bulat dengan keputusannya itu dan dia sangat yakin bahwa apa yang dia lakukan tidak akan berefek apapun terhadap dirinya.
"Papa hanya bisa mendoakan untuk kebahagiaan kalian dan semoga kalian tidak sampai berpisah. Semoga saja setelah pengorbanan ini hati Farah bisa luluh dan kembali mencintaimu Bang," sebagai orang tua tentu saja Dean mengharapkan kelanggengan dari pernikahan anaknya dan berharap tidak ada perpisahan.
Biar bagaimanapun menyandang status janda di usia muda bukanlah gelar yang bagus apalagi kadang gelar janda itu dicap jelek di kalangan ibu-ibu dan takut jika suami mereka digoda.
"Semoga ya pa, Abang pamit dulu," karena merasa tidak ada lagi yang harus diobrolkan mereka berpamitan untuk kembali ke apartemennya sesuai perkataan yang tadi karena dia akan segera berangkat ke luar negeri.
\=\=\=\=\=
__ADS_1
Bersambung 😘