
Raka mengusap wajah dengan kasar.
Ada ya orang berfikir kalau suami pergi kerja ke luar pasti tidak sayang istri lagi, kalau begini yang ada bertengkar setiap hari.
Para suami bekerja untuk memenuhi kebutuhan istri dan anak bukan pergi main atau mengurung istri di rumah.
Cuma keadaan yang menjadikan Raka tidak bisa mengajak istrinya pergi bukan karena memang niat meninggalkan.
Kenapa sejak hamil? Fikiran istrinya jadi pendek.
"Sayang abang lagi sensitif ya, abang harus gimana lagi menjelaskan nya," Sudah pusing dengan tingkah istrinya yang tidak mau di tinggal.
**Ini karena Dean yang nggak mau pergi sendiri dengan alasan nggak bisa di wakilkan. Gua tau ini pasti akal-akalan dia aja** menumpahkan kekesalan pada Dean yang tidak bersalah.
Tidak mungkin menumpahkan pada istrinya yang lagi merajuk yang ada masalah kian rumit saat ini saja belum selesai.
"Pokoknya hubby nggak boleh pergi," Isak bumil dalam selimut dengan badan bergerak.
**Gue kenapa jadi cengeng gini sih? Dek jangan buat mama egois gini sama papa, kasian papa mau kerja jadi bingung** Farah sadar akan sifatnya namun dia tidak bisa menahan karena seperti alami di rasakan tanpa di buat-buat.
"Abang janji cuma sebentar kalau kerjaan udah selesai langsung pulang," Bujuk Raka dengan segenap kesabaran yang masih tersisa.
Jika tidak penting lebih baik membiarkan Dean pergi sendiri dan dia juga masih jomblo jadi tidak akan ada orang yang merindukan kecuali orang tuanya.
Jahat tidak sih Raka menghina sahabat sendiri tanpa dia tau kalau Dean baru saja jadian hingga perasaan nya sekarang lagi berbunga-bunga.
"Tuh kan kamu makin jahat," Ya Tuhan boleh tidak Raka mengumpati istri sendiri kalau begini?.
Dia jahat apa? Padahal sejak tadi sudah bicara lembut dan baik-baik masih saja salah.
"Abang jahat apa lagi sayang," Membuka selimut itu dengan pelan hingga menampilkan wajah yang sudah basah dengan air mata.
Mengusap pelan dengan jempol.
"Udah mau pergi ninggalin aku terus pulang nggak bawa apa-apa, emang kamu udah nggak sayang aku. Dek kita pulang ke rumah opa sama Oma aja ya," Mengusap perutnya yang tidak rata dengan air mata masih menetes.
Hatinya merasa sakit saat di tinggal dadakan begini dan pulang tidak membawa oleh-oleh.
Ini kan bukan lagu yang liriknya aku tak mau minta oleh-oleh,emas, permata dan juga uang.
Kan jadi pengen nyanyi.
"Iya sayang kamu mau minta oleh-oleh apa?" Sabar kata sabar terus Raka lontarkan.
Mood ibu hamil memang menguji kesabaran dan iman, jika tidak kuat mungkin akan ribut.
"Udah nggak usah kamu nggak niat ngasih di sindir baru nanya," Ketus Khira tidak mau mengasih tau dia mau apa.
Seharusnya sebagai suami dia peka tidak perlu di kasih tau dulu, fikir Farah.
Bukannya marah Raka malah tersenyum, sifat Farah seperti anak kecil yang tidak dapat maunya lalu ngambek.
Sangat manis dan menggemaskan.
"Selama abang pergi sayang mau tetap di rumah atau mau tinggal di rumah mama dulu?" Tidak mau meninggalkan istrinya di rumah sendiri walaupun banyak asisten rumah tangga namun tetap tidak bisa membuat Raka tenang karena mereka tidak bisa masuk kamar Raka.
"Rumah mama aja," Lebih baik ke rumah mamanya dari pada disini tanpa suami, malah kesepian.
