
Suasana dalam mobil sunyi sepi, dua insan yang baru baikan itu sama-sama diam tidak ada memulai bicara.
Terjadi kecanggungan di antara mereka, tidak ada yang mau mulai bicara.
Padahal tadi baik-baik saja.
"Kenapa canggung gini rasanya? Kok berasa seperti naik transportasi online terus saling diam sama drivernya.
Aku nggak bisa diam-diaman gini, kami ini suami istri tapi ah udahlah.
Ini hari terlega dalam hidup ku,"
Monolog Farah dalam hati dengan pandangan jauh melihat keluar jendela diarah samping.
"Sepi gini ya nih mobil seperti nggak ada orang lain aja.
Wajar sih kami baru berbaikan hari ini walau orang tua kita berteman baik sejak dulu,"
Cuma fokus Raka pada jalanan tapi fikirannya memikirkan bahtera rumah tangganya yang bakal mau dibawa kemana setelah ini.
Farah larut dalam fikiran masing-masing dan Raka fokus sama jalanan yang di lewati.
Hingga tak terasa mobil Raka memasuki area perkarangan rumah mereka. Yang terlihat asri banyak ditumbuhi bunga dan pohon buah buahan.
"Ini rumahnya?" Ucap Farah gagap, dia masih bingung mau memanggil suaminya sekarang apa?. Apa lagi setelah Raka meminta panggilan khusus dari istirnya ini.
"Iya," Raka dengan santai menjawab pada istrinya, sama halnya dengan Farah, Raka juga bingung mau manggil apa jadi dia putuskan manggil apa? sebab ingin tahu spesial juga kan.
Farah tidak ambil pusing sekarang, nanti bisa di bahas lagi kalau masalah panggilan saja.
Mereka masuk rumah mewah dua lantai itu dengan saling beriringan walau tidak bergandengan.
Ya gimana mau gandengan kalau rasa canggung itu masih saja aja ada padahal sudah seharian ini mereka menghabiskan waktu bersama.
"Assalamualaikum,"
Salam Raka saat baru melewati pintu utama.
Sapaan sopan Raka menghangatkan hati Farah.
Suami Sholeh.
"Wa'alaikumsalam,"
"Ayo," Senyum Raka yang menambah kadar ketampanan lelaki didepannya ini.
Apa lagi tinggi Raka idaman sekali yaitu seratus delapan puluh.
Kalau untuk laki-laki idaman tinggi segitu.
"Sekarang bersih bersih dulu abis itu kita makan malam," Ya mereka sampai rumah jam tujuh malam jadi sudah mau jam makan malam juga.
Di rumah ini hanya ada mereka bertiga serta tiga orang asisten rumah tangga itu pun termasuk satpam.
Semua tidak seburuk itu jika kita ikhlas, hargai suami walau bagaimanapun awal mereka bisa menikah.
Jangan pernah melawan selama apa yang dia katakan itu baik dan demi kebaikan.
Jangan nilai kedewasaan orang dari umur tapi dari cara berfikir dan menyelesaikan masalah.
Ini yang jadi pertanyaan yang berputar di kepala Farah harus manggil apa pada suaminya itu.
Mau manggil nama terkesan tidak sopan karena manggil suami dengan sebutan nama saja tapi kalau manggil abang tidak cocok juga, manggil mas kan bukan mas tukang bakso.
Farah jadi bingung hanya masalah panggilan saja.
Apakah ini salah satu ujian pertama dalam rumah tangga mereka yang belum sehari berbaikan ini, masalah mau manggil apa saja bingung.
Yang penting manggil nya sopan asal jangan nama karena dia seorang suami maka hargai suami kita maka orang lain akan menghargai dia juga.
Di tangga menuju kamar mereka sama-sama diam hanya derap langkah kaki yang terdengar.
__ADS_1
Raka berjalan di depan diikuti dengan Farah dibelakang Raka.
Sesekali Farah melihat sekeliling rumah yang didominasi dengan warna putih dihiasi dengan pajangan foto yang hampir memenuhi semua dinding.
Mulai dari foto anak kecil perempuan yang di yakini foto masa kecil mereka.
"Dari kecil aja udah cantik jadi nggak salah jika dewasa makin cantik,"
"Silahkan," Raka masuk duluan lalu meletakkan tas yang dibawa ke atas ranjang dan melihat Farah masih mematung berdiri di depan pintu dengan memegang knop pintu.
Farah seperti enggan untuk masuk atau masih canggung bersama seorang lelaki dalam satu ruangan. Padahal ini suami sendiri loh.
"Kenapa masih berdiri? sini masuk, anggap aja kamar sendiri," Canda Raka buat mencairkan suasana tegang yang tercipta.
Kecanggungan tidak bisa di hilangkan gitu saja.
Kecanggungan akan hilang jika kita yang berusaha menghilangkan dengan cara sendiri atau mengalihkan pada topik lain agar fikiran tidak fokus sama satu objek.
"Iyah," Jawab Farah hampir tidak terdengar sama seperti berbisik.
Berjalan pelan masuk ke dalam setelah menutup pintu.
Jantung Farah berdebar hebat saat sudah berada satu ruangan dengan Raka, apa lagi ini pertama kali sejak menikah tahun lalu.
Rasa gugup tidak bisa Farah pungkiri kalau dia beneran gugup berada satu ruangan gini.
"Sini," Raka memegang tangan Farah maksudnya mau mengajak bicara tapi reaksi yang ditunjukkan berbeda hingga cepat cepat Raka lepas kan.
Raka sadar tindakannya tidak baik untuk respon badan Farah dan Raka memaklumi.
"Maaf-maaf," Tidak merasa enak sudah megang sembarangan walau tidak dosa.
Sejak siang tadi udah pegangan tangan, tapi ini beda dan dalam kamar lagi.