"Ya udah abang antar, sebentar ya abang siapkan barang sayang dulu," Beranjak dari ranjang lalu menyiapkan segala kebutuhan Farah saat berada di rumah orang tuanya.
Walau baju Farah ada di sana hanya saja tidak mungkin membiarkan istrinya menggunakan baju lama, nanti di kira dia suami pelit tidak mau membelikan istrinya baju.
Bumil cuma melihat semua gerakan suami tanpa ada niat membantu, dia benar-benar memanfaatkan masa kehamilan ini.
"Sekarang ganti baju dulu ya," Membantu Farah duduk dan membantu membersihkan wajah sisa air mata itu dengan pembersih muka menggunakan kapas kecantikan.
"Udah pakai baju sekarang," Baju bumil sudah di siapkan tinggal di pakai saja.
Setelah selesai bersiap menggandeng Farah keluar kamar sambil membawa koper baju istrinya.
Sebelum pergi Raka menitip rumah para asisten rumah tangga kalau dia akan pergi dan Farah tidak di rumah.
"Senyum dong sayang," Melihat istrinya masih memasang wajah kurang enak di lihat, sekarang mereka sudah di perjalanan menuju rumah orang tua Farah.
Bumil tersenyum samar, dia beneran tidak niat senyum.
__ADS_1
Tidak lama mobil Raka berhenti di depan rumah berlantai dua itu lalu membantu Farah keluar.
"Assalamu'alaikum," Mengetuk pintu lalu terbuka.
"Wa'alaikumsalam, ayo masuk," Mengajak anak dan menantunya masuk ke dalam.
"Ada apa tumben datang siang gini? Bawa koper lagi," Melihat menantu nya menyeret koper yang mama Sila tau itu koper milik Farah di tambah wajah sedikit sembab anaknya.
**Tidak mungkin mereka ribut kan?** Fikiran buruk menghantui mama Sila apalagi anaknya lagi hamil.
"Begini ma aku ada kerjaan nanti ke luar negeri jadi untuk sementara aku nggak ada Farah biar di sini dulu, nggak apa kan ma?" Jelas Raka sebab jika anak tinggal dengan orang tua lebih terjamin aman dan di perhatikan.
"Iya nggak apa, abang tenang aja," Lega mama Sila sudah berfikir jelek tadi namun hanya menitipkan istrinya selama pergi saja.
Wajar dia berfikir gitu tadi, sebagai orang tua tidak ingin rumah tangga anaknya bermasalah walau semua itu tidak bisa di hindari.
"Makasih ma, misi ma abang antar ke kamar dulu biar bisa istirahat. Ayo sayang," Menuntut Farah menuju kamarnya sambil membawa koper.
"Sayang istirahat ya jangan banyak fikiran," Membantu Farah membuka hijab dan membaringkan atas ranjang lalu menyelimuti hingga batas pinggang.
"By," Sejak tadi bumik hanya diam dan ini baru buka suara.
"Iya sayang mau apa?" Membelai lembut wajah cantik itu.
"Kalau di sana sering telpon ya?" Pinta bumil yang masih setengah hati melepaskan suaminya pergi namun dia juga tidak boleh egois.
"Pasti sayang kalau perlu setiap jam abang akan telepon, sekarang istirahat ya nanti saat mau berangkat abang pamit juga kok," Setelah mengucapkan kata itu Raka keluar kamar masih ingin berbincang dengan mertuanya di luar.
"Gimana Farah bang? Udah tidur?" Melihat menantunya turun sendiri.
"Belum ma, titip dia ya ma lagi di fase manja dia.
Baru abang bilang mau pergi udah nangis duluan," Jelas Raka kenapa wajah istrinya sembab dan kurang bersemangat sejak datang tadi.
"Iya mama maklum kok, mungkin bawaan bayi," Sebagai seorang yang sudah berpengalaman tau gimana sikap ibu hamil bahkan bisa lebih menyebalkan dari Farah sekarang, jadi orang sekitar harus lebih sabar lagi.