Baik Raka atau Farah sama-sama butuh waktu menyesuaikan diri satu sama lain.
Terutama Farah yang benar-benar harus mulai terbiasa dengan Raka mulai sekarang.
Raka juga tidak tega melihat wajah tegang itu saat didekatnya.
Lagian wajah tampan gini masa tegang sih kan belum di apa-apain.
Raka kok pede gini sih lupa apa kata mami tadi di pesta buat apa tampan kalau masih jomblo eh tapi kini beda lagi sudah memiliki istri.
Pasangan halal.
"Nggak mau, kalau di anggap adik sampai kapan pun aku nggak mau ubah itu dan jangan berharap lebih.
Aku akan coba menerima ini dan tolong bersabar sebentar,"
Tolak Farah yang tidak mau hubungan halal ini di awali dengan adik kakak sebab tidak baik.
Kebanyakan baca novel mungkin bisa berfikir gitu.
Hubungan mereka sudah resmi jadi buat apa dibuat ribet dengan hubungan adik kakak sebab yang mereka butuhkan cuma waktu saling menerima bukan dengan hubungan rumit adik kakak dan orang lain akan beranggapan salah nanti.
"Baiklah jika kamu nggak mau, sekarang kita tentukan panggilan dulu,"
Tidak mungkin Farah selamanya diam dan tidak memanggil Raka dengan sebutan Abang, mau sampai kapan? Lagian Raka lancar-lancar saja manggil dia nama pada istrinya masa Farah tidak punya panggilan buat suami sendiri.
Sebenarnya memanggil abang tidak buruk hanya saja akan terdengar sumbang jika didengar orang lain dan menilai lain.
"Gimana kalau aku panggil hubby untuk awal yang baik agar ke depannya lebih baik juga," Usul Farah yang sudah memikirkan ini sejak tadi.
Panggilan idaman setiap pasangan di panggil hubby.
Sangat romantis.
Dan bisa saja ini jadi jalan terbaik untuk hubungan mereka kedepannya.
Hubby panggilan termanis sepanjang sejarah pernikahan.
__ADS_1
"Baiklah kalau kamu milih manggil Hubby nggak boleh diganti lagi aku suka, makasih ya," Balas Raka tersenyum manis yang bisa membuat siapa saja diabetes melihatnya.
Farah yang melihat senyuman manis itu seketika mematung, kenapa bisa semanis itu pakai gula apa ya?.
Gula nya dalam negeri atau luar negeri atau di pesan khusus bisa semanis itu.
"Hm kalau aku manggil kamu apa ya?" Raka mikir, cukup rumit kalau dia manggil istrinya
Farah menunggu kira-kira Raka manggil dia apa?.
"Di panggil sayang aja mau nggak?" Kelamaan mikir akhirnya mutusin itu juga.
Panggilan sayang cukup manis ditambah dengan hubby jadi pasangan yang saling mencintai dan semoga selalu seperti itu.
Awali dengan niat baik maka semua akan berjalan baik seperti yang kita inginkan.
"Baiklah,"
Kenapa baru baikan manggil sayang sudah kayak lagu aja.
Farah juga setuju ini lebih baik dari pada di panggil kakak.
"Baiklahlah sayang kita gantian mandinya setelah itu shalat isya dulu sebelum makan malam,"
Pinta Raka agar mereka mandi gantian sebab kalau mandi bersama belum waktunya.
Farah memilih mandi dulu sedangkan Raka duduk di sofa sambil main hp buat ngecek laporan karyawannya yang di kirim lewat email.
"Aku udah selesai sekarang gantian sama hubby," Panggil Farah yang sudah rapi menggunakan dress selutut warna baby blue dengan kepala terbungkus handuk habis selesai keramas.
Farah butuh penyegaran otak agar tenang dan bisa berfikir jernih nanti.
"Iya, abis ini kita langsung shalat," Raka membawa baju ganti menuju kamar mandi.
Tadi handuk baru sudah Farah beri juga peralatan mandi lengkap.
Farah duduk di depan meja rias sambil mengeringkan rambutnya menggunakan handuk kecil agar cepat kering.
Tidak lupa memoles wajah dengan cream agar tetap terlihat bersih dan segar.
Raka keluar kamar mandi sudah rapi dan tentunya makin terlihat tampan.
Farah sempat terpesona sama Raka namun hanya sebentar lalu mengalihkan pandangan lagi takut ketahuan.
"Yuk shalat dulu yang," Tidak ada rasa canggung bagi Raka memanggil Farah menggunakan panggilan itu sudah seperti terbiasa.
Hanya jantung Farah yang deg-degan mendengar panggilan sayang dari Raka.
Hah kenapa jantungnya begitu lemah hanya karena di panggil sayang.
Disana sudah Farah siapkan peralatan shalat lengkap tadi sambil menunggu Raka selesai.
Mereka shalat dengan khusyuk sekali dan Farah mengikuti Raka dengan perasaan tidak menentu.
Shalat bersama setelah sekian lama.
Selesai shalat Raka berdoa agar pernikahan mereka berjalan lancar.
Selesai makan malam...
"Kita juga istirahat by,"
Mengajak Raka untuk istirahat juga dan mengusir rasa canggung diantara mereka.
Raka hanya mengikuti saja dari belakang sambil mengulum senyum agar tidak terdengar.
Terlihat lucu saat istrinya terlihat malu-malu saat didekatnya.
Mereka memasuki kamar selanjutnya Raka membersihkan diri dulu sebelum tidur dan Farah sudah menunggu diatas ranjang menggunakan piayama.
Tidur dengan ranjang yang sama dengan perasaan deg-degan bukan main Farah rasakan namun mulai sekarang harus bisa membiasakan diri.
__ADS_1