Mertua dan menantu itu terus berbincang membahas tentang ibu hamil yang suka manja dan malas itu bahkan untuk turun ranjang saja malas kalau tidak di paksa.
\=\=\=\=\=
Tidak lama kemudian mobil yang di kendarai Raka sampai di parkir khusus lalu turun berjalan menuju lift mengantarkan menuju ruangan.
Tujuan Raka adalah ruangan Dean.
Namun saat dia masuk alis Raka menyerngit mendapati sahabat nya senyum-senyum sendiri.
"Ini bukan pasien rumah sakit jiwa yang nyasar kesini kan?" Masuk tanpa mengeluarkan suara lalu duduk di sofa, masih memperhatikan tingkah Dean yang belum menyadari kehadiran dirinya.
Menggeleng pelan, sudah tidak heran sebenarnya hanya saja hari ini kadang kewarasan Dean berkurang lebih banyak dari biasanya.
"Nanti sebelum berangkat harus periksa dulu ini orang," Ya periksa maksud Raka adalah mengajak ke rumah sakit jiwa untuk memastikan kalau mereka tidak kehilangan pasien, siapa tau perawat di sana lengah.
"Nggak gitu juga kali jatuh cinta," Decak ARaka mulai kesal karena tidak di anggap kehadiran di sana alias gaib tidak nampak.
Lama-lama juga menguji kesabaran juga sehingga Raka mengambil bantal sofa melempar ke arah Dean dan beruntung pas mengenai wajah tampan di bawah Raka itu.
"Sialan," Maki Dean tersadar dari lamunan indahnya karena terkena bantal.
"Masuk ruangan orang bisa ngetuk pintu dulu nggak sih?" Kesal Dean padahal hayalan dia lagi bagus dan berada pada titik terindah namun buyar dalam sekejap.
"Gue sangka pasien rumah sakit jiwa yang kabur masuk ruangan lo," Balas Raka tanpa dosa.
Lagian mana ada orang kerja malah menghayal saja.
"Lagian orang nya juga nggak bakal kemana juga," Tambah Raka sudah tau kenapa sahabat nya melamun indah saat kerja.
Raka tidak marah namun jika ada orang yang liat maka akan di bilang kehabisan obat.
"Tapi guenya yang kemana-mana selama beberapa hari, kuat gue nggak ya?" Dramatis Dean berpindah duduk di depan Raka.
Memasang wajah memelas siapa tau Raka berbaik hati menyuruh dia tetap stay di sini dan bisa berjumpa pujaan hati.
"Jangan lebay, harusnya gue yang ngomong gitu. Belum pergi aja tuh bumil udah ngambek sejak pagi ampe pusing gue bujuk," Keluh Raka yang masih setengah hati meninggalkan istrinya yang lagi manja-manja itu.
Menyandarkan tubuh kekar itu di sandaran sofa lalu memejamkan mata.
__ADS_1
"Kusut amat Ka?" Melihat wajah kusut sahabat nya tidak enak di pandang itu.
"Gimana nggak kusut coba, mau pergi jauh tapi fikiran gue tinggal di sini," Masih memejamkan mata, menimbang apakah harus pergi atau tidak.
Tapi kerjaan ini tidak bisa di tinggal juga karena bukan merupakan kunjungan biasa aja, ada hal lain yang harus di selesaikan juga.
Memang berat meninggalkan istrinya yang lagi berbadan tiga begini.
Secepatnya Raka harus memikirkan cara agar meminimalisir kerjaan di sana dan segera kembali sebelum waktunya.
"Apa gue aja yang berangkat sendirian Ka," Usul Dean tidak tega melihat sahabatnya nampak memikul beban berat.
Sebagai lelaki dia mengerti, jangankan Raka dia yang baru pacaran saja berat mau meninggalkan Via di sini apalagi sudah menikah.
Jika boleh jujur Dean juga berat pergi namun ini sudah menjadi tugasnya sebagai orang kepercayaan.
Cinta yang baru bersatu harus di uji dengan jarak serta rindu.
"Kan ada kerjaan juga yang nggak bisa lo hendel di sana," Balas Raka singkat.
Di satu sisi dia baru bahagia akan kehamilan istrinya namun di sisi lain harus di tinggal untuk beberapa hari.
Jangankan Farah, dia pun tidak ingin jauh dan melewati masa kehamilan istrinya dan berfikir siapa yang akan memanjakan nanti kalau dia tidak ada.
Di tambah Raka sudah biasa tidur memeluk guling hangatnya.
"Lo kerjakan yang penting abis itu pulang, sisanya biar gue selesaikan tapi sebagai ganti Via harus ada di sana," Mengambil keuntungan akan situasi yang ada.
Kalau ada Via di sana Dean tidak perlu kwartir akan rasa rindu dan mungkin dia akan lebih semangat lagi bekerja walau berada di negara orang.
"Lo mau honeymoon sebelum nikah?" Selidik Raka sebab Dean yang mengusulkan Raka membawa Farah kesana dengan dalih honeymoon kedua.
Kenapa sekarang dia yang minta Via ikut jiga di tambah tidak ada hubungannya kerjaan di sana dengan kerjaan Via. Beda jauh.
"Anggap aja lo ngasih hadiah pernikahan buat kita sebelum jadi," Kesempatan tidak datang dua kali, dan harus bisa di manfaatkan.
"Belum tentu jodoh juga, ngapain mikirin honeymoon," Ledek Raka ingin menjatuhkan mood sahabatnya ini.
Mana ada orang honeymoon sebelum nikah dan Dean lah orangnya.
Dean memang benar orang Indonesia asli kalau ada yang gratis kenapa harus bayar.
"Doa itu yang benar Ram, Lo aja nggak nyangka bakal jodoh dengan Farah kan?"
Jangankan Dean. Arka juga tidak menyangka jodohnya akan datang secepatnya ini.
Siapa yang bisa menyangka kalau jodoh datang tanpa di duga dan kapan dimananya.
"Siapa yang mendoakan, gue cuma bilang siapa tau nggak jodoh," Membela diri supaya tidak di salahkan.
"Siapa jodoh gue?, apa lo?" Sinis Dean tidak terima kalau ada yang bilang jodohnya bukan Via, padahal sudah setengah hidup memperjuangkan masa tidak jodoh.
Tapi kalau beneran tidak jodoh mungkin Dean butuh psikiater.
"Ya Alhamdulillah," Memandang Dean dengan wajah serius lalu tersenyum.
"Jangan senyum gitu nggak nafsu gue," Bergidik melihat ekspresi wajah Raka yang menggelikan itu.
"Cuma istri gue yang bisa buat gue bernafsu. Ok deal ya gue mengerjakan yang penting aja.
Tapi Via bisa berangkat bareng kita, lo pesan tiket sekarang," Menyuruh Dean memesan tiket pesawat tambahan untuk mereka berangkat.
"Nah ini baru gue suka," Sesegera mungkin Dean mesan tiket pesawat agar mereka bisa berangkat bersama dan tidak terpisah sekalian juga kamar hotel selama tinggal di sana.
"Gue ngabarin Via dulu biar dia bisa bersiap sekarang," Pergi meninggalkan Raka sendiri dan menuju ruangan kekasihnya itu dengan hati senang.
Iyalah senang karena tidak jadi berpisah dengan konsekuensi rindu.
Dalam hubungan rindu itu adalah salah satu ujian terberat apalagi kalau sampai beda negara.
"Dasar sahabat nggak pengertian, nggak tau apa gue mau LDR an, nasib-nasib," Pergi dari ruangan itu dengan langkah sedikit gontai, sudah di depan mata rasa rindu padahal belum berangkat.
"Mending pulang buat mengumpulkan stok rindu," Memutuskan pulang dari pada di kantor juga tidak fokus juga bekerja.
Memikirkan sifat menggemaskan istrinya saja sudah bisa membuat Raka senang namun sejak pagi matahari nya sedikit mendung.
__ADS_1